Latar Belakang Keluarga dan Kesejahteraan Anak

20 Februari 2009 pukul 10:00 | Ditulis dalam keluarga | 2 Komentar

Malam ini aku baru pulang dari luar kota. Pulang malam. Istriku setia menungguku. Dia bukakan pintu untukku meski aku bawa kunci pintu sendiri. Hmm….tipe setia dan taat. Alhamdulillah… aku dapati seorang istri yang meridlokan.

Acaraku barusan adalah ngisi kajian tematis di sebuah komunitas para kaum pekerja. Hihi…aku sendiri seorang pengangguran. Kok tega sih pengangguran ngisi kajian dikalangan profesional. Narsis kaliii….

Acaraku barusan kebetulan ngulas soal ngatur ekonomi keluarga dari kacamata Islam. Dan memang begitulah seharusnya bagi setiap diri yang ngaku muslim harus menerapkan aturan Allah dalam segala hal. Termasuk urusan ekonomi.

Acaraku barusan gak akan aku tulis ulang disini. Menjaga orisinalitas, hehe….meski njiplak dari Al Qur’an dan pola hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga. Tapi ada sesuatu yang lain yang mau kuposting.

Begini,

Begitu aku masuk rumah, aku mampir ke kamar anak-anakku. Mereka tidur nyenyak setelah tadi siang pulang dari Cemoro Sewu. Jalan-jalan.

Ehm, enam orang. Relatif banyak juga sih menurut komentar orang-orang sekitar. Istri satu. Belum nambah juga. Hehe….. mikir-mikir juga sih, maksudnya, kepikir betapa repotnya punya istri lebih dari satu. Kebayang, misal istriku dua orang, masing-masing memberiku anak enam orang, jadi total semua anak jadi duabelas. Hehe…. gayeng to?

Itu baru jumlah angka. Belum kerepotan riil setiap harinya. Lha wong enam anak juga sudah butuh minimal enam setel baju. Dan pastinya bukan angka minimal yang kita tuju. Biaya makan harian pastinya lebih banyak daripada yang beranak dua. Belum biaya pendidikan. Dan lain-lain yang faktanya berakibat bagi beberapa bujangan yang jadi takut menikah. Bagi yang sudah menikah jadi takut punya anak. Yang sudah punya anak jadi takut menambah. Anak dua sudah bikin repot kata mereka.

Omong-omong soal pengeluaran ni ye….

Menurut subyektifitasku sendiri, pengeluaranku sebagai kepala keluarga untuk anak-anakku relatif normal, gak rendah juga gak terlalu tinggi. Tapi menurut beberapa teori, pastinya tetep dipengaruhi oleh hal-hal beginian: pendapatanku sebagai pengangguran tak kentara, pola kesenanganku sendiri, jumlah anakku, biaya kualitas anak-anakku. Makanya juga, kesejahteraan seorang demi seorang anakku keseret oleh fakta beginian: pengeluaran-pengeluaranku sebagai kepala keluarga, reputasi keluarga, kontak keluarga, warisan yang kuterima, nilai dan ketrampilan yang aku miliki karena budaya keluarga.

Hm…. yang jelas pendapatanku tak bisa dipastikan setiap bulannya. Aku bukan budak negara (abdinegara) tapi sekedar orang asing, bukan pegawai negeri maksudnya. Kesenanganku? Banyakkk…..!!! Repot kan? Jumlah anakku jelas saat ini enam, gak tahu besok-besoknya. Biaya untuk menjaga kualitas anak-anakku saat ini relatif murah karena dari sekolah, mereka kusekolahi sendiri, bersama teman-teman yang punya pikiran sama denganku, bahwa sukses tak mesti dari bangku sekolahan. Ijazah? Belum kepikir, lha aku juga gak pake ijazah kok.

Lah? Mau jadi apa mereka nanti? Bagaimana dengan kesejahteraan mereka nantinya? Ehm…sempat kepikiran juga hal-hal menakutkan begini. Tapi kalau dibiarin, pastinya jadi buntek ke pikirannya. Lalu berpikir gak realistis, lalu mulai melupakan Allah. Begitu kalau orang gak ada iman di dadanya, kecuali sekedar sebongkah otak di kepalanya.

Ba’dallah, kesejahteraan anak-anakku memang dipengaruhi oleh banyak variabel. Total pengeluaranku setiap bulan pastinya belum banyak kalau diukur dari jumlah populasi keluargaku. Tapi kalau dibandingin dengan tetanggaku pastinya buanyakk tuh. Lha wong kalau beli lauk pasti gak akan bisa sedikit. Sedang reputasi keluarga gak ngaruh dari status nganggurku. Kontak keluarga juga gak ngefek. Kedua orang tuaku orang kampung biasa. Profesi orang kampung kebanyakan. Mereka berdua dan juga adik-adikku yang sudah pada nikah juga ngumpul satu blok. Gak ada yang jauh di mata jauh dihati. Semua serba dekat. Sedang warisan orang tua pastiya belum kuterima karena mereka berdua masih segar bugar. Mau nunggu? Tega amat!!! Jadi aku mesti bergerak dengan caraku sebagai seorang yang punya nilai dan ketrampilan sebagai seorang pengangguran. Nah tuh…

Tapi, variabel-variabel yang buanyak tadi cuman hasil pemikiran seorang manusia kan? Yang pastinya ada kekuatan Maha Besar yang bisa mementahkan teori-teori yang boleh jadi muncul sebagai akibat dari rasa pesimisme seorang hamba dari belas kasih Rabbnya. Jadi aku berusaha untuk tetep yakin dan yakin bahwa selama aku berusaha berjalan dalam kebenaran dan kebaikan, Allah tak akan ‘ngerjain’ aku dalam semua hal. Setiap kesulitan dan kesusahan yang aku hadapi toh dialami oleh mereka yang tidak berstatus pengangguran saja. Dan itu pun tak sebanding dengan keni’matan yang sudah Dia curahkan bagiku dan keluargaku. Malu kalau mau berkeluh kesah kepadaNya dalam soal hidup yang tak seberapa lama.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Rabbana, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabbana, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabbana, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Kembali ke soal kesejahteraan anak.

Jadi, bagaimana pengaruh pengeluaran keluarga dan sumber daya atau potensi penghasilan pada kesejahteraan anak?

Jadi serius nih…..

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pengaruhnya banyak, Mas. Khan… kesejahteraan membutuhkan biaya yang besar. Banyak anak membuat penghasilan meningkat karena harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Begitu pula dengan pengeluarannya. Diusahakan minimal Break Even Point, syukur-syukur bisa menabung…😀


    jadi…banyak anak banyak rejeki ya Mas…..

  2. Banyak bgt anknya


    update:
    per Mei 2012 anakku sudah 9 loh..alhamdulillah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: