1,8 Juta Pelanggan Telkomsel dan Indosat Disadap

20 Februari 2014 pukul 06:00 | Ditulis dalam bagaikan bangunan, irodatul khoir lil ghoir, politik, renungan | 1 Komentar

Edward Snowden, Mantan anggota intelijen NSA, membocorkan rahasia yang mengejutkan. Pelanggan dua operator terbesar di Indonesia, yakni Telkomsel dan Indosat, selama ini disadap oleh Australia dan Amerika.

Badan intelijen Australia bekerjasama dengan National Secuity Agency (NSA),  memiliki data terenkripsi sekitar  1,8 juta pelanggan operator Telkomsel dan Indosat.  Kedua negara tersebut berhasil mengakses data Telkomsel dan Indosat sejak tahun 2013. Padahal kedua operator tersebut menguasai sekitar 77 persen pasar selular di Indonesia.

Terjadinya penyadapan tersebut tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat Australia dan Amerika adalah mitra penting Indonesia. Indonesia ICT Forum  (IIF) sangat menyesalkan kejadian tersebut.

“Tindakan Australia dan NSA nyata-nyata sudah membuat keresahan dan ketidaknyamanan dalam aktifitas berkomunikasi rakyat Indonesia,” kata Teguh Prasetya, Ketua Dewan Pakar  Indonesia ICT Forum.

Sesuai dengan prinsip HAM dan UU Telekomunikasi No 36 serta UU ITE, Teguh mengutuk tindakan penyadapan tersebut. Apalagi penyadapan yang dilakukan oleh Australia dan Amerika Serikat tidak mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara universal.

“Kami meminta kepada Presiden SBY untuk bertindak lebih tegas lagi terhadap Australia, dan meninjau ulang hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia,” tegas Teguh Prasetya. Karena sebelumnya Australia juga sudah melakukan penyadapan terhadap para pejabat Indonesia.

Teguh Prasetya juga meminta kepada rakyat Indonesia untuk membuat 1 juta petisi dukungan kepada Pemerintah untuk mendesak kepada Pemerintah bersikap lebih tegas. Aktivitas penyadapan tidak bisa dibenarkan dari segi apapun. Dan itu menunjukkan bahwa Australia dan Amerika tidak membangun hubungan luar negerinya berdasarkan asas saling percaya dan menghargai.

“Kami mempertanyakan motif Australia dan Amerika melakukan penyadapan,” tutup Teguh.

Indonesia ICT Forum (IIF) sendiri merupakan lembaga yang sangat konsen terhadap perkembangan  Information, Communcation and Technology (ICT) di Indonesia. ICT Forum mendorong agar industri ICT tumbuh dan berkembang di Indonesia. Terciptanya ICT yang maju, akan sangat berpengaruh bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Indonesia ICT Forum secara rutin melakukan kajian, survei dan seminar untuk  melakukan update perkembangan ICT terkini dan memberikan rekomendasi kepada dunia swasta maupun pemerintah.

Begitu berita yang aku baca di SINI

Komentar yakinku.

Dalam Islam, mau masuk rumah orang pun kita harus kulo nuwun uluk salam dan mata tidak jelalatan melihat-lihat isi rumah kok.

إِنَّمَا جُعِلَ الإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

Dijadikan (prosedur) izin itu disebabkan karena pandangan.

Gampangnya, melihat keadaan seseorang dari celah-celah pintu atau dinding dan sebagainya itu dilarang dalam Islam. Kalau memang mau masuk, hendaklah meminta izin dulu.

Di surat An-Nuur ayat 27 ada disebut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau semua memasuki rumah yang bukan rumah-rumahmu sendiri, sehingga engkau semua meminta izin lebih dulu serta mengucapkan salam kepada ahlinya – yakni orang yang ada di dalamnya.

Dalam Islam dikenal istilah tajassus. Istilah yang dipakai dalam kaitan spionase, mencari-cari rahasia suatu kaum dan memonitor aib mereka. Tindakan ini dilarang bila obyeknya adalah muslimin.

Dalam surat al-Hujurat ayat 12 ada potongan ayat begini:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Dan janganlah kalian mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.

Memang dalam Islam juga dikenal adanya penyadapan, spionase. Tindakan ini pernah dilakukan atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengutus serombongan pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy untuk melakukan tindakan spionase terhadap orang (kafir) Quraisy.

Dalam Islam, kegiatan tajassus memiliki hukum sesuai dengan keadaanya:

  1. Jika aktivitas itu ditujukan kepada kaum muslimin, baik rakyat maupun penguasa, hukumnya haram. Larangan ini berlaku pula terhadap warga negara non muslim yang tunduk dalam syari’at(kafir dzimmi).
  2. Jika sasaran tajassus adalah negara lawan atau warga negaranya yang statusnya adalah orang kafir harbi yang memasuki negeri-negeri Islam atau berada di negeri mereka sendiri, maka tajassus terhadap mereka hukumnya boleh dilakukan oleh kaum muslimin dan wajib bagi pemerintah Islam.

Kembali ke kasus.

Penyadapan telepon merupakan kasus yang lazim dalam arena politik di negara-negara demokrasi modern. Penyadapan telepon dilakukan aparat pemerintah terhadap pesawat-pesawat telepon milik politisi dan wartawan untuk mengontrol aktivitas para politisi dan wartawan.

Tajassus bisa juga terjadi pada wartawan yang melebihi tugasnya sebagai reporter (pengumpul dan penyebar berita), yakni melakukan investigasi untuk mendapatkan laporan-laporan yang sensasional. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang dilakukan oleh paparazi yang mencuri-curi momen-momen rahasia untuk difotonya.

Beberapa waktu lalu sudah ada kasus penyadapan oleh pihak Australia terhadap pejabat RI. Dan sekarang bahkan sekitar 1,8 juta pelanggan operator Telkomsel dan Indosat yang disadap. Mungkin nanti akan lebih banyak lagi yang terungkap.

Hal ini harusnya dipandang sebagai bentuk ancaman dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara, bahkan hak asasi manusia bagi seluruh pelanggan dua operator tersebut.

Tindakan penyadapan yang dilakukan Australia atau Amerika atau siapa saja terhadap Indonesia yang mayoritas muslimin ini hanya ada satu kemungkinan:

Mereka memang menganggap Indonesia sebagai musuh.

Langkah kontra intelijen harus dilakukan, dan pemerintah harus tegas dengan mengambil keputusan-keputusan politik keamanan, politik ekonomi, maupun aspek lain yang menjadikan negara RI punya kedaulatan seutuhnya bukan lagi menjadi negara “sahabat” bagi musuh-musuhnya.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ini informasi yang sangat baru bagi saya pribadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: