Matematika Uang

22 Juli 2010 pukul 09:42 | Ditulis dalam kehidupan, keluarga, romantika | 3 Komentar

Ini rekaman empat hari lalu.

Ba’da maghrib aku dan istri pulang dari rutinitas kami, eh ada aura kegembiraan yang lain dari biasa yang terpancar dari wajah anak-anak.

Yah, aku punya uang banyak…..seru si Ovan. Aku juga, sahut Ahmad. Yang lebih kecil udah asyik sendiri menimang bagian masing-masing. Nadya senyum-senyum dipojok ruangan. Di tembok depan matanya tergambar sikat gigi baru, odol baru, buku baru, serba baru. Dia pulang sebentar untuk persiapannya mondok di pesantren mulai Sya’ban ini.

Ada apa ini kok semua pegang uang? Dari mana kalian dapatkan?

Anu, Yah. Tadi waktu pulang dari masjid, saya menemukan uang 50 ribuan 3 lembar. Sebenarnya sih aku lihat si pengendara motor itu. Aku teriak kencang juga dianya nggak dengar. Kelihatannya dia sedang pegang hape, Yah. Dibel temannya mungkin, jadi nggak dengar teriakan saya. Begitu kronologis peristiwa versi Ovan yang aku dengar.

Masya Allah, gimana Yah? Sahut istriku.

Ya….itu uang milik orang, kenapa juga kalian bagi-bagi macam punya sendiri gitu?

Lha kan kami nemu, Yah….sahut Ovan sama Ahmad.

Lha iya, nemu dan tahu pemiliknya kan?

Iya, Yah…terus gimana Yah?

Ya…..dikembalikan lah….

Yaaaaaa……………. seru anak-anakku tanpa ambil suara sebelumnya

Hayooo….anak Islam mesti punya adab dong. Akhlaq juga mesti dijaga. Amanah itu wajib.

Iya, Yah… jawab anak-anakku dengan lesu.

Dalam Islam, kalau kita nemu barang di wilayah yang nyampur penduduknya, ada yang muslim dan non muslim, mesti diberitahukan selama setahun. Kalau nggak ada yang datang dan mengambil, ya barulah menjadi hak si penemu. Begitu…

Kalau nemu makanan gimana Yah, kan basi tuh kalau mesti nunggu setahun…nanya si Ahmad.

Kalau khawatir basi ya kamu makan, tapi kalau yang punya nyari ya kamu mesti ganti rugi.

Wah, nggak enak dong, Yah.

Emang…. makanya jangan seneng-seneng dulu kalau nemu barang di jalanan.

Trus, gimana ngembaliin uang itu Yah? Nadya kembali ke masalah utama.

Besok siang, kira-kira waktunya sama ketika kamu nemu, kamu tunggu di tempat kamu nemu. Siapa tahu orang itu lewat lagi. Nah, kamu tanya ke dia. Pak, atau Mas, njenengan kehilangan uang apa tidak? Kalau dia jawab iya, kamu tanya lagi berapa Mas? Kalau jawaban dia sama dengan uang yang kamu temu, berarti dia memang orangnya. Kalau perlu kamu tanya lagi, rincian uang yang hilang itu, apa ribuan apa sepuluhan apa duapuluhan dan seterusnya. Terus kamu ajak orang itu ke rumah untuk mengambil uangnya. Paham?

Iya, Yah….

Malam itu istriku nguping pembicaraan mereka di kamar.

Wah, kenapa tadi mesti cerita ke Ayah Ummi. Kalau enggak kan uang nggak dikembaliin. Sayang ya…

Iya, sayang juga. Padahal aku mau beli mainan tentara.

Kalau aku mau beli perlengkapan buat mondok.

Kalau aku mau beli kue.

Bla….bla…bla…

Hayooo…kok gitu sih kalian, kata istriku.

Nggak boleh itu. Sikap kalian salah. Kenapa nyesal kalau mau berbuat baik?

Nggak kok Ummi….

Ya…dasar anak-anak.

Besoknya si Ovan menjalankan rencana semalam. Dan betul…orang itu lewat lagi.

Mas, njenengan kehilangan uang ya?

Iya Dik.

Berapa Mas uang yang hilang?

150 ribu Dik. Adik tahu?

Iya, Mas. Mari ke rumah saya. Uang itu saya taruh di rumah. Masih utuh, Mas.

Oh…tidak usah Dik. Biar saja. Adik ambil saja ya. Ini saya tambah ya.

Lantas Ovan nerima tambahan 50 ribu.

Sudah Dik, terima saja. Terima kasih ya, saya terus dulu Dik.

Ya, Mas. Matur nuwun.

Dengan agak bingung campur takut, aku hafal gaya Ovan kalau pas bingung atau takut salah, dia biang ke Ummi.

Yah, ini Ovan malah dikasih duit lagi. 50 ribu malah. Genap deh 200 ribu, seru istriku. Gimana ini, Yah?

Ya….apa boleh buat. Kita syukuri saja. Namanya rejeki.

Alhamdulillah, Ovan menarik nafas lega. Saudara-saudaranya yang saat itu jaga jarak aman ikut menghembuskan nafas besarnya.

Siang itu ada pembagian harta diantara mereka. Aku biarkan saja. Toh itu milik mereka. Halal.

Sorenya waktu aku buka kulkas, ada setumpuk es krim kemasan kecil.

Hey….ini apa?

Es krim, Yah.

Ini mesti dibuang anak-anak.

Kok dibuang, Yah?

Wajah anak-anak itu pucat dadakan. Ahmad langsung melipat alisnya. Nadya langsung protes, tapi ke Umminya. Ovan berdiam di depanku menunggu penjelasan.

Baik, semua berkumpul di ruang ayah sekarang, perintahku sebagai nahkoda kapal yang bertanggung jawab dengan seluruh penumpang.

Lampu rumah aku matikan kecuali lampu plenthon merk Philip sebesar 5 watt di ruanganku.

Begini.

Beberapa waktu yang lalu, ada fatwa boikot dari para ulama berkaitan dengan beberpa produk baik makanan dan minuman atau produk-produk lainnya. Memang ada pro dan kontra soal ini di kalangan umat.

Pro dan kontra itu apaan, Yah?

Setuju dan tidak setuju.

Memang tidak emua produk itu bisa kita tinggalkan. Ada yang dengan terpaksa masih kita gunakan. Terpaksa. Dan ulama juga mengatakan,

ما لا يدرك كله لا يترك كله

Kaitan dengan kasus kita sekarang, memang kita nggak bisa sama sekali ninggalin produk mereka. Tapi kalau memang ada yang sudah bisa kita tinggalkan ya ayo ditinggalkan saja. Mudah-mudahan Allah mengampuni kelemahan kita.

Bla…bla….bla… ludahku ikut meloncat keluar dari persembunyiannya karena kaget ada suara tegas keluar dari dalam lorong di belakang sana. Si Hasna yang paling rapi diantara anak-anakku melap karpet yang jadi korban jatuhnya cairan meteorit itu.

Singkatnya, es krim merk (sensor) tidak boleh dibeli atau dimakan. Ditelan bulat-bulat juga tak boleh. Dikasih ke orang lain lebih tidak boleh. Jadi dihancurkan lalu dibuang.

Selesai. Ada pertanyaan?

Ada, Yah. Apakah membuang makanan ini tidak bisa disebut mubadzir? Maaf Yah.

Secara asalnya, iya. Namun sebagai pembelajaran kalian dan sebagai bentuk ketaatan kita kepada ulama, hal itu harus dilakukan.

Tapi kan sudah terlanjur dibeli, Yah…

Saat ini, “terlanjur” tidak bisa membatalkan hukum.

Dalam hati aku mengumpat, diluar sana ada banyak anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa menjadikan “terlanjur” itu sebagai modal mereka untuk semakin sukses melanggar aturan, ma’siyat. Karena terlanjur hamil ya dinikahkan saja. Karena terlanjur mencuri ya, dipakai saja. Kalau terlanjur korupsi ya, diam saja. Dst…

Jadi bagaimana?

Iya, Yah….

Lampu rumah boleh dinyalakan kembali.

Lantas dengan lesu anak-anak menenteng bungkusan es krim itu. Sesekali tangan mereka usil dan matanya ikut-ikutan mengintip isi bungkusan yang mereka sebenarnya sudah tahu isinya.

Beberapa kali mereka menolehkan kepala kepada ayah mereka seolah mengajukan amnesti. Ampuni mereka Yah, begitu maksudnya.

Tiada ampun bagi mereka. Hukum cambuk dan dibuang. Itu keputusan final. Thok…thok….thok…

Sampai di luar mereka injak-injak bungkusan itu sampai gepeng dan dengan ramah sang tong sampah menerima kedatangan mereka.

Sampai di dalam lagi, aku tanyai mereka. Berapa uang yang kalian habiskan untuk mendatangkan masalah itu?

30 ribu, Yah.

Baik. Sekarang duduk kalian.

Begini. Dalm kaitan dengan harta yang sangat mudah cara mendapatkannya, ada bagian yang harus kalian bayarkan. Ulama berbeda pendapat berapa persennya. Ayah saat ini pake pendapat, bahwa harta seperti itu mesti diambil khumus-nya. Seperlimanya. Jadi 200 ribu uang kalian, diambil seperlima, serahkan kepada Allah dan RasulNya. Karena kalian masih kecil dan belum mukallaf, anggap ini sebagai tambahan praktikum buat kalian. Berapa jadi yang harus diserahkan kepada Allah dan RasulNya?

40 ribu, Yah.

Sekali lagi ini hanya latihan pra jabatan. Kita anggap dulu yang 30 ribu sudah kalian bayarkan meskipun salah sasaran. Jadi tinggal 10 ribu yang mesti kalian antarkan ya.

Ya, Yah.

Malam itu mereka berangkat ke masjid mau nyelipin ke kotak amalnya selembar uang bergambar seorang sultan yang ngumpet dibalik rumah limas.

Sesampainya di rumah lagi, aku tanyai mereka. Masih berapakah uang yang kalian bawa?

Seratus enampuluh ribu rupiah, Yah…

Baik. Hari ini kalian telah belajar matematika uang. Kalau kalian menemukan pelajaran lain dari kelas kita ini, simpan itu. Jaga sampai mati. Ingat?

Ingat, Yah…

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. subkhanallah…peljaran yg berharga buat kami.istri yg paham agama anak2 yg nurut…minta do’anya kang.biar bisa menirunya…


    saya malah belajar dari mereka Mas….ingat masa lalu bisa mbrebes mili

  2. ngangsu kawruh kang habib buat yang belum keluarga ini … 😀


    kapan…?

  3. subhanalloh.. allohu akbar. . nikmat alloh yang prlu d syukuri.. anak2 yang sholih/ah,,, istri yg cerdik lg sholihah..
    mnt doax kang,biar bs mcptkan kluarga spt itu.. hmmm…


    ya Allah…..wujudkanlah harapan saudaraku ini….
    berikanlah kebaikan yang banyak padanya
    Engkaulah Maha Pemberi
    dan tidak ada apapun yang bisa menghalangi dari apa yang Kau berikan kepada hambau-hambaMu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: