Perlukan Ijazah dan Sanad Bersambung kepada Nabi Muhammad untuk Guru Ngaji Zaman Ini?

8 Juli 2015 pukul 08:04 | Ditulis dalam curhat, irodatul khoir lil ghoir, jalan-jalan, kehidupan, renungan | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Belajar dari kasus:

Pertama.

Aku punya kenalan orang Citeureup. Pak Kyai di sebuah masjid di sana. Waktu aku diajak mampir ke rumahnya, aku ngeliat koleksi kitabnya lumayan banyak. Dia juga lancar baca kitab. Pernah mondok.

Lah, waktu anak gadisnya keluar menyuguhkan minuman, aku terkejut. Pakaiannya itu loh…

Aku mbatin thok wis.

Saat aku menginap di sana, ba’da maghrib atau ba’da subuh aku tidak mendengar anggota keluarga yang baca Al-Qur’an sebagaimana biasa aku dengar di sebuah keluarga. Hanya bapak ini saja yang aku liat baca Al-Qur’an.

Yang ini aku berani tanya. Dan aku mendapat jawaban, bahwa dia merasa gak layak menyampaikan ilmu secara kitabi kepada orang lain termasuk anak, karena dia dulu murid yang lulusnya dengan catatan. Artinya tidak mendapat ijazah mengajar dari kyai di pesantren. Dia juga belum menghatamkan Al-Qur’an kepada kyainya.

Laa haula wa quwwata illaa billaahi… Continue Reading Perlukan Ijazah dan Sanad Bersambung kepada Nabi Muhammad untuk Guru Ngaji Zaman Ini?…


Entries dan komentar feeds.