Suatu Pagi di Halaman Sebuah Rumah Produksi

25 Januari 2009 pukul 06:01 | Ditulis dalam iseng | 8 Komentar

Keluar dari pintu samping seorang artis kelas kampung. Dia baru saja setuju untuk membintangi sebuah film yang mungkin kolosal di kampung. Sebuah dokumenter tentang sebuah perang besar dan paling bersejarah, perang Badr.

Gossip ini bahkan belum sempat kedengaran oleh kaum paparazzi. Wartawan gadungan pun belum tahu. Apalagi polisi, hehe..apa hubungannya?

Beberapa langkah dari pintu artis kita ini langsung dirubung oleh anak-anak sekolah. Lho kok? Rupanya jam dia keluar dari rumah produksi itu pas barengan sama anak sekolah seberang jalan yang mau masuk gerbang.

Aku kebetulan masih duduk ngelamun di trotoar gara-gara stikerku belum laku, kaset murottal pun baru laku sebiji. Buku-buku memang agak sepi belakangan ini, gara-gara internet kali, juga blog dan situs download e-book yang mulai banyak tersedia gratis. Madu botolan yang kuletakkan berjejer habbatus sauda’ gak laku. Tapi pembeli sudah sering datang ke rumah buat ngambil sendiri. Pelanggan tetap lah. Hmmm, alhamdulillah parfum non alkoholku laku banyak pagi ini. Kebetulan di seberang jalan lain ada jama’ah ngaji yang baru bubaran dari masjid besar itu.

Sudah, ah. Memang sudah rejekiku pagi itu. Alhamdulillah masih ada jatah buatku dan keluargaku hari ini.

Mendadak telingaku mendengar jelas ada seorang murid sekolah yang bertanya kepada si artis. Mas, anda kan sudah siap membintangi film Perang Badr ya, begitu yang kami dengar dari teman-teman di sekolah. Biasanya kan artis itu sebelum main di sebuah film dia berusaha menghayati peran lebih dulu, bahkan sampai ada yang bener-bener memposisikan dirinya seperti tokoh yang mau dia lakoni. Yang mau jadi tokoh ustadz di sinetron dia juga sampai sebulan atau lebih berpura-pura jadi ustadz di sebuah masjid. Yang lakonnya pas jadi anak berandal, dia juga perlu penghayatan dengan jadi berandal beneran. Yang jadi korban narkoba pun, dia sampai mau-maunya nyuntik dulu… Nah, kalau anda gimana tuh Mas?

Ehm, saya juga tidak jauh berbeda dengan mereka Dik. Saya bahkan sempat berguru di beberapa pondok pesantren untuk mendalami alur perang Badr ini. Saya juga jadi rajin ke perpustakaan untuk membaca setiap literatur yang mengisahkan perang besar ini. Saya juga jadi rajin baca Al Qur’an, eh terjemahan ding. Bahkan seandainya masih ada saksi hidup pun barangkali akan saya datangi. Begitu kata sang artis.

Baik. Saya mau tanya sebuah soalan tapi agak keluar dari soal film anda, yakni, kalau anda sempat baca bagian akhir surat Al Anfaal, ada sesuatu yang menurut saya gak singkron. Disana disebutkan kisah perang Badr, dimana orang beriman yang sabar bisa menang jika beradu antara 1 lawan 10 orang kafir. Tapi agak gak nyambung dibenak saya ketika tiba-tiba di ayat-ayat terakhir ceritanya soal hijrah dan jihad. Gimana sih?

Hehe…artis kita agak kelabakan ketika mendapat pertanyaan dadakan seperti itu.

Wadhuh…..saya bukan ulama Dik. Bukan pula ahli tafsir. Guru ngaji TPA pun bukan. Saya cuma artis, kelas kampung lagi. Jangan tanya gitu dong, yang lain aja ya, nanti saya kasih tanda tangan.

Wah, Mas Artis. Saya sudah bisa bikin tanda tangan sendiri tuh, cap jempol juga ada. Jadi saya tetep menunggu jawaban Anda. Gimana?

Eee….oke baiklah, tapi kalau salah jangan diguyu ya. Sebaiknya nanti adik konfirmasi lagi kepada yang ahli dalam soal ini.

Baik, Mas.

Begini Dik.

Pertama, bagaimana urut-urutan ayat dalam Al Qur’an itu memang sudah sedemikian rupa disusun. Penyusunan itu dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri dengan petunjuk Allah tentunya. Kadang kita merasa bahwa sekelompok ayat tidak ada sangkut paut dengan sekelompok ayat yang mengiringinya, padahal pastinya ada kan? Barangkali karena kitanya aja yang belum mampu mengungkap. Butuh ilmu dan kemampuan, Dik.

Kedua, kita sama tahu kan kualitas pasukan muslimin dalam perang Badr ini, bahwa mereka itu kaum yang paling utama. Derajat mereka amat tinggi di hadapan Allah. Bahkan mereka para pasukan Badr ini dijamin masuk jannah oleh Allah.

Nah, kelebihan mereka yang seperti itu tentunya tidak muncul begitu saja to? Pastinya ada proses yang membentuk jiwa mereka. Menguatkan hati mereka. Meluruskan pandangan mereka. Memperbaiki kualitas hidup dan amalan mereka. Proses apa itu? Ya itu tadi, proses hijrah.

Bahwa hijrah yang diperintahkan oleh Allah kepada kaum muslimin Mekkah itu merupakan sebuah proses pematangan jiwa dan keimanan muslimin. Coba saja, mereka masih baru memeluk agama Islam. Jumlah mereka masih sedikit, itu pun mayoritas orang rendahan di kalangan kaum Quraisy. Ya memang ada sih orang kaya di antara mereka, macam Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin abi Thalib, Umar bin Khattab radliyallaahu ‘anhum. Dan hijrah ini perkara yang sangat berat bagi mereka, karena mereka mesti meninggalkan apa saja milik mereka. Bahkan suami atau istri yang belum mau beriman pun harus ditinggalkan di Mekkah untuk pergi ke Medinah. Apalagi harta dan rumah. Kebun-kebun yang luas, bisnis yang sudah merambah ekspor impor, kendaraan-kendaraan yang mereka miliki harus ditinggalkan. Yang miskin pun mesti meninggalkan sanak kerabat yang belum mau beriman. Berat kan? Butuh kesabaran dan kesungguhan tingkat ultimate!!!

Jangankan itu semua, kita ini lho Dik, buat ganti kartu hape saja berat kan? Kebayang repotnya memindahkan data nomer relasi, lalu memberitahukan kepada mereka nomer baru kita. Belum lagi kartu nama kita yang mesti dicetak ulang sebanyak yang pernah kita sebarkan. Belum lagi energi yang mesti kita kuras untuk menjawab setiap pertanyaan mengapa ganti nomer.

Atau ketika kita pindah kantor atau pabrik. Pekerjaan besar itu. Padahal tidak ada barang yang kita tinggalkan. Semua kita pindahkan juga. Praktis kita tidak kehilangan apa-apa selain pindah alamat. Wuih…..berat nian itu dilakukan. Atau yang mesti pindah kerjaan, baik sekedar mutasi atau memang ganti jenis kerjaan. Berat banget deh. Tapi kaum muslimin waktu itu tetap semangat dan kompak untuk menjalankan perintah Allah dan RasulNya. Inilah buah keimanan dan keyakinan sekaligus cikal bakal sebuah kaum yang tegas terhadap kafirin sekaligus lembut terhadap sesama muslimin.

Sudah ah, Dik. Saya kok jadi sok alim begini. Malu ah…. mau saya tanda tangani baju Adik?

Terima kasih, Mas. Tapi saya tidak mau diorek-orek baju saya. Belum mau lulusan.

Seorang lain menyahut dengan pertanyaan begini,

Lalu, pelajaran apa Mas yang bisa kita ambil dari peristiwa itu?

Wadhuh….. ada yang nanya lagi. Permen mau? Atau hape? Keluaran baru nih. Belum ada di Indonesia loh….

Tidak usah nyogok saya, Mas. Saya cuman butuh pelajarannya.

Gimana ya…. mesti nanya ke ahli pelajaran nih…. tapi gini aja. Kira-kira lho ya. Bahwa untuk mencapai kadar keimanan yang super kuat plus kewibawaan tingkat tinggi hingga bisa terwujud 1 lawan 10 atau paling tidak 1 lawan 5, maka muslimin mesti rela hijrah atau konon tak ada lagi hijrah sesudah Fathul Mekkah, yang ada adalah niat dan jihad.

Bahkan dalam perikehidupan pun muslimin mesti tak lagi mempersoalkan halal haram. Maksudnya bukan menghalalkan yang haram, tapi harus setingkat lebih tinggi dari sekedar halal.

Maksudnya apa, Mas?

Maksudnya selain halal juga yang thoyyib lagi kariim. Kalau tidak salah, saya pernah dibacakan sebuah ayat yang berbunyi…..ehm tidak pede Dik melafalkannya. Artinya saja ya. Begini:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah (muhajirin) serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (orang anshor yang menolong kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia.

Nah, begitu Dik, rejeki yang mulia. Tidak hanya halal saja.

Masih belum ngeh , Mas.

Baik. Kira-kira begini. Sekali lagi hanya kira-kira. Nanti ditanyakan kepada ahlinya saja. Saya pernah berkenalan dengan seorang petani pesisiran di utara pulau Jawa ini. Yang menarik dari dia adalah cara pandangnya terhadap jenis pekerjaan yang dia lakoni. Dia yakin bahwa jalan rejeki yang dia lakukan itu adalah yang lebih selamat. Lebih selamat karena menurut dia laut itu adalah milik Allah, ikan-ikan yang di lautan diurusi dan dipelihara oleh Allah tanpa perlu campur tangan manusia. Kita tinggal mengambil saja. Kalaupun dia mesti pakai jala dan perahu, maka dia bikin sendiri perahu dan jala itu. Dia tak mau pakai perahu motor dengan alasan belinya mesti kredit ke koperasi nelayan yang pakai bunga. Riba, begitu katanya. Sementara, masih menurutnya lho Dik, kalau pekerjaan lain apalagi yang di kota-kota besar, hampir tak bisa terbebas dari bank yang menjalankan riba. Kalaupun sifat pekerjaannya masih halal, tapi ketergantungannya pada sistim bank itu akan mengotori rejekinya. Begitulah Dik pengalaman saya dengan nelayan yang sederhana dan bersahaja itu, tak lekang dari ingatan saya.

Atau kata guru ngaji dadakan saya waktu saya memperdalam penghayatan peran kemarin, bahwa secara fiqh sebuah perdaganagan bisa saja halal dan sah menurut hukum syar’i, namun kalau hal keutamaan maka semakin jauh dari hal-hal mencurigakan secara aqidah itulah yang dicari. Dia mencontohkan sebuah usaha leasing, Dik. Secara hukum dia sah dan halal. Lha wong cuman membeli barang secara cash misalnya, lalu dia jual lagi dengan harga penyesuaian tetapi dengan cara dikreditkan dengan bunga nol persen. Yang tak boleh kan ketika dalam satu transaksi ada dua syarat, misalnya kalau anda membeli dengan kontan harganya sekian, namun kalau diangsur harganya berubah menjadi sekian. Pilih mana hayo?

Nah, kata guru ngaji dadakan itu, usaha ini hakikatnya hanya akal-akalan saja untuk menyiasati hukum syara’ agar yang asalnya haram berubah jadi halal. Nah, bagi mereka yang sekedar mencari yang halal, bisa saja melakukan cara ini karena secara hukum memang hanya ada satu syarat dalam satu transaksi. Tapi bagi mereka yang menghendaki rejeki yang kariim, mulia, mereka pastinya menghindar dari jalan yang sifanya mengakali ini. Wallahu a’lam. Saya belum sempat cross-cek dengan guru ngaji lainnya sih. Coba saja Adik yang melakukan.

Insya Allah, Mas. Eh, ngomong-ngomong…… Anda kelihatan matang dalam ilmu agama ya, Mas. Sangat menguasai. Bahkan dalam bidang yang banyak pihak mengatakan tidak sejalan dengan status keartisan Anda.

Ah, Adik. Saya kan artis. Jadi mesti menjiwai setiap peran yang dia lakoni. Saya juga mesti bisa berperan jadi ustadz suatu saat nanti. Ehm, lha wong dulu saja ketika saya berperan jadi preman tukang mabuk, syuting film sudah rampung, eh….saya masih berbulan-bulan ketagihan. Hehe…..off the record ya Dik.

Loh….?

Lalu Anda sendiri dapat peran apa Mas dalam film ini?

Jadi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Lho……kan biasanya peran Nabi tidak diwujudkan manusia karena alasan keamanan dan kemuliaan?

Iya memang begitu.

Lalu?

Saya hanya kebagian ngisi suara beliau saja.

Jadi wajah Mas tidak bakalan nongol di film itu ya?

Tidak.

Oooo….

Eh, kembali ke uraian Mas yang menarik soal rejeki yang muia tadi, Mas. Anda sendiri pilih yang mana? Maksud saya jalan pekerjaan sebagai artis itu halal dan thoyyib atau tidak Mas?

Artis kita langsung pucat pasi mendengar pertanyaan yang sangat telak ini. Dan brukk…dia jatuh pingsan. Aku tak tahu karena dia tak siap mental dengan pertanyaan barusan atau karena kelaparan karena belum sarapan.

Wah…..dari jauh kulihat petugas trantib bawa pentungan diangkat tinggi-tinggi. Isyarat bagiku untuk segera angkat kaki. Kalau tidak, pastinya daganganku langsung laku semua dan gratis plus bonus nyangoni mereka nih. Usaha begini halal lagi thoyyib dan kariim gak ya….?

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalo waktu jd preman ketagihan pingin lagi dan lagi kira-kira waktu jd rosul ketagihan niru rosul ga’ yaa…..

  2. Seru abiiiiizz bo!ketagihan nich….hehehe

  3. yah…emang dasar artis…..

  4. iiih lucu dech tampang keren, kelihatan jeniuz ditanya cuman githu udah GEBLAK.

  5. yah….keliatannya aja profesional ktk njawab,eh gak taunya masih amatiran.

  6. menurut q sich kerjaan jadi artis tuh g ada yang halal coz disitu pasti ada zina matanya ,pegangan tangan, belum juga kalau dpt honoran pasti dech jbt tgnnya , apalagi kalau membintangi satu film bisa2 terjebak cinlok ATAU KALAU PLG MLM dianterin tuh sama teman seartisnya TP ini kalau lawan jenia kebiasaannya…,Nah bagi kamu yg blm jd artis jg mau jadi artis mending kerja yg lainnya jualan timus or minyak wangi kan bisa iya g ??? LAGIAN KERJAAN ITU KAN HALAL.Bukannya rezeki itu yg ngatur alloh???emangnya kalau udah jadi artis terus pny uang byk bisa selamat dari neraka kalau udah jatahnya masuk??

  7. Emm…menurutku pekerjaan seperti itu hanya sia-sia aja,coz menghabiskan waktu hanya untuk pekerjaan itu.sedangkan pekerjaan rumah keteteran kadang pekerjaan rumah belum selesai harus ditinggal.kan jadi repot sendiri…jadi lebih baik tak usah jadi artis lebih enaknya jadi orang biasa aja.. kan nggak mikir yang susah2 disamping itu kita juga terjaga dari perbuatan yang nggak boleh dilakukan,seperti jadi PREMAN TUKANG MABUK.dia bisa mabuk gar2nya kan minum khomer nggakboleh dan khomer sendiri diharomkan,jadi lebih baiknya nggak usah jadi ARTIS.

  8. kaciaaaan…. dech,mo’ bela-belain jadi artis hrs ngornanin diri .padahal kalau suruh ngaji cuma lima menit aja nngak mau.na’udzubillah min syarri dzaalik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: