Surat Pamit Bunuh Diri

29 November 2008 pukul 06:04 | Ditulis dalam aku gak tanggung | 6 Komentar

Aku menemukan sebuah sobekan, gak…..beberapa lembar. Diantara tumpukan sampah di sebuah kios fotokopi. Aku ambil saja. Si mbak fotokopi senyum agak heran ngeliat aku. Aku cuek aja….

Ada tulisan rapi. Nampaknya sobekan dari sebuah buku. Aku gak tahu dari buku apa. Aku tercekat membaca isinya. Sebuah surat pamitan bunuh diri.

Begini,

Joseph, my dearest….

Ketika kamu menerima surat ini, aku sudah pergi jauh sekali. Aku memang lemah. Tidak bisa menghadapi situasi, dasarpengecut. Maafkan aku Joseph. Aku tahu bahwa kamu orang Nasrani. Dan aku juga tahu bahwa orangtuaku tidak akan pernah merestui hubungan kita. Tetapi, aku su­dah terlanjur mencintai kamu. Aku tidak dapat membayangkan hidup tanpa kamu.

Orangtuaku mendesak agar kamu masuk Islam. Aku pikir tidak adil. Cinta koq pakai syarat.

Aku sempat melawan ayah, kuwalat yah? Tapi aku tidak dapat menahan diri. Aku bilang, baik, kalau tidak jadi dengan Joseph, aku tidak akan nikah dengan siapa pun juga. Ayah marah besar. Kata ayah nikah itu wajib bagi wanita. Demikian menurut agama. Dan ayah memang selalu demikian. Sedikit-sedikit, dia akan mengutip ayat-ayat suci. Kalau begini, begitu. Kalau begitu, begini.

Jo. Sepertinya aku sudah tidak bisa bernapas lagi. Sejak SMP Kelas 1, jiwaku memang sudah mulai memberontak. Tetapi nggak berani bicara. Lalu, aku ketemu dengan kamu. Dan selama dua tahun, aku merasa begitu ‘hidup’. Terasa seperti sedang menghadiri pesta kehidupan.

Tetapi sekarang –the party is over. Berakhir sudah perayaanku, pestaku. Aku harus meninggalkan pesta ini.

Aku mau bunuh diri. Dan aku dalam keadaan sadar banget, Jo. Aku ingin tahu Tuhan itu seperti apa sih. Aku ingin bertemu dengan Dia. Dan aku ingin menanyakan kepada-Nya, ‘Benarkah Ia yang memberikan peraturan-peraturan seperti apa yang sering dikutip oleh ayah?’ Aku ingin mendapatkan jawaban dari Dia –langsung dari Dia. Jawaban-jawaban yang selama ini kudapatkan tidak pernah memuaskan.

Maafkan aku, Jo. Aku mencintai kamu. Tetapi, aku juga harus memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.

Hidup ini apa sih sebenarnya? Kata ayah, manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan. Lalu untuk mengabdi kepada Tuhan, ada kewajiban-kewajiban yang harus kita penuhi. Sepertinya kaki kita dirantai. Tangan kita dibelenggu. Tidak punya kebebasan. Apalagi kalau jadi wanita –seperti diperbudak saja.

Setiap wanita harus kawin. Setiap wanita harus tunduk pada suaminya. Harus melayani suaminya. Selama bertahun-tahun saya melihat ibu saya. Ayah punya ‘simpanan’ dan ibu pun tahu. Tetapi tidak pernah menegur ayah. Saya pernah berontak, ‘Ibu kenapa tidak berani menegur ayah?’ Kata ibu kalau ditegur, takut ayah menjadi lebih nekat lagi. Bagaimana kalau ia mengangkatnya sebagai istri muda? Bagaimana kalau ia menceraikan ibu?

Saya berpikir kembali, pada suatu ketika nanti mungkin sejarah yang sama akan terulang. Nasib yang menimpa diri ibu, menimpa diri saya.

Saya pernah mengajak ibu untuk menemui atasan ayah. Kan ada peraturan pemerintah yang melarang nikah kedua tanpa persetujuan dari istri pertama. Ibu tidak mau. Kata dia, atasan ayah juga punya simpanan.

Jo, aku bingung –sungguh bingung. Terasa sekali bahwa peraturan-peraturan agama dibuat oleh kaum pria demi kepentingan kaum pria juga. Kaum wanita diberi derajat Manusia Kelas Dua. Lalu, dimana letak keadilan Allah? Adilkah Tuhan?

Aku harus bertemu dengan Tuhan, dengan Allah….. aku sudah sholat lima waktu. Aku sudah sembahyang tengah malam. Aku rajin puasa. Semuanya sudah kulakukan, tetapi Ia masih membisu. Atau mungkin aku tidak mendengarkan jawabannya. Aku harus mendatangi Dia –lewat maut………..

Jo, janganlah menyalahkan dirimu. Kamu tidak bersalah. Kebetulan saja, bahwa sekarang ini kegelisahan diriku sudah memuncak. Aku sudah tidak tahan lagi.

Aku juga yakin Jo, kamu tidak akan keberatan masuk Islam. Tetapi, aku sendiri tidak mau. Aku tidak mau kamu masuk Islam. Aku saja masih ragu-ragu, bimbang, belum yakin sepenuhnya.

Aku pernah juga membaca Alkitab, dan dalam Injil pun aku tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Dalam Injil pun, wanita masih tetap Manusia Kelas Dua, penggoda Adam, yang menjatuhkan dia dari ketinggiannya –itulah wanita. Masih banyak hal-hal lain yang tidak dapat kucerna. Misalnya Yesus sebagai satu-satunya penyelamat. Lalu bagaimana dengan mereka yang lahir sebelum Yesus? Apa yang terjadi pada mereka? Lalu, Yesus sebagai pemikul dosa-dosa umat Kristiani –bagaimana dengan mereka yang bukan Kristiani? Ke nerakakah mereka semuanya? Tidak, Jo. Alkitab pun tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Dan karenanya, aku juga tidak mau masuk Kristen.

Aku tidak tahu, akan masuk surga atau neraka –atau menunggu terus sampai hari akhirat nanti. Yang jelas, pasti ada sesuatu di balik kehidupan dan kematian. Mungkin ada malaikat yang menjemput aku, mungkin tidak. Aku tidak tahu. Terus terang –takut juga!

Tetapi, aku harus bertemu dengan-Nya. Mungkin pada suatu ketika nanti –di alam sana, entah mana, kita akan bertemu lagi.

Sampai nanti lagi, Jo, sayangku……

Dewimu!

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hmmmmmmm….ck ck ck👿
    ndak bisa berkata-kata mas…😦

  2. Bukti nyata ISLAM tidak punya PERASAAN menelan korban lagi. Kebebasan beragama di Indonesia adalah NOL BESAR karena KEDIKTATORAN dan KEBIADABAN ISLAM. Semua orang islam bersifat CHAUVINISME, mengagungkan agama sendiri dan merendahkan agama lain, bahkan MEMBENCI, MEMPERKOSA, dan kalo bisa membunuh penganut agama lain.

    Jadi, jika menegakkan SYARIAT ISLAM di Indonesia BERARTI mengakhiri RIWAYAT INDONESIA.
    Orang Islam = Setan Berwujud Manusia.
    Waktu Kiamat, setan akan dilemparkan semuanya ke neraka.

  3. Take easy aja… Itu mbaknya yang nulis surat bunuh diri ini nggak faham faham agamanya sendiri. Kalo faham nggak bakalan ngomong kayak githu deh.
    Celakanya lagi, terus ada yang terprovokatori (kayak yang itu tuh), terus bilang yang nggak-nggak… kayak tukang becak ngomong tentang penyakit kelamin… ya ngawur alias ndukun…
    walah… umat Islam Indonesia iki ora nggenah babar blass. Akeh sing ra paham, tapi nekat nggomong sak karepe udele dewe… toblas…toblass

  4. indonesia orang islamnya banyak, udah gito goblok sama aturan agamanya sendiri, dibilang jangan membunuh.. eh malah membunuh… dibilang jangan ngebom sembarangan, eh malah dipraktekan, padahal semua itu ada tempatnya. jadilah islam indonesia jelek, padahal agamanya mulia, tapi di hinakan oleh pemeluknya yang goblok abis.
    jika orang islam mau menjalankan islam dengan benar = Pembawa kedamaian (rahmat) bagi dunia.
    Hidup Islam…

  5. kayanya anaknya yg nulis ini harus ketemu aku deh tpi gak jamin sembuh jamin tambah stres…hehehehe…
    jawaban itu gakkan pernah cukup kalau kamu selalu menolaknya dalam hati

  6. Kasian perempuan ini, miskin pendidikan agama yaa…coba kalau dia privat ke Kang Habib pasti nggak gini dech jadinya tul nggak ?!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: