Mengantar Anak Menuju Sukses

16 Maret 2009 pukul 15:39 | Ditulis dalam keluarga | 2 Komentar

Sekolahku liburnya hari Jumat kok. Jadi kalau hari Ahad kami mesti masuk sekolah. Gimana, mau…?

Kata anak-anakku ketika mereka diajak main sama anak-anak tetanggaku. Anak-anakku memang liburnya gak barengan sama sekolah lain. Dasar sekolahnya milik sendiri, jadi ya diajar-ajar sendiri, di liburkan menurut kata hati, dan seterusnya.

Memang sih kadang bagi anak-anak ada citarasa yang agak unik. Mereka kadang ngeliat anak dari sekolah lain pake seragam yang beda banget sama seragam mereka. Si Nadya dulu sempat heran ngeliat anak perempuan berangkat sekolah tapi gak pake jilbab.

“Yah, kok dia gak malu ya keliatan rambutnya. Anak perempuan kan mesti nutup aurat ya, Yah….”

Lah, si Ovan juga kasih komentar keheranan ketika ngeliat anak sebayanya berangkat sekolah tapi bercelana pendek. Menurutnya, anak laki-laki mesti nutup pahanya, mesti pake celana panjang.

Ah, dasar anak-anak……polos, ada adanya. Meski kadang difahami secara berlebihan oleh yang sudah dewasa. Atau dirasa nganeh-nganehi. Masa’ anak kecil kok ngomongnya SARA gitu….

Sudahlah, biarkan mereka tumbuh dengan cara yang diridloi Allah.

Aku memang sengaja memilih sekolah yang menurutku baik dan sesuai dengan karakterku sendiri. Maksudku, anak-anak kan ibarat buah durian yang jatuhnya gak bakalan jauh dari pohonnya. Mungkin….. lho ya.

Bagiku, sekolah adalah tempat kedua bagi anak buat nyari ilmu dan ngembangin kemampuan atau bakat. Maksudku, rumah dan orang tua adalah tempat pertama dan utama bagi proses tumbuh kembang mereka. Hehe….

Kurasa dan kupikir, sekolah yang baik dan sesuai dengan karakter anak (dan juga pohonnya, orang tuanya) akan mampu menuntun anak ke arah yang lebih baik di esok hari. Anak akan lebih banyak lagi belajar sesuatu tentang agama, adab, akhlaq, nilai-nilai yang mesti dianut dan juga ilmu pengetahuan umum. Juga mereka akan terlatih bagaimana bersosialisasi dengan lingkungan, yang baik tentunya. Anak bakalan belajar bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan banyak teman, bagaimana manfaatnya bekerja sama, dan apa manfaatnya berbagi dengan teman. Dia akan berlatih menjalankan nilai-nilai agamanya tanpa rasa terpaksa. Juga anak akan belajar banyak hal tentang ilmu pengetahuan lain macam matematika yang memang sangat penting dalam hal memutuskan sesuatu di masa depan nanti. Toh, menurutku lagi, segala ilmu yang ada di dunia ini juga merupakan cabang-cabang ilmu Al Qur’an. Semua bisa kita gunakan buat nambah iman dan makin nyadar betapa kita adalah makhluk yang tak berdaya dihadapanNya. Dan ini mesti ditanamkan sejak dini. Sejak masih anak-anak.

Beginilah ketika aku mulai ngerasain betapa pentingnya keselarasan antara unsur intelektualitas dan emosional bagi anak-anak dan juga aku yang sudah mantan anak-anak ini. Bahwa perkembangan faktor IQ dan EQ mesti didasarkan kepada prinsip agama. Dienul Islam. Gak ada yang lain. Tentunya aku gak ingin anakku cerdas secara intelektual tapi berakhlaq buruk. Jadi jahat. Kalau sudah gede maunya jadi koruptor. Atau ketika jadi pemimpin sukanya menipu rakyatnya. Atau kalau jadi pengusaha sukses, ternyata suka jalan belakang, lalu suka plesir keluar negeri cari pelacur. Pinter tapi gak ada iman. Na’udzubillahi min syarri dzalika……….

Aku kepingin anak-anakku jadi orang beriman yang berilmu, bukan ilmuwan yang beriman. Aku kepingin mereka jadi orang iman yang gak susah hidupnya. Bukan kebalikannya, orang yang karena hidup susah kepaksa jadi beriman.

Jadinya, aku mesti selektif ketika memilih siapa gerangan yang akan aku percayai mengajar dan mendidik anak-anakku. Mereka harus punya iman lebih dulu. Iman…..iman….dan iman…. kemudian keyakinan dan rasa percaya diri bahwa dengan Islam dan semua nilai-nilainya, orang akan mencapai derajat yang tinggi di hadapan Allah. Sesudah itu baru kemampuan mereka dalam bidang-bidang lain soal kehidupan dan hiruk pikuk dunia ini.

Omong-omong soal memilihkan sekolah bagi anak-anak, kan gak lepas dari cita-cita orang tuanya. Mau dijadikan apa anak-anaknya. Asalnya kan

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصراه أو يمجسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيها جدعاء

Setiap yang terlahir (anak) dilahirkan dalam keadaan fitrah (atas Islam), maka kedua ibu bapaknya yang menjadikan dia yahudi atau nashara atau majusi. Seperti (mis: sapi) yang melahirkan sapi, adakah kalian melihat padanya unta, (HR. Bukhari)

Kalau melihat kepada asal muasal seperti ini, terserahlah kepada orang tua, mau dicetak jadi apa anak-anaknya. Artinya, seperti apa anaknya nanti ya seperti itulah orang tuanya kini.

Sudah banyak pilihan sekolah untuk anak. Ada sekolah yang menawarkan kurikulum pesantren murni, nasional, campuran, internasional, bahkan terpadu.

Iseng-iseng bikin langkah-langkah milih sekolah buat anak. Kecuali sudah punya sekolahan sendiri. Buat anak kok iseng-iseng….

1. Membuat daftar nama-nama sekolah biar makin mudah observasinya. Tentunya muatan agama jadi prioritas utama dan wajib.

2. Jarak sekolah ke rumah gak usah jauh-jauh. Kalau kejauhan, nyampe sekolah malah sudah cape dan laper. Transpor juga mahal. Yang nganter juga kerepotan. Kalau ada perlu wali murid sama sekolah juga enak kalau dekat.

3. Ada jalinan komunikasi yang erat antara sekolah dan orang tua murid. Ini wajib ‘ain…. kesepakatan dan pemahaman tentang visi dan misi harus ada. Semua ada nota kesepahaman kan….???

4. Tenaga pengajar dan pendidiknya mesti yang berkualitas dong, punya minat yang besar terhadap kebutuhan anak. Plus bisa jadi teladan yang baik bagi anak. Menunjukkan akhlak yang mulia berdasar Al Qur’an dan sunnah Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

5. Sekolah punya program yang baik, sekolah bisa kasih banyak waktu buat ngedorong minat setiap anak. CBSA (Cara belajar Santri Aktif) masih oke tuh…

6. Ketersediaan tenaga ajar dan didik yang mencukupi. Makin banyak gurunya (plus kemampuan) makin baik tuh. Kalau guru cape karena kebanyakan mengampu mata pelajaran kan berbahaya bagi KBM.

7. Pastikan sekolah memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan anak.

8. Cari sekolah yang terjangkau oleh kocek. Kalau perlu yang gratis tapi berkualias. Kalau boleh berharap, sudah belajar masih dikasih uang pesangon lagi, macem di negara yang berlebih pendapatan perkapita negaranya. Ada gak ya….?

9. Serap informasi yang mereview soal kualitas sekolah dari orang lain.

10. Kalau anak sudah bisa diajak berdiskusi, ada baiknya dilakukan. Tapi kalau anakanya masih balita ya seratus persen orang tuanya lah….. Kalau anak sudah gede tapi masih juga gak ngerti mana baik mana buruk, ya….orang tua lagi yang sepenuhnya yang jadi stickholder-nya.

11. Tapi yang penting adalah, orang tua mesti membantu anak biar mereka enjoy menikmati masa belajarnya. Gak tegang plus menyeramkan.

Gampang susah-susah kan….???

Kalau ada tambahan, sangat diharapkan kebaikannya…..

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Betul bang… cari sekolah yang seperti bang Habib inginkan itu ibarat 1000:1. Tapi, semoga mujahid bang Habib jadi anak sholeh dan sholehan semua…

  2. ya’ tul tuch kata mas muftialy meski beda dari yang lain, tapi kualitasnya tinggi. bisa menjadikan anak sholeh n’ sholehah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: