Cermin

1 Juli 2010 pukul 12:02 | Ditulis dalam curhat, renungan | 1 Komentar

Mungkin karena kebodohanku, karena dangkalnya ilmuku sehingga aku tidak mampu melakukan perjalanan virtual melintas waktu untuk berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ngangsu kawruh ngelmu dan kehidupan dari beliau. Paling tidak dari para orang-orang dekat beliau, para sahabat radliyallahu ‘anhum yang mereka memiliki kesempatan merekam segenap keseharian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mimpi bertemu Nabi pun hanya akan mengundang perselisihan dikalangan ahli ilmu. Memang mimpi pun kadang mengundang masalah.

Dan aku sadar dengan kelemahanku ini. Aku hanya bisa melihat apa yang ada di depan mataku. Apa yang terjadi sejaman denganku. Itupun tidak semua hal mampu aku lihat dan pahami. Masih banyak yang terlewat olehku. Sehingga sekali lagi, karena ketidakmampuanku itulah maka aku harus banyak melihat dan mengamati apa-apa yang baik dari orang-orang yang aku sangka baik dan aku yakini baik. Bahkan sisi buruk mereka pun aku perlu lihat dan ambil sebagai pelajaran bagiku.

Aku bertemu dan bergaul dengan orang-orang berilmu dari kalangan orang ‘alim baik asatidz serta kaum santri, juga dari kaum ilmuwan dari kalangan akademisi. Aku ambil kebaikan dari mereka dan aku lihat keburukan mereka. Mereka adalah guruku. Aku hormati mereka dengan segala keadaannya.

Aku bertemu dengan orang-orang awam di merata tempat. Aku lihat sisi baik dan buruk dari mereka, meski kadang terasa semu olehku. Karena dalam keyakinanku, kebaikan itu hanya bisa dilakukan oleh orang berilmu. Karena baik itu hanya bisa dicapai dengan ilmu. Dan ilmu itu datangnya dari Allah. Maka baik itu mestilah menurut Allah. Sedang baik bagi orang awam kadang, bahkan seringnya tidak menurut kepada Allah, tetapi kepada kultur dan kebiasaan mereka, bahkan bisa-bisa hanya menurut hawa nafsu dan kesenangan saja. Semu.

Aku juga bertemu dengan orang yang oleh sebagian orang disangka orang jahat, tapi ternyata mereka hanyalah orang yang melawan kejahatan.

Aku bertemu dengan orang yang dielu-elukan sebagian besar manusia, tapi ternyata mereka hanyalah seonggok daging yang busuk. Paling jahatnya orang untuk dijadikan teman.

Aku bertemu macam-macam jenis manusia. Dan mereka sejaman denganku. Aku bisa melihat dan merekam apa yang terjadi, sesuai dengan kadar kemampuanku.

Memang benar Allah menyuruhku dan juga yang lainnya untuk menyusuri jalan-jalan orang sholih dari jaman dahulu. Dan benar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membawa suri teladan, bahkan beliau itu sendiriah suri teladan itu. Namun terlalu berat bagiku bila semua itu harus aku lakukan sendiri tanpa ada seorang pengantar yang mengiringiku. Terlalu berat bagiku bila tak ada orang yang menjadi cermin yang mampu memantulkan keunggulan pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dirinya. Dan bukankah memang para ulama warasatul anbiya itulah cermin bagi pribadi mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Lantas bagaimana bila ada orang ‘alim yang menghindarkan dirinya dari fungsi cermin itu? Bagaimana halnya dengan para orang alim yang suka mengajarkan kebaikan kepada manusia dan menghasung mereka untuk menjadi contoh dan perintis kebaikan bagi sekalian manusia sebagaimana do’a Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi keturunannya, namun dia tidak mau menjadikan dirinya contoh bagi orang disekelilingnya?

Memang ada contoh dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Nuh pun memiliki anak yang tidak baik. Nabi Luth pun memiliki istri yang berkhianat. Namun jelaslah akhir bagi mereka. Dan kebaikan tetaplah bersih dari kejahatan. Dan itulah makanya Allah pun mengingatkan kepada segenap orang beriman bahwa anak dan istri juga menjadi fitnah, bahkan menjadi musuh bagi orang tua atau suaminya.

Sejatinya aku hanya berharap bahwa orang-orang baik itu juga memimpin anggota keluarga yang baik. Membina kehidupan yang baik. Mereka sekeluarga sanggup menjadi cermin bagi terproyeksikannya kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya radliyallahu ‘anhum. Lalu aku cukup mencontohi mereka. Karena sejatinya mereka itu menjalani kebaikan Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya Allah, tolonglah aku menemukan cermin itu…………

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yakin g ada dlm benak yg terlintas tuk coment seabis mboco…

    mmt bgt …😀
    ada cara untuk menemukan cermin terbaik g..??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: