Naik-Naik ke Puncak Gunung

5 Desember 2008 pukul 07:01 | Ditulis dalam jalan-jalan | 4 Komentar

Beberapa hari ini, bahkan mungkin semingguan atau lebih, aku memang agak sok repot sendiri. Kesana kemari seolah-olah aku adalah orang yang dibutuhkan di sana sini. Padahal cuman numpang tenar doang. Jelasnya nih aku cuman jadi sibuk gara-gara nganter istriku yang tersayang ini buat ngejalanin tugas da’wahnya. Hehe….kalau buat acaraku sendiri, aku jarang ngajakin dia. Tapi kalau dia punya acara aku harus rela nganterin dia. Begitulah adanya. Sebuah trik atau siasat ngindarin dosa.

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir jika dia bepergian selama sehari semalam (sedang) tidak ada bersamanya mahram.(HR Bukhari)

Masih banyak hadits yang ngebahas soal ini dan ada beberapa versi tentang berapa jarak baik waktu maupun kilometernya. Tapi yang pasti, buat aku sih, kalau istriku punya gawe yang bikin dia kudu keluar rumah sampai jarak tertentu atau selama waktu tertentu, aku bakalan ‘siaaaap grak!’ buat nganterin dia. Selain ngindarin dosa, bisa buat nambah gairah cinta loh….Sungguh!

Mahram. Dia ini jenis orang yang haram dinikahi karena beberapa sebab berdasar syari’at. Lah……suami kan muncul karena pernikahan? Gimana sih kok mbundhet….!!! Ehm…. iya sih, suami atau istri muncul karena pernikahan. Tapi jenis manusia yang ini, malah lebih banyak haknya juga kewajiban juga keterkaitannya ketimbang mahram karena nasab (saudara) atau sihr (pernikahan). Coba diingat, kalau kakak atau adik kan gak boleh ngeliat bagian-bagian yang ehm…..dari seseorang, tapi suami atau istri mah, sah-sah saja. Tul?

Trus, anak-anakku yang bejibun itu dikemanakan? Bejibun? Baru enam kok. Masih dikit atuh Kang. Masih ada usaha nambahin lagi? Kalau itu mah, gak usah ditanya. Tapi semua terserah sama Allah. Dia yang menentukan, Maha Menentukan. Takaran buat kita sudah dipas sama Dia. Baik rejeki, anak, dan lain-lain. Aaahhhh, jadi nyante kalau begini.

Anak-anakku sih, alhamdulillah banget. Gak suka bikin repot ayah umi mereka. Jadi mereka asyik aja di rumah. Yang gede momongin adiknya, si adik, momongin adiknya lagi, begitu dan seterusnya. Beres deh. Jadi no probem juga kalau dipikir-pikir. Apalagi kalau mau ngejalanin. Ayo, siapa mau ngikut…!!! Emang berani? Ih narsis ah….

Nah, siang kemarin sore tuh, selepas dari acara istri, aku ajak dia naik sepedaan ngukurin jalan. Dari sebuah titik di kota Solo, aku langsung meluncur dipeluk erat istri diboncengan menuju arah depan. Ya, kirain….

Lewat jalan protokol, masih agak sepi karena belum saatnya para pegawai kantoran berpulangan. Sedangfoto020 yang masih anak sekolahan sudah pada dirumah sambil tiduran. Sampai di terowongan Jurug, mulai rame karena banyak orang jualan rambutan dan durian di tepi jalan. Di dekat situ memang ada kebun binatang yang kadang rame oleh pengunjung. Tapi setahuku, rata-rata yang datang adalah dari luar kota. Orang sini sih, males. Ngeliat binatang bukannya senang, tapi kasihan. Kami pernah ke sana. Kondisinya mengenaskan. Gak tau tuh….

Di sekitar Palur, agak macet. Lewat dari rel sepur yang melintang di dekat tugu Palur itu, aku langsung tancep gas. Ke arah timur. Terlihat gunung Lawu yang kata orang angkuh, gagah. Padahal dimataku, gunung itu makhluk Allah yang tahu diri. Gak banyak ulah. Gak angkuh atau sombong. Dia diam atau mbledhosh adalah karena bertasbih kepada Allah. Tapi emang gitulah cara dia. Aneh? Gak sih…. emang kita gak aneh apa. Dulu waktu musim tanah longsor, gunung itu berpartisipasi melongsorkan beberapa kubik tanah yang kebetulan menimpa beberapa unit usaha anthurium orang sana. Kebetulan? Gak bener juga sih kalau dibilang kebetulan. Di dunia ini gak ada yang kebetulan. Semua sudah dikonsep sama Allah. Ada cetak birunya. Ada hukum alamnya, begitu kata orang, yang lagi-lagi aku gak setuju dengan istilah ini. Hukum alam? Emang alam bisa bikin hukum? Semua adalah ciptaan Allah, Dia pula yang bikin aturan mainnya. Ada hukum Allah yang mengatur keseimbangan alam ini. Begitu isyarat Allah disini,

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan ‘keseimbangan’. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang’keseimbangan’ itu. (Ar Rahman: 7-8)

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Ar-Rahman sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Al Mulk: 3)

Ah….

Tak berapa lama, kampung halaman terlewati. Kami lewat saja. Gak usah nengok rumah. Gak usah nengok anak-anak. Biarkan mereka ‘bermain’ dengan dunia mereka sendiri. Biarkan mereka belajar mandiri.

Aku lewat jalur selatan, melewati sebuah tempat wisata di daerah Pablengan. Kami gak mampir, kan rencananya cuman jalan-jalan naik sepeda. Di situ ada Sapta Tirta, sebuah pemandian air hangat yang dilatar belakangi sebuah bukit rindang, Argo Tiloso. Kadar belerangnya tinggi, di situ juga ada pemandian terbuka dengan bilik berjumlah 6 buah, berbentuk segi enam, peninggalan Raja Mangkunegoro VI. Bayangin coba, tinggal di Solo, mandinya di Matesih. Jaraknya kira-kira 30-an km dari keraton Surakarta (sorri, belum sempat ngukur sebelumnya). Bayangin thok ae…..

Lebih ke selatan ada areal perbukitan yang disitu ada gunung anakan yang dulu amat tenar. Mengadeg. Kuburan sang jenderal dan istri. Lewat lagi. Jalan naik menanjak berkelok-kelok. Kalau orang Batak pernah bilang, jalan berkelok-kelok, di kanan kiri ada tobing-tobing. Kau jalan sitorus saja…

Lewat dari perkampungan penduduk, di depan terlihat hamparan tanaman kol. Ijo. Segar. Menyejukkan mata, lalu mengalir lembut ke dalam hati. Subhanallah….. istriku tambah merapat, pelukannya semakin erat. Memang udara sudah semakin sejuk.

Kang, kupingku kok rasanya seperti buntet gitu ya, istriku nanya. Ya iya lah, namanya dataran tinggi. Hihi….aku gak tahu apa hubungan dataran tinggi dengan kuping buntet.

Gak jauh dari perkebunan kol. Ada sebuah masjid di pinggir jalan. Kami mampir buat sholat ‘Ashr. Kulihat jam di dinding masjid menunjuk angka 4. Gak awal waktu nih ‘Ashr-nya.

Air wudlunya dari pancuran. Bening dan….sejuk tenan. Segerrrr…. subhanallah. Kami saling pandang dan mengucap syukur atas ni’mat ini.

Jadi inget Nabi Ayyub,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ. ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah menjawab): “Hentakkan kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. (Shad: 41-42)

Kami sholat ‘ashr berdua. Mesra nian. Duh….

Selesai sholat, kami teruskan perjalanan dijalanan yang semakin menanjak. Tak lama, kami sampai di dsc02420Tawangmangu. Dia ini adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dia ini ternama karena jadi daerah wisata yang sangat sejuk yang memakan sampai habis waktu tempuh pakai kendaraan darat sekitar satu jam dari Kota Solo. Tempat ini sejak zaman Londo sudah jadi tempat wisata. Obyek utamanya sih Grojogansewu, air terjun tanpa parasut setinggi 65 m. Dari sini kami teruskan ‘pendakian’ ke Cemoro Sewu. Ini adalah areal tertinggi perjalanan kami hari ini. Nah, mulai deh….

Motor kuhentikan dipinggir jalan terjal. Kami balik kanan, dan…. dari sini jalan di bawah sudah keliatan menyenangkan (buat diliat). Jalannya berkelok-kelok dan indah. Subhanallah… jalan aja sudah bagus begini, gimana bagian atasnya ya….

Kami berhenti di sini. Kami hirup nafas dalam-dalam. Bau khas cemara menyelusup masuk ke hidung kami.

Ya Allah…..

Semua terasa damai. Kami duduk-duduk di kawasan cemara, ‘mengheningkan cipta’ di sini. Kami meni’mati ketenangan ini. Melepaskan penat harian kami walau tak lama. Tapi itu cukup buat kami.

Lega….

Kira-kira setengah jam kami ‘bertapa’.

Lalu kami memutar motor dan berbalik turun. Mau pulang. Udah menjelang maghrib.

Terlihat lagi jalan berkelok nan indah didepan kami. Buat motor- rider macem aku, ini jadi sangat menyenangkan. Iseng-iseng aku uji nyali (baca: skill) berkendara sekaligus menikmati segarnya udara. Uji nyali kali ini adalah mematikan mesin motor. Aku mau coba sampai dimana berhentinya motor nanti. Istri makin erat saja. Kadang menjerit lembut di telinga. Ah…. jadi rindu buat ke sini lagi besok-besok. Insya Allah. Belum apa-apa sudah rindu.

dsc02426

Sebentar. Brenti dulu. Ambil gambar. Sudah.

Lalu, perjalanan pulang pun berlanjut. Aku siap di atas sadel motor. Istri pun duduk di belakang. Dia raih pinggangku. Hmmm... Ambil nafas dan rem tangan kulepas. Lalu meluncurlah kami, turun ke arah barat, arah rumah kami tempat anak-anak menunggu ayah umi mereka.

Sambil jalan kuperhatikan suasana sekitar. Ada beberapa kedai di kanan kiri jalan yang menyajikan makanan khas wisata gunung. Ada jagung bakar, juga sate kelinci dan pastinya minuman hangat. Tapi kami gak ingin mampir. Kebahagiaan ini jangan diganggu dengan urusan perut. Lagian kami belum lapar. Juga kalau kami harus mampir, gimana dong uji nyaliku. Motor mesti dinyalain dong nantinya.

Di sebuah kelokan kami sempat di’sapa’ beberapa anak muda. Dari nada suara mereka, aku yakin mereka menyangka kami sedang pacaran layaknya remaja-remaji itu. Hehe…ketahuan kalau kami memang mesra dari sononya.

Menegangkan juga ternyata, tapi sekaligus mengasyikkan. Kadang masih ngerem kalau pas kelokan tajam. Kalau nekat gak pakai rem paling terjun ke dataran di bawahnya dengan kecepatan awal 50 sampai 60 km/j. Tinggal ngitung pake rumus v nol t dan setengah gt kuadrat. Belum bonus nggelindingnya di bawah nanti.

Kadang pijakan kaki motor pun ikut protes gara-gara kami berbelok terlalu kencang. Dia gak mau tertindas karena kami terlalu condong ke samping. Terlalu miring ke kanan atau ke kiri. Ha…dari sebuah pijakan kaki, aku belajar (lagi) sebuah makna keseimbangan.

Ringkas cerita, motor kami bisa berhenti di daerah Harjosari, jarak dari Start tadi kira-kira berapa ya, gak sempat liat odometer (bener gak namanya?). Yang jelas jarak Harjosari ke rumah kira-kira 4 km saja. Sementara jarak rumah ke Tawangmangu ada 27 km. Dari Tawangmangu ke tempat kami bersemedi 10-an km.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Subhanalloh…indah nian.

    Jadi mupeng mo ke Tawangmangu.

  2. Waw…MasyaAllloh…

  3. Baru ngerti sekarang..

  4. luar biasa!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: