Jilbab, Antara Dogma dan Humanisme

2 Agustus 2009 pukul 06:21 | Ditulis dalam renungan | 6 Komentar

Seru juga, karena kesopanan bisa berubah, gimana kalau nanti jilbab dianggap tidak sopan? Muslimah harus tetap memakaikah?

Dulu kan kopyah haji itu hanya dipake orang kalau sudah haji. Tapi kemarin-kemarin para santri juga udah mulai pake, sekarang ini lebih umum lagi, pengamen, kondektur, artis, bahkan preman juga mulai pake kopyah tuh. Dalam Islam, konsep menyelisihi orang kafir atau paling tidak orang yang dikenal bukan orang baik-baik adalah dianjurkan. Gimana soal kopyah ya, apakah masih dipertahankan sebagai simbol keagamaan juga?

Kalau ternyata pake jilbab juga masih suka pacaran, atau suka bohong, atau suka bermusuhan dengan orang lain, atau malah masih suka nyuri, apakah memang jilbab harus dipertahankan lagi?

Begitu komentar-komentar orang yang cukup menggelitik. Dan masih banyak lagi sebenarnya kalau mau buka mata buka telinga.

Hmmm…. (urut dada).

Konsep jilbab adalah sebagai penutup aurat sekaligus ibadah, dan masih ada bonus berupa keamanan bagi pemakainya karena dikenal sebagai perempuan baik-baik, perempuan yang adem-ayem, yang gak ngundang perhatian. Tapi…. hari-hari ini malah ada gaya jilbab yang mengundang perhatian orang banyak. Entah dengan gaya potongannya, atau warnanya (ada yang bilang hitam polos itu bukan warna….) atau bukan pada jilbabnya sendiri tapi lebih kepada cara membawa diri si jilbaber. Ups..

Jadi bener deh kalau nyatanya ada saja sebagian muslimah yang menganggap jilbab sekedar mode selevel sweater atau malah bikini, pakaian yang dikenakan menurut situasi dan kondisinya. Atau pake jilbab hanya sebagai sarana menutup cacat tubuhnya. Bukannya su’udhon bahkan menuduh orang sih, tapi aku pernah ngeliat sendiri ada perempuan berjilbab secara dadakan. Aku rasakan ada ketidakwajaran karena setting suasana dan situasinya aku tahu persis macam apa dia dan keluarga serta lingkungannya. Belakangan ketahuan ketika dia nyebar undangan yang darinya aku tahu kalau dia ini MBA (Married By Accident….), (aku gak ngebahas gimana posisi petugas naib dari KUA yang nikahin perempuan hamil duluan loh, juga para saksi dan tamu undangannya….). Hari-hari ini pun dia sudah lepas lagi jilbabnya. Masya Allah….

Aksi-aksi negatif beginian ini yang bikin jelek citra Islam dimata manusia. Karena ulah muslimah sendiri yang tidak ngerti kenapa begini dan kenapa begitunya, lalu sudah berani beraksi baik dengan mulut maupun tangan dan kakinya.

Maka orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit akan menjadikan kesempatan ini sebagai ladang penghinaan mereka kepada Islamnya, bukan manusianya. Padahal Islam akan tetap tinggi, akan tetap mulia meski para pembencinya berbuat makar sedemikian rupa. Meski sebagian muslimin (termasuk muslimah) yang lemah iman dan dangkal ilmu malah semakin terbius dengan propaganda mereka.

Tapi nyatanya bukan hanya muslimin lemah iman dan dangkal ilmu yang jadi sasaran tembak para pembenci Islam ini. Bahkan para pembela agama yang dengan jiwa raga serta segala yang ada padanya digunakan untuk mengokohkan posisinya sebagai hamba Allah yang sekedar mengibadahiNya dan menuruti segala perintahnya (semaksimal kemampuan) pun menjadi sasaran tembak pula.

Bagi mereka, jilbab adalah hal dogmatis yang seringkali merepotkan, mengebiri akal sehat, dan tidak realistis. Dan mereka menuduh bahwa jilbaber sejati ini sebagai kelompok fanatik agama yang sulit sekali menyadari realita perkembangan, konsekuensi logis sebuah modernisasi (westernisasi?).

Mereka menggambarkan keadaan ini sebagai suporter fanatik sebuah tim sepakbola yang akan tetap mendukung timnya tersebut meski telah berkali-kali kalah. Mereka jadikan logika asal-asalan ini sebagai salah satu bukti bahwa fanatisme membuat orang menjadi patuh terhadap suatu tatanan nilai-nilai tertentu tanpa memiliki sikap kritis atau mempertanyakan.

Ilustrasi yang cukup aneh, analogi yang tidak nyambung banget…

Kalau kupikir, memang sih bagi para suporter bola kelas bonek ini seperti tak punya akal sehat untuk hal-hal yang seharusnya cukup sederhana dan mudah dilogika. Akal sehat seperti apa yang membuat suporter bisa berbuat anarkis bahkan lebih dahsyat dari tim yang didukungnya?

Sekali lagi ini memang analogi yang tidak nyambung. Karena toh memberikan support, dukungan seperti itu tak bisa disebut sebagai sebuah dogma. Siapa yang memaksa?

Sudahlah….

Sebenarnya dalam memahami perkara dienul Islam ini orang hanya membutuhkan kesederhaan dalam berpikir dan amalan. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para sahabat di sekeliling Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang sholih terdahulu.

Namun orang-orang sekarang ini terlalu sibuk dengan pemisahan-pemisahan perkara dien dengan berbagai perspektif yang mereka tentukan dan buat-buat sendiri yang belakangan malah membuat mereka semakin bias dan kebingungan dalam menyikapinya. Seperti kasus jilbab ini.

Ketika orang (muslimah) mengenakan jilbab sebagai bagian dari ibadahnya kepada Allah, maka selesai sudah urusannya. Dan dengan itu, dia telah mendapatkan paket-paket tambahan kebaikan-kebaikan yang langsung dirasakan. Bersifat pragmatis dan humanis bahkan. Tapi itu hanya bonus saja, karena toh yang utama adalah tujuan ukhrowi. Mengharapkan keridloan Allah karena kita sudah berusaha menjalankan perintahNya.

Dan karena pemisahan-pemisahan perkara dien ini (mereka sebut perspektif), mereka terjebak dalam ketidakmengertian terhadap obyek utamanya. Seperti analogi tiga orang buta dan seekor gajah yang terkenal itu.

Tapi kalau mau nekat pake cara beginian, bolehlah….

Dalam agama Islam ada ajaran untuk mengenakan jilbab bagi muslimah. Ajaran ini setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif, dan sudah semestinya kita memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut.

Tapi satu hal, dalam memandang dari dua sudut pandang, kita tak harus memisahkan yang satu dari yang lainnya. Kedua mata memandang dalam sudut mata dan perspektif yang berbeda, tapi itu bukan berarti harus memisahkan pandangan mata kanan dari pandangan mata kiri. Kalau ada yang tetap melakukan pemisahan, itu bukanlah sesuatu yang bisa disebut cerdas.

Menggunakan dua pandangan mata sekaligus, akan menghasilkan kesan tentang kedalaman dan jarak, yang sulit (bahkan gak bisa?) jika menggunakan persepsi dari satu pandangan saja.

Apakah menggunakan standar ganda dalam melihat dengar itu buruk? Kayaknya tidak juga… Komprehensif (meski sebenarnya masih parsial juga) lebih baik dari pada parsial.

Pertama, perspektif dogma. Ini tentu bersifat absolut dan tak dapat ditawar. Sekali Allah memerintahkan begitu, dan jika itu sudah jelas/gamblang, maka tak ada pilihan lain selain menaatinya. Dosa mengancam mereka yang tidak patuh. (Entar ada yang nanya, dosa itu apa sih?)

Kedua, perspektif humanisme/pragmatisme, yang muncul dengan memandang jilbab secara fungsional/esensial sebagai penutup aurat (saja), di mana terkandung ajaran kesusilaan/kesopanan. Dari perspektif ini, ajaran jilbab memiliki konsekuensi bersifat relatif, kondisional, dan kontekstual, sebab terkait dengan persoalan nilai-nilai yang dianut pelaku. Kesopanan adalah abadi, namun tentunya nilai-nilai kesopanan bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan berubah.

Jadi, apakah esensi dari berjilbab itu? Menutup aurat, menjaga kesopanan atau mematuhi perintah Allah?

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ya, mnurut saya analogi supporter bola itu kurang nyambung… Yg buat analogi itu kurang lgkap dalam memandang psoalan. Sebab Islam tdak prnah kalah. Klopun blakangan ini Islam seolah2 kalah, itu tdak blaku d seluruh dunia ini. Sebab mnurut janji Alloh bhwa akan senantiasa ada org2 yg bjalan d atas kbenaran (Islam) sampe kiamat kelak, baik qta tau ato tdak. Dan Islam lah yg d akhir2 zaman mgalami kmenangan. Justru mnurut saya, analogi sbg supporter trsebut pas utk pndukung fanatik sistem demokrasi, sepilis, dan konco2nya. Kapan sistem2 ini prnah menang?! Yg ada malah mbuat org kaya makin kaya, dan sbaliknya, serta mndewakan akal d atas segalanya.
    Kmudian soal jilbab, sbenarnya apa sih susahnya mngikuti perintah Alloh? Buat kaum wanita, sekali2 pakailah jilbab pas ke luar rumah, dan rasakanlah ‘sensasinya’.


    hmmm…cuman analogi Mas…kalau ndhak nyambung ya sudah diganti saja. matur nuwun…

  2. Haii All,

    I’m new here and come here from search engine. I really think this forum was great.

    Would you mind to check my blog below ?

    Natural Health Care

  3. I like this blog…memang sekarang jadi bingung. Jilbabers pun banyak yang ter gap, ada yang sekedar pakai, ada yang sesuai syariah, agak aneh juga berjilbab tapi bajunya ketat. Seolah olah apabila perempuan itu berjilbab otomatis dia sudah pasti baik, jadi aku kurang setuju apabila jilbab atau kopiah atau kafiyeh dijadikan simbol agama. Tapi pastinya orang berjilbab adalah pilihan pribadi yang resikonya akan ditanggung sendiri.

  4. yang pasti hanya yang berjilbab syar’i saja, dan berakhlak bagus serta beribadah secara disiplin, muslimah2 yang akan masuk surga di akhirat nanti…..

  5. Архитектор. Куплю сухих смесей
    Требуется менеджер по продажам стройматериала
    http://build.su/index.php?s=60fcda64a4dddd6d3f1ebbd9a9e5500d&act=SF&f=340

  6. Проект. Куплю досок
    Нужен инженер строитель
    http://build.su/index.php?s=60fcda64a4dddd6d3f1ebbd9a9e5500d&act=SF&f=331


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: