Di Bawah Guyuran Abu Kelud

15 Februari 2014 pukul 21:31 | Ditulis dalam jalan-jalan, kehidupan, keluarga, renungan | 1 Komentar

Sebagian agenda hari kamis hingga Sabtu kemarin adalah nganter anak balik ke pesantren.

Kamis malam.

Sebelum starting, sekitar jam 11-an malam aku keluar rumah sebentar buat lemesin kaki. Eh… dengar suara dentuman sayup-sayup. Suara kembang api? Bukan…. knalpot mbledosh? Juga bukan… ya sudah aku abaikan. Eh, waktu lewat depan rumah tetangga, ada cahaya yang berasal dari TV diiringi suara seorang pembaca berita yang menyampaikan kabar ledakan gunung. Degh….

Aku masuk rumah, nyetel TV yang baru aku beli karena alasan tertentu. Nah, aku tahu sekarang, dentuman itu adalah ledakan gunung Kelud. Gunung yang berdiri di segitiga Blitar-Kediri-Malang.

Subhanallah….

Dzikir dan berdoa…

Kebayang musibah yang semakin hari semakin tak berperi. Indonesiaku… bertaubatlah….

Jangan nantang perintah Tuhanmu. Jangan sombong merasa mampu.

Merendahlah di hadapan Penciptamu. Tunduklah….

Lantas terbayang perjalananku. Ah, mudah-mudahan tidak ada aral melintang.

Kamis dinihari.

Sekitar jam 02.00, aku starting kendaraan menuju Sidoarjo. Rute tetapku adalah membelah gunung Lawu ketimbang muter daerah Sragen.

Sekira setengah jam aku sudah mendaki gunung Lawu lewat jalur lama yang sedikit menanjak. Tapi seru, adrenalin…. terlihat rute puncak tidak berkabut. Isyarat lancar. Ya sudah kami nikmati perjalanan sambil dibantu oleh temanku yang saat itu pegang setir.

Masya Allah, jam 3-an dini hari kami mulai merasakan hujan abu di daerah Sarangan. Saat di percabangan jalur lama dan baru kami berhenti sebentar. Itung dan bikin perkiraan… akhirnya pilih lewat jalur baru. Resiko lewat jalur lama yang sudah besar akan bertambah besar dengan derasnya abu turun.

Ya sudah… Mulai Madiun kami tempuh perjalanan dengan lebih berhati-hati dan dengan kecepatan konstan di rata-rata 80 km/j.

1Yang aku tak habis pikir, masih saja kecepatan kami kadang masih di hiasi melajunya motor dengan pengendara yang tidak aman dari segi pakaian, kecepatan dan gaya berkendara yang khas anak Indonesia. Tanpa masker dan pelindung badan…..

Hujan abu di sepanjang perjalanan terasa konstan tidak ada lonjakan berarti. Artinya dengan kondisi seperti itu insya Allah kami akan sampai tujuan seperti yang direncanakan. Sekitar jam 4-an ada SMS masuk, kabar duka dari seorang teman di Surabaya yang meninggal dunia. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

Dan benar, adzan Subuh kami dengar ketika kami masuk wilayah Tarik, Jombang. Kami pun segera menepi dan parkir di halaman sebuah masjid. Subuhan dulu. Mobil kami parkir dan kami pun turun.2

Allahu Akbar…..

Ternyata dekilll sekalee si baenol…

Tak apa…. pengorbananmu untuk kami tak akan sia-sia.

Sebentar…. ‘Ukasyah tutup hidung dengan jaket lalu jepret.

Lucunya, habis subuhan kami mau sarapan, eh…. tak ada warung makanan yang buka. Ya sudah…. kami lanjutkan perjalanan.

Jum’at pagi.

Sesuai rencana, alhamdulillah, masuk Sidoarjo sekitar jam 06.30-an. Masuk area pondok, parkir, MCK tanpa C, lalu… ternyata di sana sudah menunggu nasi bungkus dan air minum. Sarapan dulu….

Sementara itu guyuran abu di daerah Sidoarjo tidak begitu terasa bahkan seperti tidak ada. Istri yang di rumah kirim SMS bahwa Karanganyar hujan abu mulai jam 3 pagi dan pagi itu kota Karanganyar tertutup abu dengan ketebalan sekitar 1-2 cm, bahkan lebih. Subhanallah…. Ya Allah, jagalah keluargaku dan juga muslimin dari murkaMu…

Usai sarapan, semua wali santri kumpul di aula. Acara utama adalah mendengarkan nasihat sang Ustadz. Nasihat tentang nilai perjuangan dalam mendidik anak agar faham dienul Islam. Nasihat tentang begitu berharganya bila anak kita bisa menjadi anak yang sholih dan sholihah yang bisa mendoakan orang tua dan menjadi aset akhirat. Nasihat tentang betapa susahnya bila anak kita tidak faham dien lalu menyusahkan orang tua. Bahkan nasihat agar kita semua ini bisa mencintai negeri ini dengan menjaganya dari semua keburukan. Semua jenis kejahatan.

Tapi acara sempat ditunda karena al-Ustadz dan sebagian dari kami mesti pergi lebih dulu ke Surabaya untuk ta’ziyah.

Alhamdulillah, semua rangkaian acara selesai sekitar jam 10-an pagi.

Kami semua beranjak meninggalkan pesantren dan putri-putri kami. Peluk mesra diiringi doa memisahkan kami dan anak-anak kami yang akan melanjutkan perjuangan dalam mencari ilmu sebagai manifestasi kami sebagai hamba di hadapan Rabbnya. Ya Allah terimalah…

Lalu, kami pun meluncur meninggalkan Sidoarjo menuju Solo.

Masuk daerah Mojokerto dan berikutnya dengan kondisi jalan menjadi jedhug-jedhug karena material vulkanik yang berserakan di jalan dan memunculkan gundukan kecil lagi mungil di sepanjang jalan. Semakin ke barat abu semakin tebal.

Di daerah Kertosono nampak ada kecelakaan motor tapi sudah ditangani aparat.

Di daerah Jombang ada truk terguling di sisi kiri jalan. Mudah-mudahan tidak ada korban.

Masuk daerah Saradan terdengar murottal di menara-menara masjid. Kami mampir di masjid asrama Senopati untuk sholat Jum’at. Nah, ketika kami sedang sholat terdengar dentuman lagi. Kelud batuk lagi. Dan sesaat sesudah salam, dari arah samping kiri, abu pekat datang menyergap kami yang sedang dzikir wirid. Ya Allah….

Sesaat semua hilang dari pandangan. Pekat…

Begitu mulai tersibak pekatnya abu, bergegas aku menuju mobil sambil menggandeng tangan anakku. Terlihat teman-temanku juga bergegas. Kami langsung masuk mobil dan segera menutup pintu dan segera berdiam diri di dalam. Dzikir kami tambahi… bukan panik bukan pula takut mati. Tetapi musibah apapun mestinya kita sikapi dengan langkah realistis dan istirja’ serta dzikir lainnya.

Tak sempat merekam apa yang terjadi. Tapi dari dalam mobil terlihat ada bapak-bapak yang panik, setengah berlari dia menuju motornya. Jedhug… kepala terantuk pohon. Masya Allah….

Sambil terus berdoa, kami mulai memutar roda kendaraan. Masuk ke jalan raya menuju Solo. Terlihat di depan beberapa kendaraan masih berhenti di pinggir jalan. Lampu berkedip-kedip siaga… berharap tidak ada tabrakan atau kecelakaan lain karena situasi darurat seperti itu. ‘Ukasyah mengeluh lapar…

Mobil melaju pelan. Terus konstan sampai masuk ke Caruban, lalu Madiun ring road. Hujan. Lumayan, mobil bisa membersihkan diri dan juga utamanya kaca depan. Tapi sebentar kemudian hujan berhenti. Di sekitar Lanud Iswahyudi ada yang lucu menurutku. Zaman dulu, tentara itu nggendong senapan, lha zaman sekarang, mereka (ada) nggendong beginian.3

Maaf bukan maksud apa-apa. Lucu aja. Hiburan di kala tegang.

Masuk Magetan benar-benar kering. Dekil lagi….

‘Ukasyah masih mengeluh lapar. Benar, tak ada warung makan yang wajar. Kalau tidak tutup, maka tersedia makanan berselimut abu. Mana tega… Akhirnya ‘Ukasyah harus bersabar dengan makanan ringan. Sekedar ganjal perut tak apalah. Yang dewasa sudah biasa lapar. Tak masalah.

Di Magetan aku mencoba masuk mini market nyari mie gelas. Ada… tapi tak ada air panas. Acara isi perut ‘Ukasyah gagal lagi. Ganjal lagi.

Lewati Magetan masuk Plaosan, Sarangan dan Tawangmangu. Kondisi sama saja.

Masuk Karangpandan lalu Bejen. Saat itu menjelang maghrib. Ada warung tenda buka. Kami pesan nasi goreng spesial sambil nyari masker. Alhamdulillah…. akhirnya ‘Ukasyah makan. Kami juga makan. Hanya saja kami lupa pesan agar makanannya tidak pakai MSG. Di lidah saja sudah gak beres, apalagi ke otak. ‘Ukasyah hanya makan beberapa sendok lalu berhenti. Kami tak beda. Ya sudah akhirnya makanan kami bayar dan pergi. Makanan bersisa. Astaghfirullah….

Sampai kampung juga. Jalan masuk kampung terasa aneh. Serba putih tersiram cahaya lampu. Sampai rumah sekitar Isya’.

Alhamdulillah, di bawah guyuran abu Gunung Kelud kami telah menempuh 468,3 km dengan selamat.4

Agenda hari Sabtu ini adalah ke Sragen, ngantar anak lagi ke pesantrennya. Yang kemarin anak perempuan yang sekarang anak laki-laki.

Sabtu pagi.

Starting dari rumah jam 7-an. Padahal undangan jam 7 pagi. Telat dong. Gak papa, lha wong aku juga mesti ngurusi persiapan pondok yang menjadi tanggungjawabku je…

Pagi itu, nampak sebagian warga yang membersihkan jalan serta rumahnya dari abu Kelud.

Ingat waktu Merapi meletus, tapi Karanganyar waktu itu tidak separah ini.

Tak apa…. masih diberi kesempatan.6

Masih terlihat abu tebal masih terlihat menghiasi jalan kampung. Tapi tak mengurangi semangat orang untuk aktifitas rutin mereka.

Perjalanan pagi ini terasa jauh lebih ringan daripada kemarin. Sampai pondok sekitar jam 8 pagi. Urusan dengan anak juga sebentar.

Sementara itu.

Jalan masih panjang…

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sama gan dengan yang q alami..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: