Sepenggal Cerita

1 Juli 2010 pukul 12:04 | Ditulis dalam curhat, hikmah, keluarga | 2 Komentar

Sudah hari ketiga ini anak perempuanku, si Nadia tidak berada di rumah. Tidak terdengar lagi tawa candanya dengan adik-adiknya. Kamarnya pun sudah rapi pertanda tak ada yang menempati, meskipun oleh adik perempuannya, Hasna.

Usianya kira-kira 13 tahun. Seusia anak lulus sekolah dasar. Dia pergi kutitipkan kepada seseorang yang aku harap mampu menjadikannya perempuan dewasa dan mengerti agamanya. Ya, anakku itu pergi untuk menjadi dewasa.

Awalnya memang gamang, ragu-ragu menyelusup dalam dadaku. Demikianpun istriku. Namun, mestilah perasaan ini ditepis, disingkirkan meskipun tidak jauh-jauh amat. Sedih berpisah dari anak adalah hal wajar. Tidak terlarang. Hanya saja, jangan sampai kesedihan itu menyiksa dan memfitnah kita lalu kita lupa diri dan melakukan hal-hal konyol. Na’udzubillahi min syarri dzalika….

Toh, ini hanya sepenggal kisah kehidupan. Ada datang ada pergi. Ada perjumpaan ada pula perpisahan.

Aku punya guyonan soal anak.

Lihat yang perempuan. Sejak di dalam kandungan sampai dewasa capek-capek kita jaga, eh… ketika sudah matang dianya diambil orang….  Oke lah, kalaupun diambil orang, mudah-mudahan orang yang mengambil anak-anak perempuanku adalah lelaki yang beriman lagi kuat agamanya, mampu memimpin anakku dan membimbingnya masuk ke dalam jannah.

Coba anak laki-laki, meski sejak di kandungan sampai dewasa kita capek menjaga dan mendidiknya, suatu saat dia bisa pulang membawa oleh-oleh buat ibu bapaknya. Seorang menantu yang sholihah…. Subhanallah.

Nadia, selama ini memang dia tidak aku sekolahkan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Terus terang aku ragu-ragu, sepertinya anakku tidak cocok sekolah di luaran sana. Aku khawatir dengan agamanya. Aku sendiri pernah merasakan. Tidak nyaman. Selama ini anakku itu, juga adik-adiknya hanya kami ajari sendiri, maksudnya aku dan istri serta teman-temanku yang punya cara pandang sama terhadap anak-anaknya.

Nadia anakku, maafkan ayahmu, juga ummi bila ada yang kurang dalam menjagamu, mendidik dan mengajarimu selama ini. Dan usaha yang orang tuamu lakukan ini pun adalah demi kebaikanmu, demi pemenuhan amanat yang Allah titipkan kepada kami.

Kami hanya bisa berdoa dan mendukungmu. Berharap kamu menjadi yang terbaik.

Ayah dan ummi tidak berharap apapun darimu kecuali kamu jadi anak yang sholihah yang mendoakan orang tuanya, istri yang taat kepada suami, hamba Allah yang memahami kehendakNya.

Dan jangan lupa kamu juga mendoakan ayah dan ummi. Tahu kan, kalau doanya orang yang jauh itu manjur dan mujarab?

Ya Allah, hanya itu yang kami mampu dalam usaha mengemban amanatMu….ampunilah kami, berilah kelonggaran dan tolonglah kami.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wah sungguh kisah yang menarik…ow tepatnya curhat yang mengesankan…dan memang seperti itulah kehidupan…semuanya telah digariskan seperti itu…


    semua telah digariskan…
    demikian jugakah kepulanganmu…?

  2. gambarq kq lcu bgt sh p.habib


    baru nyadar ya….
    kan gambar adalah cermin dari yang aslinya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: