Kalau Mau Kaya, Jadilah Politikus

17 Januari 2009 pukul 08:10 | Ditulis dalam jalan-jalan, politik | 3 Komentar

Kamerin aku mampir di warung sama istri. Warung lesehan di pinggir bengawan Solo. Bukannya mau cangkruk di sana, tapi mau beli lauk buat makan bersama di rumah, lebih gayeng makan bareng anak istri.

Pas ngantri pesanan, sayup-sayup aku dengar beberapa orang ngobrol serius. Mereka pakai baju mirip-mirip gitu. Seragam partai kali ya. Tapi gak jelas kelihatan logo partai apa gerangan… tapi yang juga sayup-sayup kudengar, mereka sempat nyebut sekian dan sekian banyaknya dan itu soal bayaran. Eh…apa mereka kader partai bayaran ya? Mirip tentara bayaran…. Au ah…gelap.

Tapi yang sempat jelas kedengaran olehku, bayarannya gede juga loh…. hehe….makanya orang-orang model beginian sering tampil parlente mendadak. Itu menurut mataku yang awam soal perkara intern partai sih.

Kepikiran olehku, ternyata benar juga berita selentingan bahwa dana yang dimiliki para partai di negeri ini benar-benar besar. Ternyata makhluk yang bernama partai ini termasuk jenis makhluk kaya. Beda banget dengan makhluk yang namanya rakyat.

Menurut data yang ada jumlah orang miskin di Indonesia 56,6 juta jiwa. Sementara jumlah pengangguran terbuka sebanyak 29,61 juta jiwa lebih (Kompas, 12/5/2008). Sebenarnyalah miskin atau nganggur itu gak ada standar jelas di negeri ini. Kan ada BPS, BKKBN, Bank Dunia, Depnaker, atau menurut rakyat itu sendiri. Macem-macem kan?

Berita agak lama sih, tapi paling gak itu nggambarin keadaan nyata di dunia nyata pula. Gak tau ya data itu bertambah atau berkurang angkanya buat hari ini. Yang jelas bahwa garis kemiskinan di negeri ini masih nyantol di pucuk pohon, belum teratasi.

Apa kaitan partai sama kemiskinan dan pengangguran ya? Ehm, bila politikus memanfaatkan kemiskinan untuk menarik simpati massa, ini kan bisa jadi peluang usaha baru. Jual beli suara, atau bisnis angka kemiskinan, atau bisnis-bisnis macem itu yang lainnya.

Sering terdengar, mereka suka bikin janji-janji berupa pendidikan gratis, pengentasan kemiskinan, kebutuhan pokok murah, layanan publik yang transparan dan topik-topik lainnya yang memang kerap menjadi komoditas politik. Tapi sebagaimana kita ketahui bersama wahai saudara-saudara, semua hanya janji. Dan begitulah rupanya manajemen politik di negeri ini.

Hal pertama ketika mereka berhasil ‘menipu’ rakyat dengan janjinya adalah BEP, yang penting kembali modal dulu. Soalnya modal buat membangun bisnis politik ini mahal, sangat mahal bahkan. Kalau sudah BEP, langkah selanjutya adalah pelanggengan kekuasaan, dan ini butul modal segar. Nyari lagi…. begitu dan seterusnya.

Jadilah sekarang ini media pencalegan sampai kursi kekuasaan sebagai tempat nyari duit. Rakyat? Merekalah sumber duit. Merekalah yang mesti disedot dan diperas biar netes terus dananya. Semua-mua diperes. Korupsi di mana-mana, jadi budaya. Mulai level paling rendah sampai level paling tinggi, mulai dari kelas teri sampai kelas kakap. Parahnya lembaga keagamaan juga jadi sumber peres-peresan.

Makanya benar kata seorang temanku,

Mas, kalau mau kaya, jadilah politikus…

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jelas kaya dong bang… tahu kan yang namanya tikus itu binatang yang pintar mencari “kekayaan”.
    Barang yang diplastiki aja dikrikiti sama tikut.
    Terlebih lagi, tikus merupakan sumber penyakit.


    sumber penyakit ya….bukannya tukang nyebar penyakit…
    di kampungku, ada tikus suka makan baju (yang mahal)

  2. halah….
    tapi ingat juga saudara-saudara
    tidak sedikit yang jadi kere gara2 pengen jadi poliTIKUS…
    tapi tidak kesampaian…duuuh kasihan
    mau nipu rakyat aja kok pake mahal…
    buat calon caleg ……
    mendingan baca dulu blog ini…
    dijamin pasti akan mundur dari pencalegan….
    yaa gak mas Muftialy…
    Salam kenal mas Muftialy…
    apa jenengan ini yang dulu jadi relawan aceh 2005 bareng mas tulus, khomeini, ali, rohmad dll ??


    tetanggaku malah stress Mas, gara-gara dijegal teman satu partai buat jadi anggota dewan…kasian tuh, mesti dirawat intensif sama keluarganya. deket rumah kok, cuman seberang jalan. mau mampir? boleh kok…
    buat Mas Mufty, bener ya..? alas tidurnya masih ketinggalan tuh….

  3. wah… bener tu kata pakne burhan.Yach daripada susah2 pengen jadi poliTIKUS tapi ngak kesampean mendingan biasa2 saja yang penting sukses ya kan mas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: