Wedangan

23 Januari 2011 pukul 06:48 | Ditulis dalam curhat, kehidupan, renungan | 3 Komentar

Kemarin ini ada tamu barengan dan yang silih berganti yang datang ke rumah.

Mulai tokoh partai, pegawai pemerintah, guru sekolahan, pengurus pesantren dan ustadznya sampai relawan merapi. Komplit deh..

Sambil wedangan, obrolan ngalor ngidul pun makin lama makin mengasyikan. Tapi ya gitu, obrolan-obrolan apa pun kalau tidak dimulai dengan niat baik dan diselipi nasihat dan peringatan, maka obrolan itu akan mendatangkan keburukan bagi orang-orangnya.

Alhamdulillah, wedangan kami pun cukup bermakna.

Mulai ngrasani presiden yang sambat gaji gak naik-naik….padahal sudah tinggi dan tertinggi, sampai urusan losmen dan penginapan kelas melati yang menghiasi lereng merapi.

Emang gak punya rasa malu tuh presiden ya…. udah puluhan juta pendapatan dan tunjangan sekian milyar masih saja kurang. Berapa gaji sampeyan Kang, jadi pegawai pemerintah di sini.

Ehm….pokoknya sih gak sampe sejuta Kang, tapi sama yang lain-lain ya lumayan lah, begitu sahut si pejabat dengan senyum simpulnya.

Ikut korupsi gak Kang?

Ih…najis lah itu…

Tapi kuat juga sampeyan Kang, jadi pegawai pemerintah.

Maksudnya Kang?

Kan sudah jadi rahasia umum dan budaya bangsa,kalau di kantor-kantor pemerintah macem tempat sampeyan itu tempatnya duit panas berseliweran. Ada filsafat talang air yang dianut para punggawa, siapa yang dilewati air, kena basahnya…

Sejauh ini sih, saya masih bisa menghindar Kang. Ya meskipun kadang ngeliat hal-hal macem gitu.

Nah tuh, ati-ati aja Kang, kalau makin lama terasa makin berat, mending ngacir aja dari kantor dan gak usah balik ya….

Iya deh…

Daripada makan barang haram dan masuk neraka. Mending makan yang halal dan masuk jannah kan…

Iya, doain biar hati ini diberi kemantapan untuk memilih yang benar ya Akang semua….

Amien……

Trus, lomboknya gimana Kang? Giliran Akang si petani lombok dijadikan obyek pandangan mata kami.

Capek, Kang…

Loh….?

Iya… bener sih harga si pedas itu naik kenceng gak biasanya. Dan kami pas panen lagi… alhamdulillah.

Tapi sebagian teman petani lombok susah juga. Kebunnya jadi sasaran pencurian, Kang. Kebun Kang Nur aja diembat tuh sama maling.

Masya Allah. Dasar budaya nyuri masih dipiara di negeri ini. Dari pejabat sampai penjahat cuma beda pakaian doang….

Iya tuh… lha wong jemuran aja pake dicuri sama pemulung. Makanya di tiap mulut gang kampung saya dikasih papan larangan buat pemulung masuk pekarangan, Kang. Timpal si Akang penjual obat herbal.

Ada yang lebih hebat tuh… sahut si Akang relawan merapi. Di kamp pengungsian juga ada yang tega jadi maling. Bahkan sebagian penyalur bantuan juga sadis tuh, jadi talang air. Ikut basah dan kuyup lagi… kebangetan orang Indonesia ini. Sampe segitunya…

Eh,omong-omong soal merapi. Ternyata di sana banyak losmen loh… dan jangan kaget, yang sering nyewa malah mahasiswa tuh… mereka berpasang-pasangan kalo nyewa. Jam-jaman doang. Itu juga info dari sebagian pegawai losmen yang ikut ngungsi loh, Kang…

Lhoooo…… gitu toh…. Astaghfirullah…. makanya dikirim wedhus gembel…

Jadi inget Aceh dan tsunaminya ya.

Iya Kang.

Jadi prihatin tuh sama gunung Lawu…, sahutku sendiri.

Haa…?

Iya. Waktu saya dan adik jalan-jalan dan nyasar sampai Sarangan dengan telaganya. Belum lagi melewati pintu masuk lokasi wisata, kami sudah ditawari penginapan. Jam-jaman juga nyewanya. Berjejer panjang gitu salesnya… sepertinya sudah jadi kebiasaan tuh. Dan lama sejak dulu kayaknya.

Kok sampe ditawari nginep, Kang?

Lha iya lah…lha wong saya sama adik perempuan, kok. Naik motor berduaan. Jadi mirip orang pacaran gitu.

Ooh…. lagian sampeyan gitu , Kang.

Namanya lagi pengin refreshing adik saya itu. Siapa lagi yang nganter kalau bukan kakaknya. Kalau orang lain kan haram tuh….

Iya ding….

Salah saya juga ngapain sampe ke lokasi wisata yang pekat aura maksiat gitu… kapok deh. Mesti sama anak istri semua diajak rame-rame sambil teriak-teriak sama orang-orang biar mereka waspada dari kelakuan maksiat. Biar gak dikirim adzab sama Allah secara kontan di dunia.

Itu bukan wisata, Kang….tapi demo.

Iya sih..

Tapi iya juga, Kang. Bener, kalau bener gitu, dan pemerintah daerah gak waspada atau malah tambah parah dan diberdayakan potensi wisata dosa gitu. Bukan tidak mungkin kalau gunung Lawu yang sudah tidur panjang bakalan bangun dan batuk tersengal-sengal. Bakal cilaka manusia ni…

Tolong itu Kang pejabat, dirembug di rapat-rapat ya….

Iya deh, diusahakan. Bantu doanya ya…..

Iya. Semua sama berharap kebaikan. Kalau memang kebaikan dari pejabat susah didapat, paling gak, musibah bisa dihindari….

Ehm, saya kapan ngomongnya ya, sela pak guru pesantren.

Lha yang barusan itu apa?

Iya, tapi gini loh…

Gak fair namanya. Yang tempat wisata maksiat gitu malah dipiara dan dijaga. Sumber pendapatan daerah lah, katanya. Masak duit yang didapat dari tempat maksiat dipake buat pembangunan. Juga buat gaji para pegawai  pemerintahan. Omong-omong gimana nih hukumnya jadi pejabat yang tahu gajinya didapat dari uang gak bener gitu menurut Akang semua?

Kami terdiam mulut terkunci. Pertanda membenarkan mungkin…. sebuah pengakuan dalam diam bahwa pekerjaan itu pada situasi seperti ini adalah wilayah abu-abu. Abu-abu gelap pekat yang menghitam…!

Tapi pesantren kami tuh, sambung pak ustadz, sering didatangi pejabat plus aparat. Nanya ini itu…. keliatan kalau mereka curiga kami ini jaringan teroris. Dikiranya ini pondok yang mencetak santrinya jadi biang kerusuhan perusak kedamaian dan keamanan negara. Yang menjadikan iklim usaha gak kondusif, yang menjadi penyebab para investor asing pembawa modal dan budaya maksiat itu gak mau dateng ke Indonesia dan gak mau nanem modalnya di negeri ini. Padahal yang kami lakukan hanya ngajari para santri untuk jadi manusia seutuhnya, yang sadar akan dirinya sebagai hamba dihadapan Rabbnya. Yang bisa menjadi pribadi yang santun dan tahu tata krama. Yang bisa melihat sebuah kebenaran sebagai apa adanya. Juga melihat sebuah keburukan dan kejahatan sebagaimana adanya. Sehingga bisa menempatkan dirinya di tempat yang selamat. Eh…..malah dicurigai…!!!

Padahal kalau diitung-itung, usaha kami dan pesantren lain di bumi Indonesia ini malah menjadikan Allah ridlo kepada bumi Indonesia lalu Dia berkenan menjaga bumi ini dari kebinasaan.

Tapi ya gitu, usaha baik ini tidak didukung malah ditelikung. Heran….

Tapi tenang aja lah…. Allah tidak buta. Allah Maha Tahu. Allah Maha Bijaksana.

Ini, pak ustadz, sekali ngomong gak ada brentinya….

Wah. Wedangan hari itu bener-bener wedangan. Suguhan lain sampe lupa disajikan. Wedangan thok…

Omongan lain pada lupa tuh….sorri ajah

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wedangan sambil bicara hal2 positif, jarang sekali ditemukan. saya suka tema pembicaraannya.. masa kini banget..

  2. يالسلام….ما أجمل ما كتبت يا أخي!!!


    hehe….memang sedhep wedangan sambil ngudoroso ya akhi….

  3. Komentar apa ya…


    kan sudahhh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: