Pasar Jum’at Karanganyar Mandeg

24 Oktober 2014 pukul 21:09 | Ditulis dalam aku gak tanggung, iseng, jalan-jalan, kehidupan | Tinggalkan komentar

Tadi siang pas ada urusan di sebuah kantor di jalan Lawu seberang Masjid Raya Karanganyar, aku dengar beberapa orang ngobrol di barisan belakangku.

Itu sih, gara-gara setoran ke pemerintah kurang, terlalu kecil malah… buat biaya operasional minus. Jadi ditutup.

Bukan Bu… saya dengar sih, karena semakin sering dan banyaknya anak sekolah bolos cuman mau jalan ke sana.

Nggak ah… kan banyak pegawai yang habis senam bukannya balik kantor tapi malah asyik belanja.

Tapi yang saya dengar beda lagi, Ibu… kata tetangga saya, ditutup sama Bupati yang baru. Karena para pedagang dan juga para pembeli pada mengabaikan sholat Jum’at. Kan pasarnya di alun-alun masjid Raya Karanganyar. Aneh kan kalau yang sholat ya tetap sholat sedang yang jualan tetap aja jualan…

Aku sempat melirik ke belakang meski sekilas. Ibu-ibu asyik ngebahas Pasar Jum’at yang memang siang itu gak wujud.

Aku sendiri selama ini secara wong Karanganyar malah gak nggagas dengan adanya Pasar Jum’at itu. Pernah sekali tapi waktu itu bantu teman pasang lapak. Habis itu aku gak datang-datang lagi. Gak sreg aja…

Melihat dan memperhatikan keadaan sih, siang itu ada Back Hoe yang lagi asyik mematuk-matuk tanah. Gak tahu lagi proyek apaan…

Apa benar Pasar Jum’at Karanganyar sudah berakhir….?

Kalau alasannya memang berkaitan sama sholat Jum’at yang diabaikan, aku setuju banget. Mesti ditamatkan riwayatnya.

Aku inget aja kasus bangsa Yahudi yang dijadiin kera yang hina gara-gara ngakalin ibadah hari Sabtu mereka.

Adalah beberapa orang dari suatu desa di tepi pantai yang kerjanya nyari ikan. Tapi syari’at zaman itu, hari Sabtu adalah hari khusus untuk ibadah. Gak boleh buat nyari duit.

Tapi tiap hari Sabtu itu, para ikan malah bikin acara kumpul-kumpul di pinggiran laut yang sungguh…. menggoda iman…. dan selain hari Sabtu mereka menghilang di kedalaman lautan. Piye jal…

Tapi memang bangsa Yahudi itu kreatif poll. Mereka pasang perangkap pada Jum’at sore. Sabtunya tetap ibadah.

Sambil menyelam minum air, begitu kira-kira…

Hari Ahad mereka panen ikan.

Ide jitu kan…

Maunya sih….

Tapi dalam hal peribadahan kepada Allah Yang Maha Kuasa…. gak ada peluang buat “ide kreatif”. Yang dibutuhkan hanyalah sami’na wa atho’na mastatho’na….

Ternyata “ide kreatif” itu tetap dianggap pelanggaran. Hukumannya jadi kera…wis…medeni tenan.

Kembali ke Pasar Jum’at.

Kalau hanya libur karena program baru dari pejabat baru, sekalian aja ganti hari. Sabtu misalnya…

Gak ganggu Jum’atan.

Gak bikin pegawai bolos.

Peluang pembeli jadi lebih banyak, kan malam minggu…

Embuh lah…

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: