Sahur On The Road, Antara Ibadah dan Tindakan Jahiliyah

22 Juli 2014 pukul 09:18 | Ditulis dalam aku gak tanggung, budaya, jalan-jalan, kehidupan, renungan | Tinggalkan komentar

Ahad 20 Juli 2014.

Twitter TMC Polda Metro Jaya berkicau, sekitar pukul 03.20 WIB terjadi tawuran antar peserta SOTR di depan Monas. Keributan tetap terjadi meski Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Restu M Budyanto memantau kegiatan Sahur On The Road di Bundaran Hotel Indonesia.

Polda Metro Jaya berjanji akan menindak tegas aksi SOTR (Sahur on the road) yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

Meskipun begitu, Polda tidak mengadakan patroli khusus pada waktu sahur.

“Kita lakukan patroli skala besar, siang dan malam, untuk ciptakan rasa aman di masyarakat. Sampai saat ini, belum ada keluhan atau laporan dari masyarakat terkait itu (sahur on the road yang mengganggu),” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam pesan singkatnya.

Rikwanto melanjutkan, apabila pihaknya menerima laporan sahur on the road yang mengganggu, polisi tak akan segan menindak langsung di lapangan.

“Untuk sahur on the road, tidak dilarang, tetapi bila konvoi mengganggu lalin, memprovokasi, dan ugal-ugalan, akan ditindak di lapangan,” tambah Rikwanto.

Senin, 21 Juli 2014.

Acara sahur on the road terus memakan korban. Seorang pemuda kritis setelah dibacok oleh segerombolan orang yang menggelar sahur keliling.

Mereka bukannya ibadah di bulan Ramadhan, juga banyak merugikan sekelilingnya. Bikin macet, kebut-kebutan di jalanan, bawa-bawa bendera, membunyikan klakson di depan tempat-tempat ibadah. Lebih banyak mudaratnya kalau menurut saya dibanding manfaatnya,” tutur seorang warga kepada sebuah koran online. Dia terjebak macet selama hampir tiga jam dalam perjalanan pulang menuju kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, dikarenakan terjebak di antara rombongan peserta SOTR.

Itu yang kebuka dan kebaca di beberapa koran online.

Miris….

Sahur yang merupakan bagian penting dari ibadah wajib puasa Ramadhan, maka (menurut kaidah ushul) dia juga menjadi ibadah.

Dalam hal ibadah, harus dilihat contoh dan dalilnya. Semua ibadah yang tidak ada contoh atau dalil, tertolak dia. Allah gak nerima ibadah itu.

Apalagi kalau acara sahur yang mestinya mengandung hikmah dalam hal “ngalap barokah”, kalau dijalani dengan cara SOTR ini malah menjadi musibah.

Dalam pola pikir kenabian, hal-hal yang sekiranya bisa menjadi sebab melencengnya sebuah amalan, mesti dihindari tuh…

Sederhana saja, menghindari madlarat itu lebih didahulukan daripada nyari manfaat. Kaidah ini cocok deh buat nyikapi SOTR.

Terus terang di kampungku juga ada model yang mirip SOTR, tapi masih sekedar pukul-pukul kentongan atau alat dapur sambil keliling kampung teriak-teriak sahuuuur…….sahuuuur…

Tapi itu dulu.

Yang tahun ini seruan sahur…sahur… malah sudah gak kedengaran lagi. Yang ada hanya tabuhan ngawur itu. Tambah parah.

Tapi kalau pas lewat jalan dekat rumahku, mereka gak berani bikin berisik. Atau pas lewat dekat masjid tempat i’tikaf, anteng-anteng aja. Kapok kali. Pengalaman tahun lalu ada yang kami tabokin. Sampai ada aparat polisi yang datang. Tapi begitu tahu duduk persoalan, pak polisi malah berterimakasih pada kami. Salut deh sama pak polisi yang itu.

Kembali menyoal SOTR.

Motif mereka bikin ulah itu apa ya? Mau pamer kekuasaan dan kekuatan? Atau emosi muda yang kurang perhitungan? Atau karena kebodohan?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: