Perempuan Lebih Suka Kalau Dibohongi, Benarkah?

2 Oktober 2014 pukul 06:55 | Ditulis dalam curhat, iseng, jalan-jalan, kehidupan, renungan, serba serbi | 2 Komentar

Assalamu’alaikum

Dalam seminggu, aku ngalamin pengalaman aneh, menurutku.

Pertama.

Ada calon konsumen botol parfum dari daerah Malang, Jatim. Seorang perempuan, sebut saja Kiki. Masuk ke BBM. Tawar-menawar, meski harga yang aku patok sudah harga pas. Akhirnya harga sepakat, seperti adanya. Selanjutnya pilihan jasa kurir, tawar menawar lagi. Dia minta perusahaan kurir berspecies travel, sebut saja ST. Nah, disitu aku mulai menawar untuk perusahaan jasa kurir yang biasa aku pakai, toh, harga cuman selisih beberapa rupiah gak sampai 10ribu.

Masalahnya adalah di ST gak pakai sistim timbang, tapi pakai kira-kira. Lha kasihan pegawaiku to, mesti bawa barang ke ST yang cukup jauh nyeberang kota Solo, terus dikira-kira barangnya, lalu ditentukan ongkos kirimnya. Kemudian dia kasih info ke konsumen, terus nunggu konsumen transfer ke bank senilai yang ditentukan. Kalau banknya sama bisa langsung transfer dan diterima hari itu, kalau beda bank paling cepat kliringnya satu hari kemudian. Terus pegawaiku mesti nongkrong di ST sampai aku konfirmasi kalau konsumen sudah transfer gitu…? Kasihan lah…

Makanya aku tawar dengan perusahaan kurir yang bisa aku pakai untuk melayani jasa pengiriman ke sebagian besar konsumenku, yang di Jawa maupun di luar Jawa. Menurutku no problem, dan pegawaiku sudah enjoy, nyaman dan tidak memberatkan kedua belah pihak.

Bagiku pegawai juga manusia, yang memiliki hak untuk dihormati, dijaga, dan sering aku anggap mereka sebagai rekan, teman yang saling mendukung dalam banyak hal, bahkan diluar pekerjaan. Mereka bahkan bagaikan saudara bagiku. Begitulah ajaran agamaku.

Tapi ternyata, alasanku yang kasihan dengan pegawai malah dianggap gak profesional, gak kredibel, gak meyakinkan sebagai pedagang online. Dan aku dikirimi kata-kata kasar. Masya Allah… Dia bilang, kalau mau cari alasan, yang sedikit profesional lah… Dimana-mana pembeli adalah raja. Harus dimudahkan, kata dia.

Sekali lagi, dalam Islam, kedudukan penjual dan pembeli adalah setara. Tidak ada raja tidak ada hamba. Kalau sepakat, tidak melanggar syari’at, proses berlanjut. Tidak sepakat, proses berhenti. Kalau melanggar syari’at, jadi haram…. haram…..

Aku jadi mikir… masa aku harus berbohong untuk mencari-cari alasan. Perempuan ini mau mengajakku berbuat bohong….? Gak lah yau….

Aku tetap bersyukur, masih banyak konsumenku yang baik-baik. Terimakasih semuanya…

Kedua.

Aku mau cari laptop untuk menggantikan laptop lama yang rusak. Ini laptop untuk operasional jualan parfum untuk pegawaiku. Biasanya aku nyari di toko langganan di kota Solo, ada beberapa toko. Tapi kali ini aku mau nyari di toko lain. Sebenarnya juga toko langganan tapi sejak pindah alamat, aku putus kontak. Aku nanya teman yang juga biasa belanja di toko itu, sebut saja Data Surana, disingkat DS. Aku dikasih kontak salah seorang pegawainya. Aku simpan nomer kontaknya. Ternyata pakai whatsapp, sebut saja mbak Yanto.

Aku sapa, bla….bla…bla… ramah dan informatif di obrolan whatsapp.

Lalu dia nanya, Maap ini bapak atau ibu nggih…

Aku jawab, bapak dari 11 anak, mbak….

Jleg…. lalu obrolan terhenti begitu saja.

Dia gak merespon.

Satu menit….dua menit… sepuluh menit…. gak ada respon.

Aku tulis, ketoke kaget sajak ra percoyo, masa… hari gini anak kok 11. Jadi lupa urusan ASUS.

Eh, tetap gak direspon.

Ya sudah, satu jam kemudian, aku tulis begini: ya sudah mbak Yanto, timbang kaget, ini saya meluncur ke Primacom saja, atau ELS, bangjo Jagalan lewat wis…. (aku sedang berkendara beberapa meter dari toko DS, lampu merah berubah hijau, mobil melaju disopiri temanku).

Hehe…. perempuan ini mungkin begini begitu…. merasa diisengi? Atau dibohongi? Atau malah kecewa, kok sudah 11 anaknya? Tak tahulah aku, hehe…..

Padahal aku nulis dengan jujur dan terbuka….

Ketiga.

Aku mau beli roti di layanan mobil nongkrong di pinggir jalan di salah satu ruas jalan di Karanganyar. Sebut saja roti Daki. Namanya layanan mobil, ya aku belinya dari dalam mobil yang disopiri temanku. Aku tunjuk sana tunjuk sini. Ada dua mbak-mbak yang jualan. Satu duduk di belakang etalase di mobil, satunya berdiri di luar.

Yang itu roti apa, mbak…

Ini roti anu, Pak.

Coba lihat, mbak…

Aku lihat dan perhatikan, lalu aku kembalikan ke mbak penjual dan dia taruh di atas etalase.

Kalau yang itu apa, mbak…

Ini roti anu, Pak. Isinya anu dan anu…

Coba lihat, mbak…

Aku lihat dan perhatikan, lalu aku kembalikan ke mbak penjual dan dia taruh di atas etalase.

Kalau yang itu roti apa, mbak…

Ini roti anu, Pak. Isinya sama tapi beda rasa…

Coba lihat, mbak…

Aku lihat dan perhatikan, lalu aku kembalikan ke mbak penjual dan dia taruh di atas etalase.

Terus sampai beberapa macam roti ditumpuk di atas etalase. Wajah mbak penjual roti itu mulai gak nyaman.

Gimana ya, mbak? Sudah banyak yang dipilih tapi kok bingung mana yang mau dibeli…

Wajah mereka semakin gak nyaman. Merasa dipermainkan? Atau diisengi laki-laki asing di malam hari? Tak tahulah aku, hehe….

Ya sudah mbak. Beli semua wae lah…

Aku menyangka, wajah mereka langsung berubah lega. Tapi ternyata aku salah duga.

Benar mau dibeli semua, Pak? Tanya mbak yang di luar.

Lha memang kenapa, mbak?

Mau dipakai apa, Pak?

Ya dimakan to mbak…

Terus mbak yang diluar celingak-celinguk, sepertinya berusaha mengintip kaca jendela belakang mobil. Sok detektif mungkin….

Mbak yang di dalam menghitung harga tapi kelihatan ragu-ragu. Terus dia ngomong

Kok belinya banyak banget to Pak?

Nadanya mengulur waktu.

Aku jawab, apa gak boleh to mbak? Lha wong anak saya 11 je…

Akhirnya dia menyebut harga yang mesti dibayar tapi rotinya masih belum diwadahin ke tas kresek. Isyarat aku harus bayar dulu.

Coba mbak, sambil diitung lagi, rotinya dimasukin ke tas kresek. Aku malah jadi pengin memancing situasi nih. Kalau diingat-ingat, pernah gak ada kasus perampokan tapi yang dibawa kabur adalah roti….???

Sudah, Kang, bayar aja langsung, wajah gak nyaman gitu. Atau batal sekalian, kata temanku yang nyopiri.

Ya sudah aku bayar dulu, bisikku kepada temanku.

Ini mbak, duitnya.

Mbak yang di luar nerima duitku.

Tapi….

Waktu dia berbalik badan nyerahin duit ke temannya yang di dalam, terdengar oleh kami dia memaki, ndladh*k……ndladh*k….

Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi…

Perempuan jaman sekarang pinter memaki ya….

Lah, aku salah apa ya? Salah karena beli roti dalam jumlah banyak? Atau karena anakku 11?

Mungkin aku disangka berbohong dengan mengaku punya anak 11?

Lha aku kan ngomong jujur….

Maunya kami mau kembalikan saja semua roti dan kami minta lagi duitnya. Ngapain belanja ke perempuan yang kasar begitu. Tapi karena sudah agak larut malam, dan ini buat istri dan anak-anak di rumah, akhirnya kami pun mengalah.

Di rumah kami punya nama baru untuk mereka. Roti Maki, bukan Roti Daki….

Aku saranin buat dulur-dulur, beli roti ke tempat lain aja…. biar gak dimaki-maki…

Keempat

Dari teman pelanggan parfum yang kontak lewat BBM, aku diminta invite temannya. Dia kasih pin BB. Ya sudah aku turuti kemauan gadis yang seumuran anakku ini. Siapa tahu dia bakul yang bakal jadi pelanggan.

Aku undang dia. Dia masuk.

Terus aku salam. Assalamu’alaikum. Maaf ini siapa ya?

Eeeeh….

Salam gak dijawab. Didiemin sampai setengah hari.

Terus tahu-tahu, obrolan ngilang. Kontak pun ngilang.

Dia yang memulai dia pula yang mengakhiri….

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kok ya kjadiannya bisa sampe bgtu yaa..kyk pilem ftv

  2. Asli bukan rekayasa apalagi film atau sinetron…. thx udah mampir…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: