Antara Ghibah, Pencemaran Nama Baik, dan Peringatan

23 April 2010 pukul 16:42 | Ditulis dalam hikmah, renungan | 11 Komentar

Saat ini banyak muncul kasus-kasus, dan kasus itu memunculkan kasus lainnya dan kemudian memunculkan lagi kasus rentetannya. Begitu dan bolak-balik kasus itu muter-muter dan saking pinternya yang muter-muter, orang jadi keblinger.

Misal, ada orang melakukan aksi kejahatan, katakanlah penipuan. Terserah apakah penipuan itu lewat dunia nyata atau lewat dunia maya. Lalu korban pun berjatuhan. Dan semakin banyak yang berjatuhan. Lalu muncullah aksi-aksi sekelompok orang berdemo atau apapun sebutannya, yang pasti mereka menghendaki haknya bisa diselamatkan. Kalau di media elektronik, sekarang ini bisa lewat milis atau blog gratisan macam blog ini, atau cara lain lagi. Nah, yang berikutnya terjadi adalah di milis atau di blog atau bahkan saat sekelompok orang berdemo, selain mereka menuntut haknya dipenuhi, pastinya mereka bakalan menyebutkan kejelekan orang atau organisasi atau lembaga yang dituduh menipu. Gak bakalan dong, nyebut sebaliknya. Lalu yang kemudian terjadi sebagai rentetan peristiwanya adalah ada pihak yang muncul lantas menyatakan telah terjadi pencemaran nama baik, entah perorangan atau organisasi atau lembaga. Begitu dan seterusnya.

Nah, nyebut kejelekan orang atau nyebut hal-ihwal orang sedangkan orang yang disebut-sebut itu gak suka biasa disebut ghibah menurut Islam.

Sebenarnya gimana sih ghibah itu? Secara default ghibah itu haram. Tak boleh…..tak boleh…. tuh mirip di TV, ada acara gosip-gosipan. Haram tuh. Bahkan bagi orang yang suka mencari-cari cerita atau berita suatu kaum atau mencuri dengar pembicaraan suatu kaum, sedangkan mereka benci kalau hal itu didengar olehnya, maka siksa bagi si “pencuri” itu adalah dituangkan di kedua telinganya timah cair pada hari kiamat. Awas loh…timah panas tuh gak nyaman di kuping. Ati-ati kalau nonton TV….!!! Kalau gak bisa nonton, gak usah punya TV. Mengantar penikmatnya ke neraka….

Betapa kehormatan dan nama baik seseorang itu pada asalnya sangat dihargai, haram dilanggar. Dalam Islam, pelanggaran terhadap harga diri seseorang diposisikan sama dengan orang yang makan bangkai manusia. Bangkai saudaranya sendiri. Semua orang pasti sepakat bahwa perkara ini tak layak dilakukan bahkan oleh orang gila sekalipun.

Namun tatkala seseorang itu tak bisa menjaga kehormatan sendiri, lantas dia melakukan perbuatan yang merusak nama baiknya sendiri, maka orang lain tak usah menyiarkan pun tetaplah jatuh martabatnya. Kemudian bila ternyata perbuatan orang itu memakan korban dari orang banyak, maka perlu ada tindak lanjut bagi kebaikan semua pihak.

Nah, kembali ke soal ghibah atau menyebut kejelekan orang atau mengumpat, ternyata ada juga loh yang boleh dilakukan.

Nih, aku cuplik dari kitab Riyadhush Shalihin, yang memiliki banyak keistimewaan. Kitab ini benar-benar menjadi bekal bagi penasihat, permata bagi yang menerima nasihat, pelita bagi orang yang mengambil petunjuk dan benar-benar sesuai dengan namanya, taman orang-orang sholih. Hal inilah yang menjadi sebab mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan ulama sehingga mereka memberikan syarah, komentar dan mengajarkannya di halaqoh-halaqoh mereka.

Juga, kitab ini termasuk kitab yang paling banyak tersebar dan dimiliki sehingga kemasyhurannya telah melangit dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan orang-orang khusus dan awam. Banyak masjid yang menyimpan dan dijadikan bacaan bagi yang senggang, juga sebagai bahan bacaan yang dibacakan kepada makmum setelah sholat. Di sekolah Islam dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran, atau bentuk keumuman lain yang menunjukkan bahwa kitab ini adalah kitab “baik-baik” dan bukan kitab suci sebuah perkumpulan rahasia yang layak dicurigai keberadaannya. Apalagi dicurigai sebagai buku panduan kaum teroris…!!! Gak nyambung lah…

Yang jelas ini bukan kitab sembarangan meskipun bisa ditemukan di sembarang tempat.

Aku kutip sedikit saja, itu pun bagian muqadimah dari satu bab tentang bolehnya ghibah. Aku edit sedikit tanpa bermaksud mengubah atau mengurangi kebenarannya.

باب مَا يباح من الغيبة

اعْلَمْ أنَّ الغِيبَةَ تُبَاحُ لِغَرَضٍ صَحيحٍ شَرْعِيٍّ لا يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَيْهِ إِلاَّ بِهَا، وَهُوَ سِتَّةُ أسْبَابٍ:

الأَوَّلُ:

التَّظَلُّمُ ، فَيَجُوزُ لِلمَظْلُومِ أنْ يَتَظَلَّمَ إِلَى السُّلْطَانِ والقَاضِي وغَيرِهِما مِمَّنْ لَهُ وِلاَيَةٌ ، أَوْ قُدْرَةٌ عَلَى إنْصَافِهِ مِنْ ظَالِمِهِ ، فيقول : ظَلَمَنِي فُلاَنٌ بكذا.

الثَّاني:

الاسْتِعانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ المُنْكَرِ ، وَرَدِّ العَاصِي إِلَى الصَّوابِ ، فيقولُ لِمَنْ يَرْجُو قُدْرَتهُ عَلَى إزالَةِ المُنْكَرِ : فُلانٌ يَعْمَلُ كَذا ، فازْجُرْهُ عَنْهُ ونحو ذَلِكَ ويكونُ مَقْصُودُهُ التَّوَصُّلُ إِلَى إزالَةِ المُنْكَرِ ، فَإنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ كَانَ حَرَاماً.

الثَّالِثُ:

الاسْتِفْتَاءُ ، فيقُولُ لِلمُفْتِي : ظَلَمَنِي أَبي أَوْ أخي ، أَوْ زوجي ، أَوْ فُلانٌ بكَذَا فَهَلْ لَهُ ذَلِكَ ؟ وَمَا طَريقي في الخلاصِ مِنْهُ ، وتَحْصيلِ حَقِّي ، وَدَفْعِ الظُّلْمِ ؟ وَنَحْو ذَلِكَ ، فهذا جَائِزٌ لِلْحَاجَةِ ، ولكِنَّ الأحْوطَ والأفضَلَ أنْ يقول : مَا تقولُ في رَجُلٍ أَوْ شَخْصٍ ، أَوْ زَوْجٍ ، كَانَ مِنْ أمْرِهِ كذا ؟ فَإنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الغَرَضُ مِنْ غَيرِ تَعْيينٍ ، وَمَعَ ذَلِكَ ، فالتَّعْيينُ جَائِزٌز.

الرَّابعُ:

تَحْذِيرُ المُسْلِمينَ مِنَ الشَّرِّ وَنَصِيحَتُهُمْ ، وذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ :

مِنْهَا: جَرْحُ المَجْرُوحينَ مِنَ الرُّواةِ والشُّهُودِ وذلكَ جَائِزٌ بإجْمَاعِ المُسْلِمينَ ، بَلْ وَاجِبٌ للْحَاجَةِ .

ومنها: المُشَاوَرَةُ في مُصاهَرَةِ إنْسانٍ أو مُشاركتِهِ ، أَوْ إيداعِهِ ، أَوْ مُعامَلَتِهِ ، أَوْ غيرِ ذَلِكَ ، أَوْ مُجَاوَرَتِهِ ، ويجبُ عَلَى المُشَاوَرِ أنْ لا يُخْفِيَ حَالَهُ ، بَلْ يَذْكُرُ المَسَاوِئَ الَّتي فِيهِ بِنِيَّةِ النَّصيحَةِ

ومنها: إِذَا رأى مُتَفَقِّهاً يَتَرَدَّدُ إِلَى مُبْتَدِعٍ ، أَوْ فَاسِقٍ يَأَخُذُ عَنْهُ العِلْمَ ، وخَافَ أنْ يَتَضَرَّرَ المُتَفَقِّهُ بِذَلِكَ ، فَعَلَيْهِ نَصِيحَتُهُ بِبَيانِ حَالِهِ ، بِشَرْطِ أنْ يَقْصِدَ النَّصِيحَةَ .وَهَذا مِمَّا يُغلَطُ فِيهِ . وَقَدْ يَحمِلُ المُتَكَلِّمَ بِذلِكَ الحَسَدُ ، وَيُلَبِّسُ الشَّيطانُ عَلَيْهِ ذَلِكَ ، ويُخَيْلُ إِلَيْهِ أنَّهُ نَصِيحَةٌ فَليُتَفَطَّنْ لِذلِكَ.

وَمِنها : أنْ يكونَ لَهُ وِلايَةٌ لا يقومُ بِهَا عَلَى وَجْهِها : إمَّا بِأنْ لا يكونَ صَالِحاً لَهَا ، وإما بِأنْ يكونَ فَاسِقاً ، أَوْ مُغَفَّلاً ، وَنَحوَ ذَلِكَ فَيَجِبُ ذِكْرُ ذَلِكَ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ ولايةٌ عامَّةٌ لِيُزيلَهُ ، وَيُوَلِّيَ مَنْ يُصْلحُ ، أَوْ يَعْلَمَ ذَلِكَ مِنْهُ لِيُعَامِلَهُ بِمُقْتَضَى حالِهِ ، وَلاَ يَغْتَرَّ بِهِ ، وأنْ يَسْعَى في أنْ يَحُثَّهُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ أَوْ يَسْتَبْدِلَ بِهِ .

الخامِسُ:

أنْ يَكُونَ مُجَاهِراً بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كالمُجَاهِرِ بِشُرْبِ الخَمْرِ ، ومُصَادَرَةِ النَّاسِ ، وأَخْذِ المَكْسِ ، وجِبَايَةِ الأمْوَالِ ظُلْماً ، وَتَوَلِّي الأمُورِ الباطِلَةِ ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنَ العُيُوبِ ، إِلاَّ أنْ يكونَ لِجَوازِهِ سَبَبٌ آخَرُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ.

السَّادِسُ:

التعرِيفُ ، فإذا كَانَ الإنْسانُ مَعْرُوفاً بِلَقَبٍ ، كالأعْمَشِ ، والأعرَجِ ، والأَصَمِّ ، والأعْمى ، والأحْوَلِ ، وغَيْرِهِمْ جاز تَعْرِيفُهُمْ بذلِكَ ، وَيَحْرُمُ إطْلاقُهُ عَلَى جِهَةِ التَّنْقِيصِ ، ولو أمكَنَ تَعْريفُهُ بِغَيرِ ذَلِكَ كَانَ أوْلَى.

فهذه ستَّةُ أسبابٍ ذَكَرَهَا العُلَمَاءُ وأكثَرُها مُجْمَعٌ عَلَيْهِ

Ketahuilah bahwasanya ghibah itu dibolehkan karena adanya tujuan yang dianggap benar menurut syari’at Islam, yang tidak akan mungkin dapat sampai kepada tujuan tadi, melainkan dengan cara ghibah itu. Dalam hal ini adalah enam macam sebab-sebabnya:

Pertama:

Dalam mengajukan pengaduan penganiayaan, maka bolehlah seseorang yang merasa dirinya dianiaya mengajukan pengaduan penganiayaan itu kepada sultan (pemimpin), hakim ataupun lain-lainnya dari golongan orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan untuk menolong orang yang dianiaya itu dari orang yang menganiayanya. Orang yang dianiaya tadi bolehlah mengucapkan: “Si Fulan itu menganiaya saya dengan cara demikian.”

Kedua:

Dalam meminta pertolongan untuk menghilangkan sesuatu kemungkaran dan mengembalikan orang yang melakukan kemaksiatan kepada jalan yang benar. Orang itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang ia harapkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan kemungkaran tadi: “Si Fulan itu mengerjakan demikian, maka itu cegahlah ia dari perbuatannya itu,” atau yang lain yang semisalnya. Maksudnya adalah tersampaikannya maksud hilangnya kemungkaran tadi. Jadi apabila tidak mempunyai maksud demikian, maka pengumpatan atau ghibah itu adalah haram.

Ketiga:

Dalam meminta fatwa. Orang yang hendak meminta fatwa itu bolehlah mengucapkan kepada mufti: “Saya dianiaya oleh ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si fulan dengan perbuatan demikian, apakah ia berhak berbuat sedemikian itu padaku? Dan bagaimana jalan untuk menyelamatkan diri dari penganiayaannya itu? Bagaimana jalan untuk memperoleh hakku itu serta bagaimanakah caranya menolak kedhalimannya itu?” dan sebagainya. Ghibah semacam ini adalah boleh karena adanya keperluan. Tetapi yang lebih berhati-hati dan pula lebih utama ialah apabila ia mengucapkan: “Bagaimanakah pendapat anda mengenai seseorang atau manusia atau suami yang keadaannya sedemikian ini?” Dengan begitu, maka tujuan meminta fatwanya bisa didapatkan hasilnya tanpa menentukan atau menyebutkan nama seseorang. Sekalipun demikian, menentukan yakni menyebutkan nama seseorang itu dalam hal ini adalah boleh.

Keempat:

Dalam hal memperingatkan kaum muslimin agar waspada dari sesuatu kejelekan serta menasihati mereka – jangan terjerumus dalam kesesatan karenanya. Ini ada beberapa bentuk, diantaranya adalah menyebutkan keburukan sifat orang yang memang pantas disebutkan keburukannya yakni dari kalangan para perawi hadits dan saksi-saksi (di pengadilan). Hal ini boleh dilakukan dengan berdasarkan kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahkan wajib karena adanya kepentingan.

Di antaranya ialah di waktu bermusyawarah untuk mengambil seseorang sebagai menantu, atau hendak berserikat dagang dengannya, atau akan menitipkan sesuatu padanya ataupun hendak bermuamalah dalam perdagangan dan Iain sebagainya, ataupun hendak mengambil seseorang sebagai tetangga. Orang yang dimintai musyawarahnya itu wajib tidak menyembunyikan keadaan orang yang ditanyakan oleh orang yang meminta pertimbangan tadi, bahkan ia harus menyebutkan cela-cela yang benar-benar ada dalam diri orang yang ditanyakan itu dengan tujuan dan niat menasihati.

Di antaranya lagi ialah apabila seseorang melihat seorang ahli agama yang mondar-mandir ke tempat orang yang ahli bid’ah atau orang fasik yang mengambil ilmu pengetahuan dari orang ahli agama tadi dan dikhawatirkan kalau-kalau orang ahli agama itu terkena bencana dengan pergaulannya bersama kedua macam orang tersebut. Maka orang yang melihatnya itu bolehlah menasihatinya – yakni si ahli agama itu – tentang hal-ihwal dari orang yang dihubungi itu, dengan syarat benar-benar berniat untuk menasihati. Hal ini memang berpotensi untuk terjadi kekeliruan (dan penyalahgunaan), sebab terkadang si pemberi nasehat memiliki tendensi kedengkian, hingga syaithan mencampuradukkan antara nasihat dengan kedengkian itu. Syaithan menghadirkan bayangan padanya bahwa hal itu adalah nasihat, akhirnya ia terjerumus dalam fitnah.

Di antaranya lagi adalah bahwa ia memiliki kekuasaan yang tidak ia tegakkan dengan semestinya. Boleh jadi karena memang ia tidak layak, atau boleh jadi karena ia fasiq maupun lalai, atau yang sejenis dengan itu. Maka wajib hal itu diungkapkan kepada orang yang memiliki kewenangan lebih tinggi di atasnya agar kelalaian itu dihilangkan atau orangnya diganti dengan yang lebih kompeten. Atau diinformasikan mengenai apa saja agar pemilik otoritas yang lebih tinggi dapat mengambil tindakan sesuai tuntutan keadaan orang yang lalai tersebut. Ia tidak boleh lengah. Ia harus berusaha untuk mendorongnya agar istiqomah atau menggantinya.

Kelima, seseorang memperlihatkan secara terang-terangan kefasiqan atau perilaku bid’ahnya sebagaimana orang yang yang memperlihatkan perbuatan minum khamr, menyita, mengambil upeti, pengumpulan harta secara dhalim, memimpin dengan sistem yang bathil. Maka ini boleh untuk disebutkan dikarenakan perbuatan itupun dilakukan terang-terangan. Adapun hal-hal lain yang merupakan aib yang disembunyikan tidak boleh turut disebut-sebut, kecuali adanya kebolehan yang disebabkan oleh alasan yang telah kami sebutkan pada empat point sebelumnya.

Keenam, penyebutan nama. Jika seseorang telah dikenal luas dengan nama julukan seperti al-A’masy (Si Kabur Penglihatannya) atau al-A’raj (Si Pincang), atau al- Ashamm (Si Tuli), al-A’maa (Si Buta), al-Ahwal (Si Juling), dan lain sebagainya maka boleh menyebut nama mereka dengan sebutan itu. Dan diharamkan menyebutkan sisi kekurangannya yang lain. Maka, jika memungkinkan untuk menyebutkan namanya selain dengan menggunakan julukan seperti itu, maka tentu lebih diutamakan.

Inilah enam sebab yang disebutkan oleh para ulama dan sebagian besarnya mereka sepekati.

Akhirnya,

Terserah kepada manusia,

apakah aturan dan petunjuk yang datang dari Allah dan dipraktekkan serta dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dan juga dijalani oleh para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum dan juga orang-orang sholih yang mereka itu adalah sebaik-baik manusia, akan ditinggalkan orang karena dianggap KUNO dan GAK MUTU ABISS…. lalu mereka mencari dan membuat-buat gantinya dengan tangan-tangan mereka sendiri dan mereka membela mati-matian hasil perbuatannya ini, lalu mereka tersesat dan menyesatkan, lalu neraka tempat kembali mereka,

atau

mereka mau taat, patuh, tunduk kepada Allah dan RasulNya saja dengan menerima dan menjalankan perintahNya dan mengikuti contoh dari RasulNya dan berharap mendapatkan jannahNya.

Terserah kepada manusia,

apakah aturan dari Allah sang Maha Kuasa dan Maha Memiliki ini ditinggikan dari sekalian aturan,

ataukah

aturan Allah, undangan-undang Allah malah akan disia-siakan dan dihinakan karena mereka lebih memilih dan meninggikan aturan mereka sendiri, lalu aturan Allah dilanggar tanpa rasa bersalah.

Terserah apa ulah manusia. Tapi pada waktunya nanti segala aturan adalah milik Allah. Dan setiap yang terucap dan dilakukan oleh manusia itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka mengingkari atau meyakini, semua akan menemui hari itu.

Satu hal lagi.

Saat ini banyak usaha dan upaya dilakukan agar manusia memandang agama hanya urusan ritual saja, hanya urusan di masjid dan pondok pesantren saja. Hanya bagian para kyai dan santri serta ulama saja. Sedangkan urusan lainnya bukanlah bagian dari agama ini.

Namun lihatlah. Betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita bagaimana beliau memotong kuku, memakai sandal, bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya, berdagang, bercocok tanam, pengairan, dan urusan-urusan dunia lainnya.

Aturan Allah itu meliputi segala sesuatu. Hanya kaum sekuler-lah yang memaksakan kehendak memisahkan urusan dunia dan agama. Dan mereka akan terkapar di neraka merasakan hasil jerih payahnya.

Tunggu saja…..

11 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. spa sih yg suka ghibah…..?
    manusia ya…..?
    laki pa prempuan….?
    banyak mana to….?
    kita semua ya…?
    bang habib lama ku tak mampir


    iya nih kang nurhadi…..nganti lali wajahmu… mbok mampir ke rumahku
    itu lho, soal pencemaran nama baik atau nama cemar dibaikkan…

  2. asalamualaikum, lama ga muncul disini biasanya cuma sekedar baca itung2 menetralkan otak😀, pa kabar mas habib?

  3. bab”Ghibah”di RiyadhusShalihin mengingatkanku pada teman-teman majelis ta’limku,krna mrpkn bab terakhir yang ku ikuti sebelum akhirnya aku terpaksa berhenti untuk sekian waktu.namun berkat doa teman semua alhamdulillah, pertolongan Allah mulai nampak.kita harus yakin bahwa Allah akan memberi jalan keluar bagi orang yang bertaqwa, begitu firman Allah dlm QS at thalaq:2.Jazakumullah khoyron bwt saudara-saudariku.

  4. i like this blog
    keren2
    tmbah lg isinya


    lha ya itu……kapan ya nambahnya…?

  5. pak habib,, gmn kabar nya.. masih ingat aku to ??? ini lho rizki yang dulu qta ketemu di griya muslimah… hehehe


    masih lah… gimana neng sudah nikah pa lum?

  6. Afwan mengganggu
    Dukung Dakwah Millah-ibrahim.com dengan memasang FEED Millah-Ibrahim.com

    Informasi:
    http://millah-ibrahim.com/berita/277-dukung-dakwah-feed-millah-ibrahimcom

    Pasang Banner Millah-Ibrahim.com
    http://millah-ibrahim.com/berita/114-dukung-dakwah-kami

    Web Millah-Ibrahim.com
    http://www.millah-ibrahim.com

    Bantu kami menyebarkan pesan ini

    Syukron

  7. setuju banget mas, apa lagi di jadikan sebagai keuntungan pihak media massa….

  8. Lha ya to kang…. ghibah yang haram eee.. ternyata tayangan terfavorit pemirsa itu nggak jauh2 dari ghibah…
    Lha terus… bangsa Indonesia ini bangsa yang gimana tho?
    Islam ? iya… tapi maksiat? Jalan terus…..

  9. udah pak..alhamdulillah… :))

    wah, banyak banget yang mau aku ceritakan ke bapak nih.. huhuhuh…

    087838646240 ini nomer ku pak.. calling calling yaaa pak.. :))


    lho kan sudah nyimpen nomer saya to…?

  10. saya mau silaturrahmi aja…
    assalamu’alaikum mas Habib….


    wa’alaikumsalam Mas Didin

  11. baik2 alhamdulillah..
    udah pak, udah punya anak malahan… hehe.. paka add fb ku ya…
    search d QYA PUNYA ALFI . . ari9at0


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: