Mimi lan Mintuno

29 Oktober 2011 pukul 20:12 | Ditulis dalam boso jowo, hikmah, iseng, renungan | 3 Komentar

Wah, kok ada kang Habib… pasti ada Ummah ni… seru seorang Ibu yang sudah kuanggap ibuku sendiri.

Iya Bu, ini memang mirip mimi mintuno, sahutku sekenanya.

Loh…loh…. kok mimi mintuno…, seru beliau lagi.

Lha iya, sudah baik-baik jadi manusia kok malah membangsakan seperti hewan, sahut seorang Ibu yang lain yang sudah aku kenal juga.

Deg thuing….

Kepikir olehku, emang salah ya nyebut sebuah keadaan yang baik dengan mengumpamakannya kepada sifat binatang?

Di kalangan orang Jawa (angkatan tua, anak muda bingung gak ngerti hal begini), pasangan yang berujud suami dan istri dan mereka berdua rukun dan mesra, mereka itu diumpamakan koyo mimi lan mintuno. Orang kota bilang lengket kaya perangko gitu….

Mimi lan mintuno sendiri adalah ikan laut. Bentuknya kaya kepik tapi gedhe ukurannya. Mimi untuk yang jantan dan mintuno untuk yang betina. Kebalik nggak ya? Nih gambarnya. Telurnya enak tuh, bagi yang doyan. Saingan ama telur ikan sembilang. Pengin makan…

Cling..

Sampe rumah isengku muncul….

Kalau memang salah, aku coba beberapa kemungkinan kesalahan itu.

Beberapa jenis hewan yang dijadikan perumpamaan keburukan sifat manusia di dalam al-Qur’an:

Keledai

Di surat al-Jumu’ah ayat 5 dikatakan bahwa ahli Taurat yang tidak mengamalkan Taurat itu umpama keledai yang mikul kitab.

Di surat Luqman ayat 19 dibilang kalau suara yang paling jelek itu suara keledai.

Tapi di surat al-Baqoroh ayat 259, keledai menjadi model untuk rekonstruksi penciptaan. Berjasa dia.

Kera (dan babi)

Di surat al-Baqoroh ayat 65 dan al-A’raaf ayat 166 ada disebut kera yang merupakan penjelmaan dari orang Yahudi yang mbandel.

Al-Maidah ayat 55 disebut kera dan babi yang asalnya sama dengan yang di al-Baqoroh dan di al-A’raaf.

Ular

Dalam beberapa riwayat, si ular menjadi tokoh jahat yang membujuk Hawa untuk melanggar larangan Allah.

Tapi di surat asy-Syu’araa dan beberapa surat lain ada kisah ular yang menjadi bagian dari mu’jizat nabi Musa.

Belalang

Di surat al-Qomar ayat 7 disebut belalang sebagai gambaran bagi orang-orang yag mendustakan rasul.

Tapi belalang juga menjadi mu’jizat bagi nabi Musa untuk menghabisi Fir’aun. Selain belalang, ada juga katak, kutu, dan lainnya selain binatang.

Sudah ah…

Lantas dari manusianya sekarang.

Manusia memang makhluk paling mulia. Diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Tetapi kemuliaan itu bukan karena baiknya bentuk dan karena dia itu manusia (saja). Tetapi karena dia manusia plus punya iman dan taqwa di dada. Toh banyak cowok ganteng atau cewek cantik tetapi kelakuannya memenuhi standar ahli neraka, ada juga cowok wagu atau cewek  medeni rupane tapi hati dan kelakuannya memenuhi standar ahli jannah. Nah, nyatanya kemuliaan manusia itu diukur dari tingkat keimanannya, dari ketaqwaannya.

Juga,

Bukankah Allah juga memberikan pelajaran kepada manusia melalui media binatang? Si Qobil bisa ngubur saudaranya si Habil gara-gara diajari si burung. Si jago pencak bisa ngalahin lawan tandingnya karena dia niru gaya si monyet. Bahkan kekuatan mesin juga dinisbatkan kepada binatang dengan istilah tenaga kuda. Bahkan orang yang tawakkalnya bagus itu dibilang mirip tawakkalnya burung. Juga ada burung yang tugasnya membawa ruh para syahid.

Jadi salahkah istilah mimi lan mintuno itu digunakan?

Rada-rada bela diri dikit coba…

Eh,

Atau kesalahan itu terjadi karena ayat ini?

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامُ

Mereka itu seperti binatang.

Yang disebut oleh ayat itu sebagai binatang adalah sebenarnya manusia (dan bangsa jin) juga. Allah menyebut manusia yang buruk, dengan menisbatkan mereka kepada binatang. Yaitu orang-orang yang menempatkan diri-diri mereka layaknya binatang. Kedudukan ini mereka dapatkan karena keburukan yang mereka (manusia) lakukan. Keburukan itu adalah:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ

Mereka punya hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran (al-Islam), mereka punya mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kebenaran, mereka punya telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar seruan kebenaran.

Manusia (atau jin) dimasukkan ke dalam bangsa binatang karena ketiadaan fungsi indera mereka dalam menerima kebenaran Islam. Dalam hal ini derajat manusia (atau jin) sama dengan binatang bahkan kadang jadi lebih rendah lagi.

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Jadi kesetaraan derajat manusia dan binatang bisa terjadi karena “ndableg”nya manusia, bukan karena binatang itu buruk atau jahat.

Memang binatang itu tidak menggunakan inderanya untuk menerima Islam, tetapi kan binatang tidak disalahkan dengan keadaan mereka. Binatang tidak diklasifikasikan sebagai makhluk jahat dan buruk karena hal itu. Dan mereka tidak masuk neraka karenanya, kecuali memang binatang yang diciptakan oleh Allah sebagai penghuni neraka.

Cukup.

Terus kita lihat kebiasaan orang-orang kita, terutama orang Jawa yang menurutku mereka suka menggunakan analogi binatang untuk menyebut suatu sifat atau kondisi manusia.

Ya seperti itu tadi, kalau orang rukun disebut dengan koyo mimi lan mintuno. Atau ketika ada guru yang mendapati muridnya pinter dibilang begini, nuturi cah pinter prasasat ngajari bebek nglangi. Sebaliknya ketika si guru mendapati muridnya nggak segera faham, cuman tengak tengok kebingungan, diumpamakanlah hal ini sebagai  thingak-thinguk koyo kethek ditulup. Nah, kalau ada murid yang dinasihati malah pidato dibilang wangsulane saur manuk.

Setahuku, orang Jawa menggunakan analogi-analogi itu (yang disebut dengan Pepindhan) adalah untuk menumbuhkan cita rasa bahasa. Biar lebih manteb gitu…. sehingga orang menjadi lebih bisa merasakan maksud dari pembicaraan seseorang. Mungkin loh….

Kata temanku yang dari Jawa Timur, kalau mau belajar olah rasa, tanyalah wong Solo. Tapi jangan pernah belajar kata “tidak” dari wong Solo….

Hmmm, kembali ke mimi lan mintuno, salahkah aku?

Postingan ini cuman iseng doang. Daripada nggak ada postingan…

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Baru tau kalo mimi lan mintuna nama ikan.

    brarti tambah ilmu dong…. Rabbi zidni ‘ilma warzuqni fahma

  2. sabar mas. diambil hikmahnya saja ya.

    ya mas… terimakasih

  3. Ga salah mas, mimi mintuno itu pasangan abadi, kalo pejantan dipisah dengan betinanya maka ia akan mati, demikian sebaliknya. ajaib memang hewan ini.

    sip mbak, begitulah Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. thx udah mampir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: