Karena Lady Gaga

1 Juni 2012 pukul 07:40 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, renungan | 1 Komentar

Well
Selama ini yakinku ngumpet ndhelik di gubug tengah sawah. Menyendiri menjauhi hiruk pikuk manusia. Uzlah… menyingkiri polah tingkah manusia yang semakin hari semakin nggegirisi… pecicilan dan pethakilan tidak peduli sopan santun, tidak berhati-hati menjalani hidup, suka nerjang larangan Allah. Tidak berhati-hati dalam hal makanan. Halal apa haram semua masuk perut. Otak jadi tumpul sulit mencerna ilmu kebaikan. Hati jadi ndablegh sulit menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Nilai kemasyarakatan bubrah dan salah kaprah. Tidak lagi menjunjung tinggi kebenaran.

Selama ini yakinku topo broto madeg dadi pendhito. Nyawang eleke dhewe, nyawang kurange awake dhewe. Sibuk instropeksi diri. Tidak peduli orang lain. Ora nggagas udrenge menungso… mbuh karepmu wong….. menungso iku bakal ngundhuh wohing pakerti.
Tapi diam saja tatkala melihat kemungkaran tentunya sebuah kesalahan.

Sedang nyandar di dinding gubuk sawah, kupasang mata dan telinga pada obrolan pemuda-pemuda tanggung orang tua kurang kerjaan di dunia luar sana.
–    Wah, rugi aku. Sudah beli tiket buat nonton konser lady gaga, batal pula manggungnya…
–    “Kita sudah keluarkan izinnya karena kita tidak ada azas diskriminatif terhadap siapapun. Jadi siapapun yang telah memenuhi syarat izin kerja di dalam negeri kita berikan,” kata Muhaimin usai menghadiri puncak Hari Lahir, Fatayat NU ke-62 di Jakarta, Minggu (27/5/2012). Omongan ngawur ini aku baca di kertas pincuk nasi rolasanku.
–    “Ada tarik ulur izin. Ini sudah bukan wilayah hukum lagi, melainkan komoditas politik. Dan yang paling nyata, kedaulatan aparat hukum sudah dikalahkan kepentingan kelompok tertentu, yang tidak mewakili rakyat Indonesia,” ujar Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, kepada Kompas.com, Minggu (27/5/2012).
–    Singapura malah untung tuh…. dapet rejeki nomplok. Gobloknya Indonesia karena melepaskan peluang pendapatan ini.

Terserah anak-anak itu ngomong apa namun yang jelas aku pahami adalah mereka menyayangkan gagalnya konser lady gaga si babon monster itu.
Ngelus dada aku. Jelas prihatin fase puncak. Cah cilik-cilik bodho longa-longo wae dho pating njeplak ra karuan. Keliatan kalau dalam kepala mereka gak ada yang namanya pemahaman terhadap kebenaran. Tak ada tanda bahwa dalam hati mereka ada setitik iman.
Karena bodoh dan keras kepala, bocah-bocah begini jadi ngelantur ngomong sembarang. Tak bisa membedakan hal baik dan buruk. Hal benar dan hal salah. Patut atau tidak patut.

Bagiku, dan orang-orang yang sepakat denganku pastinya, akan melihat dengan yakin bahwa lady gaga ini adalah salah satu pemicu kerusakan moral/akhlaq dan kerusakan lain yang mengiringinya. Meskipun misalnya itu belum terjadi saat ini. Yakin… jelas…. seperti yakin dan jelasnya ketika melihat orang yang akan makan. Beberapa saat sesudahnya pasti akan kenyang. Begitu mudahnya hal itu bisa diperkirakan.

Hanya orang bodoh dan tolol yang tidak bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang terlihat secara kasat mata. Hanya orang bodoh dan tolol yang tidak bisa mengingat bahwa  nasi itu kalau dimakan akan mengakibatkan kenyang. Hanya orang wagu dan dungu yang tidak tahu kalau habis buang air besar akan meninggalkan bau tai.

Maka sebagai orang yang waras dan sehat akal serta batin, akan melihat kemungkinan yang bakal muncul kalau ladi gaga ini dibiarkan manggung. Maka sebagai bentuk kewarasannya, mereka akan sekuat tenaga berusaha untuk menggagalkannya. Tindakan yang muncul karena sebuah kesadaran akan keselamatan bangsa berikut generasi mudanya. Kesadaran terhadap nilai kebaikan seorang manusia dihadapanya Tuhannya. Dan kesadaran terhadap segala nilai kebaikan dan kebenaran. Darah dan nyawa adalah taruhannya.

Sebagai muslim, tentunya tak asing dengan ayat ini,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Peliharalah diri kalian dari fitnah (siksaan) yang tidak hanya menimpa orang-orang dhalim saja secara khusus di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya. (QS. al-Anfal: 25)

Dalam banyak tafsir, kata fitnah bisa bermacam-macam maknanya, tetapi dalam pengertian ayat ini semua mengarah kepada keburukan.
Dhalim dalam pengertian yang benar (syariat) adalah setiap perbuatan atau keyakinan yang menyimpang dari ketentuan. Dalam pengertian yang nyata bisa berupa tindakan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya;
–    Allah (yang mestinya di-esa-kan) malah disekutukan.
–    Kemungkaran (yang semestinya diingkari) malah dibiarkan bahkan dibela.
–    Hukum Islam (yang mestinya diterapkan) malah dikambinghitamkan dan dibuang.
–    Pezina (mestinya dirajam atau dicambuk, tergantung status pelaku) malah dibela dan dijadikan idola.
–    Koruptor (yang mestinya diberlakukan aturan had) malah dibela dan dianut serta ditiru kelakuannya. Dan kelakuannya dibudayakan dimana-mana.
–    Sumber daya yang mencakup hajat hidup orang banyak yang mestinya dikelola oleh pemerintah (negara) malah diprivatisasi. Lihat, bukan hanya dhalim menurut syariat, bahkan produk hukum seperti UUD 45 (pasal 33) pun dilanggar.
–    Lady gaga (pengikut syaitan dan semestinya dimusnahkan dari muka bumi) malah dielu-elukan dan dipuja.
Itu adalah sebagian dari bentuk kedhaliman. Dan meski hanya sebagian, tetapi mengandung bahaya yang amat besar. Sebuah kemungkinan yang mengerikan.

Agar kemungkinan itu tidak menjadi realitas, orang-orang yang tidak ikut mengerjakan kemaksiatan harus mencegahnya. Amar makruf nahi mungkar harus dilakukan. Menjadi wajib hukumnya. Jika tidak, musibah yang terjadi akibat kemaksiatan itu akan menimpa seluruh masyarakat secara umum. Kemungkinan ini sempat digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begini

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad).
Dan bisa kita temukan di tempat lain di kitab-kitab shohih.

Kembali ke ayat 25 Al-Anfal, ayat diakhiri dengan ancaman hukuman yang sangat keras yang ditujukan kepada orang-orang yang bermaksiat.
Tentunya ancaman itu akan mendorong orang yang beriman untuk tidak ragu dan takut melakukan amar makruf nahi mungkar. Sebab, jika mereka mengabaikannya, mereka juga akan mendapatkan siksa yang amat dahsyat.

Kita juga tentu tidak asing lagi dengan ayat yang sering dibaca para da’i dan muballigh seperti ini

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan karena perbuatan tangan-tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Rum: 41).

Hampir semua mufassir sepakat, bahwa kerusakan di bumi adalah sebagai akibat dari kemaksiatan dan perbuatan dosa yang dikerjakan manusia. Sekali lagi, ditegaskan dalam ayat ini, perbuatan maksiat itulah yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan nyata di daratan dan lautan. Dalam bentuk yang lebih spesifik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, maraknya zina dan riba sebagai penyebab kehancuran sebuah masyarakat. Begini;

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِِ

Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka. (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Oleh karena kekufuran, kemaksiatan, dan perbuatan dosa merupakan penyebab terjadinya kerusakan. Tidak jarang, al-Quran menyebut semua tindakan itu dengan kerusakan. Seruan terhadap kaum munafik agar tidak berbuat kerusakan dalam QS al-Baqarah (2) ayat 11, misalnya, dipahami sebagai larangan berlaku kufur, syirik, dan maksiat.

Awas…. membiarkan kemungkaran adalah bersekutu dalam kemaksiatan. Dalam kenyataannya, fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat itu tidak hanya menimpa pelakunya, namun juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Coba perhatikan ini;

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ أَسْفَلَهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا ِفي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيِدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاً

Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika  mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelatkan semuanya. (HR al-Bukhari).

Ilustrasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu begitu pas dan sangat sesuai dengan realitas kehidupan. Lihat saja, korupsi dan privatisasi sumber daya alam milik umum adalah perbuatan maksiat. Karena perbuatan itu dikerjakan oleh segelintir orang yang menjadi penguasa di negeri ini dan berakibat kepada kebangkrutan negara, lalu seluruh rakyat ikut menanggung akibatnya. Demikian juga penggundulan dan pembakaran hutan. Banjir bandang, tanah longsor, dan pengapnya asap akibat perbuatan maksiat itu dirasakan seluruh orang.

Syariat Islam telah mewajibkan pelaksanaan amar makruf nahi mungkar.

Syariat juga menetapkan beberapa mekanisme untuk memberantas kemungkaran.

Secara individual, setiap muslim yang melihat kemungkaran wajib mengubahnya dengan tangannya, atau dengan lisannya, atau dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemahnya iman. Lihat hadits yang terkenal dalam hal ini.

Kewajiban melakukan amar makruf nahi mungkar juga dibebankan kepada kelompok, jamaah, atau partai Islam (kalau ngaku sebagai partai Islam) dari kaum muslimin. Lihat saja surat Ali Imran ayat 104.

Kewajiban mencegah kemungkaran juga ditugaskan kepada penguasa. Penguasa dibebani tugas untuk menjatuhkan sanksi tegas kepada setiap pelaku kemaksiatan. Telah maklum, dalam Islam terdapat empat jenis sanksi bagi pelaku kriminal, yakni hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat. Pemberlakuan berbagai sanksi tegas itu dapat mencegah berkembangnya kemaksiatan dan kemungkaran di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena amar makruf nahi mungkar merupakan sebuah kewajiban, meninggalkannya merupakan kemaksiatan. Wajarlah jika suatu masyarakat meninggalkan aktivitas ini, mereka semua tertimpa musibah.

Kalau ada yang ngomong, kenapa cuman lady gaga yang dilarang, dulu ada artis yang lebih seronok kok bisa konser. Artis Indonesia banyak yang lebih porno kok dibiarkan. Para koruptor kok masih bisa hidup bebas dan bersenang-senang. Maka harus ditegaskan, bukan hanya lady gaga yang harus enyah dari muka bumi. Tetapi semua pelaku kemaksiatan harus hengkang dari bumi. Kecuali mereka mau bertaubat dan kembali ke dalam Islam dan aturan hukum (Islam) sudah ditegakkan. Semua produk kemaksiatan harus dimusnahkan. Semua pelaku kemaksiatan harus dihentikan.

Awas….!!!

Disadari atau tidak, membiarkan kemaksiatan sama halnya dengan bersekutu dalam maksiat. Sebuah tindakan yang mengundang bencana besar.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. I drop a comment when I like a post on a site or if
    I have something to contribute to the discussion.
    Usually it is caused by the sincerness displayed in the
    post I browsed. And after this post Karena Lady Gaga yakinku.
    I was excited enough to post a thought😉 I actually do have some questions for you if it’s allright. Could it be only me or does it look like like some of these remarks appear like left by brain dead individuals?😛 And, if you are writing at additional online sites, I’d like to keep up with anything fresh you have to post.

    Would you make a list every one of all your shared sites like your Facebook
    page, twitter feed, or linkedin profile?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: