Berdamai Dengan Waktu

20 Agustus 2014 pukul 06:14 | Ditulis dalam curhat, hikmah, jalan-jalan, kehidupan, keluarga, renungan | Tinggalkan komentar

Sisi lain dari perjalanan ke Telengria kemarin.

menikmati hidupSaat menggendong Hilmi, mengawasi anggota keluarga yang sedang bersukaria. Mengamati aktifitas beberapa pengunjung. Aku malah jadi merenung sendiri. Mengamati diriku sendiri.

Hari kerja gini, apalagi yang baru balik ke Jakarta, pasti orang gak kepikiran piknik. Begitulah, kalau pas liburan, semua obyek wisata penuh orang, sesak berebut tempat. Sementara tempat kerja pastilah lengang. Sebaliknya, pas hari kerja, obyek wisata balik sepi. Lha aku ini rada kebalik.

Jadi nerawang di kehidupanku yang dulu.

Umumnya, orang tamat kuliah sibuk cari kerja. Kalau sudah nemu pekerjaan sesuai dambaan pastilah merupakan kenyataan dari sebuah impian. Tapi kadang idealisme mesti beradu dengan realita.

Terima gaji pertama jadi hal yang menggembirakan, senyum lebar. Dunia jadi lapang. Beli ini itu dengan gaji sendiri terasa membanggakan. Bahagia serasa tak ada habisnya ketika pekerjaan selalu terselesaikan dan mendapati lingkungan kerja yang nyaman.

Namun pada suatu ketika nantinya bagi sebagian orang perasaan itu memudar. Jenuh dengan ritme yang monoton yang acap kali datang sebagai ancaman. Ingin mengatasinya tapi tak kuasa, kelelahan menjelma.

Kejenuhan berakumulasi dari waktu ke waktu, menjadikan hidup penuh beban. Andai jarum jam bisa di-pause barang sejenak, pastilah menjadi pilihan pertama yang diambil banyak orang untuk ambil nafas, relaksasi sejenak bagi jiwa lelah nan penuh beban.

Namun apa daya, jarum waktu tak kenal lelah, terus berjalan meninggalkan mereka yang lelah.

Kapan bisa mencapai kata damai dengan sang waktu?

Lalu…

Terbayang kembali saat yang sangat menentukan bagiku tiba.

Aku memilih resign dari rutinitas monoton Jakarta. Aku pilih meninggalkan hiruk pikuk kehidupan serba cepat khas perkotaan.

Aku pulang kampung. Menikah dan punya anak. Aku memilih untuk menikmati hidup.

Ternyata hidup itu indah. Dan menikmati hidup penuh rasa syukur adalah sebuah pilihan. Angka secara statistik tidak serta merta menjadi jaminan dari sebuah keindahan untuk disyukuri.

Nyatanya sampai hari ini aku masih bisa bersyukur atas keindahan itu. Ada hal yang aku bisa yakini, kehidupan masa depan tidak bisa dipastikan tetapi bisa diperhitungkan. Ikhtiar, berazzam lalu bertawakkal. Selalu berhusnudzon atas kehendak Allah.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: