Obrolan Gubuk

27 Mei 2009 pukul 16:09 | Ditulis dalam ibadah gaul, irodatul khoir lil ghoir | 1 Komentar

Suatu kali aku duduk-duduk di gubuk bersama teman-teman petani. Kami ngobrol ngalor ngidul soal sawah dan seputar kehidupan kami. Gak sampe ngrembug istri-istri kami. Hehe… itu mah urusan orang per orang….

Sedang asyik-asyik ngobrol, datang anakku bawa makan siang. Rolasan, begitu kata orang-orang.

Assalamu’alaikum…..seru anakku.

Wa’alaikumsalam, jawab kami bareng-bareng.

Bla…bla…bla…

Mas. Enak ya, punya anak sopan begini, kata seorang teman petani. Ketemu bapaknya ucap salam dan cium tangan. Mesra banget kelihatannya.

Alhamdulillah, Mas, jawabku.

Lalu topik obrolan kami langsung belok arah ke soal anak-anak dan keluarga kami semua. Sepanjang bukan perkara pribadi apalagi aib sih, oke saja.

Lalu sampailah aku pada omongan ini,

Perkara begini memang gampang-gampang susah sih Mas. Maksudnya begini, bagi anak-anak ini gampang, lha yang susah itu ya orang tuanya. Para orang tua gak mau kasih contoh buat anak-anaknya. Ditambah sikap arogansi orang tua. Mentang-mentang jadi orang tua, gak pernah mau disalahin sama anak-anak. Maunya dianggap benaaar terus, maunya menaaang terus. Jadinya gak kondusif buat menanamkan nilai Islam dalam keluarga.

Kulihat mereka tercenung dengar ocehanku. Nampaknya ada benarnya juga omonganku. Dan itu menghunjam ke dalam dada-dada mereka.

Aku lanjutin saja ocehanku rada belok arah dikit,

Kalau soal ucap salam sih udah jadi perkara biasa di keluarga saya Mas. Anak mau masuk rumah ya mesti baca salam. Sama saja orang tua juga begitu. Sampe tetangga depan rumah juga mereka ngucap salam kalau masuk rumah. Virus menular juga nih, alhamdulillah. Padahal gak pernah mereka kelihatan pergi ke masjid kecuali seorang ibu dari mereka.

Nah, sekarang bicara soal keutamaannya, salah satunya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begini,

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Ini soal adab, soal etika mengucap salam. Bahwa yang lebih utama adalah anak-anak mengucap salam lebih dahulu kepada orang tua, atau yang lebih muda kepada yang lebih tua. Terus yang berjalan mengucap salam kepada yang duduk, lalu orang yang sedikit jumlahnya kepada rombongan yang lebih banyak.

Lha waktu anak saya tadi datang, dia mengucap salam lebih dulu. Dia paling muda di antara kita, pun juga dia lebih sedikit jumlahnya dari kita, juga dia jalan dan kita duduk. Pas dah……

Hehe…tiba-tiba salah seorang teman interupsi.

Begini Mas. Gimana kalau yang muda sedang duduk dan yang tua sedang berjalan. Atau, yang sedikit jumlahnya sedang duduk, yang banyak sedang berjalan. Atau, orang tua berjalan sendirian melewati anak-anak bergerombol main kelereng. Gimana dong?

Hehehe…..pertanyaan nyentil nih.

Sebentar….

Aku menyangka teman petani ini lugu. Polos. Apa adanya. Dia bertanya memang karena gak tahu mesti gimana. Jadi terhadap pertanyaan begini aku jawab apa adanya juga, aku ingat ada potongan hadits begini

وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Jadi ya kujawab aja kalau yang lebih baik adalah yang lebih dulu memulai mengucap salam, gak peduli siapa dia. Mau yang tua atau yang muda. Mau yang jalan atau duduk. Atau keadaan lainnya.

Nah benar kan, temanku itu manggut-manggut. Itu tanda dia lega mendapat jawabnya. Artinya dia memang polos.

Ini beda banget sama sebagian orang-orang yang secara fisik nampak islami namun dalam dadanya menyimpan kebencian kepada nilai-nilai Islam. Mereka ini selalu berusaha mencari dan mengada-adakan “sisi lemah” dari aturan dan adab Islam. Ya contohnya pertanyaan yang dilontarkan temanku petani itu.

Kalau yang tanya para kaum pembenci Islam ini, pasti jadinya beda. Mereka bertanya bukan untuk mendapat jawabnya, tapi biar kelihatan seolah-olah Islam itu gak komplit, gak sempurna, gak komprehensif, gak ngrampungin masalah. Gak gak gak gak….lainnya lagi. Ujung-ujungnya biar Islam makin ditinggalkan oleh kebanyakan orang.

Itu baru urusan salam. Mesti diganti selamat pagi kek, merdeka kek, atau apa lagi….

Terus selain salam, ada juga tuh, soal warisan, soal gender, soal amanat, soal poligami, pornografi dan masih banyak lainnya yang setiap waktu diutak atik biar nemu jalan buat melemahkan nilai Islam dari benak manusia banyak sekaligus memenangkan nilai syaithoniyyah dalam alam pemikiran manusia.

Begitulah nilai nilai sekulerisme, kapitalisme, pluralisme dan faham-faham lain yang sebenarnya punya cacat bawaan itu selalu dipropagandakan dan dengan segala cara dilakukan.

إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ

(bahwa Al Islam ini datang dalam keadaan (dirasa sebagai sesuatu yang) ghorib, aneh, asing. Dan dia akan kembali dalam keadaan ghorib sebagaimana mulanya)

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yach bagus, islam emang unggul. meskipun orang bertanya tuk melemahkan islam,insyaallah kan tetap ada jawabannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: