Habis Nasyid Njeritlah Rock

23 Desember 2008 pukul 09:49 | Ditulis dalam aku gak tanggung, politik, serba serbi | 4 Komentar

Nasyid tak laku lagi di PKS. Justru musik rock yang lagi garang. Adakah perubahan besar dan mendasar di tubuh PKS?

Sepuluh tahun lalu, Jama’ah Tarbiyah sebagai cikal bakal PK yang lalu berubah lagi jadi PSK eh….sorri, PKS nyaris identik sama nasyid. Bahkan aku sebelumnya malah gak tahu nasyid itu makanan dari jenis apa… tahunya setelah PKS asyik mengusung nasyid yang bagiku terasa sebagai dangdut garing. Saat itu warna dangdut garing tanpa musik ini begitu lekat dengan perjalanan da’wah dan tarbiyah mereka. Di mana pun dan kapan pun mereka bikin acara, nasyid tentang perjuangan intifadhah di Palestina, perjuangan kelompok Ikhwanul Muslimin, jihad di Afghanistan dan perang Bosnia selalu membetot perhatian kaum muda, plus stiker dan kaset-kaset yang kemudian mengekor sukses konser nasyid mereka tentunya.

Saat itu “demam nasyid“ benar-benar melanda. Di setiap acara daurah (training), liqo’ (pertemuan rutin), mabit (bermalam), kepanduan dan kegiatan jama’ah lainnya, nasyid selalu tampil sebagai pemompa semangat, pupuk bagi rasa kesetiakawanan dan kecintaan kepada Islam (atau organisasi?). Dengan busana muslim yang rapi (dan wangi), para ikhwan mendendangkan nasyid penuh semangat. Sementara yang akhwat tampil dengan jilbab-jilbab lebar yang teduh dan sopan, melantunkan nasyid tentang generasi harapan dan kerinduan akan kehidupan Islam.

Saat itu pula, grup-grup nasyid lokal bermunculan, bagaikan jamur di musim penghujan. Bahkan seorang aktifis muda seolah belum bisa disahkan sebagai aktifis Islam jika belum bisa melantunkan sebait dua bait nasyid dengan penuh semangat tentang perjuangan Islam. Apalagi setelah Partai Keadilan dideklarasikan delapan tahun yang lalu. Para kader muda tarbiyah beramai-ramai membentuk grup nasyid dan rajin menggelar perlombaan di mana-mana. Dulu aku sempat ketularan loh, beli kaset yang isinya grup dari Malaysia itu, namanya Adz Dzikr kalo ndhak salah…. kusetel waktu aku ngundang teman buat walimatul ‘ursy-ku, terus dimana sekarang kasetnya ya…..?

Tapi kelihatannya, musim nasyid itu telah berlalu. Grup-grup nasyid mulai gulung tikar atau kalau tidak mereka mesti mengubah warna lebih ke dangdut atau keroncong atau jenis musik lainnya, yang pasti musik sudah jadi masuk jadi bumbu penyedap. Sementara, para penyanyinya mulai hidup mapan dan bahkan jadi pejabat partai. Gantinya, ingar-bingar musik rock yang penuh jeritan senar gitar dan bassnya, gebugan drum berdebam dan pencetan keyboard kini mendominasi acara-acara Partai Keadilan Sejahtera.

Ada grup band Cokelat yang tampil di acara Silaturahim dan Dialog Antarkeluarga Pahlawan Nasional, di Jakarta Convention Center, Rabu (19/11) lalu. Ada Nidji dalam acara Panggung Pemuda Indonesia, yang digelar di Bandung, Kamis (20/11) malam.

Dalam acara di JCC yang juga dihadiri Ketua Dewan Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin itu Kikan, sang vokalis cewek Cokelat, tampil “gaul-ul” dengan busana casual, kaos plus celana panjang jeans ketat dan tentu saja tanpa jilbab. Tampilan gaul itu sangat jauh dari citra akhwat PKS yang terbangun selama ini. Apalagi grup musik itu menyanyikan lagu-lagu nasional dan perjuangan dengan aransemen musik rock yang menghentak. Ngerock man….

Menurut Kepala Humas PKS Mabruri, partainya memilih Cokelat karena dianggap cocok dengan tema acara yang digelar, yakni mempertemukan sejumlah anak dari pahlawan dan tokoh nasional, sedangkan Nidji melantunkan album religi. Sementara Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta mengatakan bahwa penampilan Cokelat menandakan bahwa PKS ingin merangkul semua pihak. “Kita berkolaborasi dengan seniman atau artis dalam tema yang sama. Senapas dengan semangat perjuangan,“ ujarnya.

Namun, tampilnya beberapa grup musik yang populer di kalangan “anak gaul ibu kota” di acara PKS menggantikan kelompok-kelompok nasyid ini, mau tak mau menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan ummat. Benarkah partai yang didirikan para aktifis Jama’ah Tarbiyah dari berbagai masjid kampus itu tengah bermetamorfosis? Benarkah PKS telah bergeser dari gerakan tarbiyah ala Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah partai terbuka yang telah mulai luntur ideologi Islamnya?

Para pejabat teras PKS tentu membantah semua rumor dan dugaan itu. Menurut Mabruri, PKS tetap dalam azas Islam yang dinamis. Sementara Anis Matta menegaskan bahwa partainya selalu mengikuti perkembangan zaman. Menurut politisi asal Sulawesi Selatan itu, PKS tak ingin terjebak dalam pengelompokan aliran Islam tertentu. “PKS sudah moderat dari dulu. Sikap dasar Islam itu moderat,” ujarnya. Islam yang dianut PKS, menurut Anis, adalah Islam jalan tengah. Karena itu, dalam menyikapi setiap persoalan, PKS tidak boleh terlalu keras ataupun terlalu lembut. “Kita tidak mengenal Islam kiri atau kanan. Pengelompokan ini membuat kita kerdil, tidak bisa maju,“ kata Sekretaris Jenderal PKS yang juga merangkap sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) itu.

Padahal, menurut penuturan Ahmad Sumargono, teman seangkatan Ustadz Hilmi saat dipenjara di jaman Orde Baru dulu, pergolakan serius kini sedang terjadi di internal elit PKS. Sebagian tokoh senior Tarbiyah prihatin akan kecenderungan PKS yang kini semakin moderat, hingga kadang agak melupakan prinsip-prinsip pokok dakwah tarbiyah. “Kelompok yang sangat prihatin ini dipimpin Ustadz Hasib dan Ustadz Salim Segaff,” kata mantan anggota DPR dari Partai Bulan Bintang itu.

Para senior Tarbiyah konon merasa prihatin karena langkah-langkah terakhir PKS hanya membuat mereka dijauhi kalangan ummat Islam, karena bergerak di luar mainstream. Padahal, upaya membaur dengan komunitas lain tetap dicurigai, dan tak akan pernah membuat kalangan di luar Islam mempercayai perubahan sikap PKS itu. Tokoh-tokoh itulah yang menggagalkan upaya sebagian elit partai yang ingin membuka PKS untuk semua golongan, dalam Musyawarah Kerja Nasional PKS di Bali, Januari lalu.

Namun para petinggi PKS membantah berita tentang pergolakan di tubuh partai mereka. Tampilnya musik rock yang menggantikan nasyid dalam acara-acara PKS, menurut Mabruri, tidak mewakili fenomena itu. Ia pun membantah bahwa kelompok tarbiyah yang puritan dan selama ini menjadi arus utama PKS mulai tersingkir dan digantikan golongan muda yang lebih moderat. “Wah nggak benar itu. Nggak ada hal seperti itu di PKS. Lagian juga, nggak ada kok kader PKS yang protes soal itu,” ujarnya kepada inilah.com.

Sumber asli: Suara Islam

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah…masak sih Pak…he..he..he…
    PKS ngerock ya Pak….


    Mbak Isfiya pake Rok juga kan?

  2. Nasyid atau rock adalah bagian dari budaya. Budaya terbentuk dari kebiasaan yang mengakar.
    Perubahan budaya dalam tubuh PKS dibentuk oleh Pimpinannya. Ibarat moda angkutan umum, dia itu supir, pilot, nahkoda. Tentunya, dia memiliki visi dan misi yang bagus serta strategi jitu untuk merebut simpati masyarakat. Strategi merubah nasyid ke rock, mudah-mudahan berhasil. Qt tunggu hasil pemilu 2009.
    salam

  3. nggak pa2. Terus aja githu. Kalo bisa, nanti pemimpin Parpol adalah bikhsu ato pendeta. sekalian yang radikal lah.

  4. punten numpang coment bos
    oh pks ngerock ya??
    mungkin aja diajak nidji.. kali aja giring niji nya dapat hidayah .. jadi buat lagu2 religi terus fansnya pun ikut kebawa dapet hidayah juga.. dakwah kan bisa lewat media sapapun.. positip think aja..
    kalo PKS ngundang greenday, linkin park,limbizkit baru berita heboh tuuhh… doi kan band rock cadazz amrik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: