Kecelakaan Lalulintas, Hak-Kewajiban, Benar-Salah

12 Maret 2014 pukul 07:01 | Ditulis dalam hikmah, irodatul khoir lil ghoir, jalan-jalan, kehidupan, keluarga, renungan | Tinggalkan komentar

Kamis kemarin seharian aku menemani teman yang sudah kuanggap sebagai saudaraku menindaklanjuti kasus kecelakaan yang menimpanya. Sebut saja si M.

Temanku ini ngendarai Isuzu Panther bawa barang-barang untuk disumbangkan ke sebuah yayasan. Tugas mulia yang terselenggara karena niat baik untuk amal sholih dari beberapa organisasi.

Singkat cerita, dia mengalami kecelakaan. Hari Ahad, 2 Maret lalu sewaktu dia mengendarai Panther di jalan sekitar hotel Lor In, dari sebuah jalan kecil di sisi utara, muncul sepeda motor Yamaha Mio yang dikendarai dua orang gadis, sebut saja si A memboncengkan si N.

Menurut pengakuan masing-masing, M berkecepatan sekitar 40 km/j dan A berkendara sambil berhape dan memboncengkan N.

M melihat motor langsung masuk jalan dan mengambil posisi kanan yang menghalangi laju mobil. M langsung putar setir ambil arah kanan. Tapi mobil berpusing memutar ke kiri lalu setang kanan motor mengenai pintu kiri mobil lalu terjatuh. Mobil sendiri lantas berputar sampai hampir 180 derajat dan moncong kiri menghantam pohon di sisi kiri jalan lalu berhenti.

ringsek

ringsek

Para gadis mengalami luka ringan dan di bawa ke Yarsis Pabelan. Si M luka ringan di dagu akibat terbentur kemudi. Motor dan mobil dibawa ke Polsek Karanganyar untuk barang bukti.

Menurut olah TKP oleh unit lakalantas polsek Colomadu, pengendara motor melakukan kesalahan dengan mengabaikan laju mobil di jalur utama yang mestinya mendapat prioritas dan menggunakan perangkat HP saat berkendara.

Kalau baca di koran sih beritanya beda. Dan biasanya memang gitu. Berita itu sering bukan fakta. Berita adalah apa yang disampaikan kepada kita tetapi fakta adalah apa yang kita cari sendiri. Pengalaman pribadi sih.

Lalu terjadilah drama ini.

Datanglah keluarga para gadis dan bertemulah dengan M dan teman-temannya. Orang tua si A yang yang tinggal di Sulawesi datang dengan membawa seseorang berbaret merah, sebut saja si S. Si N memanggil sesorang yang dia aku sebagai keluarga,sebut saja si P. Si M cukup ditemani oleh beberapa temannya termasuk pemilik mobil Panther, sebut saja si Z. Si M ini anak yatim dan tinggal dengan Ibu dan beberapa saudaranya.

Dan terjadilah perdebatan untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Semua merasa benar dan semua merasa berhak untuk menuntut.

P ngotot bahwa yang salah adalah kendaraan yang lebih besar, begitulah hukum di Indonesia, katanya.

S si baret merah minta ganti rugi atas seluruh biaya yang dikeluarkan oleh keluarga si A.

M minta ganti rugi meskipun tidak penuh karena kerusakan terjadi karena kelalaian pengendara motor.

SI Z memaksa si S untuk tidak menyalahgunakan seragamnya untuk mengintimidasi orang. Dan itulah yang kemudian terjadi. Si S akhirnya tidak banyak tingkah. Dia cukup elegan dalam memposisikan dan membawa diri.

Sebagai catatan, keluarga si A mengaku orang tak mampu tetapi si A di rawat di ruang VIP RS Islam Yarsis.

Karena alotnya perdebatan, akhirnya memakan waktu juga. Dan akhirnya mereka akan melanjutkan dengan mediasi kepolisian.

Maka, Kamis 6 Maret, si M ditemani adik dan seorang temannya datang ke rumahku. Aku bawa mereka ketemu sowan Bapakku. Akhirnya kami berlima menemui teman yang kebetulan seorang kapolsek di wilayah resort Karanganyar. Bukan untuk cari “beking”an atau apapun yang bisa digunakan untuk berbuat curang, tetapi lebih kepada usaha untuk mempelajari seluk beluk yang berkaitan dengan pengurusan kecelakaan dan juga penyegaran tentang kasus kecelakaan itu sendiri.

Berdasarkan hasil olah TKP dari polsek Colomadu, memang dibenarkan oleh pak Kapolsek ini  bahwa kecelakaan dipicu oleh kelalaian pengendara motor. Tetapi obrolan kami kemudian berkembang menjadi topik yang menarik. Hubungan antara kasus kecelakaan lalulintas dan tingkat kesadaran berlalulintas bagi para pengendara. Adanya stigma di masyarakat dalam hal siapa yang bersalah dalam kasus kecelakaan bahwa kendaraan besar harus yang disalahkan. Bahwa yang lebih ringan sakitnya harus mengganti biaya perawatan yang lebih parah sakitnya. Bahkan peluang-peluang kecurangan yang dilakukan baik oleh pelaku maupun aparat. Juga arogansi pihak ketiga (dalam hal ini aparat berseragam yang mengaku atau diaku sebagai bagian keluarga) yang bisa membelokkan jalannya perundingan. Serta obrolan tentang nilai dan norma tentang kebenaran itu sendiri, tentunya standar kebenaran menurut ketetapan Sang Maha Pencipta.

Obrolan yang semakin asyik itu terpaksa harus diakhiri karena kami harus ke polres Karanganyar.

Sekitar jam 11-an pagi semua pihak dimediasi oleh mas R (petugas bagian laka) melanjutkan proses perundingan. Lumayan alot, tetapi si S yang hari itu berseragam loreng baret merah sudah terlihat santai. Sekedar menemani orang tua si A. Si S ini malah terlihat asyik mengobrol dengan adik si M sambil melihat-lihat tumpukan motor ringsek di salah satu sudut kantor polres itu.

Perundingan terhenti karena waktu istirahat makan siang dan sholat dluhur. Lalu perundingan berlanjut sesudah istirahat. Dan Si S bergabung. Nah, saat itulah terungkap sejumlah fakta.

Si A dan bapaknya ini ternyata orang miskin di Sulawesi sana. Dia bisa kuliah di Solo atas jasa si S dengan yayasannya dengan program beasiswa. Bahkan perawatan di ruang VIP juga karena dibiayai oleh yayasan. Si S bisa kenal dengan bapak si A karena si S pernah bertugas di Sulawesi.

Melihat perkembangan perundingan yang semakin mengungkapkan kebenaran kasus, mereka akhirnya menyerah. Mau disidangkan ke pengadilan dan tahu kemungkinan diberlakukan hukum kurungan pun mereka pasrah. Mau diselesaikan dengan kekeluargaan dengan membagi rata biaya perawatan dan kerusakan kendaraan pun mereka bilang tidak mampu. Ibarat sapi kurus, disembelih daging pun tak ada, diperas pula susu pun tak ada.

Akhirnya saat itulah benar dan salah sudah jelas. Lepas dari stigma yang berkembang di masyarakat tentang benar-salah, lepas dari unsur arogansi pihak manapun, yang benar harus dinampakkan dan yang salah harus dinampakkan. Bila masing-masing pihak sudah menyadari posisinya, maka luapan emosi kemudian sirna.

Perundingan pun berakhir dengan damai kekeluargaan dan mas R si petugas pun bisa menarik nafas lega. Sebagai petugas, dia juga

antri nunggu sidang...?

antri nunggu sidang…?

tidak nyaman bila harus membawa kasus ini ke pengadilan. Karena proses peradilan di Indonesia ini minimal pasti tersendat, makan waktu lama. Resiko motor dan mobil yang harus ndongkrok pasti akan menimbulkan tambahan resiko tersendiri. Belum lagi beban moril dan banyaknya waktu yang tersita dalam menjalani proses persidangan.

Maka selesai dari kasus ini, ada beberapa hal yang bisa aku ambil pelajaran,

Dalam hal berkendara, jangan mengabaikan faktor etika berkendara. Perhatikan dan penuhi hak serta kewajiban sesama pengguna jalan.

SIM adalah bukti kemampuan kita dalam mengendarai kendaraan dengan melalui uji kelayakan, bukan hasil jual beli dengan oknum kepolisian.

Bukan soal siapa menang atau siapa benar, semua pihak harus mau berhitung dan berpikir tentang resiko dan mahalnya biaya pasca kecelakaan.

Ada polisi atau tidak ada polisi, pikirkan keselamatan umum karena juga berimbas kepada keselamatan diri sendiri.

Diatas semua “kebenaran” yang dianut masyarakat, masih ada kebenaran mutlak dari Allah yang Maha Benar.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: