Dari Gubukku

6 Mei 2009 pukul 17:02 | Ditulis dalam kehidupan, renungan | 7 Komentar

Panen memang sudah agak lama lewat. Itu pun sekedar cukup untuk musim tanam berikut dan makan keluarga sampai panen berikutnya. Dan itu sudah cukup melegakan. Dan aku layak bersyukur, bahwa memanen padi di sawah sendiri menjadikan aku tak memikirkan budget layaknya orang yang mesti mengeluarkan dompetnya. Sebuah keni’matan tersendiri.

Sore ini aku duduk di gubug di areal persawahan. Kupandangi hamparan padi yang ada dihadapanku. Kuteruskan pandangan mataku lebih jauh lagi. Sawah-sawah milik tetanggaku menambah luas wilayah pandangku. Ijo….

Dibalik hijaunya padi, tercipta bayang-bayang dikelopak mataku. Suram… paling tidak itulah yang dirasakan sebagian teman petani. Betapa tidak, panen yang mestinya membawa kebahagiaan, mesti terselip sebuah kegalauan, kalau tidak boleh disebut keputusasaan. Masalahnya adalah ketika harga gabah tidak bersahabat. Aku masih ingat ketika Bulog dulu pernah melakukan aksi heroik membeli gabah secara besar-besaran dari petani. Tapi aku sendiri sangat meragukan efektifitas aksi ini. Ketika aku lewat di sekitar Pasar Legi Solo, di daerah Tambaksegaran, berpuluh-puluh truk pengangkut beras memang memadati komplek “Pecinan” itu. Namun bukan oleh petani sepertiku. Mereka adalah para pedagang pengumpul, yang bisa saja sebenarnya pemilik mesin selep atau memang tengkulak tulen. Lalu, aksi Bulog itu kemana? Ah….pahlawan kesiangankah?

Tragedi….

Namun tetap saja tragedi ini menjadi fenomena tahunan. Selalu berulang. Dan pemerintah tidak, atau belum memiliki mekanisme pengamanan yang bisa melindungi petani. Memang di televisi ada iklan swasembada beras oleh sebuah partai politik, tapi itu hanyalah iklan. Fakta yang dirasakan oleh sebagian petani ini tetap menjadi pemandangan tahunan. Paling tidak itulah yang aku lihat dan aku tahu.

Setiap kali musim panen, juga musim tanam, petani selalu terjepit. Selalu rentan. Mereka rugi dua kali atau malah tiga kali. Ketika panen dan menjual gabahnya, situasi pasar sangat tidak berpihak. Murah dan semurah-murahnya. Saat stok beras habis dan harus membeli beras, harga sedang tinggi-tingginya. Belum lagi, saat pemupukan, harga pupuk selalu membuat petani ambil nafas panjang. Itu masih ditambah lagi dengan sistim ‘girik”, kupon yang harus mereka bawa saat membeli pupuk di koperasi atau toko pertanian yang mesti “ditunjuk”, meskipun hanya sekilogram saja.

Memang sebagian petani sudah menyisihkan sebagian panenan untuk tidak dijual. Tapi sebagian lain belum pernah terpikirkan untuk melakukannya. Bukannya tidak mau, namun ketidakmampuan merekalah yang menjadi penyebabnya. Bahkan yang sekedar menjadi buruh petani atau petani buruh lebih memprihatinkan lagi. Dan lumbung desa itu pun masih saja kosong. Setahun lalu malah sempat berubah fungsi jadi posyandu, dan sebelumnya bahkan malah jadi tempat nginap gamelan, tidak tahu milik siapa. Sementara aku sendiri tidak berpikir menjual gabahku, kecuali sekedar untuk musim tanam berikutnya. Dan bibit pun aku tidak perlu membeli baik dari dinas pertanian maupun dari para petani penjual bibit. Aku bikin bibit sendiri. Aku rendam sendiri, aku jemur sendiri, aku pilih sendiri gabah yang baik menurut insting dan pengalamanku. Dan aku memang nyeleneh. Tidak mengikut program intensifikasi pertanian. Aku pakai caraku sendiri. Menurut sebagian orang, ini jadi hal aneh, tapi kuni’mati…. toh, sawahku hanya beberapa “pathok” saja. Tak perlu repot-repot mengurusnya. Itupun sebenarnya milik ibuku yang diwarisi dari kakekku.

Bahkan menurut rasaku, intensifikasi ini bukannya menjadikan iklim pertanian menjadi baik. Namun malah sebaliknya. Para insinyur yang duluuuu sekali dikirim pemerintah untuk bersekolah ke luar negeri, untuk “ngangsu kawruh” ke orang asing, lalu mereka membawa program itu ke negeri tercinta ini, sepintas memang menjanjikan percepatan panen yang secara teori menaikkan produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun ternyata, masalah yang kemudian timbul lebih dahsyat dari sekedar hasil panenan. Dan itu akan memakan waktu bertahun-tahun bahkan bilangan puluhan. Tanah semakin tandus, gersang, unsur hara jadi rusak. Tanah penuh dengan racun, rantai makanan rusak karena tikus mati diracun demi pembersihan hama tanaman dan ular tak lagi punya santapan dan bahkan mereka kesasar masuk kampung untuk cari makanan. Lalu para petani mulai kehilangan ayam yang menjadi sumber ekonomi kedua keluarga mereka.

Aku ingat ketika dulu masih kecil. Sawah kakekku ini kalau panen pasti dobel. Panen padi dan panen ikan. Minapadi. Belum lagi sayur-sayuran yang menghiasi pematang. Dulu aku paling suka memetik kacang panjang dan langsung aku makan. Tanpa dicuci, tanpa khawatir keracunan pestisida atau insektisida. Haus? Tinggal menimba air di sumur dan langsung minum dari timbanya. Segar dan tidak perlu diare. Itu dulu sekali….. Sekarang…???

Pemerintah boleh berganti. Strategi pembangunan boleh berubah menurut tantangan yang dihadapi. Tapi adakah yang secara jelas memihak para petani selain sekedar iklan dan slogan-slogan? Persoalan pemberdayaan petani ini selalu menjadi hal yang tidak jelas. Bahkan areal pertanahan yang subur di Jaten, kira-kira 3 kilometer dari tempatku tinggal, sekarang sudah berubah menjadi kawasan pabrik-pabrik yang setiap hari mengepulkan asap hitam dan limbah berbau busuk.

Di sebagian kelompok masyarakat sendiri malah ada yang terlanjur memiliki sebuah pemikiran keliru bahwa petani Indonesia tidak mampu meningkatkan produktifitas lahan usahanya. Sebuah vonis yang sangat menghakimi. Sebenarnya kalau boleh diteriakkan, kami para petanilah yang sebenarnya menjadi korban. Korban dari sebuah kebijakan, korban dari sebuah cara pandang. Di negeri ini, petani masih ditempeli dengan sebuah penilaian yang rendah. Tak punya nilai. Berbeda dengan negara lain (bukannya ngiri) yang memperlakukan para petani mereka dengan baik. Selain juga aku akui, bahwa masih ada petani yang tak mau maju. Malu membuka diri melihat perubahan (kepada kebaikan, bukan sekedar produktifitas dan ekonomi). Kurang ilmu dan pengetahuan. Tertinggal di wilayah kepicikan ilmu dan iman.

Menurutku, selain sekedar produktifitas dan nilai ekonomi, ada sesuatu yang lebih berharga. Ada kecintaan kepada tanah tumpah darah ini. Ada pembelaan kepada bangsa sendiri. Ada kebanggaan terhadap kekuatan sendiri. Ada harga diri yang harus dipertahankan. Ada sebuah ideologi yang layak diperjuangkan. Bahwa dengan ilmu dan iman, petani bisa mandiri dan bahkan memiliki banyak arti bagi bangsanya, bagi agamanya. Aku ingat kata seorang kenalan di pesisir utara Jawa,

Kami memang lebih bangga jadi nelayan tradisional, Mas…. tanpa perahu motor yang modern, tanpa pukat. Memang sedikit, tapi insya Allah halal, diridloi Allah. Dan hasil laut adalah murni dari Allah, kami ambil langsung dari sumbernya, tidak lewat tangan-tangan orang lain. Toh rejeki sudah ada jatahnya. Kami hanya mau yang halal dan thoyyib, maka dia akan jadi barokah, banyak kebaikannya. Kenapa juga kami harus memaksa diri mencari lebih dari kebutuhan kalau hidup tak lebih dari beberapa tahun ke depan….

Begitu…

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (Al A’raaf: 96)

Dengan ilmu dan iman yang benar, petani tak perlu “kemrungsung”, tergesa-gesa menelan setiap propaganda yang alih-alih menyejahterakan mereka, bahkan sebaliknya menjerumuskan mereka meskipun terkesan manis didepan mata. Bersama Allah, petani akan merasa cukup dengan kebaikan rejeki yang Allah telah bagikan. Tinggal mensyukuri dan Allah akan menambahi. Dengan kembali ke alam yang sudah Allah sediakan ini, petani akan kembali kepada kejayaannya. Mungkin dengan sistim padi organik, hidup anti utang apalagi yang ribawi (macem KUT), membangun jaringan kepercayaan dengan sesama petani dan dengan para konsumen (tidak harus lewat koperasi yang ompong gigi), memotong jalur perdagangan dengan membuat sistim jemput bola demi menghindari para pedagang pengumpul yang menguasai harga atau sistim lain yang bisa melepaskan diri dari jeratan kapitalisme dan segala kejahatannya yang mungkin menyelusup masuk lewat kebijakan-kebijakan para kaki tangannya, selama pemerintah tidak berpihak kepada petani. Petani harus mandiri. Allah lah tempat bergantung, bukan kepada sebuah kebijakan yang tidak bijak.

Sekali lagi, belum waktunya petani seperti aku ini percaya kepada pemerintah, kepada para insinyur pertanian yang lebih suka kerja kantoran. Banyaknya doktor di bidang pertanian pun belum terasa kontribusinya bagi bangsa dan negara ini. Yang lebih sering terdengar adalah hiruk pikuknya perebutan kekuasaan dengan segala warnanya. Hanya buang waktu dan merugikan diri sendiri.

Ah, sudahlah…sudah hampir maghrib. Nanti malam aku harus ke Sukoharjo. Menjumpai teman-temanku. Menyusuri jalan-jalan kebaikan. Mensyukuri ni’mat Allah.

Ya Allah….

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hmm..
    pendapat yg menarik bro..


    wah, cuman dari gubuk, Mas….

  2. saya setuju mas bahwa “petani masih ditempeli dengan sebuah penilaian yang rendah. Tak punya nilai. Berbeda dengan negara lain (bukannya ngiri) yang memperlakukan para petani mereka dengan baik ”
    kadang² eh bukan kadang² tp selalu, pemerintah tidak pernah memikirkan nasib para petani, betapa besarnya jasa² mereka. contoh kecil, krn petani rakyat ngeri ini masih makan nasi bukan burger ato stik golp, krn petani banyak lapangan kerja yg tercipta di pedesaan…halal malah..ya kan mas..???
    kapan neh saya di ajak panen..??:mrgreen:

    assalamu’alaikum, ^)^


    wa’alaikumsalam…
    ngg…kalo pas panen aja Mas….tapi dipikir-pikir, kalo kebanyaken yang manen, bawone kakehan Mas….. malah tombok saya nanti… kalo udah mateng aja bantu ngabisin…. dari salah satu warung di Bandung juga bisa kok….:mrgreen:

  3. warung yg mana toh mas..??:mrgreen:

  4. tul juga tuh bang,sekali-sekali kita emang kudu solider ma petani.harusnya kita maklum juga sih kalo harga beras naik,wong perjuangan meraka juga susah .Salam deh buat para petani temen abang.Tetep sabar,Innallaha ma’anaa….

  5. yang sabar aja ya …meskipun di pandang mata orang remeh, namun jasamu begitu mulia.

  6. pak tani dari jauh aku mendo’akanmu agar sll sabar ,krn allah suka orng yng sabar .

  7. Sebenarnya jikalau mrk berpikir dg jernih, mrk pasti tahu betapa baaaaar bgt jasa petani.Sehingga mrk bisa makan nasi setiap hari.Kalaulah g’ ada petani pasti mrk g’ akan bisa hidup. lha wong makanan pokok org Indonesia aja nasi, ya ngaak mas…?.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: