Islam dan Akal

26 Juli 2009 pukul 08:45 | Ditulis dalam renungan | 4 Komentar

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Andaikata agama itu cukup dengan nalar/akal, maka bagian bawah khuf (alas kaki) lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Aku benar-benar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khuf-nya.”

Juga, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata ketika mencium Hajar Aswad: ”Sesungguhnya aku tahu engkau hanya sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan manfaat. Kalau tidak karena kulihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.”

Iman tidak pernah membutuhkan konfirmasi fisikal untuk doktrin-doktrinnya. Orang-orang sholih jaman dahulu akan bersikap amantu bi laa kaifa terhadap i’jaz Al-Qur’an. Hanya butuh keyakinan. Coba lihat manusia modern sekarang, mereka lebih suka mempersulit dirinya. Bahkan sebagian muallaf pun terlalu memaksakan kehendak dengan pencarian petunjuk yang logis dan tegas bagi pertumbuhan spiritualnya. Bukanlah Al Qur’an dan kemu’jizatannya yang harus diragukan, namun keinginan dari sebuah nalar yang sempitlah yang mengajak kepada keraguan.

Pekerjaan akal adalah merangkai pengalaman. Dan sebaik-baik pengalaman adalah yang memberi nasihat peringatan.

Akal adalah perangkat terpenting yang dimiliki oleh manusia. Dengan akal manusia mampu berfikir, dan dengan berfikir manusia bisa menentukan sikap dan tindakannya. Berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban perintah keimanan.

Ibarat mata yang tidak dapat berfungsi kecuali apabila ada cahaya, begitu pula akal, dia tidak akan berfungsi bila tidak ada cahaya iman, cahaya yang terpancar dari nur Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika akal digunakan untuk mengambil cahaya ini dengan mempelajari, memahami lalu mengamalkan serta mendakwahkannya, maka segala kebaikan dunia akhirat akan teraih. Namun jika tidak demikian, maka kehancuranlah yang akan muncul.

Akal boleh menghasilkan nanoteknologi yang mampu menciptakan nanorobot yang ukurannya bisa sekecil sel darah merah, yang dapat memperbaiki berbagai kerusakan tubuh.

Akal bisa membuat jembatan bagi loncatan revolusi bioteknologi yang membawa manusia mengatasi keterbatasan tubuh biologisnya.

Akal bisa saja mengatasi berbagai penyakit, menghambat proses penuaan, dan fungsi tubuh jadi lebih optimal.

Akal bisa saja mengatakan bahwa di masa depan, jantung manusia bisa beristirahat. Sebab tugasnya sudah digantikan oleh nanorobot yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Bahkan, ada yang meyakini bahwa di masa mendatang, teknologi sebagai hasil olah akal mengizinkan otak manusia untuk meninggalkan tubuh pindah ke tubuh robot. Lalu terciptalah sebuah “keabadian”. Malaikat Maut akan kehilangan pekerjaan!

Saat orang kafir yang buta mata hatinya menggunakan akalnya untuk merusak Islam, mereka memandang syariat Islam sekadar sebuah pemikiran yang bisa diterima atau ditolak. Maka munculnya sebagian kaum muslimin yang –mudah-mudahan berniat baik- menolak dan membantah mereka dengan pola pikir mereka (membantah lawan dengan senjata lawan) akhirnya mereka menjadi terbiasa dan lebih mengedepankan cara berfikir ala orientalis dalam memahami Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meninggalkan cara-cara yang ditempuh ulama dengan cara berpikir mereka yang sederhana.

Akhirnya muncullah berbagai pola pemikiran aneh dan berdirilah lembaga pendidikan yang mengajak umat berpikir model semacam ini. Lalu, muncullah para pemikir Islam atau cendikiawan muslim.

Yang sangat disayangkan, istilah “Islami” hingga hari ini masih banyak dipakai di kalangan kaum muslimin dalam tulisan-tulisan dan pembicaraan mereka. Keadaan makin parah manakala sebagian dari tokoh pergerakan Islam berusaha memalingkan pemuda Islam dari kitab-kitab ulama salaf dan mengarahkannya kepada buku-buku pemikiran yang penuh syubhat. Mereka membuat opini bahwa kitab-kitab salaf hanya berlaku pada zamannya dan tidak relevan dengan zaman sekarang. Kurang membumi.

Benarkah Islam disebut sebagai pemikiran, sebuah perbuatan dari akal? Bukankahkah Islam datang dari Allah sedangkan pemikiran dan akal diberikan kepada manusia sebagai ujian dari Sang Pencipta?

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Orang tidak hanya hidup dengan akal. Darah, bahasa, agama, pandangan hidup adalah apa yang mencirikan seseorang bangsa dan membedakan mereka dari yang lain. Namun mereka dapat dipersatukan melalui peradaban.
    Dalam dunia Islam terdapat sebuah kecenderungan untuk, di saat mengalami ketegangan,”kembali ke masa lalu”, untuk menemukan identitas dan loyalitas dasar pada komuitas keagamaan, yakni melalui sebuah entitas yang lebih didasarkan pada (ajaran) Islam dari pada etnisitas.
    Umat Islam menegaskan bahwa ajaran Islam merupakan satu-satunya sumber identitas, makna, stabilitas, legitimitas, kemajuan, kekuatan, dan harapan. Jadi Islam bukanlah sekedar agama, tetapi juga sebagai way of life. Yang diinginkan adalah modernisasi bukan Westernisasi. tujuannya adalah simpel, sebagai perwujudan upaya-upaya untuk menerapkan hukum Islam (menggantikan hukum Barat), penggunaan bahasa dan simbolisme keagamaan, perluasan pendidikan Islam, penerapan ajaran-ajaran Islam yang berhubungan dengan perilaku sosial. inilah yang disebut kebangkitan Islam.
    Salam superhangat.

  2. orang yang mendahulukan akal daripada iman,,kira-kira kondisi imannya gimana ya. jangan-jangan akalnya sudah terkontaminasi oleh eritrositnya yang sudah mengalir didalamnya picorobot (0,000000000001),ga cuma nanorobot, yang sudah menjelma menjadi syaithon sebagai ‘aduwwun mubiin-nya manusia

  3. akal dan iman harus berjalan beriringan, tidak ada yang saling mendahului sebagai jembatan untuk taqwa. Hai orang yang beriman bertaqwalah, hai orang yang berakal bertaqwalah.

    Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS:Yunus:100)

  4. Islam itu memakai logika, tetapi logika bukan Islam !!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: