Demokrasi

20 April 2009 pukul 09:41 | Ditulis dalam politik | 2 Komentar

Alhamdulillah, innaalillahi……, subhanallah, laa haula wa laa quwwata illaa billah…. akhirnya hajat nasional pileg (pemilihan legislatif) kelar (dan ninggalin pe’er masalah) dan beberapa ribu jam dari sekarang pilpres dan pasangannya bakal digelar, belum kelar….

Aku sendiri seperti biasa tidak (di)libat(kan) dalam hajat ini. Aku hanyalah pengembara yang numpang lewat di sebuah pesta “kemeriahan” demokrasi.

Oleh banyak pihak (dalam maupun luar negeri), kali aja capaian ini dinilai sebagai prestasi besar anak bangsa dalam kehidupan berdemokrasi. Tapi oleh beberapa orang jujur dibilang, eh…gagal lagi….. Ya, DEMOKRASI. Hmmmm…. masa-masa pra, selama dan pasca pileg, ternyata tetap saja menjadi buah bibir banyak kalangan. Mulai bibir tipis sampe tebal, bibir seksi sampe dower, bibir merah bergincu sampe yang hitam karena rokok. Bahkan tidak sedikit yang bibirnya jontor karena berebut peluang. Mulai dari obrolan ringan warungan pinggir jalan oleh rakyat sarungan dan di kafe-kafe oleh kaum perlente, diskusi populer dan orasi kampanye di pentas terbuka, koran, dan televisi oleh khalayak ramai, sampai dengan seminar ataupun kolokium serius di gedung megah nan mewah oleh peserta berdasi. (Aku dulu pernah pengin pake dasi, tapi gak kesampaian sampe sekarang, hehehe….)

Sebentar…!!!

Kok alhamdulillah…??? Iya, karena jalan gak lagi macet karena kampanye yang menuhin seluruh badan jalan dan gak lagi kena polusi suara gara-gara knalpot motor yang dicopot. Gak bikin budek lagi….

Innalillahi……karena ada yang mati kan…!!?!?!?! Gantung diri karena depresi. Gagal menuhin harapan dan nangguk utang dan rasa malu. Nervous tiap kali ada motor brenti di depan rumah. Nyangkanya debt collector mulu…. Trus juga malu sama tetangga, sama kepala sekolah malu, sama murid malu, sama pak RT malu, sama anak dan keluarga sendiri juga malu. Yang pedagang ketemu pelanggan aja malu… yang dokter mau nerima pasien juga malu. Dan teman-teman mereka yang gagal itu. Ya udah self destruction ajah…..

Subhanallah…… Dulu para Nabi dan orang-rang sholih gak ada yang punya kelakuan begini. Berebut kekuasaan, berebut ketenaran, kedudukan, dan…….uang (mungkin juga perempuan!!!). Hanya orang-orang bodoh yang suka berebut kekuasaan, atau kalo gak bodoh, mereka orang jahat. Kalau berkuasa kan bisa berbuat apa saja….begitu pikirnya!!!

Suatu kali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada salah seorang sahabat, Abdurrahman bin Samurah begini

يا عبد الرحمن بن سمرة لا تسأل الإمارة فإنك إن أوتيتها عن مسألة وكلت إليها وإن أوتيتها من غير مسألة أعنت عليها وإذا حلفت على يمين فرأيت غيرها خيرا منها فكفر عن يمينك وأت الذي هو خير

Ya…Abdurrahman bin Samurah! Janganlah kau meminta (posisi) kepemimpinan. Maka sesungguhnya jika kamu mendapat posisi pemimpin itu karena permintaan(mu) kamu akan dibebani. Dan jika posisi pemimpin itu kamu dapati bukan karena permintaan(mu) kamu akan ditolong………….(HR Bukhari)

Laa haula wa laa quwwata illaa billah……

Rasa ini campur aduk….ngeliat para pileg yang benar-benar pilek gara-gara gagal dan jatuh tersungkur. Ada yang hanya berubah jadi ceria sepanjang masa, senyum-senyum dimana-mana. Ada yang jadi suka orasi di merata tempat, ada yang jadi suka berbaju safari ke mana-mana macem legislatif jadi, keluar masuk pasar bak pejabat. Ada yang narik paksa “sumbangan” yang sudah terlanjur diberikan, mirip anjing yang menjilati muntahannya sendiri…..disgusting..!!!

Ada yang nekat ngunci pintu gerbang sebuah pasar karena dia pernah nyebar duitnya ke hampir semua pedagang di pasar dan….dia gagal. Ada yang suka bawa tongkat kemana-mana sambil nunjuk-nunjuk kesana kemari, bayangannya tongkat komando kali ya….

Tapi, apapun efek yang terjadi kemudian adalah sebuah petunjuk…ya clue….(inget blue’s clues deh…) sebuah tanda atau bukti nyata bahwa para caleg yang gagal ini ketahuan gak siap mental. Gak kokoh jiwanya. Gak siap nerima resiko dan juga gak ada perhitungan yang matang dan bijak. Keladuk wani kurang dugo kata orang Jawa. Ini mirip anak kecil yang belum punya cukup pemikiran dan ilmu. Mereka kurang atau malah gak ada ilmu (jiwa) yang memadai, maka sakit jiwalah mereka…… maka benarlah kata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang tadi itu. Mereka gak tahu kalau cara yang mereka lakuin itu mengundang masalah serius…..MASALAH SERIUSSSS!!! Trus yang gak gagal gimana? Kali aja kalau gagal juga sama saja….

Kembali kepada fitrah Islam.

Suatu ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kedatangan tamu (politik). Cerita ringkas versi Abu Musa radliyallaahu ‘anhu begini,

دخلت على النبي صلى الله عليه و سلم أنا ورجلان من قومي فقال أحد الرجلين أمرنا يا رسول الله وقال الآخر مثله فقال ( إنا لا نولي هذا من سأله ولا من حرص عليه )

Aku dan dua orang dari kaumku masuk atas Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka berkata salah satu dari mereka, Ya Rasulallah, jadikan kami pemimpin. Dan berkata yang lain dengan semisalnya. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya kami (muslimin) tidak mempercayakan perkara ini (kepemimpinan) kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi atasnya!!! (HR Bukhari)

Itu tadi menurut Islam dan aku yakin atas kebenarannya.

Lalu menurut konseptor dam pengusung demokrasi gimana ya?

Demokrasi berasal dari kata yunani: demos (rakyat) dan cratos (kekuasaan). Arti harfiahnya sudah sama tahu, adalah kekuasaan rakyat. Arti substansialnya adalah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi azas kedaulatan rakyat.

Karena rakyat terdiri dari banyak orang, secara teknis tidaklah mungkin semua orang secara simultan menjalankan roda pemerintahan dan karenanya diperlukan tatanan perundangan yang mengatur bagaimana pemerintahan dibentuk dan diselenggarakan. Dengan prinsip one person one vote sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, dipilihlah seorang presiden dan wakilnya agar kompak dan mereka memegang amanat rakyat untuk membentuk pemerintahan dan pileg untuk memilih wakil-wakil yang mengontrol pemerintah.

Dengan pola pikir begini ketahuan kalo

1. Presiden dan wakilnya membentuk pemerintahan (kabinet dan jajaran birokrasinya) demi untuk melayani kepentingan rakyat;

2. DPR mengawasi pemerintah atas nama rakyat.

Keduanya diberi amanat berupa mandat oleh rakyat untuk berbuat semaksimal mungkin melayani kepentingan rakyat. Tegasnya, mereka adalah pelayan rakyat dan ongkos hidupnya ditanggung oleh rakyat.

Di kehidupan riil, paradigma ini amat sering dilupakan oleh pemerintah maupun dpr dengan lebih menganggap diri mereka sebagai pemimpin rakyat. Bayangkan, bagaimana mungkin pelayan rakyat menganggap diri sebagai pemimpin rakyat. Harap diingat, kata presiden berasal dari bahasa Inggris “president” yang bermakna orang yang berada pada posisi paling depan. Bahwa orang yang posisinya berada paling depan disebut pemimpin adalah benar. Namun dalam konteks fungsi presiden sebagai kepala pemerintahan yang melayani kepentingan rakyat, maka presiden adalah pemimpin dari para pelayan rakyat. Dalam fungsinya sebagai kepala negara, maka presiden adalah pemimpin negara. Karena negara adalah milik rakyat maka presiden adalah abdinya tuan pemilik negara yaitu abdi rakyat. Dengan demikian, ditinjau dari segi manapun, presiden adalah orang terdepan dalam melayani rakyat (apalagi kini dipilih langsung oleh rakyat). Ironisnya, rakyat yang selama ini terbiasa “dipilihkan”, belum memahami benar bagaimana menggunakan hak demokrasinya. Kesadarannya baru terbatas pada kebebasan dalam menggunakan hak pilih. Sudah senang kalo sudah nyontreng kumis calegnya.

Sebagai pemilik negara, rakyat (terutama di desa-desa) justru masih terkungkung paradigma lama bahwa petinggi negara (eksekutif maupun legislatif) adalah para dewa mulia nun jauh tinggi di angkasa raya yang tidak layak di’salah’kan, bersemayam di menara gading, serba teliti, hati-hati dan bijaksana, penentu merah hijaunya bangsa dan negara, yang segala perintah harus dijunjung tinggi tanpa reserve, pendekar bangsa, tokoh panutan dan teladan atas segala ihwal yang baik-baik. Dengan demikian peran rakyat dalam demokrasi itu sendiri malah menjadi tidak jelas dan partisipasinya dalam tatakrama demokrasi menjadi stagnan karena sudah terbiasa di-stagnan-kan. Rakyat masih belum sadar bagaimana layaknya seorang majikan memberi petunjuk tentang apa yang harus dikerjakan oleh pelayannya, mengawasi bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan, dan menegur manakala proses pengerjaannya tidak sesuai dengan garis komandonya atau hasil pekerjaan tidak memuaskan sebagaimana yang dikehendaki. Situasinya terbalik, para pelayan justru berperan sebagai pihak yang memberi komando dan petunjuk arah perjalanan bangsa, mengatur bagaimana rakyat harus berbuat, mengawasi sejauh mana rakyat berperilaku “taat azas”, dan manakala ada sebagian rakyat yang kritis mempertanyakan kinerja para dewa, respons paling ringan adalah tidak digubris dan paling berat ditindak secara represif. Ironisnya, justru atas nama demokrasi.

Huhh…cape deh….

Ternyata mereka yang katanya jago dan paham apa demokrasi itu malah edan-edanan. Suara dari mulut dan gerakan tangan dan kaki amat jauh berbeda. Lain ladang lain belalang, lain depan lain belakang….

Dalam Islam ada hal begini,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ إِنْ نَسِىَ ذَكَّرَهُ وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ إِنْ نَسِىَ لَمْ يُذَكِّرْهُ وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ

Ketika Allah berkehendak baik terhadap seorang pemimpin, Dia menjadikan untuknya pembantu (menteri) yang jujur. Jika dia (pemimpin) lupa, dia (pembantu) akan mengingatkan, dan jika sang pemimpin ingat dia akan menolongnya. Dan jika Allah menghendaki selain itu (pemimpin yang buruk), Dia jadikan untuknya pembantu yang jahat. Jika sang pemimpin lupa dia tidak mengingatkannya, jika sang pemimpin ingat dia tidak menolongnya. (HR Abu Dawud)

Ehm…..semua adalah manusia yang sama derajatnya di dunia ini. Ketaqwaannyalah yang menjadikannya lebih tinggi dari lainnya. Bukan karena dia jadi pemimpin atau tokoh atau apa saja. Sama-sama memiliki peluang untuk berbuat benar dan juga salah. Sang pemimpin maupun para pembantu dan seluruh rakyat sama-sama memiliki hal itu.

Dan yang pasti, pemimpin yang benar adalah orang yang memimpin manusia dengan petunjuk dari Allah dan contoh dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka menyukai kebaikan dan sekaligus memberikan contoh dengan amalan-amalan yang baik. Juga menegakkan sholat (bukan hanya menjalani ritualnya saja), dan membayar zakat (bukan hanya menarik zakat, apalagi pajak….!!!) dan mereka itu adalah para pengabdi Allah (bukan abdi negara atau abdi rakyat), begitulah bunyi ayat 73 surat Al Anbiyaa’. Al Qur’aan milik kita semua bunyinya sama kok. Coba cek saja, pasti bunyinya begini;

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Dalam hati kecilku sendiri aku gak terima dengan sistim demokrasi dengan one person one shoot eh…vote ini. Sederhana saja, masa sih suara seorang profesor disamakan dengan suara penjual siomay jalanan. Bukannya anggep remeh si tukang siomay, tapi apa iya bobot suara mereka sama..??? Apa iya suara seorang ulama disamakan dengan suara seorang bromocorah…???

Menyikapi situasi yang tak kunjung membaik ini, sudah saatnya rakyat sadar sendiri atau terpaksa disadarkan tentang hak-hak sekaligus kewajibannya dalam menata hidup baik secara pribadi maupun berbangsa dan bernegara secara seimbang. Kata kuncinya adalah pendidikan politik dan agama, meskipun sebenarnya kedua hal ini tidak terpisah dalam arti mempelajari agama pasti juga menyentuh perkara politik. Biarlah di luar sana orang-orang sekuler dengan gegap gempita menyerukan pemisahan negara dan agama, agama dan politik. Atau pemisahan agama dengan seluruh kesenangan hawa nafsunya. Biar saja….

Bagiku dan teman-teman yang masih tergolong generasi muda ini, perlu ancang-ancang dengan start yang cerdas (smartstart) dengan melakukan pembenahan di bidang pendidikan dasar yang mampu mengantar anak bangsa menjadi melek agama dan sekaligus tahu bahayanya meninggalkan segala aturan yang ada didalamnya. Sekaligus melek politik agar tidak dengan mudah di’makan’ oleh kaum pemangsa yang mengatasnamakan demokrasi bahkan generasi muda melek agama inilah yang diharapkan tampil menjadi pemimpin, meskipun yang tua mendapat prioritas utama (tua ilmunya loh….). Uhuk…uhuk…..

Bagi generasi yang sekarang sudah terlanjur berpredikat generasi tua, namun buta agama sekaligus politik, perlu pemberdayaan perangkat pendidikan informal dan gerakan gerakan pengajian sederhana di kampung-kampung, dengan nara sumber yang melek agama dan politik (‘alim tenan, bukan badut bersorban) untuk meningkatkan pengetahuan agama dan politik masyarakat dan menggugah kesadaran mereka agar lebih peduli terhadap dinamika persoalan agama yang menjadi akar masalah bangsa bila ditinggalkan (minimal masalah-masalah di lingkungannya sendiri) secara terprogram dan berkelanjutan.

Sadar…sadar…..

Ini bukan perkara gampang. Susye banget gitu loh…..

Tapi yang pasti,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al ‘Ankabuut:69)

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آَذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri. (Ibrahim: 12)

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Memang manusia tak pernah puas akan apa yang diperolehnya. Dan selalu bicara yang tidak baik (menuduh) atas apa yang telah dilakukan oleh orang lain.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam.” (HR. Muslim no. 34)

    Salam hangat selalu.

  2. sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan sistem demokrasi,karena Allah terangkan dalam Al-qur’an, bahwasanya kebanyakan manusia itu tidak tahu [tidak ber ilmu],apa pantas pendapat orang yang tak berilmu kita pertahankan.apa tidak sebaiknya kita mengutamakan pendapat para ulama’ akhrat bukan ulama’ duniawi lhooo.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: