Alkisah

9 September 2010 pukul 16:42 | Ditulis dalam hikmah, irodatul khoir lil ghoir, iseng, jalan-jalan, kehidupan, renungan | 3 Komentar

Alkisah…

Kenthongan di Jonggring Saloka bertalu-talu. Seketika itu juga terjadi kegemparan dan kesibukan luar biasa.

Rupanya Sang Bethoro Guru mengadakan rapat mendadak. Dia mengumpulkan seluruh jajaran dewa dari kalangan pejabat aktif maupun nonaktif, pengamat politik kedewataan, kalangan akademisi kedewataan, dan undangan terbuka bagi masyarakat Jonggring Saloka untuk membicarakan fenomena kerajaan bumi yang ngedap-edapi.

Sejak sebulan ini ada suara aneh yang terus mendengung-dengung dan mendayu-dayu yang berasal dari bawah lantai kahyangan. Setelah ditelusuri, ternyata suara itu berasal dari tempat yang jauh. Dari bumi. Suara aneh yang paling aneh sepanjang seribu tahun belakangan ini.

Namun, keanehan itu tidak menjadikan rasa takut maupun ngeri menyelinap di hati para dewa. Bahkan sebagian besar anggota rapat setuju, bahwa suara aneh itu adalah suara terindah yang pernah mereka dengar. Sangat indah melebihi keindahan dan keanggunan suara gamelan Lokananta di sanggar selatan Keraton Dewa.

Pleno siang itu menghasilkan kesepakatan lalu menjadi keputusan. Bahwa Bathara Narada lah yang akan menjadi tim tunggal komisi penyeldikan kasus aneh dan nggilani yang masuk berkas X-Flies, bukan X-Files loh… Namun meskipun itu adalah misi investigasi, rapat dewan memutuskan bahwa bagi siapa saja yang tertangkap basah sebagai orang atau binatang yang menimbulkan suara itu akan diberi hadiah yang besar. Karena diakui secara aklamatif oleh seluruh anggota dewan, bahwa mereka merasakan aura ketenangan batin sejak mendengar suara bumi yang aneh itu.

Sebagai punggawa paling loyal dan berdedikasi, Batahara Narada langsung menjalankan tugasnya begitu surat tugas sudah ditangan. Tanpa anggaran dan akomodasi apalagi biaya penginapan juga fasilitas transportasi dan lain-lain alias modal mandiri, Bathara Narada turun dari kahyangan langsung menghunjam ke arah kerajaan bumi. Tanpo mompar-mampir meskipun cuman mampir ngombe, weleh-weleh…

Dan hadiah yang dia bawa itu dia cangklong di bahunya. Dai tidak punya pikiran dan niat untuk menggunakan filsafat talang air meskipun dia akrab dengan orang-orang dari pulau Jawa. Hmmm….talang air, ikut basah bila terlewati air, apalagi kalau talang bocor…

Suara aneh namun tidak menakutkan itu lamat-lamat terdengar, namun begitu jelas dan bersih tanpa noise yang mengganggu di telinga Bathara Narada. Mendayu, merayu, saat tertentu menimbulkan efek menyejukkan dan menenteramkan batin segenap penghuni arcapada bahkan bagi sang Narada.

Semakin dekat ke bumi, semakin jelas dan semakin keras suara iu terdengar. Dan semakin membuat Narada tenang dan senang.  Kadang dia terpaksa menghentikan perjalanan hanya untuk menikmati alunan suara yang kadang membuat hati berdesir itu.

Namun begitu atap-atap rumah penduduk bumi sudah jelas terlihat dan anak-anak yang bermain di halaman bisa diketahui laki atau perempuan (biasanya berjarak 1 mil darat, orang sudah bisa membedakan jenis kelamin orang di kejauhan sana, dengan syarat dataran itu rata dan tidak ada penghalang seperti bangunan atau bahkan kuda yang sedang berjemur), Sang Bathara menjadi bingung. Ternyata suara aneh itu tidak bersumber dari satu tempat. Memang yang tadi dia dengar jelas berasal dari satu tempat yang bisa diidentifikasi dengan pasti di layar radar. (Narada bawa GPS dan alat navigasi lainnya loh). Namun ketika dia menuju titik itu, ternyata dari kanan kirinya dia juga mendapati suara yang sama anehnya meskipun berbeda warna suara dan mungkin kata-katanya.

Baik, aku akan menuju satu titik yang paling tinggi intensitas suaranya. Begitu batin Narada sambil memikul hadiah besar dari para dewa di kahyangan itu. Dia lantas melesat ke arah yang dia sudah pastikan.

Tak lama kemudian dia sampai di suatu tempat, bangunan tepatnya. Dari sana terdengar jelas sekali suara itu berasal.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakkal.

Begitulah dengan kemampuan dewanya, Narada mampu mentransfer suara itu ke dalam bentuk tulisan di alat canggihnya. Berbalikan fungsi dengan ponsel yang ada sms reader-nya.

Narada langsung menuju bangunan itu. Dia jejakkan kakinya di depan pintu bangunan yang khas dan konsisten di seluruh muka bumi itu. Oh, ternyata suara itu berasal dari bagian atas bangunan itu. Narada langsung terbang perlahan dan tegak lurus macam pesawat intai paling canggih di dunia. Ternyata biip…biiip…. di alatnya semakin semakin tidak bersela ketika Narada mendekat ke menara bangunan itu.

Di puncak menara itu, dia menemukan sebuah benda mirip bunga sepatu atau bunga corong yang mengeluarkan suara yang masih saja terdengar. Dia tahu pasti itu adalah horn speaker dari tulisan TOA di punggung benda itu. Dan dia tahu pasti bahwa itu hanya pengeras suara dan di ujung sana pasti ada orang yang melantunkan ayat suci itu.

Narada lantas menyusuri salur-salur tembaga yang menghantarkan sinyal suara itu hingga sampai ke sebuah ruangan sumber suara. Hatinya senang karena hadiah besar ini akan segera sampai ke tangan yang berhak. Begitulah…

Namun dia tidak mendapati seorang pun di ruangan itu. Dia bingung. Karena dia tidak bisa memberikan hadiah itu kepada sebuah tape recorder yang memutar pita kaset murottal berlabel juz 9 dan ada nama Al-Hushari di casingnya.

Narada pun tertunduk lesu. Mana mungkin tape recorder menerima hadiah besar ini? Begitu pikirnya. Dalam kamus kedewataan, hanya makhluk bernyawa dan dari jenis jin dan manusia yang diberi hak untuk menerima hadiah atas kebaikan yang dijalankan. Bukan alat seperti tape recorder itu.

Narada pun dengan gontai melangkah keluar dari ruangan hingga sampai di halaman bangunan yang dinamai masjid itu.

Di halaman Narada mendengar ada sumber suara lain yang irip denganyang di TOA itu. Semangatnya tumbuh lagi. Dia lantas melesat lebih cepat untuk menemui pemilik suara itu.

Dan untuk kali ini, dia mesti menelan kekecewaan lagi, sekeping cd berlabel murottal 30 juz dia lihat berputar lembut di sebuah player di sebuah rumah penduduk kota.

Mana bisa player itu dia serahi hadiah besar ini? Pikirnya merana.

Lalu Narada pun terbang ke sana dan kemari namun tak juga mendapati seorang manusia pun yang secara nyata dan live melantunkan alunan ayat suci Al-Qur’an selain cd player dan tape recorder. Memang suatu ketika dia mendapati sumber suara yang bergerak yang menunjukkan harapan pemiliknya adalah seorang manusia atau jin. Namun itu pun hanya berasal dari keping ipod milik anak muda berjenggot tipis di depan sebuah bangunan sekolahan.

Ah…

Akhirnya Narada pun naik ke kahyangan denganlunglai. Hadiah besar itu pun masih dibahunya. Seolah merasakan keprihatinan sang dewa, hadiah yang entah apa isinya itu seakan memudar warnanya.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. menggelitik….

  2. kisah yang religius…top..lanjutkan sob…

  3. bagus kisahnya. menggugah semangat baru.
    terus berkisah ya kawan…
    aku tunggu selanjutnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: