(bukan) Portofolio

sejatine aku ora karep nggawe blog iki. wong jane aku ki ra tau sinau komputer, tulis menulis, internet, opo maneh blogging…….

pancen aku sithik-sithik sajak iso nggunakne komputer, soale pas aku wis ngejokne pensiun dini soko jakarta ndhek mben (he…he…he…. aku pensiun dini tanpa tunjangan pensiun ngancik umur selawe), aku trus nganggur thok nyang ngomah, ra nduwe gawean…. lha iseng-iseng pesangonku tak tukokne komputer tanpo aku ngerti perkoro komputer (waton nekat), yo wis tak nggo dolanan nganti aku rekake ngerti sethithik nganti seprene iki… alhamdulillah….

lha pas aku duwe konco ngomongke perkoro blog, kok sajak marakne penasaran. trus…..karo iseng, aku nulis blog nyang nggone gugel, lha metu koyo ngene iki…..yo wis maneh….aku gawe, ning sok ra kober ngisi……mergo bingung arep diisi opo, yo sok mergo aku sing sok-sok males ngisi. jenenge wae pengacara (pengangguran banyak acara). ewakono ngisi yo sedulur kabeh….matur nuwun sakdurunge….maklum wong ndeso ra iso boso…..

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Blog ini hanyalah berisi lamunan, kata hati yang tak terungkap, harapan yang kandas terburai. Sekedar pelajaran bagiku. Mengingati jejak langkah di pasir hari.

Kadang membuat tersenyum. Mungkin juga marah. Sekedar ungkapan rasa sesaat.

Tapi cinta akan meraja. Dengan cinta kan kugapai bahagia. Segenggam harapan kembali kutebar di kebun hatiku. Saatnya nanti kan menuai hasilnya…..

Sekarang ini aku di rumah saja kok. Nggak ada pekerjaan yang harus kupertanggungjawabkan kepada atasan (baca: nganggur nggur).

Kata Bapakku (dulu), mbok kamu ke sawah sana…. orang kok cuman dirumah thok. Bantu buruh yang kerja, atau apa sana…. Syukur bisa ngelola sawah sendiri…. Ibuku bilang, mbuh….Habib ini maunya apa wis ben………Orang punya istri kok nganggur thok…..

Nggak enak juga sih diomongin macem gitu. Tapi gimana ya, emang aku nggak ketarik yang namanya sawah (nggak bakat kali ya….) kecuali buat nonton ijonya padi ato pas liat orang panen kok……. Memang juga sih ya, yang namanya petani itu tuh….. hebat (nurut aku lho).

Tapi itu cerita lalu………

Sekarang, ya masih di rumah juga. Cuman sudah nggak diomongin macem-macem lagi sama orang tua. Kan udah nempatin rumah sendiri. Bosan kali……Tapi kayaknya nggak sih. Orang mereka masih baik kepada anak-anaknya, termasuk aku. Buktinya anak-anak ini masih sering diomongi apa gitu, ya….kasih nasihat lah…. Ke sawah? Kadang-kadang aja pas lagi ada perlu.

Orang tuaku itu kecilnya nyantri, meskipun nggak rampung. Tapi waktu aku kecil, terasa sekali tuh bawaan nyantrinya. Rumah kami waktu itu jadi macem pesantren gitu…meski santrinya cuman satu.

Yang jelas keliatan, sekarang ni istriku satu dan anakku enam. Do’ain ya……… Soalnya, kata orang-orang tua kita juga, banyak anak banyak rezeki. Bener tuh……………..

Pekerjaan…? Ini nih yang bikin aku bingung mesti njawab apa. Nganggur, kok hidup? Nggak nganggur, kok ya nggak ada kerjaan…. Ya gitu, cuma iseng-iseng aja dan dikasih rezeki sama Allah.

Trus tinggalku sekarang ini di sebuah kampung kecil di pinggiran kota di kaki gunung Lawu.

Sudah sebelas tahun aku menikah. Bersyukur aku….. aku mendapat istri yang masya Allah, bikin ridlo. Ya Allah, matur nuwun Kau pilihkan untukku………Meski tak kenal, tapi dengan tuntunanMu, aku bisa merasakan, dialah yang terbaik untukku. Aduh…..kok nyubit…..???

Soal anak-anak?

Nadya, begitulah dia biasa dipanggil. Nama komplitnya Nadya Safira, juga Nadiyah Mudzakkiroh. Benar, dia memang punya dua nama dengan dua akte kelahirannya. Terus terang kami masih bingung untuk memilih namanya, jadi dua-duanya sekalian saja dipakai. Dia lahir setahun setelah pernikahan orang tuanya di bulan Syawwal.

Nadya, nama itu diberikan karena kedua orang tuanya sedang gencar-gencarnya menyerukan da’wah Islam kepada anak-anak kampung, ha…ha…, guru TPA ngakunya da’i. Safira diimbuhkan karena kami waktu itu harus menempuh perjalanan tak kurang dari 80 km setiap harinya sejak mulai hamil sampai menjelang kelahirannya. Bahkan sampai hari ini meski tak lagi sejauh dulu. Begitulah, waktu itu kami ibarat pengembara, musafir. Benar, kampung-kampung yang harus kami kunjungi memang terpencar-pencar. Ah, kangen suasana saat itu.

Anak pertama ini lahir dalam keprihatinan. Aku sebagai ayahnya seratus persen pengangguran. Sedang menjadi guru ngaji di kampung bukanlah caraku untuk mencari keuntungan materi. Upah materi terlalu murah, jadi kami mau minta upah kepada Allah saja, lebih gede.

Aku baru setahun itu juga pulang dari Bekasi tempatku bekerja sebelumnya. Aku pulang meninggalkan pekerjaan yang mulai mapan, sebagai konsekuensi yang harus aku hadapi untuk pilihanku atas seorang gadis yang belum pernah kukenal barang namanya sekalipun. Dan di kampung aku belum tahu mau kerja apa, padahal aku pulang untuk menikahi gadis ini. Tak apalah, kalau Allah masih memberiku umur, pasti juga akan memberiku jatah rejeki. Yakinku….

Meski prihatin, tetap alhamduillah, Nadya lahir normal, sehat dengan bobot 3,6 kg di rumah bersalin. Waktu itu aku ingin menemaninya saat persalinan. Bidan melarangku, tapi aku nekat. Akhirnya dia menyerah. Sesaat kemudian ibuku datang. Ikut menemani kami. Ibu lalu menyuruhku keluar saja. Alasannya kalau aku ikut disitu, aku nanti nggak doyan makan berhari-hari karena melihat darah nifas dan lainnya. Aku nekat. Tapi ibu berkeras melarangku. Ya sudah, aku nggak mau membangkang kepada ibuku. Dosa besar membangkang perintah ibu selama bukan perkara ma’siyat. He…he….ibuku berkeras melarangku karena tahu sifatku. Sejak kecil aku dimanja, sudah remaja suka foya-foya, sekarang jadi orang tua kaya raya. Harapanku nanti kalau mati masuk surga.

Oh iya, aqiqoh untuk Nadya harus aku wujudkan dengan kerja keras. Aku mesti menjual telepon wireless yang sempat kubeli di Glodok menjelang kepulanganku dari Bekasi dulu. Masih laku 900 ribu rupiah. Alhamdulillah. Aku bisa menebus anakku. Iya, kan anak yang terlahir itu tergadai atas aqiqohnya.

Lalu,

Ovan, namanya adalah Shofwanul Haq. Begitulah anak kedua ini kami namai. Dia lahir di bulan Syawwal dua tahun setelah kakaknya. Nama itu muncul seiring dengan disebutnya nama seorang sahabat yang terkena fitnah berkaitan dengan Ummul Mukminin, ‘Aisyah. Dialah Shofwan. Seorang pemuda terkemuka dari kalangan sahabat. Dan dia telah melakukan kebenaran dengan hati tulusnya meski kemudian harus berhadapan dengan fitnah yang menderanya. Begitulah, jernih beningnya kebenaran yang dia bawa telah menginspirasi anak kami. Dia lahir dengan banyak kelebihan. Termasuk kelebihan berat badan menurut ukuran orang model kami. Dia lahir dengan berat 4,2 kg. Dan ubun-ubun kepalanya tak sempat empuk, langsung keras. Aku nggak tahu apakah ini berhubungan dengan kebiasaan kami mengonsumsi telur ayam kampung setiap hari. Ya, waktu itu ayam kampung yang aku pelihara ada ratusan ekor. Bidan yang membantu akhirnya tak mampu membantu selain menyiapkan alas untuk si bayi. Terpaksa aku sendirilah yang membantunya melahirkan, meski waktu itu kami di rumah sang bidan. Panik tapi bahagia.

Kelebihan lainnya adalah tak menangis waktu lahir. Sang bidan sempat panik. Diceblek badan anakku itu, tak segera menangis. Aku biarkan saja keadaan itu. Aku ingat bahwa bayi yang lahir akan menangis karena gangguan syaithan. Lha anakku nggak nangis, jadi dia tidak diganggu syaithan. Aku senang saja. Bu bidan heran dengan sikap tenangku. Sambil mengurus istriku, dia sempat tanya, kok aku tenang saja melihat bayiku lahir tanpa tangisan. Ya aku jawab seperti tadi itu. Bu bidan manggut-manggut tapi terlihat masih penasaran. Tiba-tiba, dia cubit bayiku, eh nangis… lalu bidan itu tersenyum lega mendengar tangis bayiku. Aku bilang padanya, saat itu bu bidanlah syaithan-nya karena menyebabkan anakku menangis. Dia tak marah karena tahu maksudku. Tapi konon cara itu biasa dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya si bayi. Wallahu a’lam.

Biaya persalinan sampai aqiqoh sudah tak ada masalah. Dibantu oleh ayam-ayamku. Selain ayam kampung ada juga ayam hias, mulai kate, kanada, kapas, batik dan lainnya aku lupa sebagiannya. Juga beberapa bulan sebelumnya aku telah berhasil memelihara parkit yang lumayanlah hasilnya. Paling tidak bagiku. Aku ingat selain ratusan ekor ayam kampung, aku punya 250 pasang parkit dan 15 pasang parkit eksperimenku sendiri untuk menangkarkan jenis albino. Ada juga 4 pasang parkit jambul yang sudah beberapa kali kami jual anakannya. Juga ada beberapa ribu burung puyuh yang aku ternak di samping rumah.

Dan,

Yang berikutnya adalah Ahmad Zain. Dia istimewa. Lahir dengan penanganan bidan-bidan cilik di sebuah rumah bersalin di tengah sawah. Saat itu bulan Dzulhijjah, dua tahun lebih sebulan sesudah Ovan lahir. Bidan-bidannya masih sangat muda. Berjilbab rapi. Sikapnya sangat ramah, baik, lembut. Istriku sangat enjoy disana. Kelahirannya diiringi canda ayah dan umminya bersama para bidan, juga desau angin persawahan dan aroma khas daun padi.

Aqiqoh untuk Ahmad pun jadi heboh, karena barengan sama ‘Iedul Adha. Aku nyembelih tiga ekor kambing sekaligus. Lucunya pas waktu itu aku sakit yang menghalangiku makan daging kambing. Kecian deh lu, Bib.

Nama Ahmad memang sudah lama aku inginkan. Nama Nabi. Harapan kami orang tuanya adalah menjadikan akhlaq Nabi sebagai hiasannya. Dia lahir normal dengan bobot 3 kg. Bermata sipit mirip cina gosong. Sampai tetangga kami yang di Solo saat kami masih tinggal di sana sangat tertarik dengan Ahmad ini. Tetapi belakangan bukan sipit ternyata, tetapi agak talup (bhs Jawa).

Nah,

Yang keempat perempuan. Shofiyyah Hasna. Terinspirasi oleh salah seorang dari Ummahatul Mukminin, Shofiyyah binti Jahsy. Seorang bangsawan cantik yang menjadi istri Nabi sas. Dia lahir di bulan dan tempat yang sama dengan kakaknya si Ahmad di bulan Dzulhijjah dua tahun sesudah kakaknya. Bobot lahirnya 3,5 kg. Bidannya masih ingat dengan kami. Welcome aja mereka, sampai rumah bersalin itu lebih mirip rumahku sendiri. Aku lapar, tinggal masuk ke dapur sendiri, ambil makan sendiri. Mau mandi juga begitu. Waktu itu aku memang lebih banyak menemani istri di rumah bersalin. Sementara anak-anakku yang lain tinggal di rumah. Alhamdulillah, meski masih kecil-kecil, mereka nggak bikin repot orang tua dan tetangga. Aku bersyukur banget, hingga hari ini.

Waktu itu aku tanya anak-anak. Mau nggak nengok ummi di rumah bersalin? Mauuuuu…..kompak anak-anakku. Dan si Ovan minta naik bus kota. Ya sudah, akhirnya kami naik bus kota dari rumah kami di Mangkubumen menuju Jaten. Ada yang istimewa rupanya, yakni hampir di merata tempat, kami jadi pusat perhatian. Ada seorang bapak muda dengan dua anak kecil yang sweeties gitu plus digendongan ada anak dua tahun yang juga lucu tanpa ada ibunya bersama mereka. Heboh nggak? Wah, si Ovan, di dalam bus nggak mau duduk. Bawaannya lari melulu. Sampai akrab sama penumpang lain. Kakaknya duduk manis saja disamping ayahnya. Dan dipangkuanku duduk manja my baby two years old, Ahmad Zain. Di Palur kami harus ganti bus. Nah ini bedanya bus di Solo dengan di Jakarta. Kalau di Jakarta busnya nggak mau sabar, sedang di Solo, busnya mau nunggu sampai kami berempat turun sempurna. Kondekturnya pun masih tersenyum melihat kami. Coba di Jakarta….

Kami lalu naik bus yang ke arah Tawangmangu. Di dalam bus itu pun si Ovan nggak mau duduk. Biarlah dia bercanda dengan para penumpang juga kali ini. Sampai di Jaten kami turun. Kami lalu berjalan menuju rumah bersalin tempat istri dan bayiku. Kami menyusuri areal persawahan. Dan masih sempat juga main petak umpet di antara tanaman padi. Sang pemilik sawah senyum-senyum memperhatikan kami bermain. Asyik juga.

Wah, sampai di rumah bersalin, kami seperti reuni gitu. Meriah. Para pasien lainnya pasti ngiri melihat keakraban kami. Cieee…. gimana nggak, wong para bidan juga sudah akrab seakrab-akrabnya dengan kami.

Lalu,

Yang kelima adalah si Chacha. Namanya adalah ‘Ukasyah Hafidz. Dia lahir di tempat sama. Rumah bersalin di tengah sawah. Kisah meriah pun berulang. Tambah meriah mestinya. Tapi kali ini kami sudah pindah rumah di daerah Karanganyar. Tidak lagi di Solo.

Chacha lahir di bulan Muharram. Dia lahir dengan sistim 4 tak. Pembakaran kering, tanpa oli samping. Kasusnya berawal dari ketuban istriku yang pecah duluan. Waktu itu jam 2 malam istriku terbangun dengan badan yang basah karena ketuban bocor. Jam 4 pagi dia minta diantar ke tengah sawah itu. Sampai disana terus diperiksa sama bidan dan langsung nginap saja. Tapi sampai jam 8 pagi dan ketuban pecah cah, bayi belum mau lahir. Baik, aku tunggu. Sampai jam 9 belum lahir juga. Para bidan menawari aku untuk memakai obat pemacu kelahiran. Aku tolak, istriku juga menolak. Istriku masih tegar juga. Aku berdo’a mudah-mudahan lancar-lancar saja. Insting, kudekati perut buncit istriku. Kubisikkan kata-kata halus pada anakku. Nak, kamu nggak kasihan sama ummi? Tuh, ummi kamu sudah kesakitan dari sejak malam sampai pagi terus hampir siang begini karena kamu. Kamu anak baik kan? Kalau gitu cepet lahir ya…..

Mbak Bidan, kita tunggu sampai jam sepuluh, ya. Kalau nggak mau lahir juga, terserah menurut njenengan sekalian. Ya, Mas, jawab mereka sejuk.

Subhanallah, Allahu akbar, walhamdulillah. Jam 10 tet, anakku lahir normal. Sehat dengan bobot 3,8 kg.

Para bidan senang bukan kepalang. Padahal mereka kan sudah biasa ya…. saat itu aku merasa karena dekatnya kami dengan mereka lah yang menjadi pemicu kegirangan itu.

Nama ‘Ukasyah terispirasi karena keberuntungan kami. Kami merasa beruntung karena sang bayi lahir normal dan sehat. Dulu, ada seorang sahabat yang beruntung karena jarinya. Suatu saat Rasulullah sas bercerita tentang sekian orang sahabat yang masuk jannah tanpa hisab. Selesai cerita ada seorang sahabat tunjuk jari sambil berseru,”Ya Rasulullah, apakah aku juga termasuk golongan itu?” Rasulullah sas menjawab,”Ya. Kamu termasuk salah satu dari golongan itu.” Lalu ada sahabat lain yang tunjuk jari dan berseru,” Ya Rasulullah, apakah aku juga termasuk golongan itu?” Rasulullah sas menjawab,” Sudah mendahului kamu si ‘Ukasyah.”

Begitulah ‘Ukasyah. Seorang sahabat yang tidak terkenal. Tetapi beruntung karena berhasil meraih peluang dalam kesempatan yang langka itu. Peluang masuk jannah tanpa hisab. Paling tidak keberuntungan besar seperti itulah yang kami harapkan atas anak kami ‘Ukasyah Hafidz. Keberuntungan atas jannah meski dengan usaha keras. Karena jannah tak lagi gratis sebagaimana sahabat yang dijamin itu. Tapi mudah-mudahan si Hafidz ini benar-benar menjadi penjaga amalan, penjaga kebenaran, penjaga ayat-ayat Allah.

Kemudian yang keenam,

Miqdad Murtadlo. Anak ini lebih dahsyat dari Chacha. Bukan cuma ketuban pecah duluan, bahkan kontraksi yang sudah sering itu kemudian semakin menghilang dan berhenti. Mungkin ini adalah pelajaran bagi kesombongan kami.

Belajar dari beratnya persalinan kelima kami, kami membuat semacam program. Program yang memungkinkan kami mengurangi bobot lahir sang bayi. Logikanya semakin kecil fisik bayi karena bobotnya yang lebih rendah, maka persalinan semakin ringan. Wong istriku sudah melahirkan kelima anak kami, mau yang keenam. Itulah kesalahan kami. Mengatur kehendak Allah Yang Maha Menentukan. Yang Maha Kuasa. Yang Maha Bijaksana. Astaghfirullah…… Ya Allah ampuni kesombongan kami.

Bulan itu adalah Muharram. Untuk anak keenam ini kami cukup membawanya ke bidan desa pensiunan. Santai. Kira-kira jam 11 malam aku antar istriku dan langsung menginap di rumah sang bidan. Anak-anak kami biarkan tertidur di rumah. Aku nelepon ibu untuk minta bantuan beliau menemani anak-anak di rumah. Rumahku kira-kira 50 meter dari rumah ibu.

Sampai pagi jam 7 air ketuban sudah habis stoknya. Jam 8 malah mulai kontraksi sampai jam 12 dan baru buka empat dari angka sepuluh yang dibutuhkan untuk persalinan. Dan kontraksi malah berhenti di siang itu. Bu bidan memanggilku. Omong-omong sebentar, akhirnya istriku dirujuk ke rumah bersalin yang cukup besar di kotaku. Di sana langsung diinfus pacu dan, lahirlah si bayi mungil dengan berat 3 kg. Nginap tiga hari. Biaya diatas 1 juta rupiah. Cukup mahal untuk ukuran kotaku. Biasanya biaya persalinan cukup 300-an ribu bonus akte kelahiran.

Begitulah balasan bagi orang sombong itu….. Ampuni kami ya Allah.

Oh ya, itung-itung anak-anak kami lahir pada bulan-bulan Syawwal-Syawwal, lalu Dzulhijjah-Dzulhijjah, terus Muharram-Muharram. Tidak aneh tapi nyata.

Dan sampai sekarang, kami hidup damai di desa. Kampung halamanku. Saat ini kami adalah keluarga dengan populasi terbesar di lingkungan RW kami. Delapan anggota keluarga, dengan status pekerjaan tak jelas tapi tak masuk kategori keluarga miskin Indonesia. Alhamdulillah.

Aku sudah ikut KB kok dengan jenis Kerep Bayen atau Keluarga Besar. Anak-anak itulah buktinya.

tanpa-miqdad-dan-hasna1Dan hari-hari ini kami berdelapan masih diberi kebahagiaan oleh Allah. Kami selalu dicukupi kebutuhan kami oleh Allah. Masih sempat nih, foto-foto. Fotonya banyak semut karena sudah lewat tengah malam. Tapi tanpa Hasna dan Miqdad. Mereka asyik tidur di kamarnya. Foto dulu ah sebelum ronda…

update:

Hehe…. ini ada update-an. Anakku nambah lagee… alhamdulillah.

Dan alhamdulillah, yang ketujuh ini praktis gak nyita banyak perhatian dan gak pula nguras energi kedua orang tuanya. Mulai masa awal kehamilan sampe persalinan normal-normal saja.

Sekitar sembilan bulan lalu memang istri merasa perutnya isi lagi. Dan memang bertambah hari bertambah maju saja. Dan demikianlah, selain istri sudah hafal dengan kondisi kehamilannya, aku pun juga hafal dengan kebiasaan istriku kalau lagi hamil. Lha wong anak yang ketujuh je… tapi memang istriku gak aneh-aneh kalau lagi hamil kok. Konon ada ibu yang suka aneh-aneh kalau lagi hamil. Ngidam katanya. Ada yang maunya makan mangga muda padahal lagi gak musim. Ada yang penginnya nyium bau ketek suami yang habis kerja jadi buruh bangunan, ada yang maunya bersin kalau tercium bau badan suaminya yang orang kantoran. Wis pokoke ada-ada aja. Dan parahnya hal begituan sering dikait-kaitkan sama hal-hal mistis gitu. Parah….

Bagiku ngidam itu sah-sah saja selama bisa dikaitkan dengan perubahan hormon sang istri. Namanya perut yang biasanya berisi nasi berikut sayur dan lauk, eh…sekarang ada makhluk lain, ya wajar kalau merasa ada perubahan indra penciuman dan sejenisnya. Maka kadang jadi pengin yang asem-asem biar gak muntah. Wajar….

Kembali ke update-an.

Pasca persalinan Miqdad yang agak heboh, aku dan istri ngambil pelajaran. Gak musti nyari yang murah bagi persalinan anak kami meskipun alternatif murah lebih disukai. Tapi melihat peta perjuangan persalinan Miqdad itu, aku putuskan sebagai kepala rumah tangga bahwa kalau nanti punya anak lagi, tidak boleh menjadikan faktor tarif murah sebagai satu-satunya variabel pengambilan keputusan. Meskipun tarif murah kalau masa aktifnya pendek gimana hayo, pulsa bakalan numpuk kan? Mubadzir…!!! E….eee…eeeeit deh…..kok ngomongin tarif pulsa seluler!!!!

Ehm… murah adalah sebuah penilaian yang mewakili sebuah keseimbangan antara biaya yang kita keluarkan dengan hasil yang kita peroleh. Meskipun secara nominal terbilang kecil, kalau hasil yang kita peroleh gak signifikan, mahal jadinya…

Subyektiiifff…… biarin.

Akhirnya berangkat dari pengalaman Miqdad pula, aku putuskan bahwa nanti kalau punya anak lagi, persalinannya musti di tempat dimana Miqdad lahir! Sambil berdoa mudah-mudahan dikasih lancar. Kata orang sih, semakin sering melahirkan semakin berat bagi sang ibu, tapi kata yang lain, makin banyak anak makin enak persalinan, soalnya jalan makin lempang. Au ah….

Kemudian daripada itu, pada hari Rabu 17 Rabiu’ Awwal lalu, jam 16.15 (sekitar) istriku minta dianterin ke rumah bersalin. Sudah berasa seperti mau be a be. Alamat mau ngelahirin nih, pikirku. Aku lantas anter dia ke RB yang sudah diputuskan sebelumnya. Nyampe sana sepi…

Ada dua pasien persalinan. Satunya aku kenal. Aku lewati sambil menyapa seperlunya. Aku cari perawat ke sana kemari. Masya Allah, gak nemu. Aku dekati kamar mandi pegawai, kedengaran jebar-jebur. Kayaknya nih… aku lantas balik kanan nemui istriku yang aku dudukkan di depan pintu kamar persalinan. Sabar dulu ya Mi…

Sudah ngeden, Yah.

Wadhuh, ditahan dulu ya.

Aku terus balik kanan ke luar nyari perawat lagi. Kebetulan ada perawat yang baru datang, belum pake seragam. Aku kenal dia dari persalinan Miqdad dulu. Dia pun masih ingat aku. Nampaknya dia mau jaga malam.

Ada apa, Pak?

Ayo Mbak!

Aku balik kanan nemui istriku. Ternyata dia sudah buka pintu kamar persalinan dan sudah mengambil posisi melahirkan di tempat persalinan. Ya Allah…

Hamil yang keberapa, Pak? Tanya mbak perawat.

Ketujuh, Mbak.

Ya sudah, Bapak diluar dulu ya…

Ya Mbak.

Sambil menunggu perawat bersiap-siap, aku baca doa dulu sebentar sambil kupegangi tangan istriku dan kuelus perut buncitnya. Dan kemudian aku keluar.

Gak lama ada bidan datang dan langsung masuk. Dan gak sampai sepuluh menit kudengar ada tangisan bayi. Aku dekati kamar bayi yang disebelah kamar bersalin. Ada seorang bayi, tapi tidur terlelap. Berarti yang kudengar itu tangis anakku. Alhamdulillah, cepatnyaaa…

Tak lama sesudah itu, seorang sang perawat menggendong anakku sambil tersenyum manis padaku. Aku melihat sekilas wajah bayiku, sepertinya laki-laki.

Dan benar, sesudah selesai merawat bayiku, mbak perawat keluar dari kamar bayi dan mengucap selamat kepadaku.

Selamat ya, Pak. Putranya laki-laki, 2,2 kg, sehat dan lucu.

Alhamdulillah…

Begitulah, sampai besoknya, Kamis sore aku pulang dan ngajak seluruh anggota keluargaku yang enam anak itu dan dua orang yang aku titipi momong anak-anakku selama aku ngerawat istriku.

Ayo semuaaaa….

Kita jemput Ummi kita pulang hari ini…

Ayooooo……seru anak-anakku yang lima. Si Miqdad masih cedal ngomong dan gak faham ada kehebohan apakah gerangan. Jadi dia asyik dengan bermain sendiri.

Akhirnya jadilah aku dan pasukanku datang ke RB berikut yang momong. Sampai di sana, kami terpaksa membuat kehebohan baru. Kebetulan pasien lain sedang banyak pengunjung juga. Dan kami, begitu pintu kendaraan aku buka langsung brulllll……..berhamburanlah anak-anakku. Dan itu mengundang keheranan hampir semua pengunjung RB. Masya Allah, ada sedikit rasa bangga terselip di dalam hatiku. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah.

Ya, di zaman ini banyak orang bicara kesulitan hidup. Banyak orang mengeluhkan kondisi ekonomi dan pendidikan anak-anaknya. Makanya banyak dari manusia zaman ini yang takut punya anak banyak. Bahkan sebagian lagi takut punya anak meski hanya satu atau dua. Bahkan ada lagi yang takut menikah. Lalu sebagiannya melakukan hal-hal yang tidak baik menurut agama.

Dan aku, terserah apa kata orang…. Anakku sekarang tujuh. Dan alhamdulillah sehat dan lucu-lucu.

Soal ekonomi? Ah…aku musti yakin dengan kekuasaan dan kemampuan Allah. Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk memberikan rizki bagiku dan keluargaku. Aku tinggal berikhtiar agar rizki itu sampai kepadaku. Terserah dengan jalan apa dan bagaimana asal tidak melanggar keharamanNya.

Soal pendidikan? Ah…aku musti yakin dengan kekuasaan dan kemampuan Allah. Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk memberikan pendidikan bagiku dan keluargaku. Aku tinggal berikhtiar agar kefahaman ilmu itu sampai kepadaku dan keluargaku. Terserah dengan jalan apa dan bagaimana selama itu meridlokanNya.

Soal ketakutan orang-orang dengan segala macam problema hidup? Ah….sekali lagi aku yakin dengan Allah. Dan aku berhak untuk berikhtiar untuk menyelesaikan setiap problema itu….dengan idzinNya, juga pertolonganNya.

54 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kok pake bahasa jawa… mau baca bingung….

  2. untuk mbak is, ada bahasa indonesianya kok. tapi omong-omong anti kan orang jawa juga to….jangan jadi kacang yang lupa kulitnya ya….

  3. sekarang pekerjaaan antum apaan bang?
    bisa bhs arab ya??
    bagus atuh…
    lain kali minta tolonglah

  4. apa ya…tiap kali ditanya orang soal pekerjaan, selalu bikin saya bingung…. nggak tahu mesti jawab apa. Ya Allah, apa sih pekerjaan saya sekarang ini? Ya Allah, jagalah saya dalam kehalalan rizki-Mu… jauhkan dan hindarkan dari keharaman yang Engkau benci.

    kalau soal bhs arab sih……he…he…he…. nggak bisa juga…. kecuali dikit-dikit. dapetnya dari mana juga nggak jelas kecuali kadang sih ketemuan sama orang arab palsu (jawa ngomongnya arab) jadi ketularan dech…kayak penyakit.

    kalau soal tolong menolong dalam kebaikan. let’s go….. ingat surat Al ‘Ashr kan?

  5. ngak masalah bang… pekerjaan apa aja, yang penting halal dan menghasilkan duit. betul ngak?

  6. iyah nih, bingung baca nya pake bahasa jawa
    hihihi….

    salam kenal yah

    http://yuhendrablog.co.cc/

  7. aku ora ngerti, salam kenal aja ya.

  8. bojo loro? ehm….. lam knal ndherek tepang..

  9. salam kenal semua. terima kasih sudah mampir. saya juga ngerti sedikit bahasa indonesia kok.

  10. Nek aku, di paringi anak enem iji, trus nggawe team volyball…Mas, rejeki iku sangkan paran, nyampar nyandung…sing jenenge kerja ya ora mesti dadi pegawai apa sudagar … dakwah ya kerja sing nggaji Allah langsung! Lho kok malah Mbak sing dadi Da’i? Sory! Mbak Andhien.


    ##bener Mbak Andhien. rejeki itu nyampar nyandhung. sak enggon-enggon ada saja. yang penting kita yakin. soale Allah sudah bilang: wa man yattaqillaaha yaj’al lahu makhrojan.
    rejeki itu urusan Allah. lha urusan kita menungso ya ngibadah lan ikhtiar. mekaten nyuwun arto, eh kleru maksudnya nyuwun setunggal ewu, kleru maneh, nyuwun sewu mawon. he…he…he….

  11. begini. soal kerja itu semua pasti kerja. orang pengangguran juga kerja. tp sayangnya ada yang menghasilkan uang, ada yang menghasilkan ganjaran dan ada yang menghasilkan dosa.
    yang penting orang hidup di dunia itu kan untuk ibadah..so amal perbuatan itu hendaknya diniatkan untuk ibadah slalu. yang cari maisyah jg hrs niat ibadah…gimana c cari maisyah kok ibadah??? ya ibadah krn memang menjalani perintah perintah Allah. bhw laki2 itu qawamuna alannisa’. termasuk dalam hal maisyah gt.

    ##
    siiip mas, memang kata Allah dalam surat An Dzariyat ayat 56 itu
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِي

  12. Anak saya juga enam,suami kerjanya kadang-kadang,itupun kalau longgar,gak papa yang penting halal,dan yang pasti kami gak kekurangan.Alhamdulillah selalu kami panjatkan.


    halah….bojo dhewe ndhusel-ndhusel….gak papa si…

  13. assalamu’alikum
    hai teman-teman aku akbar
    kunjungi aku di yaasin_tilugenep@yahoo.co.id
    atau di
    081321831993

  14. assallammu’alaikum wrwb.
    Hallo wong jowo met kenal aku diJakarta juga lagi serampangan tapi gak bingung seh sebab masih ada yang dipalak warung2 gt,hahaha

  15. Assalamu’alaikum. Salam kenal. Nggak begitu ngerti bahasa Jawa sih. Yang penting salam kenalnya aja ya.

  16. blog E diisi gado-gado ae mas,,ben enak,,hehe


    waduh….entar habis dikrikiti dhewe …. wong itu kesukaan ndiri je…
    tapi matur nuwun banget Mbak usulnya, aku nunggu masukan sampeyan ki…kepiye ben gado-gadone tambah uenak. sungguh…..kutunggu…..tenan, gak ngapusi…..serius.

  17. ga ngerti jugah nih bahasa jawa, mampir sambil baca-baca dulu yah mas habib, maaf blog mas habib di tautkan terlebih dahulu tanpa izin :p, mohon direstui ^^


    lho kan udah diterjemahin ke bahasa Indo di bagian bawahnya meski gak nyambung juga. he…he….
    emang mbak Icha asli mana….? (sok mau kenal ni)
    soal nge-link, itu mah udah plat kuning, buat umum. silakan tak perlu minta restu. kaya’ mau nikah aja minta restu. hiks…(terharu)

  18. kulonuwun…
    mas mampir liat2 ya…suwun lho sudah mampir ke “kandang” saya.
    Salam kenal….


    monggo mas,
    liat-liat boleh kok, gratis. kalo pas ada suguhan ya silakan dinikmati saja
    salam kenal juga.

  19. Sampun bludas bludus ten blog mriki tp kuq yo portofolione klewatan ki heuheu… Subhanalloh andaikan “mereka” memahami dan mengamalkan ajaran Rosululloh (ttg: keluarga & kehidupan)ato setidaknya “mereka” membaca portofolio mas Habib ato “mereka” melihat lebih keluar lagi kehidupan yg sesungguhnya, saya yakin urusan “itu” tdk mesti alot begini hmmmmm..(Curhatan malah..) misale dunyo ki mboten wonten tiang tamak, kathah tiang engkang bijak lan patuh (taqwa) kalih sing pengahe urip ALLOH S.W.T,, mestine dunyo iki adem, ayem, tentrem lan damai…insyaAlloh. (jawane salah rak mas??hehehehe..)


    ah embuh Mas wong saya ini jawa tapi lupa bahasanya, bisane mung ngoko tanpa krama inggil. wong ndeso ra ngerti unggah-ungguh boso saya ini. jadi sekalian mohon ma’af buat semuanya kalau bahasa saya terasa kasar dan gak santun…..
    sepertinya alot bener ya Mas urusannya…. sabar dan berdo’a deh…mudah-mudahan banyak kebaikannya (ah opo sih…)

  20. dah lama nih gak silaturahmi ke tempatnya mas habib…perasaan terakhir november 2007 (setahunan).

    kulo sakniki wonten bandung. jadi pesuruh jogo gardu…

    sekarang klo masalah pekerjaan harus diubah wacananya

    ” bukan punya pendapatan tetap, tetapi tetep punya pendapatan ” heheheh


    nah yang sudah dapet pengalaman, ya kan….
    pendapatan tetap itu masih tergantung banyak hal yang mempengaruhi ke’tetap’annya. yang penting tetap punya pendapatan, lebih realistis rasanya…
    tetap ngeblog di yakinku ya….biar tetap konek.

  21. Salam kenal mas habib… postingannya bagus2…😉


    salam kenal juga mas agung….masih lebih bagus yang bikin postingan kok. apalagi yang kasih komen kali ini…
    aha….tambah sedulur, senengnya daku…

  22. waduh kok baru baca sekarang ya…maaf ni kelewat
    duh kb nih (keluarg besar)hihihi…ngeliat senyum seluruh kelurga disitu bikin iri hihihi…


    makanya mbak ayo ikutan…

  23. Salam kenal!!!!!!!!!!


    kenal balik Mbak!!!!!!!

  24. hmm..lelaki biasa juga salam kenal mas wong solo..masih pingin belajar jadi habib juga xixix


    bikin lagu ‘aku lelaki biasa’ dong Mas…

  25. mas, komennya kok dikit men ???

    enggak fokus ma komen ya ??

    kalo yang suka nge-blog biasanya butuh komen

    banyak, biar nge-top and banyak temen, gitu


    maksudnya?

  26. wah.. pamer anak tho critane…
    aku yo wis meh 5 lho ….
    mung kacek 1 wae.. gak popo… eee 2 ding.
    sing 1 durung metu.
    dongakne lahir slamet yooo…..
    amin. matur nuwun


    lha wong portofolio-ne yo mung kuwi je….. lha witikno piye Mas…
    lha wong pamer untu yo malah ra patut…..
    mugo-mugo ndang dho lahir….dadi anak sholih sholihah….. wong tuwane yo sregep le ngaji lan ngibadah. ra tau ketok nyang ngendi wae to Mas…?

  27. lha ngethok pie….esuk ngeterne anak sekolah…
    mulih jam 8…trus turu….tangi jam 10 utowo jam 11…(ning sok yo ngopo-ngopo ngono )
    trus ngibadah…..sholat…..trus momong anak…….
    trus…….sholat…..trus mapak anak sekolah……
    trus…..ngedusi anak…..trus….opo yoooo
    kok terus …terus … terus… koyo kondektur wae….
    (Gak patut yooo esuk-esuk liyane do seragam rapi.. aku malah sok-sok adus wae durung….sandalan jepit meneh….wah elikk …)

  28. lahh …ra ngethok pie tho….
    esuk2 ngeterne anak sekolah…..mulih jam 8….trus turu…tangi jam 10 sok yo nganti jam 11…..( ning sok yo ngopo ngopo ngono )
    trus bar kuwi ngibadah …sholat…. trus momong anak…karo nuru-nuru anak….
    trus bar ngashar kae mapak anak mulih sekolah…..
    trus…trus….trus …opo yoo…
    koyo kondektur wae…..terus..terus…
    ( wah nek esuk liyane podho nganggo seragam rapi-rapi sepaton… aku adus wae sok durung… gek sandalan jepit meneh…. )
    ketok elik ngono….wis ben….gpp


    hehe….the morning report

  29. mas habib,
    kumaha damang?
    pripun kabaripun?
    masih kelingan kaleh kulo toh? hehehe (padahal sering chat )


    pangestu mas zen….sedoyo lir ing sambikolo. toto titi tentrem…gemah ripah loh jinawi….ajining dhiri ono ing kedaling lathi….malah bablas….

  30. mas mampir ke blog aku ya
    baru coba2 bikin blog .
    http://bagazi.wordpress.com

  31. Salam kenal aja dari Garut.

  32. terimalah rasa hormat saya,
    wajib aku menghormati mas yang lebih tua,
    subhanauloh jika semua umat muslim memahami dan mengamalkan ajaran Rosululloh (ttg: keluarga & kehidupan) setidaknya “mereka” membaca portofolio mas Habib “mereka” melihat lebih keluar lagi kehidupan yg sesungguhnya, saya yakin urusan “itu” tdk mesti alot begini…insyaallah apa yang ditulis oleh mas akan menjadi lilin penerang setiap orang yang menengok tulisan diatas akan lebih baik bila ia dapat memproyeksikan dalam kehidupannya bila sejarah tulisan diatas kembali terulang padanya….semoga

    bintuni-papua barat
    syam inay


    jadi malu aku…..kenapa juga sih aku bikin postingan ini? mau dihapus saja eh ada teman keberatan, ya sudahlah…..tanggung malu ajah…
    ah….
    salam kenal saudariku di timur sana.
    selamat datang, sering mampir ya…nambah saudara.

  33. Assalamu Alaykum
    Mas Habib Salam Kenal dari Tambun

  34. assaamu’alaykum bapak.,.,!!!!
    belum tak baca e sek ya.,.,tag baca dulu.,.,

  35. wah wah wah.,.,
    sama sama banyak keluarga pak.,.,.
    tapi beda nya bapak kepala keluarga nek aku anggota keluarga.,.,.,
    hahaha.,.,.,salam buat semua pak,,

  36. hoho.,.,.,
    tar insya allah tak coba pak,,,,,

  37. bismillah,,,

    wah pak,,, keyen,,keyen,,

    bagus tulisannya,, ga mo coba jd penuli pak??
    khehehehehehe,,,,

  38. waduh mak dhe,….. aku rodok gelo masalahe sing tak goleki ora nono di blog iki, ora nono babar pisan bab parkit sing bahas, ning aku bersyukur mak dhe dipercoyo pengeran amanah sing ora gapang dilakoni dongoku soko adhoh mugo-mugo tansah pinaringan kuat barokah lan mangfaati donyo akherat tinebihake soko ponco boyo lan kuat nandang drajat pangkat kemulyaan amin, pesenku mak dhe ojo babar pisan tembung iki “Juga beberapa bulan sebelumnya aku telah berhasil memelihara parkit yang … Juga ada beberapa ribu burung puyuh yang aku ternak di samping rumah. …. Tetapi beruntung karena berhasil meraih peluang dalam kesempatan yang langka itu” dienggo sarono/alasan opo maneh istilah parkit dimaknani anak matur suwun…….. salam cah kene (kediri)

  39. Subhanallah, penuh berkah sekali, anaknya lucu2 gitu🙂


    sama bapaknya lucu mannna…

  40. Assalamu’alaikum
    Salam kenal..mas yakin. sukses, Sambil baca artikel2 Islam bermutu, BERKUNJUNG KESINI.

    wassalam


    wa’alaikumsalam. jazakumullahu khaira sudi mampir…. jangan hanya sekali

  41. ass.wr.wb.
    maaf mas habib, siapa yang sebenarnya punya blog ini? saya butuh pertolongan… untuk menghapus komentar dari orang yang tidak bertanggung jawab hingga dapat menyebabkan orang lain kehilangan rejeki utk menghidupi anak2nya yg masih sekolah. bukannya sesama muslim wajib untuk membantu sesamanya. Itu juga kan yg diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Tolong kirim email ke alamat email saya. Segera.. Anda akan menyelamatkan hidup mereka. Terima kasih
    wss.wr.wb

  42. Assalamualaikum wr.wb

    Saya juga butuh pertolongan untuk menghapus comment saya karena sesuatu hal. Saya mohon alamat email anda, terima kasih.

  43. Ass.Wr.Wbr.
    Saya bersyukur bisa membaca blog pak Habib.Bapak sepertinya orang yang tidak pernah putus asa dan mau berbuat apa saja asalkan halal , sesuai dengan jalan Allah.
    Hebat …………..
    Wass.Wr.wbr.

  44. Ass.Wr.Wbr.
    Hebat …………..
    Wass.Wr.wbr.

  45. Mas ternak parkitnya dimana, jadi pengin lihat.
    Salam juga Cah Kediri

  46. Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,
    …..🙂
    Dedek bayinya lucu-lucu,
    Sebuah keluarga bahagia, semoga senantiasa dalam kebahagiaan bersamaNya, aamiin🙂

    Salam,

  47. Alhamdulillaah. Sulit seperti apa pun yang dibayangkan orang, kalau Allah memberikan pertolongan ya semuanya jadi mudah. Subhaanallaah, walhamdulillaah, walaailaahaillallaah, wallaahu akbar!
    O,ya saya lupa e-mail antum, dulu belum masuk ke kontak sepertinya. Apakah bisa dikirimi ke e-mail saya? Jazaakumullaahu khairan.

  48. wah….metal tenan bhsne cah!!!

    gw ktwa ampe guling2!!
    ampe orng yg dsmping gw kbur…dkra gw gila x…(iy bis bc blog ni bhsne metal)

    awl y kan gw mo nyri profil PT.SOLIDGOLD BERKARYA gw bc kok kbnykn investor kcwa!!!

    tu aawly asyik sih,ad ap dnng ni pPT??????

    maslhny cewek gw krj dsno!!!!!!!!!!!
    bru lg y gw g mo dy dkjr2 nsbh gr2 bis merkrut nasbh duit bkn nambh mlh ngilng,y psty bkn cewek gw c,,,ad mafia yg bkn nm pt ni jlek..

    aplgi ngmngin PROFIT??????????? (dri mnee………..)

    ye intnye lo2 pade yg mo invest monggo,g jg kg mksa!!!
    TANYAKAN HATI KECIL LO!!!!!!!!!!!!!!

    tu intya…………

    mog mrka yg nipu dtnjkn jln yg lrus..(AMINNNNNNNNNNNNNN!!!!!!)

  49. kadng gw mkr!!!!!!!!!!!
    kpn giliran gw dpt rizki berupa materi………..
    waduh gw mo cpt nglunasin byrn kuliah,,,
    n gw jg mo ngikutin sunah nabi…yaitu NIKAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!!
    gw pngn bngt nkh bkn mslh ngjr yg ntu…(yg fiktor brsindlu pke air n mndi 7 smur n kmbng 1001 rpa bair ilang .he..he…)tp ye mngkin dh umur,malu ma umur!!
    tp np y rizki gw sret amt<si amt jg kg sret??????????
    ni aneh..yo ibdh lancr,usha nyri krja jg kg klh lncr!!!!!!!!!
    tp npe tu malaikat kg mo ngdket jg ngsih rizki ma gw?????????
    waduh kbru dsmber orng calon gw!!!!!!!

    sbr..sbr..sbr….mknan gw sbn ari!!!!!

    y gw c kg mo ngmbil psing inty nkh ma dy,rizki bs nysul!

    mg ad jln kwlr,,,

    ngende doane dlur sedanten nggiihhhh…..(b.banten alus)

  50. woalah cak…cak…..
    cak aziz ini malah yang kocak

  51. nice blog…

  52. assalamu’alaikum

    blogipun sae sanget. menawi angsal usul malah dipun kathahi bahasa jawinipun kemawon

  53. lha kulo tak komen ngangge boso senengane kulo kemawon….
    مقالة ممتازة جدا…..


    lha mbok tafadhol….

  54. luar biasa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: