Renungan ‘Iedul Adlha

9 Desember 2008 pukul 22:06 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, renungan | 1 Komentar

‘Iedul Adlha baru aja lewat. Ini hari tasyriq pertama. Bau kambing juga masih nancep di hidung. Bahkan aroma sapi masih saja menempel di radius sekian meter dari hidung kita di manapun adanya hidung berada. Aku bahkan masih berusaha mencari menu selain daging, bukan karena gak suka makan daging kurban, tapi karena aura daging ini memenuhi segala rasa diri. Kali aja, beberapa hari sesudah ini akan oke makan daging kurban. Insya Allah…

Ada yang nyelip di hati. Sebuah kesadaran, bahwa yang dilakuin di ‘iedul adlha ini bukan barang baru. Dianya sekedar ngikutin sunnah. Sunnah embah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu was sallam…

Nabi Ibrahim, yang millah (agama) beliau, merupakan millah yang selalu diperjuangkan dan dihidup-hidupkan oleh para nabi yang diutus oleh Allah setelah beliau, sehingga beliau memperoleh gelar bapak seluruh nabi.

Allah bilang, beliau adalah contoh suri tauladan bagi orang-orang yang beriman.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sungguh di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya itu ada suri tauladan bagi kalian (wahai orang-orang yang beriman)…” (Al-Mumtahanah: 4)

Contoh apaan….?

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”. (Al Baqoroh: 131)

Sejak nabi Ibrahim memenuhi seruan Allah buat nyerahin diri totally kepadaNya, sebagaimana ayat barusan, nabi Ibrahim selalu nepatin apa yang udah beliau ikrarin. Beliau nyerahin diri, harta, dan keluarga beliau buat berjuang di jalan Allah. Dan Allah pun kasih ujian kepada beliau buat ngebuktiin apa emang beliau bakalan tetap megang apa yang udah beliau ikrarin tersebut.

Aha, tentu saja kita bakal ngedapetin jawaban yang pastinya oke punya. Gak percaya? Baca Qur’an napa…..

Tapi, sssssttt….. ada rahasianya loh. Tentu saja, perjuangan ini dimulai dengan ngedidik keluarga beliau dulu. Jauh-jauh hari udah dimulai. Mulai istri sampe anak juga mesti digodok, diprogram pake software yang full version dan full controll minallah semata. Jadinya, keluarga beliau adalah contoh keluarga idaman bagi setiap keluarga muslim, bahkan non muslim sekalipun, kalau mereka mau jujur dan fair dong.

Hasil didikan beliau sungguh luar biasa.

Ehm….ada Ibunda Sarah, isteri Nabi Ibrahim yang pertama.

Gimana gak hebat!!! Ibunda Sarah selalu dan setia ngiringin perjalanan da’wah nabi Ibrahim dengan segenap penyerahan diri. Nah tuh…. Bahkan, sampai-sampai Ibunda Sarah korbankan perasaannya sebagai seorang perempuan puan dengan nyuruh nabi Ibrahim buat nikahin Ibunda Hajar, budak milik Ibunda Sarah yang udah dimerdekain, karena Ibunda Sarah sampai saat itu belum dikaruniai seorang keturunan pun. Pengorbanan Ibunda Sarah dengan perasaannya semakin bertambah ketika Ibunda Hajar ternyata bisa memberikan keturunan bagi nabi Ibrahim ‘alaihimush shalatu wa sallam; sesuatu yang selalu diidam-idamkan oleh setiap pasangan suami-isteri.

Nabi Ibrahim sendiri pun diuji buat pertama kalinya dalam masalah keluarga. Ujian dari Allah buat ngebuktiin apakah nabi Ibrahim memegang teguh apa yang udah beliau ikrarin bahwa beliau nyerahin diri beliau secara total kepada Allah ataukah beliau akan bergeser dari apa yang telah beliau ikrarin.

Nabi Ibrahim diuji nih. Perhatiin baek-baek ya….

Gimana coba, seorang bapak yang udah lama kebayang-bayang akan hadirnya seorang anak yang bakalan jadi penerus perjuangannya, yang kemudian keinginannya dikabulkan oleh Allah –duh betapa senangnya-, namun hanya dalam itungan hari, Allah udah nyuruh sang bapak, buat nempatin sang Ibunda Hajar sama sang anak yang dinanti-nantikan, nabi Isma’il, di padang pasir yang tiada pepohonan juga mata air. Gersang, panas dan kering kerontang.

Gak masuk akal sodara……gak masuk akal. Allah kok gitu sih….?!?! Gak kasihan apa….. Begitulah, kadang kala Allah kasih ujian dengan suatu perkara yang gak masuk di akal kita. Bukan karena perkaranya gak bisa dinalar, tapi karena memang akal kita yang gak mampu. Bahkan perasaan kita diaduk-aduk buat ngejalanin perintahNya, agar bisa ta’at kepadaNya. Awas, hati-hati dengan perkara ginian…… jangan sampai su’udhon kepada Allah.

Trus?

Nabi Ibrahim hanya kasih bekal makanan dan minuman secukupnya. Gak pake kulkas, rekening bank, pembantu dan sopir pribadi. Gak ada juga perusahaan buat nyambung hidup anak dan istri…

Trus?

Ketika nabi Ibrahim sudah hendak melakukan perjalanan pulang seorang diri, Ibunda Hajar nanya kepada beliau, “Wahai suamiku, apakah engkau menaruhkan kami di padang pasir yang tandus ini karena perintah Allah ?! “ Nabi Ibrahim ngejawab: “Ya, Allah lah yang kasih perintah buat ninggalin kalian di sini.” Ibunda Hajar, yang terdidik, dengan yakin bilang: “Kalau benar begitu, sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Subhanallah, keyakinan yang amat kuat terhadap Allah seperti ini gak bakalan didapatin dengan cara instan. Keyakinan seperti ini, hanya akan didapatkan dari pendidikan yang intensif dan berlanjut. Sejak dini dan gak putus-putus.

Ada hal menarik dari ujian ini. Ada dua hal yang saling berkaitan. Keterkaitan dalam ketundukan kepada perintah Allah tanpa banyak bertanya dan memikirkan alasan logis yang melatarbelakangi perintah ini. Nabi Ibrahim adalah seorang pintar. Beliau telah memikirkan tentang keberadaan tuhan. Beliau lihat matahari, bulan, dan bintang, kemudian mikirin apakah mereka patut buat disembah. Dan nyatanya beliau bisa kasih alasan kenapa mereka gak patut disembah, sangat logis. Lihat aja,

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ . فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ . فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Akan tetapi, tatkala nabi Ibrahim diperintahkan buat nempatin isteri beliau juga anak yang telah lama diharap-harapkan di padang pasir, beliau hanya tunduk dan patuh. Beliau singkirin perasaan sebagai seorang ayah yang baru saja diberi anak. Beliau tunduk tanpa memprotes sama sekali. Saya mendengar dan saya menta’ati. Sederhana sekali.

Di pihak lain, Ibunda Hajar adalah profil seorang perempuan, isteri, yang patuh sama Allah dan suaminya. Setelah tahu kalau dirinya ditempatin di tempat yang gak ada naungan sama sekali bahkan dengan bekalan yang gak nyukupin, sangat tidak mencukupi, eh… Ibunda Hajar pun ngutarain sebuah keyakinan diri. Bahwa orang yang tunduk patuh kepada perintah Allah, pasti gak bakalan disia-siain Allah. Allah pasti bakalan nolongin. Dan Allah pun pasti nepatin janjiNya buat nolongin hamba-hambaNya yang ta’at dan patuh.

Ketika bekalan udah habis, bahkan tetek ibu pun gak mau lagi netesin air susu, yang bikin nabi Ismail nangis karena haus, Ibunda Hajar pun nyari air sehingga mesti lari sana lari sini dari satu tempat ke tempat lain sampe tujuh kali (yang kemudian dijadikan sebagai salah satu syi’ar haji yang bernama sa’i) dan Ibunda Hajar gak dapet air sama sekali. Lalu, di tengah rasa galau dan gundah sang ibu, Allah nunjukin tanda kebesaranNya lewat hentakan kaki nabi Ismail yang sedang menangis. Lewat hentakan kaki bayi yang tak bertenaga inilah, nyumber mata air yang gak pernah habis sampai sekarang meski ditimba berulang-ulang kali oleh hampir separuh penduduk dunia setiap tahunnya. Dianya adalah zamzam.

Sekali lagi, gak masuk akal. Gak realistis. Tapi, bukankah mu’jizat adalah sesuatu yang gak realistis tapi sekaligus nyata dan gak terbantahkan?

Selesaikah ujian Allah atas keluarga yang dibarakahi ini?!

Belum ! Masih berlanjut…

Lewat beberapa tahun semenjak nabi Ibrahim ‘ninggalin’ Ibunda Hajar dan nabi Ismail di padang pasir yang tandus itu, beliau pun berkeinginan untuk menengok keadaan isteri dan anaknya tersebut. Dengan perasan rindu yang membuncah akhirnya beliau sampe ke padang pasir yang kini udah berubah jadi sebuah kota. Setelah beberapa hari berkumpul dengan isteri dan anak beliau yang sudah tamyiz, sudah bisa diajak dialog, eee….. Allah kasih ujian lagi sama nabi Ibrahim dengan perintah buat nyembelih nabi Ismail.  Nabi Ibrahim segera manggil putranya dan kasih tahu perintah Allah tersebut.

Buat kesekian kali, gak realistis!

Begini,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai anakku, Aku telah mendapatkan wahyu berupa mimpi agar aku menyembelihmu. Apa pendapatmu?” Nabi Ismail yang terdidik oleh ibunya, seorang perempuan shalehah yang ngedapatin pengajaran dari sang suami, nabi Ibrahim, mendorong keyakinan bapaknya dengan jawaban yang penuh kepastian: “Oh my Dad! Just do it! Lakuin aja apa yang ayah udah diperintah buat ngelakuin. Insya Allah, ayah bakalan ngedapatin aku jadi kelompoknya orang-orang yang sabar.”

Aha, jawaban dari seorang pemuda yang telah dididik dengan pendidikan Islam. Pemuda yang siap mengorbankan diri untuk kepentingan dienul Islam, millah Ibrahim.

Inilah gambaran keluarga yang baik menurut Allah. Bagaimana nabi Ibrahim, sebagai seorang suami, ngedidik isteri beliau – baik itu Ibunda Sarah maupun Ibunda Hajar – di tengah kesibukan beliau berda’wah, mengajak orang-orang di sekitarnya buat nyembah Allah. Suatu pekerjaan yang telah nabi Ibrahim lakukan semenjak remaja. Masih ingat kisah remajanya?

Nabi Ibrahim berhasil mencetak isteri yang shalehah, yang mampu menjaga harta dan anaknya menurut apa yang diperintahkan oleh Allah, ketika nabi Ibrahim sedang pergi untuk urusan da’wah. Ibunda Hajar merupakan bukti hasil didikan beliau. Ibunda Hajar yang telah berpisah dari nabi Ibrahim selama bertahun-tahun mampu untuk mendidik anak suaminya dengan baik, sehingga menjadi anak yang sholeh. Anak yang mengerti kewajibannya kepada Allah, kepada orang tuanya, dan kepada masyarakat di sekitarnya.

Ada pelajaran penting dari keluarga nabi Ibrahim alaihish shalatu wa sallam, bahwa orang tua yang baik akan melahirkan generasi penerus yang baik. Seorang laki-laki yang baik menikah dengan perempuan yang baik, maka akan melahirkan anak yang baik.

Baik di sini ialah baik menurut Allah, baik dari segi agamanya. Oleh karena itu, gak berlebihan apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan buat milih nikahin orang yang baik agamanya, bukan yang banyak hartanya, kedudukannya, ataupun ketampanan/kecantikannya.

Fakta membuktikan, pernikahan nabi Ibrahim dengan Ibunda Sarah telah berhasil nurunin generasi-generasi pilihan yang kebanyakan diangkat oleh Allah sebagai nabi. Ada nabi Ya’kub, nabi Ishaq, nabi Yusuf, nabi Daud, nabi Sulaiman, nabi Musa, hingga nabi Isa. Sedangkan dari pernikahan nabi Ibrahim dengan Ibunda Hajar juga nurunin keturunan-keturunan pilihan, yang akhirnya menurunkan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Gimana? Ngimpi dapet keturunan yang sholeh dan sholehah? Kalau ya, wajib hukumnya nyari pasangan yang baik agamanya. Carilah isteri, suami, atau menantu yang baik, niscaya the dream will come true.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tp mas…ada yg berbeda iedul adha dari tahun ke tahun…suasana tidak semeriah atopun sekhidmad tahun² sblmnya… gema takbir terasa tidak menggema..orang² sibuk dg kepentingannya masing²..
    Ada apa ini..??? masyaAllah..


    ibarat garis bilangan Mas. negatif, nol, bilangan positif. ketika bergeser ke kanan, berarti kan semakin menjauh dari deret kiri. makin besar angka kanannya, semakin besar selisih dengan angka di sebelah kiri nol. begitu pun sebaliknya.
    semakin orang mendekat kepada dunia, dia semakin jauh dari akhirat. sampe muncul penyakit wahn, cinta dunia takut mati….na’udzubillahi min syarri dzalika.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: