Mewah Apanya

6 September 2014 pukul 22:14 | Ditulis dalam budaya, hikmah, irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, renungan, romantika | Tinggalkan komentar

Beberapa hari lalu aku ziarah ke seorang teman yang jadi ustadz di sebuah pesantren di kota Solo. Kebetulan pas dia lagi bersih-bersih kompor minyak.

Mau dipakai lagi, Kang…

Lha minyak tanahnya gimana? Aku mengerenyitkan dahi.

Beli entar di warung dekat sini.

Ya sudah aku temani dia.

Sekedar info, tuh kompor adalah sodaqoh dari seseorang di beberapa tahun yang lalu. Masa di mana minyak tanah masih jadi barang biasa, dan LPG masih jadi barang mewah.

Selesai, terus nyari minyak tanah di warung. Continue Reading Mewah Apanya…

BBM Naik Lalu Apa?

18 Juni 2013 pukul 11:23 | Ditulis dalam curhat, irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, politik, renungan, romantika | Tinggalkan komentar

Kang, piye terawangan sampeyan? Temanku buka obrolan ketika kami wedangan di gubuk habis matun. (Matun adalah istilah kami untuk membersihkan rumput di sela-sela tanaman padi)

Soal apa Mas?

BBM jadi naik pa gak?

Lah, kok nanya ke saya to Mas. Saya bukan presiden bukan pula DPR, juga bukan bakul bengsin (lidah ndeso kadang nyebutnya begitu) atau siapa sajalah yang bisa nentukan harga BBM. Continue Reading BBM Naik Lalu Apa?…

Kenapa Teks Proklamasi Banyak Coretan?

17 Januari 2011 pukul 13:41 | Ditulis dalam aku gak tanggung, iseng, jalan-jalan, politik, romantika, serba serbi | 16 Komentar

Begitu pertanyaan yang muncul di benakku. Saat itu aku sedang main ke rumah teman. Pas omong sana omong sini, anaknya datang menanyakan sesuatu hal berkaitan dengan pelajaran sekolahnya. Dia bawa buku sejarah. Ada gambar tiruan teks proklamasi.

Tergesa-gesakah Sukarno menuliskan teks itu?

Masa iya sih…mau ngejalanin negara kok mulainya tergesa-tega…gawat kan!

Salah tuliskah?

Itu juga tergesa-gesa dong!!!

Kalau memang salah tulis dan gak tergesa-gesa kan bisa disalin ke kertas lain, nah loh…

Biar rapi gitu…kan Sukarno tuh orangnya rapi.

Jreeennggg….

Itu tulisan sudah ada sebelumnya?

Atau Sukarno menemukan tulisan orang?

Atau lebih halus, dia niru teks orang?

Mungkin saja loh…

Wuih…gawat ini

Berarti gak orisinil dong…

Trus aku pulang…..

Penasaran masih meraja di dadaku. Berhari-hari.

Buku-buku sejarah kubuka. Situs-situs sejarah kubuka. Racik sana racik sini, rangkai sana rangkai sini.

Merangkai data ternyata menguras energi juga…

Dan akhirnya….

Continue Reading Kenapa Teks Proklamasi Banyak Coretan?…

Matematika Uang

22 Juli 2010 pukul 09:42 | Ditulis dalam kehidupan, keluarga, romantika | 3 Komentar

Ini rekaman empat hari lalu.

Ba’da maghrib aku dan istri pulang dari rutinitas kami, eh ada aura kegembiraan yang lain dari biasa yang terpancar dari wajah anak-anak.

Yah, aku punya uang banyak…..seru si Ovan. Aku juga, sahut Ahmad. Yang lebih kecil udah asyik sendiri menimang bagian masing-masing. Nadya senyum-senyum dipojok ruangan. Di tembok depan matanya tergambar sikat gigi baru, odol baru, buku baru, serba baru. Dia pulang sebentar untuk persiapannya mondok di pesantren mulai Sya’ban ini.

Continue Reading Matematika Uang…

Dipenjara Karena Tak Mau Lepas Jilbab

20 Desember 2008 pukul 06:56 | Ditulis dalam politik, renungan, romantika | 10 Komentar

Dewan Hubungan Amerika-Islam yang bermarkas di Washington (CAIR) mendesak Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki sejumlah insiden yang menimpa wanita Muslimah di Georgia, tempat mereka dilarang masuk ke ruang pengadilan hanya karena memakai jilbab. Continue Reading Dipenjara Karena Tak Mau Lepas Jilbab…

Gara-Gara Sepatu Terbang, al-Zaidi Dikejar Gadis Arab

20 Desember 2008 pukul 06:34 | Ditulis dalam romantika, serba serbi | Tinggalkan komentar

Nama Muntazer al-Zaidi tiba-tiba menjadi pemberitaan media massa lokal dan internasional, karena keberaniannya melempar sepatu ke arah Presiden George W. Bush dalam sebuah konferensi pers bersama Perdana Menteri Nouri al-Maliki di Baghdad hari Minggu kemarin. Continue Reading Gara-Gara Sepatu Terbang, al-Zaidi Dikejar Gadis Arab…

Alasan Laki-Laki Nunda Nikah

28 November 2008 pukul 09:03 | Ditulis dalam budaya, ibadah gaul, romantika | 13 Komentar

Nikah……jadi impian banyak orang. Bujang laki, bujang perawan, janda atau duda yang pernah merasakan, bahkan para suami yang masih beristri pun masih ada yang memimpikannya. Ah…..indah betul…. Tapi gak semua nyata man….. Meskipun pernikahan itu indah, tenyata masih banyak laki-laki yang mikir bulak balik buat ninggalin status lajangnya. Ternyata nikah itu indah tapi menakutkan… Continue Reading Alasan Laki-Laki Nunda Nikah…

Nikah Bermodal Sekrup

1 November 2008 pukul 06:43 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, romantika | 7 Komentar

MARNING!

Postingan ini isinya tantangan. Bagi yang gak berani gak usah baca. Apalagi kasih komentar. Awas kalo nekatz. Kualat…!!!

Continue Reading Nikah Bermodal Sekrup…

Bangganya Bisa Ngrebut Suami Orang

9 Oktober 2008 pukul 14:33 | Ditulis dalam curhat, kehidupan, romantika | 1 Komentar

Sebenarnya gak enak kasih judul begitu. Tapi mau kasih judul lain kaya`nya gak nyambung. Salah persepsi juga entar, berabe deh…

Hari-hari gini kan banyak yang mudik to….

Tetangaku yang juga orang mudikan pernah curhat sama aku. Hari ini dia menjanda. Dikhianati suami katanya.

Wis pokoke bahasane asli gak diolah…

Continue Reading Bangganya Bisa Ngrebut Suami Orang…

Sepuluh Keajaiban Dunia

1 Oktober 2008 pukul 12:49 | Ditulis dalam iseng, jalan-jalan, romantika, serba serbi | 3 Komentar

Lanjutan pe-errrr itu….

Who am I? Batin sepidelman.

Aku adalah: (berikut adalah top ten plus fact and reality show about me, dengan tingkat subyektifitas tinggi dan akurasi yang tinggi pula)

Continue Reading Sepuluh Keajaiban Dunia…

Sang Tikus Mati di Lumbung Beras

11 Juni 2008 pukul 08:01 | Ditulis dalam curhat, ekonomi, romantika | 1 Komentar

Tikus itu menancapkan kuku-kukunya yang tajam. Dia koyak karung beras dihadapannya. Ada beratus-ratus karung didepannya. Tapi dia tak mampu, karung beras itu buka karung beras biasa. Dia hasil penerapan teknologi modern. Ditangani oleh tenaga-tenaga asing. Cakarnya yang hanya terlatih mengoyak tanaman dan untuk saling mencakar dengan saudaranya sendiri itu tak mampu menandingi kekuatan karung asing itu.

Tiap hari pintu lumbung itu dibuka. Banyak manusia keluar masuk dari sana. Entah mereka dari mana datangnya, sang tikus tak pernah tahu. Pun terhadap kebutuhan mereka. Yang dia tahu, tiap ada yang keluar masuk, susunan karung beras ini ikut berubah. Kadang mereka mengurangi, kadang pula mereka menambah. Namun yang tikus tahu, tiap kali ada tambahan karung beras, karung itu semakin kuat saja. Bahkan beberapa hari yang lalu, sang penjaga lumbung menambah peralatan lumbungnya. Ada gantungan karung yang terayun di langit-langit lumbung. Dan beberapa jenis karung tergantung di sana. Penuh beras nampaknya. Dan dilantai lumbung pun juga dipasangi beberapa alas aneh untuk karung-karung beras.

Sang tikus semakin kesulitan. Jangankan mengoyak karung beras itu, mendekatpun semakin sulit dia lakukan. Yang tergantung pun sudah tak mungkin dia jangkau.

Memang dulu, kadang-kadang ada beras bocor dari karung-karung yang sedang dipanggul oleh kuli-kuli panggul, tapi itu tak seberapa banyak. Tak mencukupi sekedar perut tak keroncongan. Tapi semakin aneh karung beras itu, semakin tak ada kemungkinan beras bocor terjadi.

Pernah ada keinginan sang tikus untuk melarikan diri, keluar dari ruang lumbung itu. Dia akan menyelinap keluar saat pintu terbuka. Tapi sempat terlihat dari sela-sela kaki manusia yang sibuk di lumbung itu, betapa di luar sana terasa begitu asing bagi sang tikus. Belum lagi kemungkinan adanya kucing atau binatang buas lain yang akan mengancam keselamatan sang tikus. Begitulah, sang tikus selalu mengurungkan niat keluar dari lumbung.

Akhirnya dengan segenap kekuatan, sang tikus tetap berjuang, berusaha mengoyak karung beras yang aneh itu. Dan cakarnya semakin hari semakin lemah. Bahkan sebagiannya terkoyak karena semakin aus. Tak tajam lagi. Kekuatan sang tikus semakin lama pun semakin melemah.

Sampai suatu ketika dengan nafas terengah-engah, sang tikus berhenti. Tak mampu mengoyak karung lagi. Dan nafas itu semakin melemah. Dan melemah. Sampai akhirnya sang tikus pun tak mampu bernafas. Terkapar.

Sang tikus mati di lumbung beras.

He…! He….! Banguun…!!!

Sudah tidurnya!

Kulihat jam dinding menunjuk angka 14.45 WIB. Saatnya sholat ‘Ashr.

Hehh….mimpi siang yang menakutkan. Aku merasa tikus itu tak jauh dari sini. Dia ada di kanan kiriku. Atau aku sendirikah sang tikus…..???

JIN, Jenismu Kini

8 Juni 2008 pukul 10:42 | Ditulis dalam budaya, iseng, jalan-jalan, romantika | 2 Komentar

Situs Wikipedia mencatat sedikitnya ada 15 jenis hantu yang dikenal dalam mitos orang Indonesia. Mereka adalah:

1. Kuntilanak

2. Sundel bolong

3. Tuyul

4. Pocong

5. Genderuwo

6. Kemangmang

7. Wewe

8. Orang bunian

9. Siluman

10. Leyak

11. Rangda

12. Jin

13. Jenglot

14. Babi ngepet

15. Ipri

Beberapa dari jenis hantu ini telah difilmkan dalam berbagai versi, baik di layar tv maupun bioskop. Mulai kuntilanak, sundel bolong, tuyul, pocong, siluman, hingga kisah-kisah jin. Tidak hanya Indonesia, negara Malaysia pun beberapa kali bikin film kuntilanak, yang menurut istilah di sana disebut sebagai pontianak. Anda tinggal di Pontianak? Hi….hi….hi….hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.

Menurutku, masih ada jin yang lupa belum dicatat, yakni jin Lee Cooper, jin Levi’s, jin Lea, dan anggota sukunya.

Dan masih ada jin yang sampai sekarang masih bebas beraksi di Indonesia, yaitu Jadan Intelijin Indonesia disingkat BIN, ehh….JIN.

Ah Bambu, Tahu Dirilah Kau…..

8 Juni 2008 pukul 09:11 | Ditulis dalam curhat, iseng, jalan-jalan, kehidupan, politik, romantika | Tinggalkan komentar

Sore belum berlalu. Tapi diri ini ingin segera berlalu. Kutinggalkan lingkungan persawahan yang terhampar hijau di hadapanku. Kukayuh sepeda butut peninggalan kakekku. Cik…cik…cik… bunyi serasi kudengar.

Tak biasanya, kali ini aku ambil jalan memutar. Kulewati sisi barat perkampungan. Banyak penduduk yang berprofesi sampingan sebagai pembuat berbagai peralatan rumah tangga dari bambu.

Thokkk…..kraaak….kraaak…..klek…..

Terdengar suara bambu dibelah. Menghiris hatiku. Kucari sumber suara. Kulihat seorang penduduk tengah asyik dengan pekerjaanya. Sangat menikmati. Barangkali terbayang dibenaknya hasil yang akan dia peroleh besoknya. Atau barangkali terngiang di telinga rengek anaknya. Pak, tas saya sudah rusak, belikan yang baru ya. Atau barangkali dia sendiri sedang merenungi tugas yang harus dia pikul. Dengan seorang istri dan beberapa anaknya di pundaknya. Ah entahlah.

Dia pegang sabit besarnya. Kokoh lengannya. Tangan kiri memegang batang bambu.

Thokkk…..kraaak….kraaak…..klek…..

Terdengar lagi suara itu. Menghiris hati.

Sabit besar menyelip di tengah batang. Dia tekan. Sabit merangsek membelah batang bambu. Kena tulang. Berhenti sesaat. Dia hentakkan sabit itu. Sabit pun semakin mendesak batang untuk berpisah. Dia letakkan sabit, kemudian dia letakkan bambu itu di tanah. Dia injak belahan bambu yang baru satu ruas itu, dan dia pegang belahan lainnya. Dia lihat masih separuh lebih badan bambu yang belum terbelah. Dia angkat belahan ditangan dan dia injak lagi belahan satunya itu. Dan, krakkk… terbelahlah bambu itu.

Dan suaranya pun menghiris hati.

Aku duduk saja. Berselonjor kaki. Kulihat orang itu. Sangat menikmati. Terlihat wajahnya. Puas.

Menyelip suara dalam hatiku. Seperti inikah negeri bambu? Negeri yang kutinggali?

Para penguasa negeri memperlakukan kami sekedar sebagai bambu? Kami yang tadinya sebagai satu batang penuh, utuh, demi kebutuhan hidup para penguasa, demi “tanggung jawab” sang penguasa negeri, sabit itu pun diletakkan pada kami. Kami para bambu ini lantas dibelah, dipisah. Satu sisi diangkat tinggi-tinggi, sisi lain diinjak-injak. Tapi akhirnya, jadilah kami keranjang-keranjang yang hanya menampung sampah-sampah penguasa.

Ah bambu, tahu dirilah kau…..

Sekedar Berkaca

8 Juni 2008 pukul 07:41 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, iseng, romantika | 3 Komentar

KETIKA MENCARI PASANGAN

Janganlah mencari isteri saja, tapi carilah juga ibu bagi anak-anak.

Janganlah mencari suami saja, tapi carilah juga ayah bagi anak-anak.

KETIKA MELAMAR

Bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis.

Tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.

KETIKA AKAD NIKAH

Bukan menikah di hadapan penghulu.

Tetapi di hadapan Allah.

KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN

Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoa’kan, karena harus berfikir ulang untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila berfikir untuk bercerai sehingga telah menyia-nyiakan do’a mereka.

KETIKA MALAM PERTAMA

Bersyukur dan bersabarlah.

Karena yang ada adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA

Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui bukanlah bertabur bunga,

tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA BERGOYANG

Jangan saling berlepas tangan.

Justru semakin erat berpegang tangan.

KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK

Cintailah pasangan 30% saja.

Sisanya untuk Allah.

KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK

Jangan bagi cinta kepada pasangan dan anak.

Tetapi cintailah mereka masing-masing 100% dari 30%.

KETIKA EKONOMI KELUARGA MENYURUT

Yakinlah bahwa jalan keluar akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan kepada Allah.

KETIKA EKONOMI BERKEMBANG

Itu hanyalah ujian dari Allah.

Jangan lupa berterima kasih kepada pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

KETIKA ANDA ADALAH SUAMI

Boleh bermanja-manja kepada isteri.

Tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri memerlukan pertolongan.

KETIKA ANDA ADALAH ISTERI

Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

Setia dan taat kepada suami.

KETIKA MENDIDIK ANAK

Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak.

Yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak ….

KETIKA ANAK BERMASALAH

Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua.

Yang ada adalah merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

KETIKA ADA PIL/WIL

Jangan diminum, cukuplah suami, isteri sebagai obat.

INGIN AMAN DAN HARMONIS

Gunakanlah formula 7K+1H:

1. Ketaqwaan

2. Kasih sayang

3. Kesetiaan

4. Komunikasi dialogis

5. Keterbukaan

6. Kejujuran

7. Kesabaran

8. Humoris

Sang Muda di Rel Kereta

7 Juni 2008 pukul 13:19 | Ditulis dalam curhat, jalan-jalan, politik, romantika | 2 Komentar

Ngueng….ngeeenngg…..brem brem… nguenggg…

Anak muda itu asyik memutar-mutar tangkai gas motornya. Dan kecepatan tinggi itu tercapai dengan segera. Lincah menyelap-nyelip di antara motor lain. Bahkan bus dan truck yang berpapasan tak membuatnya mengurangi kecepatannya.

Seratus meter di depannya, pak penjaga lintasan rel kereta terpaksa menurunkan pagar pembatas. Kereta Solo-Jakarta akan segera lewat. Dari kedua arah semua kendaraan sabar menunggu sang sepur menyapa mereka dengan peluit khasnya.

Tak demikian halnya sang anak muda. Tak sabar dia menunggu sepur lewat. Sambil memainkan gas tangan kirinya mengangkat palang rel. Dengan angkuh dan bangga dia melintas.

Ciiiiit…..brak…..krak….krak…….

Dengan anggunnya sang sepur mencium badan sang anak muda. Dengan kelembutan dan keteguhan dia menyeret badan anak muda berikut motor yang dikendarai beberapa puluh meter dari perlintasan. Badan dan motor terselip diantara roda dan rel kereta disaat sang sepur berhenti.

Woaaahhhh…

Remuk redam motor keluaran baru itu….

Sang anak muda pun tak utuh lagi badannya.

Diam….

Sesaat kemudian gempar suasana.

Yang perempuan menjerit-jerit ngeri menyaksikan pemandangan tak biasa di depan mereka. Bahkan beberapa laki-laki terpaksa memalingkan muka. Sebagian yang lain, yang memiliki keteguhan hati bergegas mendekati tubuh korban dan berlakulah apa yang mesti berlaku.

Terdengar suara,

Salah anak itu sendiri, nekat bener dia….

Goblok, sepur dilawan…

Kasihan ya anak muda itu…. anakku seumur dia…

Benar!, begitulah cara bunuh diri yang sukses. Dramatis dan heroik….

Caper kok kelewatan….

Yang salah petugas jaga perlintasan, kenapa palangnya masih bisa diangkat begitu…

Yang salah masinisnya, tahu ada anak muda nyeberang kok nggak berhenti, apa nggak punya anak dia tuh….

Salah sepurnya….

Salah relnya….

Akhirnya masinis pun diperiksa polisi. Terpaksa…. karena begitulah aturan negara. Jangankan sepur yang otot kawat tulang besi. Becak kalau nabrak pejalan kaki, tukang becaknya pasti salah. Motor nabrak penyeberang jalan yang tidak di jembatan penyeberangan, pengemudi motor yang salah. Mobil nabrak motor yang ugal-ugalan, pengemudi mobil yang salah. Truck bawa pasir nggak nabrak, tetap saja dipungut bayaran di jalanan.

Itulah aturan negara…. meski tak tertulis dalam kitab undang-undang.

Yang besar berseteru dengan si kecil, salah si besar.

Tak peduli betapa si besar sudah berhati-hati. Betapa si kecil yang ugal-ugalan.

Seperti itukah kasus si kecil AKKBB dan si besar FPI?

Paling tidak, besar karena gaungnya menyebar di seantero jagat pewayangan ini. Dan mereka juga tak sendiri. Ada HTI, Serikat Pekerja PLN dan organisasi lainnya.

Hari-hari ini, pak polisi sibuk menangapi anggota FPI. Bahkan sang pemimpin tak luput dari sergapan. Diperiksa barangkali? Atau memang sekedar memenuhi pesanan?

Bagaimana dengan para punggawa AKKBB? Anggota-anggota aliansi itu? Diapakan mereka? Atau memang mereka sudah remuk seperti sang anak muda?

Ah…..

Laman Berikutnya »


Entries dan komentar feeds.