Sejarah Adalah Sesuatu Yang Dituliskan

30 Mei 2009 pukul 08:36 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, politik, renungan | 5 Komentar

Suatu saat aku melayat seseorang. Seorang teman. Aku saksikan sampai penguburan. Mudah-mudahan dia dikuatkan ketika ditanya di sana. Mudah-mudahan husnul khotimah.

Ketika aku melangkahkan kaki untuk pulang. Aku melewati sebuah kuburan. Aku kenal siapa yang dikubur di situ. Dia kakak laki-laki isteri kakak laki-laki bapakku. Aku sempat bertemu dan omong-omong panjang lebar dengannya yang sayang sekali aku tidak begitu perhatian bak jurnalis kala itu selain sebagai bagian dari keluarga jauh. Dia adalah anggota pasukan Hizbullah yang ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini dari cengkeraman penjajahan. Dia banyak bercerita tentang bagaimana sepak terjang satuannya ini dan bagaimana secara pribadi dia merasakan kebanggaan atas apa yang mereka lakukan bagi negeri ini. Dia adalah salah satu saksi hidup perjalanan negeri ini. Dia adalah salah satu guru sejarah yang menyampaikan fakta berdasarkan apa yang dia alami dan dia rasakan sebagai pelaku. Dia mengalami dan merasakan.

Tapi ceritanya berbeda dari yang aku pernah dapatkan dari guru sejarahku di sekolah. Paling tidak sebagian besarnya. Lapisan-lapisan pengalaman manusia yang terkubur membisu ini sering kali diabaikan dalam tulisan-tulisan akademis. Atau bahkan dihapuskan dengan alasan politik atau bagi mereka yang memiliki agenda dan kepentingan berbeda. Ada yang bilang, “Lebih sering, sesuatu yang kita ketahui dan kita terima sebagai sejarah adalah hasil karya seorang penulis yang memiliki agenda politik tertentu.”

Di televisi, aku tahu bahwa laporan kejadian jarang sekali mendekati peristiwa aslinya. Dalam banyak kasus, aku bahkan nyaris tidak mengenal kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana televisi memberitakan kejadian Bom Bali misalnya. Atau memberitakan kasus Poso berdarah, Mei berdarah, Insiden Monas, penggerebegan kantor Playboy, atau peristiwa-peristiwa yang sarat nuansa politik lainnya.

Di buku-buku sejarah yang ditulis. Bagaimana kisah sebenarnya dari sang tokoh atau bagaimana sebenarnya kisah itu terjadi sulit aku percaya begitu saja.

Benarkah Islam masuk ke Indonesia dengan tidak sengaja? Hanya lewat ulah iseng para pedagang Gujarat? Benarkah mereka yang disebut DI/TII benar-benar sekelompok pemberontak yang membuat kekacauan di negeri ini? Apakah PKI dan Gerakan 30 Septembernya benar demikian alur peristiwanya?  Apa yang sebenarnya terjadi di Priok kala itu yang menewaskan banyak manusia yang “kebetulan” muslimin? Apa yang sebenarnya terjadi di Banyuwangi ketika para guru ngaji menjadi korban pembunuhan dengan dalih tukang santet? Benarkah Kristen masuk Indonesia dengan jalan damai dan juga agama lainnya? Apa yang sebenarnya terjadi di Maluku dengan RMSnya? Apa yang terjadi di Aceh dengan GAMnya? Lalu, bagaimana dengan Ali Moertopo yang “sukses” dengan proyek Komando Jihad, lalu Soedomo juga “sukses” dengan Kopkamtibnya yang telah banyak menyakiti umat Islam, juga Benny Moerdani yang “sukses” dengan proyek Imran/Woyla dan Tanjung Priok, ada lagi, Try Soetrisno yang “sukses” dengan proyek Lampung dan DOM Aceh, juga beberapa kasus seperti Haur Koneng, dan sebagainya? Siapa sebenarnya Fabianus Tibo, Alexander Manuputty dan segenap orang di lingkarannya?

Aku pernah bertanya kepada seorang teman yang guru sejarah di sebuah SMU, bagaimana rasanya menyampaikan data yang masih diragukan kebenarannya…. dan dia hanya tersenyum. Getir.

Yang aku rasakan, sejarah versi dokumentasi ini ditulis dengan lapisan bias politik, sosial, dan bahkan pribadi. Kebenaran menjadi hilang selamanya kecuali, barangkali, bagi orang-orang yang menyaksikannya secara langsung. Umumnya, saksi-saksi ini kemudian hidup sebagai ”manusia biasa” yang hidupnya biasa bahkan pas-pasan dan sulit. Mereka tidak akan menuliskan peristiwa yang mereka saksikan ke surat kabar nasional atau mencari penerbit yang mau mencetak kisahnya demi mendapatkan uang. Mereka hanya menguburkan mayat saudaranya, temannya, lalu berdoa untuk kedamaian dan kebaikan, lalu berusaha sekuat tenaga agar hidup terus berputar. Tapi tetap saja, mereka menyimpan pengalaman dengan cara mereka sendiri sebagai saksi sejarah, dan kemudian menyampaikan kisah itu secara lisan kepada keluarga dan komunitas yang mereka percaya.

Kemudian bagaimana ketika hal-hal bias ini terjadi dalam skala yang lebih besar? Dunia? Bagaimana dengan anggapan bahwa manusia ini adalah keturunan kera? Mungkin benar kalau Darwin adalah keturunannya. Tapi bagaimana dengan lainnya? Bagaimana dengan “fakta” sejarah bahwa dunia ini terjadi secara tidak sengaja? Lalu yang sedikit terasa menyakitkan adalah bagaimana sejarah mencatat kisah-kisah perang salib, perburuan Amerika dan begundal-begundalnya atas sosok Usamah bin Laden dan gelar yang mereka sematkan padanya. Apa yang diberitakan media tentang penjara Abu Ghuraib? Apa yang media katakan tentang sosok Amrozi cs dan bahkan seorang guru ngaji bernama Abu Bakar Ba’asyir?  Lalu bagaimana pula sosok-sosok “legendaris” dunia lainnya?

Tidakkah kecenderungan untuk memelintir kebenaran menjadi semakin besar dan semakin absolut ketika kita menengok ke belakang, ke masa lalu ketika hanya orang-orang yang kaya, berpendidikan formal tinggi, dan memiliki kedudukan politik yang mampu mencatat peristiwa?

Aku semakin merasa berkewajiban untuk mempertanyakan sejarah. Mungkin ini terlalu jauh melangkah. Tapi tetap saja mesti dilakukan. Paling tidak, aku berharap kepada segenap pihak yang mampu dan mau jujur kepada diri sendiri kemudian secara bertanggung jawab mengungkap fakta kepada publik dengan obyektif.

Dengan semaraknya dunia tulis menulis, berbagai materi dalam jumlah tak terhitung yang dianggap cendekiawan dapat diterima secara akademis diadakan oleh orang-orang dari strata sosial dan politik tertentu. Sebagian kita percaya, biasanya dengan begitu saja, bahwa dokumen-dokumen itu benar hanya karena dokumen itu bisa “diabsahkan” ke dalam periode waktu tertentu. Jarang kita memperhitungkan fakta bahwa dokumen itu ditulis pada masa yang tidak tepat atau masa kekacauan, ketika nilai-nilai yang dianut sekelompok masyarakat tertentu berbeda dengan yang lainnya, bahkan bertentangan.

Akhirnya, sambil “menunggu” pelurusan sejarah ini, aku hanya bisa percaya bahkan yakin dengan fakta-fakta sebenarnya yang telah sampai kepada kita dan telah mendapat legalisasi dengan

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

Aku berharap, sejarah buka lagi sekedar yang dituliskan, namun sejarah adalah apa yang telah terjadi sebenarnya dan akan diwarisi anak cucu kita sebagai bagian dari proses pendewasaan dan penyadaran akan jati dirinya. Sebagai hamba terhadap Rabbnya…..

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Memutar balikkan oleh orang/tokoh tertentu semata2 krn mereka haus penghargaan+pujian dari negara,ato mungkin utk mencari kedudukan?. Dan saya yakin kebenaran itu suatu saat akan terungkap.

    Assalamu’alaikum..

  2. akibatnya bangsa ini tidak suka dengan sejarah, ya… kang Didien®. Buktinya yang masuk museum ajah sedikit padahal harga karcis murah.
    salam superhangat
    wassalam
    ps.
    @Didien®: mo sampai kapan nunggunya?

  3. Ada Award dari saya OBA 2009
    Jika berkenan silakan di estafetkan

  4. “sejarah adalah kesepakatan sebuah cerita bersama para penguasa yang di amini oleh para pengikutnya”

  5. Terima kasih atas “renungan”-nya. Betul, sebagai saksi hidup kami lebih memilih ‘diam’ dan terus berjalan. Untuk menjelaskan apa yg kami rasakan sebelum dan sesudah kejadian saja sangat sulit. Apalagi meyakinkan kepada mereka apa2 yg kami yakini. Biarlah. Suatu saat semua akan terungkap. Kalo nggak di dunia ya di akhirat hehehehe…. 🙂

    masih ada keyakinan akan hari persidangan. semua kebenaran akan terungkap. begitu yakinku…
    terimakasih sudah mampir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: