Berita Kematian

2 Mei 2009 pukul 09:05 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir | 4 Komentar

Berawal dari obrolanku sama seorang teman dekat yang lama-lama serasa jadi sodara, aku jadi nulis ini. Langsung ke pokok pembicaraan tanpa basa basi….

Ini tentang berita kematian. Horor… gak juga. Ini bicara soal kedudukan hukumnya.

Ini yang dari Sunan Tirmidzi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ وَهَارُونُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِيَّاكُمْ وَالنَّعْىَ فَإِنَّ النَّعْىَ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ. وَفِى الْبَابِ عَنْ حُذَيْفَةَ

…Hindarilah na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan jahiliyyah. (Na’yu adalah berita duka (pemberitaan kematian)….

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِىُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ. وَأَبُو حَمْزَةَ هُوَ مَيْمُونٌ الأَعْوَرُ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِىِّ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّعْىَ وَالنَّعْىُ عِنْدَهُمْ أَنْ يُنَادَى فِى النَّاسِ أَنَّ فُلاَنًا مَاتَ لِيَشْهَدُوا جَنَازَتَهُ. وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ بَأْسَ أَنْ يُعْلِمَ أَهْلَ قَرَابَتِهِ وَإِخْوَانَهُ. وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ قَالَ لاَ بَأْسَ بِأَنْ يُعْلِمَ الرَّجُلُ قَرَابَتَهُ

…..sebagian ahli ilmu tidak menyukai na’yu. Dan na’yu menurut pendapat mereka adalah menyerukan (kabar) kepada orang banyak bahwa si fulan sudah meninggal supaya mereka menyaksikan jenazahnya (melayat). Sebagian ahli ilmu mengatakan tidak apa-apa kalau memberitahukan kepada kerabat dan teman-temannya…..

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ بَكْرِ بْنِ خُنَيْسٍ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ إِذَا مِتُّ فَلاَ تُؤْذِنُوا بِى أَحَدًا إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

…Hudzaifah bin al Yaman pernah berkata, “ Kalau aku mati maka janganlah kalian kabarkan kepada siapapun. Aku takut ini termasuk na’yu. Maka aku pernah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang na’yu”……

Ini dari Musnad Ahmad

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلٍ الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا مَاتَ لَهُ مَيِّتٌ قَالَ لاَ تُؤْذِنُوا بِهِ أَحَداً إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْياً إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ

…Dari Hudzaifah bahwa apabila ada salah seorang yang mati, dia berkata, “Janganlah mengabarkan kematiannya kepada orang lain, aku takut hal itu termasuk na’yu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya,”…

Ini dari Shohih Bukhari

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه وخرج بهم إلى المصلى فصف بهم وكبر عليه أربع تكبيرات

…..bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kematian raja Najasyi pada hari kematiannya dan beliau keluar menuju musholla dan sholat (ghaib) mengimami orang-orang dan beliau sholat empat kali takbir…

حدثنا سليمان بن حرب حدثنا حماد بن زيد عن أيوب عن حميد بن هلال عن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه و سلم نعى جعفرا وزيدا قبل أن يجيء خبرهم وعيناه تذرفان

…Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kematian Ja’far an Zaid sebelum datang kabar mereka (dari para sahabat) dan air mata beliau menetes…

Sudah…

Dari kelompok hadits tadi ada dua hal yang seolah kontradiktif. Perlu langkah pendekatan, terserah mau pendekatan kesesuaian atau pendekatan konflik, mau tarfiq atau tarjih…. monggo silakan.

Dengan cara pendekatan yang manapun kita bakalan ngedapetin bahwa;

Na’yu itu bisa terlarang, bisa boleh.

Kapan dia jadi terlarang?

Na’yu jadi terlarang atau jadi haram bila menyerupai kebiasaan kaum jahiliyyah, macem teriak-teriak di depan pintu, di pasar, di atas mimbar atau seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang, yakni pasang iklan gede sehalaman koran, atau di majalah atau radio, atau di internet dan….blog. Biasanya dilakukan untuk berbangga-bangga dan pamer. Pamer kalau anaknya banyak dan hartanya melimpah dan relasi luas dan dekat pejabat dan dan dan….

Kalau mau diperluas cakupannya, termasuk dilarang pula bisnis na’yu. Menyediakan ruang kosong di media untuk berita kematian ini. Mengambil upah dari perbuatan ini. Masukan nih buat para produsen koran dan media lain. Cari duit dengan cara lain yang halal deh…..masih banyak yang halal kok, ngapain ngotot cari yang haram…..idih..!!!

Kapan dia dibolehkan?

Sekedar kabar kematian saja. Gak lebih. Itu pun terbatas untuk orang-orang dekat, kerabat, teman atau yang sudah kenal atau yang memiliki kepentingan dengannya, seperti pihak-pihak yang ada urusan utang piutang, atau yang semacem itu. Selesai..

Atau ketika na’yu itu dilakukan agar jenazah ada yang ngurusi. Mulai dari memandikan, mengafani dan menshalatkan terus menguburkan. Yang ini malah jadi keharusan, wajibun….

Di kitab Nailul Authar, Asy-Syaukani berkata, “Kesimpulannya, mengumumkan berita kematian untuk memandikan, mengafani, menshalatkan, mengusung dan mengebumikan jenazahnya dikhususkan dari keumuman larangan tersebut. Sebab mengumumkan berita kematian kepada pihak yang mengurusi urusan jenazah ini merupakan perkara yang disepakati kebolehannya sejak zaman para Nabi sampai sekarang. Adapun jika lebih dari itu, maka ia termasuk dalam keumuman larangan tersebut.”

Wallahu a’lam.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. terimakasih atas pencerahannya saudara jauhku..alhamdulillah semakin bertambah ilmu.a

    assalamu’alaikum ^_^


    wa’alaikumsalam…
    ilmu itu semakin dibagi malah semakin banyak loh Mas
    mudah-mudahan barokah buat semuanya

  2. Allahumma amin..

  3. duduk manis dan belajar …🙂


    yang puenting sabar ajah…begitu kan Mbak?
    belajar tuh sampe ajal menjemput kite-kite… minal mahdi ila al-lahdi

  4. sukron sukron…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: