Sanbenito dan Perayaan Tahun Baru

11 Januari 2014 pukul 07:19 | Ditulis dalam budaya, hikmah, ibadah gaul, irodatul khoir lil ghoir, renungan | Tinggalkan komentar

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta “sukses” menggelar Jakarta Night Festival untuk menyambut tahun baru 2014. Hal berbeda dilakukan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh yang melarang warganya menggelar segala bentuk perayaan menyambut tahun baru 2014. Personel Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (polisi syariah/WH) pun disiagakan untuk mencegah adanya aksi hura-hura di malam pergantian tahun.

Tidak main-main, Satpol PP dan WH dikerahkan untuk mencegah adanya perkumpulan massa, bakar mercon, dan tiup terompet dalam rangka malam pergantian tahun itu. Mereka disiagakan di berbagai titik di ibu kota Provinsi Aceh, terutama lokasi yang sering dijadikan tempat berkumpulnya massa pada malam pergantian tahun seperti di Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pante Pirak, hingga ke depan Masjid Raya Baiturrahman, termasuk juga Lapangan Blang Padang dan Pantai Ulee Lheue. Siaga sejak sore sampai pagi.

Pemkot Banda Aceh sudah melakukan sosialisai sejak dua pekan sebelum hari-H, mengimbau kepada semua warga Kota Aceh agar tidak membuat kegiatan apa pun dalam rangka menyambut tahun baru masehi. Sebab, hal itu dianggap bertentangan dengan syariat Islam yang sedang dijalankan Provinsi Aceh.

Pemkot juga gencar merazia penjual terompet, mercon, dan kembang api.

Kegiatan tersebut dilakukan menyusul adanya imbauan dari Pemkot dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh yang menyatakan umat Muslim haram merayakan tahun baru masehi karena bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebelumnya, massa sebuah ormas Islam berunjuk rasa di beberapa lokasi di Banda Aceh menyatakan dukungan kepada ulama dan Pemkot dalam melarang perayaan tahun baru masehi. Mereka meminta pemerintah memberi sanksi tegas kepada pelanggarnya.

Tak banyak yang tahu, perayaan ulang tahun yang kerap menggunakan topi berbentuk kerucut, merupakan simbol seseorang telah menjadi murtad. Murtad adalah istilah syar’i yang dipakai untuk menyebut orang yang keluar dari dienul Islam.

Maka, orang tua yang merayakan anaknya ulang tahun, disertai topi kerucut, seraya mendoakan anaknya menjadi anak yang sholeh-sholehah, sama saja membuat pengumuman resmi anaknya telah murtad. Minimal semua omongannya tidak sesuai dengan perbuatannya. Sifat apakah ini???

Dalam kajian Kristologi yang disampaikan Irena Handono ada kisah begini:

Dahulu, pada masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela (keduanya penganut Kristiani) berkuasa di Andalusia -ketika kaum muslimin dibantai- keduanya memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.

Maka untuk membedakan mana yang sudah murtad dan mana yang belum adalah dengan Sanbenito, setelan baju seragam dan topi berbentuk kerucut. Jadi, Sanbenito adalah sebuah tanda khusus untuk membedakan mana yang sudah di-converso (murtad).

Saat itu umat Islam di Andalusia dibantai, kecuali yang memakai Sanbenito. Itu sama artinya bersedia mengikuti agama Ratu Isabela.

Ini semua baru tinjauan cara berpakaian yang disesuaikan momen tertentu, dalam hal ini tahun baru masehi. Belum lagi kalau dikembangkan dalam kerangka perayaan tahun baru itu sendiri.

Dalam Islam hanya ada dua hari raya, yakni ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha. Kalau mau nambah maka hari Jum’at itu adalah hari raya. Dan cara merayakannya adalah dengan sholat, peningkatan nilai tauhid. Bukan dengan hura-hura bahkan dengan mengikuti kebiasaan bahkan ajaran non muslim.

Bahkan secara gamblang, Ibnu Hajar Al-Atsqolani dalam catatan kaki di kitab praktis Bulughul Maram yang populer di Indonesia menyampaikan bahwa:

Partisipasi terhadap hari besar orang kafir (musyrikin dan ahli kitab) meskipun hanya dengan sebutir telur (menunjukkan kecilnya nilai partisipasi) maka ia telah kufur kepada Allah.

Lebih lanjut dalam Taudhihul Ahkam disebutkan:

–          Islam menghapus segala perayaan jahiliyyah.

–          Muslimin harus menjauhi perayaan masyarakat musyrik dan ahlul kitab. Muslimin tidak boleh menghadirinya, tidak boleh berkepentingan dengannya, tidak boleh membantunya, tidak boleh mengucapkan selamat atasnya, tidak boleh menjiplak ritualnya, tidak ikut bekerja di dalamnya.

–          Dalam hal perayaan lain yang dibuat dan diselenggarakan oleh negara atau pemerintah, kadang berupa perayaan hari kemerdekaan, perayaan revolusi, perayaan untuk mengenang peristiwa tertentu. Dan juga perayaan yang bersifat individu seperti perayaan hari ulang tahun, perayaan panen, dan lain-lain. Semua itu adalah perayaan jahiliyyah yang terus berkembang kejahiliyyahannya mengikuti pola politik, militer, dan pemikiran.

–          Ada perayaan lain yang menggunakan baju agama, seperti maulid nabi, isra’ mi’raj, maka perayaan itu tidak disyari’atkan dalam Islam.

Semoga berguna.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: