Uyuh Jaran

30 Oktober 2011 pukul 06:06 | Ditulis dalam hikmah, irodatul khoir lil ghoir, renungan | 2 Komentar

Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi…..

Tholee….thole…   lha wong panganan ambune koyo uyuh jaran ngono kok mbok pangan…

Opo ora ono liyane po piye….

Begitu komentar seseorang yang menurutku beliau itu orang terhormat karena beliau itu seorang guru dan sudah sepuh.

Komentar itu muncul ketika beliau melihat anak-anak santrinya makan bareng dan lauknya karak.

Di daerahku, karak adalah kerupuk nasi atau kerupuk gendar. Sejak aku kecil, karak sudah begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari wong Jowo. Dia sejajar posisinya dengan kerupuk sebagai teman makan atau sebagai camilan sambil baca koran. Rasanya gurih dan renyah. Kali aja asalnya dulu nama karak diambil dari suara yang muncul ketika kerupuk nasi itu digigit. Kraak….. maka jadilah namanya karak.

Keberadaan karak ini menjadi sangat penting bagi orang Jawa, apalagi bagi yang ekonominya kelas bawah. Kerupuk yang pada mulanya berbahan nasi sisa ini mampu menjadikan orang Jawa bisa bertahan ketika harga pangan semakin melambung. Jangan bicara gizi lah…. sudah kenyang perut saja sudah bersyukur.

Bahkan sekarang ini pembuatan karak bisa dijadikan sebagai alternatif usaha sampingan untuk menambah penghasilan. Apalagi yang kemarin kena PHK.

Karak memang punya cita rasa dan aroma yang khas. Aku perhatikan beberapa produk karak memang beraroma seperti uyuh jaran (kencing kuda), tetapi jangan khawatir, rasanya tidak seperti aromanya kok. Kok tahu? Emang pernah makan (minum) uyuh jaran?

Kembali ke komentar pak guru tadi.

Aku ingat Abu Hurairah pernah mempersaksikan bahwa

مَا عَابَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan, kalau beliau suka, beliau memakannya, jika tidak suka beliau meninggalkannya.

Tidak selayaknya seorang guru yang “digugu lan ditiru” kok memberikan contoh amalan yang tidak pantas kepada murid-muridnya. Guru itu kan digugu (didengar dan diiyakan serta dituruti) omongannya dan ditiru kelakuannya. Lah…kalau omongan yang keluar dari lisan guru malah uyuh jaran gitu, bagaimana nanti murid-muridnya…..? Katanya guru kencing berdiri murid kencing berlari…

Itu baru omongan. Lha kalau ada guru malah selingkuh dengan muridnya, atau guru melakukan tindak korupsi, menjadi mafia pendidikan. Mau apa jadinya bangsa ini……

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. daerhah mana ya SDN INKLUSIyg berada di surabaya dan sidoarjo…?????

  2. setuju. orang ngomong tu kadang g sadar, hy mengutamakan emosinya. g ngrasa klo itu digagas ama yg namanya yakinku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: