Jebakan Dalam Mengasuh Anak

20 Februari 2009 pukul 07:05 | Ditulis dalam keluarga | 5 Komentar

Beberapa hari lalu aku sempet omong-omong dengan seseorang. Soal anak-anak. Begitulah ketika dua orang yang sama-sama punya anak banyak-banyak. Aku enam dia sembilan, kalah banyak kan. Disamping rumah dia ada sungai. Kami duduk ngecakruk mancing sambil ngeteh sore-sore.

Sambil nunggu si ikan pada ketipu, kami ngobrol soal cara ngadepin anak-anak yang sudah mulai berani ‘ngelawan’ orang tuanya.

Istilah ngelawan emang rada sadis ya….tapi emang gitu sih gaya orang tua kalo ngeliat anaknya mulai punya mau sendiri, mulai ada kreatifitas sendiri, mulai nyusun agenda hariannya sendiri. Padahal kita juga kan yang ngajarin mereka……???

Ngalor ngidul omongan, eh akhirnya arah obrolan kami mengarah ke diri kami ndiri. Bukan ke anak-anak secara to the point gitu. Kami sebagai orang tua sering malah ngerasa kejebak sama gaya kami sendiri dalam ngurusin mereka para penerus ini.

Temenku pergi ngambil kertas ke dalam rumahnya. Rencana kami mau buat beberapa catatan kecil soal jebak-menjebak ini. Jadilah konsep itu walau mungkin gak bener seratus persen. Kali aja ada manfaat buat kami kala khilaf atau lupa.

Jebakan 1 : suka ngelarang anak

Ngeliat anak semau gue? Kurang sopan? Sering kita ngerasa gitu. Terus sebagai orangtua, kita ngerasa sebagai yang punya kuasa, gampang saja ngelarang anak. Itu jalan termudah. Terserah caranya. Atau malah cuek aja, membiarkan. Sebagai orang dewasa sekaligus orang tuanya, kita punya dalil, eh dalih pembenaran buat EGP (Emang Gue Pikirin) atau ngelarang ini itu.

Orang Jawa kadang ngomong, wit gedhang woh pakel. Omong gampang ngelakoni angel. Yang secara teori gampang tapi sulit mraktekin sih yang begini nih. Membaca sebuah kekurangan sebagai potensi bagi sebuah kelebihan. Gimana kalau banyak maunya sendiri si anak itu dilihat sebagai potensi kreatifitas dan kemandirian. Nah, ini malah perlu diarahkan dan dipupuk. Tapi gimana caranya? Itu kan sulit banget!!! Lha iya…..kan tadi sudah dibilang…..

Setiap individu pasti punya keunikan sendiri-sendiri. Mereka pasti punya cara yang boleh saja beda dari lainnya. Termasuk si anak. Soal belajar misalnya, mereka boleh dong punya cara yang beda dari kita orang tua. Kalau kita mungkin nyerap ilmu dengan baca serius di tempat sepi sunyi sejuk adem jauh dari ‘gangguan’ apa saja, mereka bisa saja pake cara dengerin gurunya doang bahkan sambil ngantuk di kelas atau main pensil, atau minta temennya bacain materi pelajaran sekolah. Atau baca keras-keras sambil nyapu halaman rumah. Bahkan anakku yang kelas 2 MI belajar dengan cara pura-pura jadi guru kelas di depan adik-adiknya. Rame jadinya rumah mungil kami.

Anak juga punya cara buat memenuhi hasrat ingin tahunya. Bahkan mereka juga punya keinginan buat ikut ngerasain pengalaman dari hal-hal baru itu. Mereka juga punya otak dan hati buat bikin pertimbangan terhadap hal baru. Tentunya dengan berbagai masukan dari orang tua yang mengakui hak ini dong. Dan lagi, si darah muda ini biasanya gampang tertantang dalam ngadepin masalah. Mereka berkreasi. Cuman kata orang tua lagi, mereka ini keladuk wani kurang dugo. Terlanjur berani tanpa cukup pertimbangan. Namanya juga darah muda.

Jebakan 2 : suka ngebandingin anak

Si anak yang hari-hari ini mulai suka ngelawan, punya agenda sendiri, kebetulan didapati punya nilai rapor yang beda dengan saudaranya, biasanya kita gampang aja bilang, dasar anak nakal…, gak nurut sama orang tua…., dan seterusnya. Gampang sih ngomong gitu, dada lega juga. Tapi ngapain juga kalau cuman buat dada lega tapi mesti ngorbanin anak? Mereka jadi korban nih.

Ini lagi yang sulit. Mengakui. Ngakuin kelebihan ‘tersembunyi’ dari mereka. Fair aja. Mereka juga jadi gitu lewat ‘tangan-tangan’ kita orang tua. Kita pernah ngajarin mereka begini begitu. Ketika mereka mulai belajar mengimplementasikan itu semua dengan gaya mereka, eh…..kitanya malah sewot. Begitu kan biasanya? Sulit memang. Sekali lagi, wit gedhang woh pakel…..

Sang anak punya kelebihan yang memang berbeda dari saudaranya, bahkan dari orang tuanya, juga semua orang. Meski makan dan minum dari meja yang sama. Tidur di kasur yang sama. Volume otak yang relatif sama. Tapi kemampuan bisa berbeda. Bahkan Allah memang berkuasa membuat setiap detail ciptaanNya selalu berbeda dari lainnya. Masa’ yang begini mesti kita ingkari sih? Astaghfirullah….

Jadi? Ya gitu deh… kita akuin aja keberagaman gaya si anak, asal fungsi dan tanggung jawab orang tua bisa ditunaikan semestinya. Tidak kebablasan.

Jebakan 3 : memanjakan anak

Ada dari kita para orang tua yang punya duit lebih, atau kakek nenek kaya raya. Pastinya kepingin anak cucunya bisa nerusin kerajaan ini. Lalu muncul sebuah idealisme baru bagi orang tua begini. Lalu buat ngewujudin idealisme itu, anak lantas diatur ketat soal pergaulan dan ilmu pengetahuan plus kursus-kursus ketrampilan yang bahkan lebih sebagai media unjuk kemapanan. Namun dibalik itu si anak sebenarnya sangat dimanjakan oleh orang tua. Sampai anak-anak gak tahu lagi gimana caranya nyuci piring, gak ngerasain dinginnya lantai dapur, bahkan memasang tali sepatu sendiri. Semua dipikulkan di pundak para pembantu. Namanya saja yang pembantu, tapi mereka malah jadi pemokok pekerjaan rumah tangga, bukan lagi pembantu. Weleh-weleh….

Jadi ada semacam inkonsistensi di sini atau apalah namanya aku gak ngerti. Yakni saat si anak dibebani aturan ketat pada perkembangan intelektalitasnya, namun di sisi emosi kedodoran. IQ sama EQ gak seimbang, kata orang.

Bagian sulitnya begini nih, gimana orang tua mendudukkan dirinya sendiri di tengah-tengah proses perkembangan anak dengan segala kemakmuran dan kemanjaan mereka tapi gak ngerusak emosi mereka. Jadinya biar si anak tetap punya empati, kepekaan, ketahanan, dan kemandirian.

Agak belok dikit nih. Di masyarakat kita ada ungkapan begini, “orang tuanya menjadi pemimpin umat, anaknya malah jadi urusan umat”. Gara-garanya orang tua ngerasa cukup dengan dirinya sendiri, ngerasa ilmunya bisa bermanfaat bagi umat, ngerasa dirinya dibutuhkan oleh umat, ngerasa umat amat mencintai diri dan keluarganya, eh malah bikin dia lupa fungsi dan tanggung jawab dirinya sebagai ayah dari anak-anaknya. Si anak sering dia tinggalin dengan alasan ngurusin umat. Kompensasi yang dia lakuin adalah nyerahin urusan anak-anak hanya pada segepok uang. Dia gak sadar ketika dia tinggalin segepok uang di depan anak-anak, malah bikin mereka semakin merana, ngerasa asing dengan ayah mereka sendiri. Atau orang tua ini memang gak terlalu mikirin keadaan anak-anak karena ngerasa dengan sepak terjangnya bagi orang banyak akan berimbas positif bagi kebaikan anak-anaknya. Ngerasa kalau ada korelasi positif antara manfaat yang dia berikan kepada umat akan meningkatkan nilai kebaikan pula bagi anak-anak dan keluarganya.

Emang benar sih, karena hakikatnya

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ

Jika kalian berbuat baik, maka (sebenarnya) kau berbuat baik bagi diri kalian sendiri.

Tapi ini kan gak otomatis, gak jalan sendiri. Mesti ada usaha yang riil dibidangnya masing-masing. Ke umat yang ada urusan sendiri, ke anak ya ada urusan sendiri.

Bahkan sebenarnyalah keluarga dalam hal ini isteri dan anak-anak, punya hak dalam skala prioritas kebaikan dari sang pemimpin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Tapi yang jelas,

كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه ويُمَجِّسانه

Setiap yang terlahir (anak) terlahir dalam keadaan fitrah (suci, atas Islam) maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi.

Tapi jangan lupa juga kalau

مَا مِن مَوْلُودٍ يُولَدُ إلا مَسَّه الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلّ صَارخًا مِنْ مَسِّهِ إيَّاهُ، إلا مَرْيَم َوابْنَهَا

Tidaklah dari setiap yang dilahirkan (anak) kecuali setan menyentuhnya ketika terlahir, maka dia menangis menjerit karena sentuhan setan padanya, kecuali Maryam dan anaknya.

Maksudnya kalau anak dibiarin saja, dia akan kebawa sama si setan ini. Maka benarlah ungkapan bapaknya pemimpin umat, anaknya jadi urusan umat, karena si anak suka iseng, kriminil, padahal asalnya cuman caper doang. Asalnya nyari perhatian orang tuanya, ujung-ujungnya menyita perhatian semua orang. Jadi mestilah orang tua menjaga mereka dari gangguan si pengganggu. Tentunya si orang tua jangan kejebak dong…

Udah ah, itu cuman orek-orek sambil mancing.

Wallahu a’lam

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bagi para orang tua sekaligus calonnya, kalau jadi ortu yang pengertian dengan anak – anaknya, biar nggak kejebak OK.

  2. Meskipun nulis oret2an tapi bermanfaat bagi semua lho bang. Terima kasih atas ma’rifatnya.Emang benar apa yang abang simpul’ dan dalil2 yg Anda datangkan.Aku setuju.

  3. Orang tua lah yang membentuk anak-anaknya. Dan biasanya, mereka melakukannya berdasarkan pengalaman pribadi dengan harapan pengalaman buruknya tidak terulang atau dialami oleh anaknya. Artinya tidak ada orangtua yang ingin anaknya terjebak meskipun mereka tahu bahwa yang dilakukannya dapat menjebak dirinya bahkan anaknya.
    Upaya menghindari keterjebakan ini adalah komitmen antar kedua orang tua bahkan dengan kakek neneknya tentang kebijakan dalam mendidik anak-anaknya. Disamping itu, perlu juga kewaspadaan terhadap lingkungan, bukan berarti memprotek atau mengekang anak, tapi memberikan arahan yang baik dan harus dilakukan oleh anak pada lingkungan sosialnya.
    hmmm… banyak tantangannya sebagai orang tua… ni.😀
    Yoooo…. Semangat mendidik anak Indonesia, Mas.


    sippp….thanks Mas dorongannya

  4. Saya mungkin tipe ibu yang suka ngelarang anak melakukan sesuatu. bukan karena ngerasa lebih punya kuasa, tapi karena takut sikap anak yang salah jadi kebiasaan.
    satu contoh, Ketika di masjid, anak2 pada lari2 ndak karuan, trus teriak hafalan surat2pendek sampai konsentrasi imam hilang dan dia kudu ngulang2 bacaannya.begitu juga pas pada jum’atan. Temman2 masjid sampai pada protes. akhirnya tak larang anakku ke masjid.
    repot juga. padahal harusnya dibiasakan ke masjid sejak kecil. Kalo seperti ini gimana?


    kalau Nabi dulu suka nggendong dua cucu beliau. kali aja biar gak bikin heboh di masjid tapi tetep terlatih ke masjid. gitu kali Mbak. nuwun sudah mampir (lagi)

  5. Makasih atas tulisannya, memang kita terkadang terjebak oleh hal2 yang disebutkan diatas. Harus lebih hati2 berprilaku terhadap anak nich…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: