Hallo.. Oalah Iya Mister … Agus! … Agus!

22 November 2008 pukul 10:52 | Ditulis dalam ibadah gaul | 3 Komentar

Sore kemarin aku momong Miqdad, anakku di depan rumah. Kutimang-timang bayi 9 bulan yang sudah kelihatan lucunya ini. Pas ketawa gak ada giginya, lucu.

Pas waktu itu diseberang jalan rumahku pada nongkrong remaja-remaja tetangga. Prapatan depan rumah ini kalau sore memang rame orang nongkrong di sana. Tiba-tiba hape salah seorang dari mereka bernyanyi, langsung saja si empunya ngangkat hapenya dan nempelin di kupingnya. “Hallo…mau bicara dengan siapa? Agus?” Sesaat dia mengerenyitkan keningnya. Aku tahu gak ada yang namanya Agus diantara mereka. Lalu dia oper ke teman di sebelahnya. Si temannya langsung saja, “Hallo.. Hallo.. Oalah iya mister… Agus! … Agus!”

Sontak gerombolan di prapatan itu tertawa bersama. Rupanya salah sambung. Eh, malah dibuat mainan pula.

Omong-omong aku juga masih sering dapet telpon salah sambung. Heran ya, sudah pake hape masih salah sambung juga. Gak teliti nih orang-orang.

Dan juga, akhir-akhir ini memang aku sering ngeliat orang suka latah sama jargon iklan di TV, trus mereka pake dalam canda mereka sehari-hari. Awalnya sih lucu rasanya, tapi lama-lama kok sepertinya bahaya juga nih…

Coba lagi, ada orang bener-bener mau nanya temannya sedang apa, “Kamu lagi ngapain?” Eh, malah dicandain pake “Di mana? Sama siapa?”

Atau saat ada orang nanya suatu hal akan djawab temannya begini, “Pengin tahu? ketik reg spasi…”

Wabah…..penyakit masyarakat. Gak ada manfa’at. Sia-sia.

Si pemilik iklan sih seneng-seneng aja bisa bikin kebiasaan baru di masyarakat, meski gak ada jaminan produknya lancar di pasaran. Tapi bagi masyarakat sendiri kadang gak ngerasa kalau kebiasaan ini kadang bisa membahayakan hubungan sosial mereka.

Terlalu banyak bercanda. Gak baik, kan….

Kita memang harus santai nerima kehidupan ini. Dalam arti, gak suka protes dengan keadaan kita. Bersyukur dengan ke’sempurna’an kita, lalu bersabar dengan ke’kurang’an kita. Selalu berhusnudhon kepada Allah. Positive thinking gitu loh…

Tapi bukan lantas kita kebablasan bercandanya. Sampe lupa, perkara serius dibuat candaan. Ada beberapa perkara yang kala iseng iso dadi serius….. macem nikah, cerai, dan ruju’. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sudah kasih warning ama kita,

لا تُكْثِرُوا الكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ؛ فَإنَّ كَثْرَةَ الكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قَسْوَةٌ لِلقَلْبِ ! وإنَّ أبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ القَلْبُ القَاسِي

…janganlah kalian banyak berbicara tanpa ada dzikrullah, karena sesungguhnya banyaknya omongan tanpa ada dzikrullah itu suatu pengerasan bagi hati! Dan sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah itu (yang memiliki) hati yang keras. (HR Tirmidzi)

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

…jangan kalian berbanyak-banyak tertawa, maka sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati. (HR Ibnu Majjah)

Ah, masa` kita disuruh serius terus…..???

Gak sih ya, kita gak harus serius terus. Kadang ada tawanya juga candanya. Tapi gak sering-sering amat bahkan memenuhi hari-hari kita. Dan tawa canda kita gak ngandung unsur kebohongan.

Lalu pelawak yang ndagel di tipi itu gimana?

Ya gak usah nonton lah….

Begini loh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkata begini,

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ الْقَوْمَ ثُمَّ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَهُمْ وَيْلٌ لَهُ وَوَيْلٌ لَهُ

Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah. (HR Ahmad)

Apalagi kalau kita perhatikan kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini saat khutbah didepan para sahabat,

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

…Dihadapkan (ditunjukkan) padaku jannah dan neraka, maka tidaklah aku melihat suatu kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Dan kalaulah kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis…. (HR Muslim)

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dzikir aja ah…lebih berguna dari pada bercanda bisa nyakitin perasaan org lain…kaya pepatah Mulutmu adalah Harimaumu…auuummm

  2. Dasar budaya konsumtif… yang diiklankan mesti ditiru.

  3. klo sekali 2x bercanda mungkin gpp,tp klo keseringan..itu yg ga bagus..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: