Susah dan Senang

3 September 2009 pukul 13:23 | Ditulis dalam renungan | 2 Komentar

Ternyata….

Rasa susah ini adanya tidak tetap. Karena susah itu sering-sering disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Perwujudannya adalah rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit, dan gangguan jiwa lainnya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti menyusut, dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik dalam jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai. Lalu timbullah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.

Bila keinginan yang menyusut ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan menyusut lagi. Menyusutnya keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu. Tentunya apa yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya.

Misalnya orang puasa mau berbuka, tentu dipilihnya nasi beras rojo lele dan lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti menyusut, sehingga makan nasi beras jatah orang miskin yang dicuci dengan citrun (biar lebih ayu) dengan lauk tempe goreng pun terasa lezat baginya. Oh, minyak goreng pun tak tergapai karena harga yang mahal, maka makan seadanya ditemani garam saja ia sudah senang. Bila nasi dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginannya menyusut lagi, sehingga makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia peroleh, pasti keinginannya menyusut lagi, sehingga dengan diteguknya air saja, cukup sejuklah lidahnya. Senanglah ia dengan berbukanya.

Contoh yang makin jelas lagi ialah pada umumnya orang, apalagi yang tidak ada iman yang benar. Bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas, berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu tidak terpenuhi, ternyata ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar, kemudian senang kembali. Oleh karena keinginannya menyusut, maka rasanya, “Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik wajahnya bolehlah” Jika yang cantik pun tidak diperolehnya, tentu keinginannya menyusut lagi: “Walaupun tidak cantik asal saja masih perawan” Bila ini pun tidak berhasil, menyusut lagi keinginannya “Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak.” Bila pilihan ini masih juga gagal, pasti keinginannya menyusut lagi: “Walaupun banyak anaknya, asalkan saja ia sehat” Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi, pasti menyusut lagi keinginannya: “Walaupun cacat, asalkan berwujud orang.” Padahal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja, pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi. Dari sebab itulah penderita-penderita cacat, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang bersuami atau punya isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama menyusut keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diinginkan itu tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap.

Begitu juga rasa senang.

Yang menyebabkan senang ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti berekskalasi, dalam arti ingin yang lebih lagi. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung terus-menerus.

Misalnya menjelang hari raya orang ingin membeli sarung baru, yang kotak-kotak, yang warnanya bersemu biru keungu-unguan. Kata hatinya: “Bila aku dapat membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari lebaran nanti, aku dapat melancong ke mana-mana dengan memakai sarung biru keungu-unguan. Nyentrik asyik.” Andaikata sarung baru itu dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergembira sebentar kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu berekskalasi, maka ia merasa: “Memang, meskipun sarungnya sudah baru, kopyah pun harus baru.” Maka ia ingin membeli kopyah baru yang warnanya biru bersemu ungu. Ah, tetapi uangnya tidak cukup, maka gagallah keinginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlangsung terus menerus. Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan kopyah biru baru, pasti keinginannya berekskalasi lagi. Hatinya akan berkata: “Sekarang sarung dan kopyah sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus baru pula? Masak bajunya warna kuning (karena kusam)?”

Kemudian bila pakaiannya baru sudah ada, tentu keinginannya berekskalasi lagi. Sandalnya, arlojinya, kendaraannya, selulernya, PDAnya, laptopnya, LCDnya bahkan rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti keinginannya akan berekskalasi lagi: “Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya masih yang lama pula?” Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri baru. Nambah deh…! Bila nanti memperoleh isteri baru, pasti ekskalasi lagi: “Anaknya pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama saja?” Demikianlah keinginan itu berekskalasi sehingga apabila apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang itu tidak tetap adanya.

Keinginan itu terwujud dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Mencari semat dalam rupa kekayaan, keenakan, kesenangan, kenyamanan, fasilitas hidup yang serba komplit. Mencari derajat berupa , kemuliaan, kebanggaan. Mencari kramat dengan kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji. Itu semua demi kehidupannya. Jarang bahkan jarang sekali orang berpikir soal agama. Jarang sekali ada orang berupaya mencari segala yang dibutuhkan bagi kematiannya. Bagi akhiratnya. Agama hanya menjadi isian dan tanda di kartu tanda penduduknya saja.

Orang mencari kekuasaan dan kekayaan agar ia berpenghasilan tetap. Rasa hatinya berkata: “Jika aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh juta rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang hanya tiga juta rupiah, bahkan kadang-kadang juga tombok. Mecah celengan bagong yang menyeringai di atas lemari.” Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan karena keinginannya ekskalasi. Batinnya berkata: “Ternyata penghasilan sepuluh juta rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh lima juta rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia.” Nanti bila sudah memperoleh dua puluh lima juta rupiah keinginan pun ekskalasi lagi. “Kalau aku hanya menerima dua puluh lima juta rupiah saja, sudah terang tidak mungkin aku bahagia.” Bahkan hal itu akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon gengsi yang dibilang orang kartu kredit atau credit card, hingga ke sana ke sini membuat bon dan menimbun hutang. “Hanya jika aku berpenghasilan seratus juta rupiah, baru aku benar-benar bahagia.” Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus juta rupiah keinginannya pun ekskalasi lagi dan ia ingin dua ratus juta, tiga ratus rupiah juta. Sampai berpenghasilan beribu-ribu juta rupiah pun, masih kurang terus. Demikianlah keinginan itu ekskalasi sampai pada suatu ketika ia tidak mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap adanya.

Demikian pula dalam usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten pak camat, pasti keinginannya berekskalasi dan ia ingin menjadi camatnya. Kemudian setelah menjadi camat, tentu keinginannya berekskalasi lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. “Ternyata menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena memerintah manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitannya. Repot. Manusia pada susah diatur. Ngeyel-ngeyel. Mau menang sendiri.” Dia sampai lupa dengan dirinya sendiri yang seperti umpatannya sendiri itu. “Mungkin kalau menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin, pasti ekskalasi lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, kecoak, tokek dan sebagainya. Demikian ekskalasinya keinginan sampai apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap.

Demikian pula dalam usaha memperoleh kramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit dengan bantuan obat dari apotik dan sekolah dokternya saja, ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, susah lagi, karena ekskalasi keinginannya. Hatinya berkata: “Kalau aku menyembuhkan orang lumpuh dengan meludahinya saja, aku baru berbahagia.” Begitulah maka dia berubah rupa menjadi dukun sakti. Baju putih dokter berubah menjadi hitam berlarik coklat kemerahan. Lalu dia mengalami ekskalasi lagi. Batinnya berteriak: “Kalau saja dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya, segan, takut kepadaku dan akan memujaku.” la akan berusaha ke sana sini untuk dapat menghidupkan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidupkan dua orang saja, maka timbul kekhawatirannya. “Celakalah aku nanti. Jika setiap orang mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa ke sini semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan bangkai anjing, iguana, si nonong oscar, arwana, kuda, sapi, babi hutan dan lain-lain. Ganti haluan saja. Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat melayang-layang mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, bisa melihat menara Eifel yang ada di pilem itu atau menara Pisa yang masih miring itu, tanpa melakukan perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk bekalnya.” Maka dia akan ke sana kemari berusaha keras supaya bisa melepaskan sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada. Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya tanpa bersekolah, ia pun tidak akan benar-benar bahagia, bahkan susah sesusah-susahnya. Jurang dibalik bukit itu akan jadi saksi bagi jasad yang membusuk dan mengerikan itu. Jurang yang dia gunakan untuk membuktikan rumus ½ gt2-nya itu. Atau “Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu dol dan tidak bisa dipasang lagi ke tempat asalnya. Begini saja. Kalau aku bisa menghilang, pastilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar tanpa diketahui pemiliknya, dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang, uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang, dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai.”

Bila ia kemudian berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya ekskalasi lagi, sehingga ia ingin bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah ekskalasinya keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka susahlah ia. Jadi jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat, derajat, dan kramat, apabila sudah terlaksana pasti akan ekskalasi. Maka senang itu tidak tetap sifatnya.

Jadi jelaslah bahwa senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mengalami ekskalasi sehingga yang diinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti menyusut sehingga apa yang diinginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila menyusut akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang. Keinginan itu berekskalasi. Ekskalasi ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu menyusut. Menyusut, tercapai, senang, ekskalasi lagi. Ekskalasi, tidak tercapai, susah, menyusut lagi. Maka sifat keinginan itu sebentar ekskalasi, sebentar menyusut, sebentar ekskalasi, sebentar menyusut. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda sehingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Jadi apakah manusia masih ingin memperturutkan keinginannya saja? Tidakkah mereka menyerahkan keinginannya kepada Sang Maha Kuasa yang paling mengerti dan memahami akan keinginan dan kebutuhan hidup manusia? Bahkan Dia juga mengerti dan memahami kebutuhan saat kematian manusia, sampai kebutuhan sesudah kematiannya.

Sedang kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تابعا لما جئت به

Tidaklah beriman salah satu dari kalian sehingga adalah keinginannya dalam keadaan tunduk mengikuti apa yang aku datang dengannya (yakni Al Qur’an).

Padahal mempelajari Al Qur’an adalah perbuatan mudah lagi menyenangkan. Bukankah Allah sudah mengatakannya?

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kemarin aku susah…setelah membaca artikel mas habib, jadi senang….
    dan tentram

  2. Manusia itu – kata pak kyaiku – manusia yang penuh dengan rasa penasaran dan ndak pernah puas…
    katanya gitu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: