Tissue: Antara Kepraktisan dan Keseimbangan

6 Januari 2009 pukul 08:07 | Ditulis dalam budaya, ibadah gaul, renungan | 4 Komentar

Beberapa hari ini aku memang flu beratttt… sampe kedua lubang hidungku seolah tak lagi berlubang. Tak bisa tidur dengan rebah. Kepaksa sandaran bantal di dinding kamar, sambil menikmati aliran udara yang dengan susah payah menggapai paru-paruku. Sekedar mengisi ruang yang sudah disediakan baginya. Natural….tapi jarang kusadari ketika semuanya lancar normal sehat wal afiyat.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau tetap memberiku kesadaran buat bersyukur atas sakit yang Engkau berikan untukku. Tanpa sakit itu, aku mungkin lupa bersyukur atas sehatku selama ini.

Sakit yang tak seberapa, mungkin hanya hitungan hari, tak sebanding dengan berminggu-minggu, berbulan atau bertahun sehatku. Ditambah ni’mat lain yang mengiringi kesehatanku, menambah kebahagiaanku.

Ah…. dasar manusia. Sering tak bersyukur atas ni’mat yang setiap hari menghampiri. Lupa, atau lalai, anggap sepele. Mengecilkan sesuatu yang sebenarnya besar. Menganggap iseng sesuatu yang sebenarnya serius.

Ehm, iya.

Beberapa hari lalu, ketika seseorang bertanya padaku. Kok tumben bawa saputangan, katanya. Sesuatu yang memang tak biasa kulakukan sejak puluhan tahun silam. Saputangan itu pun kubeli kala masih bujang. Aku memang sempat membeli beberapa helai ketika masih di Bekasi dulu. Aku pikir, waktu itu aku memang memerlukannya. Namun ketika aku pulang kampung, aku taruh saja di lemariku hingga karena flu beratku dia kukeluarkan lagi.

Tidak pake tissue saja Mas? Tanya orang itu lagi ketika tahu alasanku. Lebih praktis, begitu alasan yang dia ajukan padaku.

Benar, orang-orang sekarang ini memang semuanya harus serba praktis. Serba cepat, instan, sekali pakai tak mau repot soal perawatan. Saputangan berganti dengan tissue. Sarapan pagi berganti dengan makanan cepat saji, dimakan dalam perjalanan ke tempat kerja. Makan siang berganti fastfood di cafe atau restoran. Bahkan di kampung, tempe yang dulu dibungkus daun waru atau daun pisang, sekarang berganti dengan plastik. Jajanan yang dulu dibungkus dedaunan pun berganti dengan plastik, hampir semuanya.

Sering menyelinap dalam benakku perkara kepraktisan ini. Dalam urusan pilekku ini. Betapa hanya untuk membuang ingus, kita mesti pake tissue. Tissue yang harus didapat dengan menebang pohon untuk membuatnya. Padahal sang tissue hanya sekali pakai lantas dibuang. Untuk memenuhi kebutuhan tissue sekali pakai ini, berapa batang pohon yang mesti ditebang setiap harinya? Berapa hutan yang gundul dibuatnya? Lantas air tak lagi punya tempat bersemayam dikakinya, yang lalu dia ngeloyor pergi begitu saja. Lalu…..banjiiiiiir……banjiiiiiir…….

Ah… why so serious? Tak mungkinlah gara-gara selembar tissue bisa menciptakan banjir seperti itu? Terlalu dibesar-besarkanlah itu perkara. Tak mungin….tak mungkiiinn….. Yang bener saja! Memangnya saputangan dibuat dari apa? Sama saja kan….? malah pake saputangan tuh….jorok. Saputangan jadi penuh umbelll….

Begitulah, anggapan tak mungkin itu akan nempel juga pada plastik jajanan, plastik tempe, plastik belanjaan, fastfood, junkfood, dan perkara-perkara lainnya. Ada pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Memang, saputangan juga mesti berbuat kurang lebih sama. Tapi tak seberapa ekstrim macam si tissue ini. Dan saputangan bukanlah barang sekali pakai, kotor bisa dicuci, lalu dipakai lagi. Lebih hemat juga.

Begitulah, demi sebuah kepraktisan, kenapa juga kita mesti mengorbankan keseimbangan alam? Merusak kesetimbangan yang Allah tetapkan?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan rasa kepada mereka akibat perbuatan sebagian mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Ruum: 41)

Namun ketika diingatkan tentang hal ini lantas,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al Baqarah: 11)

Tak apalah. Yang penting aku sudah usaha. Usaha menjaga keseimbangan alam yang telah dianugerahkan kepadaku, bangsa manusia. Meski tak ada artinya. Tapi bagi Allah, tak akan disia-siakan. Selama yang aku usahakan adalah dalam rangka memenuhi perintah Allah, akan bernilai ibadah, dan semua akan dihargai. Itu yang menjadikanku tetap memilih saputangan daripada tissue. Beribadah dengan memilih saputangan daripada tissue, why not…..?

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar Ra’du: 11)

Yang maksudnya adalah:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Al Anfaal: 53)

Bahwa Allah tidak mencabut ni’mat yang telah dilimpahkanNya kepada sesuatu kaum berupa keseimbangan alam ini selama kaum itu tetap ta’at dan bersyukur kepada Allah.

I said, why so serious…..?

(Tulisan ini hanya sekedar kata hati, tak ada propaganda ‘anti tissue’ apalagi memprovokasi untuk berdemonstrasi di depan pabrik tissue, atau aksi tanam tissue agar tumbuh jadi pohon baru.)

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. HHmmm … betul juga …
    kalau dipikir-pikir … tissue itu bahan dasarnya kan mesti nebang pohon ya …
    hhmmm …
    Bisakah aku menggunakan Sapu tangan … kalau aku pilek ??

    But yang jelas … memang sebaiknya kita jaga kondisi kesehatan kita … agar tidak mengkonsumsi banyak Tissue dan juga tidak perlu memakai saputangan …

    Setuju ?
    Salam saya …

    Thanks Mas …


    laa tushibanaa illaa maa kataballahu lanaa, begitulah Pak….
    salam kembali

  2. Bicara soal praktis, saya jadi inget fenomena “jilbab praktis” yang tinggal pake kyk mukena tp pendeknya di atas dada dan kadang lehernya masih suka terlihat. Huhu…


    coba jilbabnya pake kain tissue….

  3. tisu… tisu… tisuuu….
    kaya neng terminal ya….
    tisu pancen murah… sewu be olih sekandi…
    tapi gunane pancen penting…..
    salam kenal kang…..


    aku melu towo-towo….
    jilbab…jilbab….jilbaaaab….
    kaya neng terminal ya…
    jilbab pancen murah….ra akeh kaceke karo tissue…
    tapi gunane pancen penting… iso nyambi dadi tissue
    salam kenal balik (mbak po mas yo….)
    gara-gara adit-nya niez nihh….

  4. Ahaha… Iya juga ya, jilbab penting banget dan bisa disambi jadi tissue…😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: