Hidup Tanpa Ijazah

7 Januari 2009 pukul 12:51 | Ditulis dalam curhat | 13 Komentar


Sudah agak lama memang. Beberapa waktu lalu entah atas dasar dan tujuan apa, aku ikut ‘terundang’ di forum diskusi ‘hidup tanpa ijazah’ yang bertempat di sebuah perpustakaan sebuah lembaga pendidikan.

Yah, sekedar jadi pendengar yang baik sekalian menyedot-dot pengalaman atau pengamatan para ahli pendidikan, oke juga kan…

Eh , sebentar. Ijazah yang dirembug di sini adalah dokumen resmi yang ditertibkan oleh satuan pendidikan yang menyatakan bahwa peserta didik lulus satuan pendidikan berdasarkan Pasal 72 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005. Bukan ijab sah….

Menurut Prof. DR. Adi Sulistiyono, S.H., M.Hum. dalam paparannya waktu itu,

Untuk menjawab perlukah Ijazah? Pertama. Perlu melihat apakah Satuan Pendidikan kita telah terakreditasi atau belum. Karena yang berhak mengeluarkan ijazah hanya satuan pendidikan yang telah terakreditasi. Kedua, Perlu melihat pada visi, misi dan tujuan pada saat kita menyelenggarakan proses pendidikan pada peserta didik. Kalau tujuannya untuk meningkatkan wawasan dan ke dalam ilmu, pengakuan kepada peserta didik yang telah lulus cukup Surat Keterangan Mengikuti Pendidikan, dalam hal ini ijazah menjadi tidak penting. Namun demikian kalau tujuan peserta didik mengikuti proses pendidikan untuk bekal mendapatkan pekerjaan pada instansi pemerintah, atau lembaga formal lainnya, maka pengakuan dalam bentuk Ijazah perlu dipertimbangkan.

Masih menurutnya,

Pada saat ini nampaknya perlu dibangun kesadaran masyarakat bahwa Ijazah itu tidak menjamin orang yang tertera mempunyai kemampuan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Dalam hal ini masyarakat harus dibiasakan menghargai kemampuannya seseorang bukan karena ijazahnya. Fenomena maraknya ijazah palsu dan banyaknya perguruan tinggi mengeluarkan ijazah aspal dikarenakan masyarakat terlalu mengagung-agungkan ijazah.

Aku sendiri memang hidup tanpa ijazah. Tak tahu lagi ijazah SMA ku itu kusimpan dimana. Aku sudah beberapa kali pindah rumah, nampaknya gak pernah terlihat dokumen yang berisi ijazahku itu ikut mutasi deh… dimana ya….

Juga ijazah D3-ku malah gak sempat kuambil dulu-dulu itu. Sempat nyangkut di D3 elektro gara-gara telat ngedaptar ulang di Undip beberapa belas tahun yang lalu itu….sementara ijazah D3-nya gak kuambil gara-gara keburu dapet kerjaan di Jakarta. Tancap aja langsung….

Jadi inget waktu dikasih marah sama bapakku gara-gara sikapku yang sok gak butuh sekolah waktu itu. Memang sih, aku paling males kalau disuruh sekolah. Maafkan anakmu ini ya Bapakku…

Hehe….alhamdulillah juga sih, ternyata Allah masih kucurin belas kasihNya ke aku. Sampai hari ini dan mudah-mudahan seterusnya, aku gak dibikin pusing gara-gara gak punya ijazah. Hidup aman-aman aja. Makan sehari 3 kali kadang lebih. Istri dan anak-anak yang sementara enam orang masih oke juga. Rumah punya sendiri. Kendaraan ada juga meski belum beroda empat. Pernah ditempelin dua roda dikanan-kiri tapi jadi lucu, akhirnya dicopot lagi. Sempat punya sih yang rodanya asli empat plus satu yang buat ban serep, tapi gak nyucuk sama biaya operasionalnya. Akhirnya kalau mau pergi sak keluarga, panggil sodara yang punya mobil dan sudah bikin MoU soal penggunaannya bagi keluarga kami. Atau kadang panggil taksi aja. Gak pusing mikirin biaya operasional bulanannya. Praktis…..

Tapi yang lebih penting, aku bersyukur gak punya ijazah. Bikin hidup lebih berasa… lebih hidup gitu. Ada perjuangan, ada strategi, ada hal-hal menarik yang kali aja gak didapetin mereka yang berijazah.

Aku ngerasa cukup beruntung hidup tanpa ijazah. Lebih bisa melihat hidup ini apa adanya. Aku ingat suatu kali pernah duduk ngecangkruk dibawah pohon di depan kantor Depnaker. Waktu itu aku baru saja main ke kantror BPS karena kebetulan dapet kerjaan sehari dua hari di sana.

Ramai orang berijazah berebut tempat, berebut kerjaan. Masing-masing perebut membawa map yang kemungkinan besar berisi lembaran-lembaran penting bagi mereka, macem ijazah, SKKB (masihkah berguna surat ini?), dan surat lainnya yang aku tak tahu dan tak ingin tahu.

Iseng aku dekati salah seorang perebut yang kelihatan sudah capek. Dia duduk lesu agak menjauh dari kerumunan.

“Capek Mas?” tanyaku

“Eh, iya nih Mas. “ jawabnya.

“Susah nyari kerja ya Mas?” tanyaku lagi.

“Iya nih, Mas. Saingannya banyak bener. Udah gitu kesempatannya sempit lagi.”

Hihi…kesempatannya sempit. Atau sempitnya sebuah kesempatan ya.

“Lha Mas ini nyari kerja apa dan lulusan dari mana dan ijazahnya apa. Maaf Mas nyerocos tanyanya.”

“Bla….bla….bla…..” dia menjawab setiap pertanyaanku dengan jelas las. Aku tak usah menuliskannya di sini, takut ada yang gak terima.

“Wah, modal segitu masih susah ya nyari kerjaan Mas…” aku mengomentari keadaannya.

“Eh, lha Masnya ini nyambi dimana ya?” dia balik nanya ke aku.

“Ehm….saya nganggur thok kok Mas. Gak punya ijazah macem njenengan itu. Jadi gak bakalan bisa bersaing sama orang-orang macem njenengan. Saya mesti cari jalan lain.” Jawabku sekenanya.

“Ah yang bener Mas.”

“Masa` saya bohong to Mas.”

“Lha ini tadi dari mana atau mau kemana?”

“Emmm. Tadi dari kantor sebelah. Dibutuhkan di sana barang sebentar. Sekarang sudah beres. Terus asaya iseng-iseng duduk dibawah pohon di seberang jalan itu. Eh…ngeliat njenengan di sini. Jadi kepengin ngobrol.”

“Tapi sebenarnya Mas ini lulusan mana?” tanyanya nekat.

“Saya cuman lulusan SMA thok je. Ijazah pun lupa ditaruh dimana. Soalnya sudah pindah-pindah rumah beberapa kali. Ilang mungkin. Tapi biarin aja lah. Wong memang gak saya pake Mas.”

“Kok aneh Mas. Maaf.”

“Gak papa Mas. Aneh kan tidak mesti buruk to?”

“Iya. Tapi saya jadi tertarik buat nanya-nanya nih.”

“Silakan kalau saya layak menjawab.”

“Njenengan sudah menikah?”

“Sudah. Istri satu dan anak enam.”

“Enam? Yang bener Mas.”

“Masa` saya bohong sih Mas.”

“Artinya Mas ini punya keluarga besar tapi gak punya kerjaan. Gitu?”

“Keluarga memang lumayan besar untuk sekarang. Tapi kerjaan tetap punya dong, tapi gak tetap gitu. Serabutan aja. Yang penting ada buat nyukupin kebutuhan. Sekedarnya aja.”

“Rumahnya mana Mas?”

“Deket sini. Tuh, selatan jalan besar itu.”

“Rumah sendiri?”

“Ya iya lah….masa iya dong.”

“Hehe……” kami tertawa bersama.

“Lha itu Mas. Agak aneh dengar cerita njenengan ini.”

“Ya…aneh karena belum biasa dengar aja barangkali.”

Dan obrolan kami pun berlanjut.

Begitulah. Perasaanku sendiri nih, dia yang berijazah masih bingung nyari kerja. Aku yang tak berijazah nyante aja. Memang sih hal ini subyektif banget. Tapi paling gak bisa ngejelasin bahwa tak berijazah pun bisa hidup. Bahkan mungkin lebih nyeni…..

Tapi ternyata aku tak sendiri. Banyak di kanan kiriku yang mereka hidup tanpa ijazah, dan hidupnya normal-normal saja.

Bahkan, menurut cerita orang-orang, banyak orang sukses (urusan dunia) meski tanpa ijazah.Tak usah menyebut nama lah.

Sekedar penenang hati juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum adalah para ahli tanpa ijazah. Di alam kubur pun kita gak bakalan ditanya bawa ijazah pa gak. Buat masuk alam akhirat juga gak perlu nenteng ijazah.

Toh,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Jadi bagiku, dalam urusan dunia ini dengan segala pernik-perniknya, tak perlu ijazah. Tapi kalau dalam urusan akhirat, dalam hal ini buat segi keilmuan, misalnya buat nambah ilmu akhirat tetap perlu bahkan lebih baik perlu. Sekedar memudahkan urusan keilmuan, bukan untuk dunia atau kedudukan.

Karena menurut DR. Mu’inudinillah Bashri, Lc, MA dalam paparannya,

· Syahadah adalah wasilah yang hukumnya tergantung dengan ghayah (tujuan).

· Syahadah adalah sarana membuktikan kredibelitas dan kapabelitas seseorang maka menjadi sarana yang mahmudah.

· Menegakkan syahadah dperintahkan oleh islam sebagaimana firman Allah : “dan tegakkan persaksian untuk Allah”, menulis syahadat dengan akurat merupakan landasan penegakan syahadah dengan haq.

· Menulis syahadah adalah sunnah para ulama terdahulu.

· Tanpa syahadah kesulitan menghadang siswa untuk studi lanjut padahal studi lanjut sarana da’wah.

· Tazkiyah syahud untuk iqamatul huquq dan daf’ul batil maqbullah pada fiqh islamy tanpa adanya perselisihan.

Dan sebuah harapan dari seorang ustadz senior di sebuah ma’had,

Alangkah indahnya andaikata ada jaringan-jaringan lembaga pendidikan yang SDMnya saling percaya sehingga cukup dengan anggukan kepala atau kata “ya” saja bisa saling mengikuti/memasuki lembaga pendidikan tersebut untuk saling transfer ilmu dan berinteraksi sehingga : IJAZAH bisa kembali ke ASLInya.

Kembali ke aslinya. Bukan lagi menurut Pasal 72 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang tadi.

Hehe….

13 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hu’uh… Setuju! Ijazah ndak jamin semuanya…

    Tapi jujur, waktu saya pertama kali tau blog ini trus baca cerita di halaman portofolio nya memang rada heran, seheran orang yg nyari kerja di dialog tulisan ini.

    Nganggur kok hidup? Kalo mau pake nalar itungan, kykna emang gak mungkin yah. Tapi gmanapun jg itungannya Allah masih jauh lebih baik. Ah… Toh hidup ini kita bukan tanpa Allah kok.

    Btw, saya masi inget saya pernah bilang klo tetap kerja lebih penting daripada kerja tetap…:mrgreen:


    asal gak muluk-muluk juga bakalan dapat jatahnya kan…. selama masih ada nafas buat esok hari akan ada pula jatah rejekinya. yakin aja….

  2. kakakakakka kok sama to mas aku ya nggak punya ijazah, ijasah sma aja enggak tau kemana ekekkeke


    tetap hidup kan….? malah penuh tawa gitu….

  3. gak komen…ah cuma mau numpang lewat aja hehehe…dah lama ga mampir, assallammualaikum mas habib…


    wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh….Mbak Our….
    baik-baik saja kan…..semoga semuanya lancar-lancar saja.

  4. sama mas,aku juga g punya ijazah😦
    penting buat ngelamar lho padahal heuheu…*dendam*
    Assalamu’alaikum saudaraku…maaf lama tidak mampir..sibuk akhir tahun..


    wa’alaikumsalam saudaraku
    apa hubungan ijazah, ngelamar dan sibuk akhir tahun ya…?

  5. waduh bang, piye tho panjenengan kuwi. Orang hidup ya mesti nggak perlu ijazah, tapi perlu bernafas, makan dan minum.

  6. aku malah bingung dengen temen-temen ….
    aku ijazah dari TK sampek PT masih tersimpan rapi, pokoknya rapi deh, mungkin masih rapi sampe sekarang, lha wong ga pernah aku buka document keepernya udah hampir 12 tahun…. hehehehe…ada yang mau belii?????


    yang rapi dan yang lali……hasilnya kok sama saja…..(piye to iki…)

  7. Ijasah buat kerja nggih Pak… Tergantung situasinya sih Pak… kalo mo wiraswasta nggih mboten terlalu perlu kalo jadi orang suruhan nggih perlu bukti …hi..hi..hi..sok teu nih Pak…

    Dos pundi kabaripun Pak…sugeng kan…


    kabar baik Mbak. alhamdulillah….lama gak kunjung. lagi sibuk disuruh-suruh ya….🙂
    tapi baca komen Mbak Isfiya jadi rasa aneh nih….
    lha wong orang suruhan saya juga gak pernah saya tanyai ijazahnya apa je….. pokoke jujur amanah fathonah tabligh wis sippp deh…. soal ilmu nanti juga bisa dipelajari, ketrampilan toh didapat dari pengalaman. asal sabar. ini kira-kira loh…..(dan kasuistis)

  8. Mas
    Yg sangat penting Ijab Syah biar halal . . .
    Dan agar ada wasilah bs punya penerus perjuangan 4, 6 atau bahkan lebih . . .
    Saluuuut . . .


    kalo yang ini mah…. ngikut aja….. jadi kangen sama suasana ijab sah nih….🙂

  9. ijasah memang tidak benar2 mewakili kemampuan seseorang. masalahnya kalau pengen melanjutkan studi ke sekolah2 formal kan terpaksa perlu ijasah to?


    dipertimbangkan….

  10. selamat bergabung dalam komunitas partai tanpa ijasah (PTI).visi: mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat yang tidak bergelar. he he.


    kutipan saya gak ada yang ketinggalan kan, Prof?
    trus omong-omong soal PTI, gambar partainya apa ya…. ehm, kalau saya mah gak bakalan keterima, soalnya gelar saya banyak, sebagiannya adalah: Abu Nadya, Abu Sofwan, Abu Ahmad, Abu Hasna, Abu Ukasyah, dan Abu Miqdad. hehe….
    matur nuwun sudah mampir. jangan kapok ya…

  11. Memang sudah banyak yang salah kaprah tentang pendidikan, kita memang harus mencari ilmu setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya tapi kenyataannya sekarang banyak yang mencari ijazah dan gelar yang sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Wah kalo tak baca titel para Caleg kita itu lho. Weleh-weleh-weleh (kalo kurang banyak tambah sendiri yo). Buktinya banyak lho yang sudah S2 tapi tidak bisa pakai komputer. Menurut anda apa sih yang salah dengan dunia pendidikan kita ini. Saya sangat setuju dengan Entrepreuneur Universiti yang digagas oleh Kang Purdi Chandra yaitu lembaga yang tapa akreditasi, tanpa gelar dan tanpa tetek bengek ……………… dan baru diwisuda kalo sudah bisa mandiri (berhasil). Lha kalo semua PT di Indonesia begitu pasti Indonesia ini tidak ada pengangguran iyo tho. Bukankah selama ini PT hanya menciptakan pengangguran yang berpendidikan (eh berijazah). Wis ngono wae yo manur nuwun.

  12. Sama nih mas😀

    kerja 10 tahun tidak pake ijazah.. dulu belum sempet urus, sekrang dokumentasi sudah ilang semua.
    tapi sekarang ini mau pindah kerja kantor yang baru ngotot minta kopi ijasah. mau ngurus rasanya sudah susah dan repot..

  13. sbnarnya ijasah itu bukan nda perlu BUT tergantung orgnya
    qt saja nda punya ijasah mar gara2 ada niat krja dgn cra pkir apa saja yang bleh hsilkan doi dgn halal nda perlu ijasah,,bersyukur hdup ckup smpe skrg
    ada tare tu ijasah smpe prof…,NDA ADA KERJA
    itu gara2 nda ada niat……
    orang macam itu yang penting ADA GELAR
    AMA JUGA BOONG TOHHH
    ITU SMA JO CMA BQNG ABIS ORANG TUA P DOI

    JDI INTINYA KWA SMUA
    TERGANTUNG NIAT ORANG TERSBUT
    TANPA IJASAHPUN BISA HIDUP MALAHAN BISA LEBIH DARI ORANG YANG BERIJASAHHHHHHHHHH


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: