Catatan Perjalanan Turis Bernama HIV/AIDS

22 November 2008 pukul 21:06 | Ditulis dalam budaya, jalan-jalan, kehidupan | 2 Komentar

Minggu, 7 September 2008 | 15:47 WIB

MADIUN, MINGGU – Jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Kota dan Kabupaten Madiun Jawa Timur terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Akibatnya, banyak warga masyarakat mulai khawatir dan cenderung mengucilkan penderita yang telah terdeteksi. Penyebaran HIV/AIDS di wilayah Kota dan Kabupaten Madiun berbeda. Di Kota Madiun penyebaran HIV/AIDS didominasi korban narkoba suntik, sedangkan untuk wilayah Kabupaten Madiun didominasi penderita akibat hubungan seksual yang tidak sehat. Direktur Yayasan Bambu Nusantara, salah satu LSM yang bergerak dibidang HIV/AIDS di Madiun, Adreanus M Uran, Minggu (7/9), mengatakan, penderita tersebut ditemukan pada saat melakukan pengecekan kesehatan, baik di RSUP Soedono maupun tempat-tempat pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan seperti Puskesms Bathil Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. “Warga yang melakukan cek kesehatan sangat beragam. Yang jelas masyarakat yang berisiko diharapkan secepatnya melakukan tes kesehatan. Hal tersebut dilakukan, agar penanganannya tidak terlambat dan telah menyebar,” katanya saat dikonfirmasi. Menurut dia, jumlah penderita HIV/AIDS baik di Kota dan Kabupaten Madiun hampir sama. Untuk Kabupaten Madiun jumlah penderita yang terdata tahun ini sebanyak 25 orang. Mayoritas penderita yang telah terdeteksi masih berusia produktif yaitu antara umur 25-35 tahun. Agar penyebaran bisa ditekan, pihaknya terus melakukan kampanye bahaya HIV/AIDS dengan menggandeng Dinas Kesehatan, pelajar dan masyarakat. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Madiun, Widwiono mengemukakan, sejak pertama kali ditemukan tahun 2004, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Madiun mencapai 90 orang, dimana 80 persennya akibat narkoba jenis jarum suntik. “Khusus tahun 2008 hingga bulan Agustus ini, jumlah penderita HIV/AIDS di kota Madiun yang telah ditemukan sebanyak 29 orang, dengan rincian 22 orang terkena HIV dan tujuh orang positif AIDS,” katanya menambahkan. Menurut dia, setelah ditemukan penderita HIV/AIDS langsung mendapatkan pemantauan dan perawatan khusus bagi penderita HIV/AIDS. Untuk pemeriksaan dan perawatan dilakukan di klinik VCT yang saat ini dikelola oleh Dinas Kesehatan dan LSM yang berkecimpung dengan HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS di kota Madiun pada tahun 2008 ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama pada tahun 2007 lalu. Penderita HIV/AIDS yang ditemukan sebanyak 24 kasus, sedangkan total selama tahun 2007 sebanyak 42 orang. “Dari 42 kasus yang ditemukan pada tahun 2007 lalu, 29 orang terkena HIV dan 13 orang positif terkena AIDS. Sedangkan 13 penderita diantaranya telah meninggal dunia,” katanya mengungkapkan. Data di RSUP Soedono dalam dua pekan terakhir, pasien meninggal dunia yang diduga akibat terkena HIV/AIDS sebanyak empat orang yaitu CH warga Surabaya dan HS (25) warga Madiun yang meninggal bulan September 2008 dan SR (47) warga Magetan dan RD (25) warga Madiun meninggal akhir bulan Agustus 2008.

Selasa, 9 September 2008 | 17:53 WIB

BEKASI, SELASA – Dalam kurun waktu 2004-2007, jumlah pengidap HIV di Kota Bekasi mencapai 558 orang dan 25 di antaranya adalah Pegawai Negeri Sipil Kota Bekasi. Penderita AIDS di Kota Bekasi, dalam kurun waktu yang sama berjumlah 441 orang. “Jumlah pengidap HIV di Kota Bekasi mencapai 558 orang termasuk 25 PNS. Sedangkan penderita AIDS 441 orang,” ungkap Direktur Program Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra Sehati, Novan Andri Purwansjah di Bekasi, Selasa (9/9). Ia menyebutkan, data tersebut terungkap ketika petugas Dinas Kesehatan Kota Bekasi memaparkan hasil survei jumlah penderita HIV di Kota Bekasi pada 1 Desember 2007, bertepatan dengan Hari AIDS se-dunia. Bila Pemkot dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi tidak serius mengantisipasi penyebaran virus HIV/AIDS, maka bagaikan gunung es yang tinggal menunggu cair, katanya. Di Kota Bekasi baru dua tempat untuk pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) yakni Puskesmas Jatisampurna dan Bantargebang, sedangkan untuk pemeriksaan dan pengambilan obat Voluntary Clinic Test (VCT) hanya empat klinik. Keempat VCT itu terdapat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, RS Ananda, klinik VCT Pondokgede dan Klinik VCT LSM Mitra Sehati. Sementara itu, DDN (35), PNS di jajaran Pemkot Bekasi mengaku mengidap virus HIV pada 2006 akibat penyalahgunaan narkoba menggunakan jarum suntik bergantian dan sesuai hasil pemeriksaan kesehatan di RSUD Bekasi. Ia mengkonsumsi narkoba jenis shabu menggunakan jarum suntik mulai tahun 1996 hingga 2002, dan hasil pemeriksaan kesehatan pada 27 Juli 2006 menyebutkan positif mengidap HIV. Penderita HIV, diharuskan mengkonsumsi obat Neviral dan Duviral yang harganya cukup mahal masing-masing satu tablet setiap 12 jam sekali. “Kalau lupa minum obat itu pengaruhnya pasti ada,” ujarnya. “Saya mengharapkan semua pihak tidak mengucilkan penderita HIV agar tidak menambah beban penderitaan,” katanya. Di tempat terpisah, anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS), Sutriyono menyatakan prihatin ada puluhan PNS pemda setempat terkena virus HIV. “Itu suatu indikasi bahwa pembinaan pegawai di jajaran Pemkot Bekasi terutama siraman rohani dan bahaya penyalahgunaan narkoba belum maksimal,” ujarnya seraya menambahkan, sudah saatnya seluruh PNS Pemkot Bekasi melakukan tes urine dan darah. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kota Bekasi, dr Retni Yomti mengakui terdapat 25 PNS mengidap virus HIV, tetapi tidak disebutkan PNS Kota Bekasi. “Puluhan orang yang terserang HIV itu memang PNS, tapi saya tidak menyebutkan PNS itu bekerja di Pemkot Bekasi. Mungkin mereka bekerja di Jakarta atau Bandung, tapi memang 25 PNS itu tinggal di Kota Bekasi,” ujar dr Retni.

Jumat, 19 September 2008 | 18:38 WIB

TEMANGGUNG, JUMAT- Tiga balita asal Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. Seorang di antaranya bahkan sudah meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dirawat oleh keluarganya masing-masing di rumah. “Ketiga balita itu tertular HIV/AIDS dari ibu kandungnya masing-masing,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Edy Rakhmatto, Jumat (19/9). Sejak tahun 1997 hingga sekarang, penderita HIV/AIDS usia balita baru ditemukan pada tahun ini. Tiga balita penderita HIV/AIDS tersebut ditemukan oleh Dinas Kesehatan Temanggung pada bulan Mei dan Juli 2008. Seorang penderita yang sudah meninggal dunia berusia dua tahun tiga bulan, sedangkan dua penderita lainnya berusia 11 bulan dan dua tahun. Edy mengatakan, balita yang berusia dua tahun itu sebelumnya sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, tetapi kini dirawat di rumah. Namun, seorang penderita yang masih berusia 11 bulan, hingga saat ini belum mendapatkan perawatan khusus. “Sekarang ini, kami masih terus berupaya agar pihak keluarga mengizinkan agar balita penderita te rsebut menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum dr Kariadi di Semarang,” paparnya. Selama periode Januari hingga September 2008, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung terdata 24 orang. Dengan kondisi ini, Kabupaten Temanggung menjadi daerah dengan jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak nomor empat se-Jawa Tengah. “Dari angka itu, 62,5 persen di antaranya berasal dari Kecamatan Parakan,” terangnya. Jika dihitung kumulatif sejak tahun 1997 hingga September 2008, jumlah penderita HIV/AIDS terdata 65 orang. Dari jumlah itu 29 penderita meninggal dunia, dan 14 orang diantaranya ditemukan meninggal dunia pada tahun 2008. Sebagian besar penularan HIV/AIDS, sekitar 48 persen, disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik. Penyebab lainnya hubungan heteroseksual dan homoseksual. Saat ini, Edy mengatakan, pihaknya juga merencakan upaya penanggulangan HIV/AIDS dengan melibatkan penderita, yaitu dengan membentuk kelompok dukungan sebaya atau semacam paguyuban orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dengan membentuk kelompok ini, masing-masing penderita makin termotivasi untuk berobat dan menjalani perawatan dengan baik, paparnya.

Senin, 29 September 2008 | 16:47 WIB

MATARAM, SENIN – Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Nusa Tenggara Barat mengindikasikan tujuh pegawai negeri sipil (PNS) di wilayah itu mengidap virus HIV. “Bahkan seorang PNS berindikasi telah mengidap AIDS,” kata Kabag Humas Setda NTB, Ibnu Salim, yang didampingi Kabag Kesejahteraan Sosial Biro Kessos Setda NTB, Rohmi Khoiriyati, di Mataram, Minggu. Ia mengatakan, kasus HIV/AIDS di wilayah NTB dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dan jumlahnya telah mencapai 201 kasus pada Agustus 2008. Menurut KPAD NTB, pengidap HIV tahun 2006 sebanyak 15 orang dan AIDS sebanyak 36 orang, meningkat menjadi 21 orang pengidap HIV dan 57 orang AIDS pada 2007. Tahun 2008, pengidap HIV tercatat sebanyak 15 orang dan pengidap AIDS bertambah menjadi 72 orang, termasuk enam orang yang semula hanya berindikasi mengidap HIV. Kini pengidap HIV telah mencapai 129 orang dan AIDS 72 orang sehingga total pengidap HIV/AIDS di Provinsi NTB tahun 2008 sebanyak 201 orang. Dari 72 orang pengidap AIDS itu, sebanyak 42 orang diantaranya sudah meninggal dunia, sisanya 30 orang sedang sekarat. Pengidap HIV/AIDS di wilayah NTB terbanyak berusia 25-29 tahun yakni sebanyak 65 orang, usia 30-34 tahun sebanyak 47 orang dan usia 20-24 tahun sebanyak 44 orang. Pengidap HIV/AIDS yang berusia 40 tahun ke atas tercatat sebanyak 17 orang. Sementara pengidap HIV/AIDS yang belum berusia satu tahun hingga 19 tahun sebanyak 12 orang, enam orang diantaranya merupakan balita. Para pengidap HIV/AIDS itu terbanyak berdomisili di Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB, yakni sebanyak 98 orang, kemudian Kabupaten Lombok Timur 35 orang, Sumbawa Barat 22 orang, Lombok Barat 21 orang, Lombok Tengah 16 orang, Sumbawa empat orang, Dompu tiga orang, Kabupaten Bima dan Kota Bima masing-masing satu orang. Pengidap HIV/AIDS berdasarkan profesi, didominasi oleh pekerja swasta yakni sebanyak 70 orang dan yang belum bekerja (pengangguran) sebanyak 41 orang. Ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS sebanyak 23 orang, PNS delapan orang, wanita pekerja seks 18 orang, TKI/TKW delapan orang, narapidana enam orang, pelajar/mahasiswa delapan orang, petani enam orang, anggota TNI/Polri tiga orang dan pengemudi dua orang. Sedangkan pengidap HIV/AIDS berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebanyak 142 orang (71 persen) dan perempuan sebanyak 59 orang (29 persen). “Dari data yang ada, disimpulkan bahwa kasus HIV/AIDS di NTB sudah sangat mencemaskan sehingga perlu disikapi semua pihak,” ujar Salim.

Rabu, 8 Oktober 2008 | 15:41 WIB

MATARAM,RABU- Kasus HIV dan AIDS kini sudah merambah pada sembilan Kabupaten-Kota di Nusa Tenggara Barat, menyusul ditemukannya kasus itu di Bima dan Dompu (Pulau Sumbawa) yang selama ini nasyarakatnya masih dinilai bebas dari penyakit yang mematikan itu. “Berdasarkan pantauan kami pada klinik VCT (Voluntary Counceling and Test, seluruh kabupaten-kota di NTB terjadi kasus HIV dan AIDS, ” kata Drs H Arsyad Abdul Gani, Wakil Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB, Rabu (8/10) di Mataram. Kasus HIV dan AIDS dikatakan cenderung meningkat. Misalnya pada 31 Agustus 2008 tercatat 129 kasus HIV dan 73 kasus AIDS, namun dalam bulan September lalu pengidap HIV mencapai 131 kasus dan 76 kasus AIDS, yang 40 orang di antaranya meninggal. Dari data teknis itu terungkap, kasus-kasus itu merambah sampai ibu rumah tangga hingga tukang ojek sepeda motor bahkan petani. Itu diketahui dari hasil konseling di klinik VCT di Rumah Sakit Jiwa Mataram terhadap beberapa orang yang berasal dari kabupaten yang karena alasan tertentu, seperti Lombok Timur, Dompu dan Bima, diperkirakan penduduknya aman dari kasus HIV dan AIDS. Hasil konseling Juni 2007 membuktikan, tujuh orang dari Lombok Timur mengidap HIV positif, satu orang dari Kabupaten Dompu dan dua orang dari Kabupaten Bima. Pengidap HIV positif di Lombok Timur itu diketahui terinfeksi dari jarum suntik. Dengan temuan itu, KPA NTB mendorong lahirnya klinik VCT baru di Pulau Sumbawa, guna memperkuat klinik sejenis yang ada di Pulau Lombok seperti Rumah Sakit Umum Daerah /RSUD Mataram, RSJ Mataram, Puskesmas Karang Taliwang Mataram, RSUD Praya, Lombok Tengah. Klinik ini melayani konseling dari masyarakat di sembilan kabupaten-kota di NTB. Tersedianya klinik pelayanan gratis di tiap ibu kota kabupaten-kota, bisa ditemukan kasus sebanyak mungkin, sehingga upaya pencegahan sekaligus memotong mata rantai penularan HIV dan AIDS dilakukan lebih dini. Dari data kumulatif hingga September 2008 itu, pengidap HIV tertinggi di Kota Mataram (60 kasus). Lombok Timur (25), Sumbawa Barat (18), Lombok Barat (12), Lombok Tengah (12). Kemudian kasus AIDS tertinggi di Kota Mataram (41), Lombok Barat (10), Lombok Tengah (6), Lombok Timur (10), Kabupaten Sumbawa (4) Kabupaten Sumbawa Barat (2), kemudian Kabupaten Dompu, Bima dan Kota Bima (masing-masing satu kasus).

Jumat, 17 Oktober 2008 | 10:47 WIB

TIMIKA, JUMAT – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mimika, Papua, tampaknya terus meningkat sekalipun upaya pencegahan kian gencar dilakukan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Mimika, Jumat (17/10), hingga 30 September 2008 tercatat jumlah penderita telah mencapai 1.745 orang dengan rincian HIV sebanyak 1.398 orang dan AIDS 347 orang. Selama periode Januari-September 2008 ditemukan 267 kasus HIV/AIDS baru, terdiri atas infeksi HIV 135 kasus dan AIDS 132 kasus. Temuan kasus baru terbanyak terjadi pada periode April-Juni 2008, yakni 118 kasus. Sekretaris KPAD Mimika Reinold Ubra mengatakan, meningkatnya temuan kasus HIV/AIDS baru di Mimika karena makin tingginya animo masyarakat untuk memeriksakan diri ke klinik voluntary conceling and testing (VCT) yang tersedia. Saat ini terdapat lima klinik VCT di Mimika yang khusus melayani pemeriksaan sampel darah secara gratis. Sejak tahun 2005 hingga 2008 jumlah kunjungan warga ke sejumlah klinik VCT di Mimika mencapai 7.500 orang dan jumlah orang dengan HIV/AIDS yang telah mengonsumsi obat anti-retro virus untuk menekan laju pertumbuhan virus HIV sebanyak 100 orang. “Tahun ini kami akan mengoperasikan satu klinik VCT baru di Puskesmas Timika Jaya-SP2 untuk memperkuat klinik VCT yang sudah ada di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika, Rumah Sakit Tembagapura, Balai Kesehatan Terpadu Ibu dan Anak, Puskesmas Timika, serta Puskesmas Kwamki Lama,” kata Reinold. Dilihat dari jenis pekerjaan, kelompok pekerja tidak tetap menempati peringkat tertinggi sebagai penderita HIV/AIDS dengan jumlah 444 orang, disusul ibu rumah tangga 422, petani 293, karyawan swasta 219, dan pekerja seks komersial 190 kasus. Sementara itu, berdasarkan kategori suku, warga lokal yang meliputi tujuh suku, yaitu Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Mee, Moni, dan Nduga, menempati peringkat tertinggi dengan jumlah 1.217 kasus, disusul pendatang dari luar Papua 306 kasus dan warga Papua lainnya 92 kasus. Untuk menekan laju pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Mimika, kegiatan yang dilakukan KPAD setempat meliputi sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat di tingkat distrik, PNS, pelajar, kalangan umum, serta kelompok beresiko tinggi, seperti lokalisasi PSK, pramuria bar, dan tukang pijat. “Kami juga melatih 70 remaja sebaya yang nantinya diharapkan dapat menjadi pionir dalam penyebaran informasi HIV/AIDS hingga ke masyarakat akar rumput. Para remaja ini juga diharapkan dapat menjadi agen penghubung untuk membawa klien ke layanan VCT,” kata Reinold.

Minggu, 19 Oktober 2008 | 10:40 WIB

MALANG, MINGGU – Penderita HIV/AIDS di Kota Malang, Jatim, dalam 11 tahun terakhir meningkat dari sekitar 588 orang pada akhir 2007 menjadi 770 orang pada Juni 2008. “Sebagian besar masih berusia produktif antara 15 dan 35 tahun, yakni 599 orang penderita,” kata Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Sutiarsi di Malang, Minggu (19/10). Ia mengatakan, jumlah penderita sebanyak itu terdeteksi selama kurun waktu 11 tahun terakhir (1997-2008), baik yang terdeteksi melalui pendonor darah, survei, maupun dari klinik Voluntary Councelling and Testing for AIDS yang ada di Kota Malang. Selama 10 tahun terakhir, ditemukan adanya pendonor darah di Kota Malang yang terinfeksi virus HIV/AIDS sebanyak 588 orang lebih, hasil survei sekitar 91 orang dan VCT serta selebihnya dari Rumah Sakit dan terdeteksi melalui berbagai tes yang dilakukan para relawan. Setiap bulan rata-rata ada penderita yang dinyatakan positif HIV/AIDS sekitar 10 orang dan para penderita sebagian besar juga berdomisili di Kota Malang. “Jika dikelompokkan dari resiko penderita, resiko pengguna narkoba mencapai 545 orang, pekerja seks komersial (PSK) sebanyak 58 orang, waria sembilan orang, napi kasus narkoba 48 orang, prenatal (kelahiran) 18, pelanggan PSK 34 orang, ibu rumah tangga mencapai 54 orang, dan gay empat orang,” katanya. Persentase penderita kalau dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, perempuan mencapai 196 orang dan laki-laki sebanyak 574 orang. “Dalam konteks memerangi HIV/AIDS, kita tidak lagi berbicara soal penderita dan dokter atau tenaga volunter semata, tetapi harus menyeluruh dan melibatkan masyarakat secara luas, termasuk perhatian dan pencegahan yang dilakukan, khususnya terkait narkoba,” katanya. Belum lama ini pihaknya bersama berbagai komponen masyarakat dan instansi terkait sudah mematangkan program penukaran jarum suntik bagi pengguna narkoba suntik ke beberapa Puskesmas, tetapi sampai sekarang belum bisa terealisasi karena banyak hal menjadi kendala. “Dari aspek hukum belum ada aturan yang mengatur pembelian jarum suntik secara bebas dan belum adanya rekomendasi kuat bagi penderita HIV/AIDS untuk menukarkan jarum suntiknya ke puskesmas,” katanya.

Senin, 27 Oktober 2008 | 14:49 WIB

DENPASAR, SENIN- Tingkat penularan HIV/AIDS di Pulau Dewata terus bertambah, dari tahun ke tahun. Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali mencatat jumlah temuan kasus HIV/AIDS hingga Sepetember 2008 sebanyak 2.323 orang. Angka ini naik 90 persen dari data Oktober 2006 sejumlah 1.220 orang. Tingginya angka kasus di Bali ini didorong merambahnya penularan HIV/AIDS ke pedesaan. Pergeseran ini menunjukan persebaran yang mulai merata ke berbagai daerah, dan tidak hanya berada di perkotaan seperti Denpasar dan Badung. Selain itu, penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan masih rendah, sekitar 20 persen dari sedikitnya 800 pria dewasa yang rutin berhubungan dengan wanita pekerja seks. “Sekarang ini mulai marak praktik prostitusi ke desa-desa karena menghindari kejaran petugas. Karenanya, kami pun memperluas sosialisasi dan penanggulangannya ke pelosok-pelosok,” kata Ketua Pengelola Program KPA Bali Yahya Anshori, Senin (27/10). Ia mengatakan, perluasan program penanggulangan HIV/AIDS mulai tahun ini merangkul tokoh-tokoh di pedesaan yang disebut kader-kader desa. Menurut Yahya, para kader ini dinilai lebih mengerti karakter warga desanya karenanya diberi kebebasan menggunakan metode pendekatan dan sosialisasinya. Saat ini sekitar 80 desa pakraman dari ratusan desa telah memiliki kader-kader HIV/AIDS yang telah ditraning KPA Bali. Yahya menilai sepak terjang kader-kader ini cukup efektif dan beberapa berhasil membuka wawasan masyarakat, sehingga mereka lebih terbuka menerima atau mengakui mengidap penyakit mematikan tersebut. Lebih lanjut Yahya mengungkapkan, meskipun kasus HIV/AIDS terus bertambah setiap tahun, perilaku masyarakat mulai berubah. Perubahan itu antara lain, lanjutnya, keterbukaan keluarga ketika ada anggotanya yang mengidap dan bersedia berobat. Soal ketersediaan obat antiretroviral (ARV), Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah sebagai sentral penyedia obat tersebut mengaku persediaannya cukup. Hingga saat ini, sedikitnya 400 orang masih rutin mengkonsumsi ARV. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya sekitar 700 orang karena sebagian tidak melanjutkan lagi atau meninggal dunia. Hingga saat ini, kami masih mudah mendapatkan ARV dan jumlahnya cukup sesuai dengan permintaan, kata I Nyoman Suwarca Yasa, Staf P2M Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Senin, 3 November 2008 | 18:26 WIB

JAKARTA, SENIN – Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat, Hakim Siregar mengatakan temuan kasus orang terinfeksi HIV dan terjangkit AIDS termasuk paling tinggi se-DKI Jakarta. Namun, demi alasan keamanan pasien, jumlah totalnya tidak dipublikasikan. Hakim menambahkan, dari hasil penelitian banyak pihak, termasuk departemen kesehatan, penularan paling tinggi tetap dari jarum suntik. Gonta-ganti pasangan dan seks bebas juga penyebab cepatnya penularan. “Selain itu, di Jakarta Pusat, kami juga mewaspadai banyaknya warga negara asing. Dari beberapa kasus yang terungkap, mereka terlibat dalam perdagangan narkoba dan pengguna potensial pekerja seks komersial,” kata Hakim Siregar, Senin (3/11). Sesuai program dari departemen kesehatan, di setiap rumah sakit besar di Jakarta Pusat telah tersedia fasilitas pemeriksaan untuk menentukan seseorang terinveksi HIV/AIDS atau tidak. Fasilitas konseling dan pendampingan bagi warga terinveksi maupun yang rawan tertular sudah ada di setiap kecamatan, hasil kerjasama dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat.

Selasa, 4 November 2008 | 21:08 WIB

BALIKPAPAN, SELASA – Jumlah penderita HIV/AIDS di Balikpapan, Kalimantan Timur tahun ini bertambah 20 orang menjadi 230 orang, dari 2007 yang mencapai 210 orang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan Dyah Muryani di Balikpapan, Senin, mengatakan penambahan tersebut diketahui melalui hasil pemeriksaan di klinik “Voluntary Counselling and Testing” (VCT) yang berada di setiap kecamatan. “Sebagian besar penderita HIV/AIDS diakibatkan penggunaan jarum suntik yang bergantian oleh pengguna narkoba,” katanya. Menurut dia, jumlah tersebut masih mungkin bertambah mengingat animo masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya di VCT masih rendah karena malu, padahal hasil pemeriksaan dijamin kerahasiaannya oleh petugas. Selain itu, jumlah penderita HIV/AIDS mungkin jauh lebih banyak karena masyarakat yang datang memeriksakan kesehatan di VCT masih sedikit, padahal tidak dipungut biaya. “Ini yang ditakutkan, ada warga yang sudah terinfeksi tapi belum diketahui, ibarat fenomena gunung es,” katanya. Untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS di Balikpapan, Dinkes terus melakukan sosialisasi di sekolah dan memeriksa kesehatan para wanita pekerja seks komersial setiap akhir pekan di Puskesmas. Dinkes juga meminta penderita untuk mengkomsumsi obat untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan terus memeriksakan diri di rumah sakit.

Selasa, 4 November 2008 | 21:37 WIB

DENPASAR, SELASA – Walaupun penduduk Provinsi Bali hanya sekitar 3,2 juta jiwa, namun jumlah penderita HIV/AIDS yang terdata hingga akhir September 2008 mencapai 2.323 kasus, menempati posisi kelima terbanyak secara nasional. Jumlah penderita HIV/AIDS di daerah tujuan wisata internasional ini menempati urutan kelima setelah Jakarta, Jawa Barat, Papua dan Jawa Timur. Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar, Senin mengatakan, penderita hilangnya kekebalan daya tubuh itu terdiri 1.248 kasus HIV dan 1.075 orang positif AIDS. Berdasarkan catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Propinsi Bali, penyakit hilangnya kekebalan daya tubuh itu telah merenggut 185 korban jiwa. Gubernur Pastika menambahkan, kota Denpasar menempati urutan teratas dengan 1.117 penderita, disusul Buleleng 443 kasus dan Badung 434 orang. Penderita HIV/AIDS sisanya tersebar di enam kabupaten lainnya dalam jumlah bervarisi, sehingga penyakit ini telah menyebar di seluruh daerah Pulau Dewata. Penderita hilangnya kekebalan daya tubuh tersebut 59,75 persen akibat melakukan hubungan seks berisiko, yakni berganti-ganti pasangan lawan jenis. Kemudian akibat penggunaan jarum suntik di kalangan pemakai narkoba 29,19 persen, hubungan seks sesama jenis 5,9 persen, prenatal atau bawaan sejak lahir 1,46 persen dan tidak diketahui 3,75 persen. Jumlah penderita HIV/AIDS di Bali dinilai mengalami peningkatan cukup mencemaskan, karena pada Mei 2008 tercatat 2.112 kasus, sampai September 2008 bertambah 211 orang hingga berjumlah 2.323 orang. Yahya Anshori dari KPA Bali menjelaskan, munculnya HIV/AIDS di daerahnya diketahui tahun 1987, merenggut nyawa warga negara Belanda yang sedang menikmati liburan di Pulau Dewata dan merupakan kasus pertama di Indonesia. “Tahun 1987 atau 21 tahun silam hanya ditemukan tiga kasus, tahun berikutnya meningkat menjadi tujuh kasus. Tahun 1990 dan 1991 masing-masing ditemukan sembilan penderita HIV/AIDS,” ucapnya. Temuan kasus HIV/AIDS tersebut setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Bahkan tahun 2000 mencapai di atas 100 kasus, atau meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu dua tahun, yakni terdata 306 penderita tahun 2002. Dalam kurun waktu enam tahun, 2002-2008, terjadi peningkatan signifikan mencapai 2.323 kasus, terdiri AIDS 1.075 kasus dan HIV mencapai 1.248 orang. Yang lebih memprihatinkan penderita HIV/AIDS tersebut sebagian besar usia produktif, yakni 20-29 tahun tercatat 1.076 orang, 30-39 tahun 707 kasus, 40-49 tahun 191 penderita, 50-59 tahun 49 kasus dan di atas 60 tahun delapan orang. Selain itu juga tercatat penderita usia kurang dari satu tahun enam kasus, usia satu-empat tahun 21 kasus dan 15-19 tahun empat orang. Di Bali juga tercatat orang dengan HIV/AIDS (Odha) 4.041 orang, yang dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan cukup berarti. Hal itu perlu mendapat perhatian dan penanganan semua pihak, khususnya kesadaran dari setiap orang untuk menghindari perbuatan yang berisiko tinggi tertular penyakit yang sangat membahayakan itu.

Sabtu, 8 November 2008 | 13:52 WIB

BATANG, SABTU – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, selama 2000-2008 mencatat ada 37 pekerja seks komersial menderita penyakit HIV/AIDS, dan sembilan orang di antaranya meninggal dunia. “Semula jumlah penderita HIV/AIDS ada 36 orang tetapi setelah dilakukan screening lagi bertambah satu orang lagi yang dinyatakan positif HIV. Namun kami tidak bisa menjelaskan identitasnya,” kata anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Batang, Fajar Sajidin di Batang, Sabtu (8/11). Menurut Fajar Sajidin , jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Batang terus bertambah dan sesuai hasil penelitian Klinik PMS Visite Puskesmas Banyuputih, Kabupaten Batang diketahui ada seorang PSK lagi yang dinyatakan positif terinfeksi virus mematikan itu. “Sayangnya, sebagian besar pelacur penderita AIDS masih aktif menjual diri di kompleks pelacuran sehingga akan menular pada orang lainnya,” ujarnya. Ia mengatakan, secara rutin klinik infeksi menular seksual (IMS) melakukan pemeriksaan di beberapa lokalisasi guna melakukan pemeriksaan terhadap para pelacur. “Memang, penyebaran AIDS di Kabupaten Batang sangat memprihatinkan. Apalagi, para pekerja seks yang terinfeksi HIV itu banyak yang masih menjajakan diri sedangkan pria ‘hidung belang’ tidak bisa membedakan pelacur yang sehat dan terkena AIDS ,” katanya. Sementara itu, Manajer Klinik IMS dan Vountary Conceling and Testing Banyuputih, Kabupaten Batang, dr. Ratna Westri mengatakan, penyakit HIV/AIDS merupakan fenomena “gunung es” yang semakin hari semakin membesar. “Kami memprediksi banyak orang yang terjangkit penyakit HIV/AIDS ini. Namun mereka tidak melapor atau terdaftar,” katanya.

Rabu, 12 November 2008 | 17:40 WIB

JAYAPURA, RABU – Penduduk Provinsi Papua dan Papua Barat yang terinfeksi virus HIV/AIDS saat ini diperkirakan mencapai 5.000 orang dan kondisi tersebut sudah sangat memprihatinkan. “Padahal virus penyakit mematikan itu pertama kali ditemukan tahun 1992 di Kabupaten Merauke,Provinsi Papua, pada enam orang penderita saja,” kata Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Papua, drh Costan Karma, dalam jumpa persnya di Jayapura, Senin. Ia mengatakan, dalam kurun waktu 16 tahun, penyakit HIV/AIDS itu berkembang cepat dan telah menginfeksi kurang lebih 5.000 orang. Dia mengatakan, pihaknya sudah berupaya untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS itu, tetapi penyakit tersebut cenderung lebih cepat berkembang dibandingkan upaya penanggulangannya. Karma mengatakan, berbagai upaya untuk menanggulangi HIV/AIDS itu sudah dilakukan pihaknya, pemerintah daerah dan lembaga-lembaga dunia lainnya di Provinsi Papua dan Papua Barat, seperti penyuluhan dan kampanye, namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Menurutnya, untuk menekan tingginya kasus HIV/AIDS di kedua provinsi ini hanya ada satu cara, yaitu tidak boleh melakukan hubungan seks bebas di luar pernikahan. “Kesadaran ini yang perlu ditanamkan kepada semua orang guna menekan laju penyebaran virus HIV/AIDS yang kondisinya sudah pada tingkat membahayakan ini,” katanya. Dalam rangka mencari pola baru guna menekan penularan penyakit mematikan itu, tambah mantan Wagub Papua itu, pihaknya pada 19- 21 November 2008 akan menggelar pertemuan pemangku kepentingan untuk percepatan pencegahan HIV/AIDS di Papua dan Papua Barat. Pertemuan tersebut akan dilakukan di Jayapura dan diharapkan diikuti para tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, LSM, termasuk para bupati di kedua provinsi itu.

Rabu, 12 November 2008 | 18:06 WIB

MANADO, RABU – Kota Manado merupakan wilayah yang rentan penyebaran penyakit HIV/AIDS sehingga perlu dipikirkan solusi antisipasinya agar tidak berdampak buruk bagi kepentingan masyarakat umum. Sesuai data terakhir penderita HIV/AIDS di Manado hingga September 2008 sebanyak 164 orang, dan kemungkinan bertambah karena banyak juga masyarakat yang menyembunyikan penyakit itu, kata petugas Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Sulut, Jones Oroh, di Manado, Rabu. Penderita penyakit berbahaya itu berpotensi menjangkiti sejumlah orang lain, sehingga perlu ada langkah sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menghindari penyakit itu, seperti mencegah seks bebas dan penggunaan suntik narkoba. Sesuai data profesi penderita HIV/AIDS, yakni pekerja swasta merupakan kelompok masyarakat yang terbesar penderita penyakit HIV/AIDS di Kota Manado, karena ada sebanyak 37 dari total 164 orang mengidap penyakit itu. Kemudian ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 25 orang, pekerja seks komersil (PSK) 23 orang, mahasiswa 18 orang, sopir lima orang, pelaut empat orang, dan pekerja hiburan tiga orang. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dua orang serta buruh, ojek, tukang, TNI masing-masing satu orang, serta lainnya yang tidak teridentifikasi profesinya sebanyak 43 orang. “Kasus penyebaran penyakit HIV/AIDS seperti bola salju yang terus menggeliding membesar, sehingga sulit untuk diantisipasi secara instan,” katanya. KPAD mengharapkan penderita penyakit HIV/AIDS di Manado, memanfaatkan Volunter Clinic Test (VCT) yang tersedia di sejumlah rumah sakit di daerah itu, untuk mengecek dan mengobati secara rutin penyakit yang diderita itu. Beberapa VCT yang ada di Manado, yakni Rumah Sakit Umum (RSU) Prof Dr Kandouw, RSU Daerah Prof Ratumbuysang, RSU TNI Teling serta RSU Pancaran Kasih.

Kamis, 13 November 2008 | 20:29 WIB

BOGOR, KAMIS – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bogor selama enam tahun terakhir tercatat sebanyak 830 orang, 45 orang diantaranya telah meninggal dunia. Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bogor, dr Triwanda Elan MKes mengatakan, dari jumlah tersebut, sekitar 100 kasus terjadi pada 2008. “HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Jumlah penderita tersebut adalah yang terdata. Kemungkinan masih banyak lagi yang belum terdata, karena penderitanya tidak membuka diri,” kata Triwanda Elan, di Bogor, Rabu. Dari 830 orang penderita HIV/AIDS itu, sekitar 450 orang positif HIV serta 280 orang positif AIDS, 45 orang diantaranya telah meninggal dunia. Sebagian besar penderita HIV/AIDS adalah usia produktif yakni 17 tahun hingga 35 tahun. Sedangkan penyebabnya, sekitar 70 persen disebabkan jarum suntik oleh pengguna narkoba serta 30 persen disebabkan oleh hubungan seks bebas. “Sedangkan penyebab lainnya, seperti tranfusi darah dan bayi yang dilahirkan oleh penderita HIV/AIDS prosentasenya sangat kecil,” katanya. Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bogor, menurut dia, ditangani secara terpadu oleh Komite Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD), yang diketuai oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor. “KPAD beranggotakan para pejabat Dinas Kesehatan, dokter dan paramedis rumah sakit, maupun aktivis penanggulangan HIV/AIDS,” katanya. Dikatakannya, ada beragam bentuk penanggulangan HIV/AIDS, baik preventif maupun kuratif, mulai dari penyuluhan HIV/AIDS pada masyarakat umum dan kelompok masyarakat berisiko tinggi terkena HIV/AIDS, pengobatan bagi penderita HIV/AIDS, sampai rehabilitasi. Sementara itu, Kepala Bidang Perawatan Rumah Sakit Marzuki Mahdi (RSMM) Bogor, Drs Supriyanto MKes secara terpisah mengatakan, penyakit HIV/AIDS terkait dengan penyalahgunaan narkoba karena, sekitar 70 persen penderita HIV/AIDS tertular melalui jarum suntik pengguna narkoba. “RSMM merupakan salah satu rumah sakit rujukan bagi penderita HIV/AIDS di Bogor,” katanya.

Kamis, 13 November 2008 | 20:37 WIB

YOGYAKARTA, KAMIS – Penyebaran human immunodeficiency virus/acqu ired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di DI Yogyakarta harus diwaspadai. Total penderita HIV/AIDS di DIY sudah mencapai sekitar 600 orang. Estimasi HIV positif sebanyak 3.320 jiwa. Adapun total populasi berisiko mencapai 61.350 jiwa. Angka itu bukan untuk menakut-nakuti. Di atas kertas memang tinggi karena kita b erpikir ada penderita yang belum ketemu, ungkap Yanri Wijayanti Subronto anggota Tim medis HIV/AIDS RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang juga anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIY, Kamis (13/11) di Yogyakarta. Yanri mengatakan, sejak Januari hingga September di RSUP Dr Sardjito tercatat ada sedikitnya 60 pasien b aru pengidap HIV/AIDS. setiap bulan ada 100 orang melakukan terapi obat ARV (antiretroviral). Jumlah penderita tertinggi di DIY, ungkap Yanri didominasi usia produktif 20-29 tahun, di susul 30-39 tahun. Data menunjukkan jumlah pengidap HIV/AIDS terus meningkat, katanya. Menurut Yanri, pemahaman atas HIV/AIDS dinilai pe rlu diluruskan. Selama ini ada anggapan penderita HIV/AIDS tidak bisa diobati, padahal bisa diobati meski tidak bisa disembuhkan. Yanri mengatakan, HIV adalah penyakit kronis bukan penyakit fatal. Dia seperti diabetes. Penderita HIV/AIDS harus minum obat ARV (antiretroviral) seumur hidupnya. Obat ini kerjanya menekan jumlah virus, katanya.

Kamis, 13 November 2008 | 21:04 WIB

BIAK, KAMIS – Sebanyak 412 warga masyarakat di Kabupaten Biak Numfor,Provinsi Papua, hingga triwulan III 2008 positif mengidap penyakit menular HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan Biak yang diperoleh ANTARA, di Biak, Kamis, menyebutkan, pengidap HIV tercatat 54 kasus sedangkan AIDS berjumlah 358 kasus, sedangkan 138 diantara pengidap penyakit menular ini telah meninggal dunia. “Sesuai data Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor hingga triwulan III total warga Biak yang tertular HIV/AIDS sebanyak 412 kasus,” kata Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Andi Ridway Halim S.Sos. Ia mengakui, penanganan penyakit menular HIV/AIDS hingga sejauh ini masih terus dilakukan pihak Dinas Kesehatan bersama instansi terkait, terutama KPA, rumah sakit, Puskesmas serta kalangan kelompok relawan dan organisasi masyarakat peduli AIDS di daerah ini. Salah satu upaya yang dilakukan, menurut Ridway, melakukan sosialisasi kepada masyarakat di kampung-kampung maupun kelompok masyarakat tentang bahaya dampak penyakit HIV/AIDS. “Program pencegahan serta penanganan penyakit HIV/AIDS harus menjadi tanggung jawab bersama semua komponen masyarakat,” ujar Ridway menanggapi data pengidap HIV/AIDS di kabupaten Biak Numfor. Menyinggung resep sederhana tentang pencegahan HIV/AIDS, menurut Ridway, warga masyarakat diminta tidak melakukan hubungan seks diluar nikah serta membiasakan diri dengan prilaku hidup sehat dan bersih dalam keluarga maupun lingkungan tempat tinggal.

Jumat, 14 November 2008 | 21:57 WIB

PALEMBANG, JUMAT – Sekitar 484 orang di Palembang, terinveksi HIV/AIDS dalam kurun waktu 2005 hingga Oktober 2008. Kelompok paling berisiko terkena penyakit tersebut merupakan pengguna napza suntik. Data dari Komisi Penanggulangan AIDS Kota Palembang, Jumat (14/11), jumlah pengidap HIV sebanyak 348 orang, sedangkan AIDS 136 orang. Dari jumlah tersebut, 39 persen merupakan pengguna napza suntik, 18,85 persen waria, 5 persen perempuan pekerja seks, 4,77 persen pelanggan perempuan pekerja seks, dan sisanya dari golongan lain. Manajer Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Palembang, Rahmat Saleh mengatakan, fenomena HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. “Diperkirakan, jumlah yang ditemukan tersebut lebih sedikit dari realitas di lapangan. Pasti setiap tahun meningkat,” ujarnya. Peningkatan tersebut diantaranya disebabkan tidak semua pengidap HIV/AIDS menyadari dirinya telah terjangkit. Mereka tetap menjalankan aktifitas seperti biasa, sehingga berpotensi menularkan ke orang lain. Menurut Rahmat, saat ini populasi HIV/AIDS masih terkonsentrasi pada kelompok risiko tinggi. Perkiraan jumlah pengguna napza suntik yang beresiko terkena HIV/AIDS di Palembang sebanyak 680 orang, pasangan pengguna napza suntik 410 orang, perempuan pekerja seks 1.360 orang, pelanggan perempuan pekerja seks 7.730 orang, pasangan pelanggan perempuan pekerja seks 5.160 orang, dan waria 1.190 orang. Selama ini, Komisi Penanggulangan AIDS telah memiliki beberapa program, diantaranya bantuan pemeriksaan rutin dan pendampingan kepada penderita HIV/AIDS. Pemerintah juga telah membantu dengan memberikan obat ARV secara gratis. “Dalam tiga bulan ke depan, akan diupayakan pelatihan keterampilan dan paket gizi bagi pengidap yang tidak mampu,” katanya. Meskipun demikian, Rahmat mengaku masih menemui sejumlah kendala, yaitu rendahnya kesadaran kelompok resiko tinggi untuk mencegah terjangkitnya HIV/AIDS. “Mereka tidak bersedia memakai kondom, atau pengguna jarum suntik tidak menggunakan jarum steril,” ujarnya.

Selasa, 18 November 2008 | 04:48 WIB

JAYAPURA, SELASA – Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, menyerukan kampanye besar-besaran untuk pencegahan HIV-AIDS yang menyentuh seluruh masyarakat Papua termasuk yang tinggal di kampung-kampung. Seruan itu disampaikan Barnabas Suebu ketika memberi pengarahan kepada panitia Pertemuan Pemangku Kepentingan untuk Percepatan Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua dan para kepala dinas/instansi, di Gedung Negara, Jayapura, Senin (17/11). “Pertemuan ini jangan hanya sekedar rutinitas tapi bisa membedah permasalahan HIV-AIDS di Papua sampai pada akar masalahnya sehingga kita bisa menyusun rencana aksi yang bisa menjawab permasalahan sekaligus menyentuh seluruh masyarakat sampai di kampung-kampung,” tegas Suebu. Gubernur juga menegaskan sejak kasus pertama dilaporkan 16 tahun silam sebanyak tujuh kasus dan jumlah kasus HIV-AIDS di Papua saat ini sudah lebih dari empat ribu. Menyikapi hal ini, lanjut Suebu, yang terpenting yang bisa dilakukan adalah percepatan aksi pencegahan dan penanggulangan terkait HIV-AIDS. “Kita tidak perlu menangisi angka yang terus meningkat tapi bagaimana bisa merubah bola pingpong menjadi bola basket dan bola tenis tetap menjadi bola tenis.” Gubernur mengibaratkan upaya penanggulangan AIDS sebagai bola pingpong dan masalah HIV-AIDS sebagai bola tenis. Artinya, pertemuan pemangku kepentingan yang digelar 19-21 November, akan menjadi awal percepatan upaya penanggulangan AIDS di Papua, sehingga epidemi HIV-AIDS di Papua bisa dikendalikan. Terkait penanggulangan AIDS di Papua, Gubernur Suebu menekankan tiga hal. Pertama, sinkronisasi program dan terfokus. Program penanggulangan AIDS harus sejalan dan sinergi dengan program lain, tidak berjalan sendiri-sendiri, dan bisa menjawab permasalahan. Kedua, komprehensif. Program HIV-AIDS harus dikolaborasikan dengan upaya penanggulangan penyakit lain seperti TB (Tuberkulosis) dan penyakit menular lain. Ketiga, program harus dimulai dan melibatkan semua orang. “Informasi yang harus sampai ke masyarakat adalah pengetahuan tentang hidup sehat, upaya pencegahan penyakit menular termasuk HIV, gizi, rumah sehat, pendidikan dasar, dan ekonomi. Informasi harus disampaikan secara besar-besaran dan benar-benar sampai ke masyarakat,” jelas Gubernur. Untuk itu, Gubernur mengisyarakat akan mengembangkan program pendidikan yang akan disiarkan melalui media massa. Terkait dengan ini, Gubernur akan memberikan bantuan kepada setiap kampung berupa pesawat radio, pesawat televisi, dan energi solar cell yang berfungsi untuk menghidupkan peralatan tersebut. Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Papua melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, akan menggelar Pertemuan Pemangku Kepentingan untuk Percepatan Penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua, 19-21 November. Tujuan kegiatan ini adalah mempromosikan hasil-hasil penanggulangan AIDS, mensosialisasikan inovasi baru program penanggulangan AIDS yang berorientasi pada penanganan pada akar masalah dan pengintegrasian sistem pelayanan kesehatan masyarakat, serta mengadvokasi pemangku kepentingan (stakeholder) untuk percepatan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua. Salah satu keluaran yang diharapkan dari pertemuan para pemangku kepentingan ini adalah grand design penanggulangan AIDS di Tanah Papua yang berisi kebijakan, rencana strategis, program, dan komitmen para pemangku kepentingan untuk melaksanakan program yang disepakati.

Kamis, 20 November 2008 | 07:59 WIB

KUPANG, KAMIS – Kasus HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur (NTT) per 18 November 2008 mencapai 552, terdiri dari 305 HIV dan 247 AIDS, dan meninggal dunia 141 orang. Kasus terbanyak di Kabupaten Belu 152, menyusul Kota Kupang 130 kasus, Sikka 106 kasus, Manggarai 34 kasus, Ende dan Flores Timur masing masing 28 kasus. Data per Agustus 2008 hanya 287 kasus HIV/AIDS. Peningakatan kasus ini terkait makin lancar sistem pelaporan kasus HIV/AIDS dari kabupaten/kota akhir akhir ini. Staf Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi NTT, Gusti Brewon di Kupang, Kamis (20/11) mengatakan, kasus HIV di NTT ditemukan pertama tahun 1997, dari seorang warga Pulau Adonara, Flores Timur yang baru saja pulang dari perantauan. “Kasus itu terus berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan virus HIV di NTT melalui hubungan seks bebas, dan banyaknya perantau yang pulang ke kampung asal dengan mengidap virus HIV,” katanya. Kasus ini diperparah dengan kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat yang sangat rendah, merebaknya perempuan lokal sebagai pekerja seks komersial jalanan, dan makin bebasnya pergaulan yang disertai kegiatan seks bebas di kalangan remaja dan orang dewasa.

Sabtu, 22 November 2008 | 10:05 WIB

KEDIRI,SABTU–Wabah penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Kediri, Jawa Timur selama periode 1999-2008 telah menewaskan 17 orang. Kasi Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Nur Munawaroh, Sabtu mengatakan, selama periode itu pula di Kabupaten Kediri telah terjadi 90 kasus HIV/AIDS. “Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kediri ini lebih banyak didominasi para TKI, TKW, pekerja seks komersial (PSK), dan pengguna narkoba dengan media jarum suntik,” katanya. Selain itu masih ada kelompok beresiko lainnya, yakni kaum gay, sopir, ibu rumah tangga, dan kalangan anak-anak balita. Dalam satu tahun terakhir, dua ibu rumah tangga di Kabupaten Kediri terinfeksi HIV/AIDS, seorang di antaranya meninggal dunia. Hanya saja, lanjut Nur, selama ini pihaknya mengalami kendala dalam memberikan sosialisasi mengenai bahaya HIV/AIDS kepada kaum gay. “Selama ini komunitas kaum gay terkesan tertutup, sehingga kami kesulitan memberikan pemahaman mengenai bahaya HIV/AIDS,” katanya. Menurut Nur Munawaroh, di Kabupaten Kediri kini sudah tersedia beberapa klinik yang disediakan untuk kelompok-kelompok beresiko tinggi memeriksakan diri secara sukarela.

update:

Sabtu, 29 November 2008 | 11:53 WIB

GELOMBANG penyebaran penyakit HIV/AIDS di Tanah Air terus menguat, terutama di golongan orang-orang muda dan produktif. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga Juni 2008 terdapat sekitar 6.782 orang berusia 20-29 tahun yang mengidap AIDS.

Pengidap AIDS di kelompok usia ini adalah yang terbesar dibanding kelompok lain, karena peringkat terbesar kedua yakni usia 30-39 tahun pun hanya 3.539 orang. Generasi muda memang seolah sedang diincar oleh penyakit mematikan ini, dan celakanya lagi penyebaran penyakit sudah seperti fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan hanya secuil daripada yang sejatinya nyata di lapangan.

Selain fakta bahwa banyak anak muda yang mengidap HIV/AIDS, pola penyebaran juga harus menjadi perhatian utama dari penanganan penyakit ini. Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 43-56 persen pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun, di empat kota yakni Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya telah terinfeksi HIV.

“Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling beresiko di Indonesia, yakni 55-56 persen di tiga dari empat kota yang mengumpulkan data biologis,” kata  Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Prof Tjandra Yoga Aditama, Oktober lalu.

Menurut Tjandra, walau secara umum prevalensi HIV di masyarakat Indonesia masih cukup rendah, yakni 0,16 persen, tapi sejak tahun 1990-an telah terjadi peningkatan cukup dramatis pada kelompok bereiiko tinggi terutama penasun, pekerja seks komersial baik wanita maupun pria, waria, dan lelaki penyuka lelaki.

Interaksi populasi penasun yang terinteraksi HIV dengan populasi kunci lainnya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap terjadinya peningkatan prevalensi HIV pada kelompok beresiko tinggi.

Survei tahun 2002 menunjukkan bahwa di kelompok penasun dilaporkan adanya hubungan seks tidak aman dengan pekerja seks, yakni sekitar 20-75 persen, dan pada tahun 2004 diperkirakan 10 persen penasun menjajakan diri sebagai pekerja seks.

“STBP tahun 2007 juga mendapati bahwa program layanan jarum suntik steril (LJSS) telah mencapai cakupan yang tinggi di beberapa kota, dan di kota-kota ini pemakaian jarum suntik bergantian cenderung lebih rendah,” kata Tjandra.

Sementara itu sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi mengatakan bahwa program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS harus difokuskan kepada generasi muda, karena 30 persen penasun adalah mereka yang berusia di bawah 20 tahun.

“Kita harus serius hentikan epidemi ini di kalangan generasi muda yang sangat beresiko terpapar HIV, yaitu mereka yang penasun, penyuka sesama lelaki, dan waria,” ujar dia.

Berdasarkan perkiraan Depkes, pada tahun 2002 jumlah pengidap HIV di Indonesia adalah 110.000 orang. Lalu di tahun 2006 naik menjadi 193.000 orang, dan tahun 2007-2008 angka itu ditaksir naik hingga 270.000 atau sekitar 0,16 persen dari populasi nasional.

Nafsiah menambahkan, bila pencegahan pertumbuhan angka pengidap HIV gagal, maka biaya penyembuhan tentu akan membengkak, “Tahun 2008 saja pemerintah menganggarkan sekitar 70 miliar rupiah untuk mengidap HIV. Kita harus bisa mengubah norma yang berlaku umum di masyarakat tentang bagaimana lelaki jantan itu, lelaki jantan seharusnya bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.

Nafsiah juga mendesak agar program-program penanggulangan AIDS mengutamakan pendekatan generasi muda. “Ini karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa 38 persen lelaki penyuka lelaki adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Waria juga 30 persennya berusia 15-24 tahun, prosentase yang sama untuk pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun,” kata dia.

Kondisi ini juga tercermin dari keadaan di Jakarta. Data KPA Provinsi DKI Jakarta hingga Juni 2008, menunjukkan bahwa terdapat 3.123 orang yang positif menderita AIDS. Sekitar 73 persen di antaranya, yakni 2.278 orang, terpapar penyakit ini lewat pertukaran jarum suntik NAPZA.

Menurut Imam Mulyadi, ketua panitia peringatan Hari AIDS Sedunia 2008, di Jakarta, diperkirakan jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah mencapai sekitar 33.000 orang. “Kami juga memperkirakan sekitar 1.072.098 orang laki-laki di Jakarta berisiko tinggi terpapar HIV karena gaya hidup mereka,” tambahnya.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS). Angka ini terus naik sejak tahun 1995 yang hanya 0,3 persen, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2 persen, dan enam persen di tahun 1997.

Prevalensi HIV pada waria di Jakarta pada tahun 2002 melonjak jadi 21,7 persen, tahun 2005 naik hingga menjadi 25 persen, dan tahun 2007 ditaksir sampai di titik 34 persen. Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun 2006 adalah 20.960 hingga 35.300 orang.

sumber: Antara

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. nice artikel…
    thanks ya atas infonya…
    sangat bermanfaat…

  2. seharusnya pemerintah mengadakan penelitian untuk menemukan obatnya…dengan menggunakan tenaga ahli dari putra/putri terbaik indonesia..dan di tambah tanaga ahli dari negara lain……kalau cuma mengadakan penyuluhan saja kurang efektif….kalau tidak di adakan penelitian cara untuk membunuh virus hiv/aids…dan menemukan obatnya….saya cuma berpikir..kasihan orang yang benar2 tidak tahu atau mau bertobat…dan menjalani hidup yg normal seperti manusia sehat lainnya………coba-lah pemerintah membuat obatnya….dengan secepatnya…..kalau tidak akan seperti negara afrika…dimana penduduknya…yang masih produktif..akan habis perlahan…terkena hiv/aids…..mengingat kebiasaan manusaia sejak dahulu dari jaman nabi sampe sekarang…itu gak jauh dari obat bius dan hubungan sex bebas……………coba pemerintah berupaya keras…..menemukan obatnya…jangan menunggu dari negara lain(ketergantungan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: