2,5% : Batas Orang Baik dan Penjahat

20 Agustus 2014 pukul 06:24 | Ditulis dalam ibadah gaul, irodatul khoir lil ghoir, kehidupan | Tinggalkan komentar

Jadilah 2,5% itu batas antara orang jahat dan orang baik-baik. Karena ketika kita abai, tidak peduli dengan 2,5 %, sama saja kita merampas hak orang lain. Memakan bagian orang miskin. Mengotori harta dan menghinakan kehormatan diri. Begitulah penjahat

Begitulah, agak berapi-api aku kemarin.

Saat itu aku lagi bantu-bantu teman untuk audit harta usahanya. Buat itung-itung, kali aja usahanya yang sudah berjalan beberapa tahun itu sudah sampai nishab. Kalau nishab dan haul, kan usaha mesti dizakati.

Sangat disayangkan memang, saat ini banyak muslimin yang tidak ngeh soal zakat mal. Tahunya zakat itu ya zakat fitrah, dibayarkan sebelum sholat ‘Ied. Lah… zakat fitrah itu buat bersihin diri orang berpuasa, sedang zakat mal itu buat bersihin harta dari kotoran. Kotoran yang dimaksud tentu saja adalah hak orang-orang yang disebut sebagai 8 golongan itu. Tahu deh, masih utuh 8 atau sudah berkurang.

Dan sangat disayangkan lagi, sikap gak fair sebagian muslimin dalam bersikap dalam membedakan zakat dengan pajak. Zakat itu aturan Islam untuk muslimin dalam hal harta. Aturan yang dipakai ya Al-Quran dan sunnah Rasul. Sedang pajak itu aturan negara yang dilandaskan kepada aturan yang bukan Islam. Aturan yang dipakai gak tahu dari mana…

Dalam Islam ada istilah jizyah, mungkin pendekatannya ya mengarah ke upeti atau pajak. Itu diterapkan atas orang kafir dzimmy yang tunduk kepada aturan pemerintahan Islam tanpa memeluk agama Islam. Besarannya ya terserah pemerintah, diatur melalui undang-undang. Jizyah ini diterapkan atas non muslim, sedang atas muslimin ya zakat itu.

Lha (sebagian) muslimin di Indonesia ini mau ke mana coba… ngakunya wong Islam tapi diajak bayar zakat malah ogah. Tapi mereka mengaku warga negara bijak yang taat bayar pajak. Lha wong zakat itu urusan yang ditetapkan oleh Allah sang Pencipta yang Maha Kuasa, kok malah diabaikan. Sedang pajak dibela-belain karena takut denda. Lebih takut kepada aturan hukum manusia ketimbang aturan hukum Allah. Na’udzubillahi min dzalika…

Belum lagi kalau ternyata muncul makhluk bernama gayus dan gerombolan orang-orang di balik layar…

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: