Teror Baru Hantam Bali

21 November 2008 pukul 20:34 | Ditulis dalam jalan-jalan | 1 Komentar

Teroris baru itu namanya Krisis Global. Gak tau ya, dia nanti bakalan dieksekusi macem Amrozi cs yang juga masuk kategori teroris versi ‘mereka’ pa kagak. Kita tunggu saja.

Beritanya kubaca di sini. Males nge-klik? Ya udah aku kopi paste ajah,

KUTA, JUMAT – Kunjungan wisatawan dari 10 negara pasar utama pariwisata Bali ke Pulau Dewata anjlok akibat krisis global. Hal itu terlihat dari pembatalan pemesanan kamar hotel sejak sebulan terakhir hingga masa pergantian tahun ini yang mencapai 40 persen. Pemerintah daerah dan kalangan pelaku pariwisata setempat khawatir, kondisi kepariwisataan di pulau itu sepanjang tahun 2009 akan suram.

Kepala Dinas Pariwisata Bali I Gede Nurjaya dalam pembukaan pameran pariwisata Pulau Kalimantan Borneo Extravaganza 2008 di Kuta, Badung, Bali, Jumat (21/11) mengungkapkan, 10 negara itu adalah Jepang, Australia, Taiwan, Korea Selatan, China, Malaysia, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan Italia. Selama ini, kedatangan wisatawan negara-negara itu memberi kontribusi lebih dari 30 persen dari seluruh wisatawan mancanegara ke Bali. Total asal negara yang datang ke Bali tercatat 184 negara.

Kondisi ini mencemaskan, karena Bali pernah mengalami dampak buruk akibat anjloknya wisatawan pascapeledakan bom tahun 2002 dan 2005. “Krisis global telah terlihat dampaknya secara langsung termasuk di Bali, seperti halnya imbas yang terjadi di sejumlah negara maupun daerah lain di Indonesia, khususnya di sektor lain,” kata Nurjaya.

Nurjaya mengungkapkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga Oktober lalu sudah mencapai 1,6 juta orang atau naik sekitar 23 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun akibat dampak krisis global, dikhawatirkan pertumbuhannya akan makin turun dan target mendatangkan 1,9 wisman sulit tercapai . Apalagi dalam bulan-bulan ini sedang masa sepi wisatawan.

Menurutku sih gak masalah kalau yang ‘nyepi’ gak berkunjung adalah orang-orang telanjang itu. Syukur malah. Bahkan kalau mereka sudah sama sekali gak mau ke Bali atau ke tempat lainnya di Indonesia, kita malah beruntung. Bangsa ini akan beruntung. Bakalan bersih dari hal-hal kotor begituan. Toh kalau ngomong soal rezeki, itu urusan Allah kok. Lagian aneh kan orang-orang, masa` cuman gara-gara takut laper mau-maunya jual harga diri bangsa, menelanjangi bangsa. Masih pake kambing hitam seni dan budaya lagi, hah….

Sementara di Jakarta ada juga imbas teror baru ini.

JAKARTA, JUMAT – Sekitar 600 restoran yang menyajikan menu asing di Jakarta mengalami krisis bahan baku akibat krisis global dan ketatnya pengawasan bahan pangan impor. Restoran yang mempekerjakan sedikitnya 6.000 orang itu juga terancam tidak dapat beroperasi jika terus dirundung kesulitan importasi.

Kepala Subdinas Pembinaan Industri Pariwisata Dinas Pariwisata DKI Jakarta Erick Halauwet menjelaskan hal itu hari Kamis (20/11). Kata dia, pengusaha restoran yang menyajikan menu asing sudah dua bulan terakhir kesulitan mendapatkan bahan pangan dan minuman.

Ada pelbagai sebab seperti ketatnya pengawasan Bea dan Cukai sehingga proses masuk barang impor lebih lambat dan sulit. Praktis terjadi kekurangan bahan pangan yang dibutuhkan untuk operasional.

”Gubernur Fauzi Bowo menaruh perhatian serius karena Jakarta adalah kota jasa. Dengan demikian, jangan sampai restoran-restoran itu terganggu operasionalnya, apalagi sampai berhenti,” kata Erick.

Ratusan restoran atau rumah makan tersebut beroperasi di gerai tersendiri maupun di dalam hotel berbintang. Dengan asumsi setiap restoran mempekerjakan minimal 100 orang, maka 600 restoran itu dipastikan mempekerjakan sedikitnya 6.000 pekerja. ”Kesulitan bahan baku itu sudah berlangsung dua bulan, bersamaan munculnya krisis keuangan global,” kata Eric.

Pengamat kuliner Bondan Winarno secara terpisah mengatakan, kini para warga ekspatriat di Jakarta harus belanja di Singapura untuk mendapat bahan pangan tertentu, seperti keju mozarella, wasabi, anggur, dan pelbagai kebutuhan pangan lain. ”Jangan sampai restoran dan supermarket yang menjual bahan pangan impor harus tutup karena kesulitan pengadaan bahan,” kata Bondan.

Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang dihubungi menegaskan sejak reformasi birokrasi dilakukan di lingkungan lembaganya kegiatan importasi diperketat. Pelaksanaan impor disesuaikan dengan ketentuan ”Jika proses impornya benar tidak perlu khawatir. Karena sesuai kebijakan pemerintah. Ditjen Bea dan Cukai konsisten pada pengetatan impor. Sebaiknya Dinas Pariwisata mendorong penggunaan produk dalam negeri,” ujar Anwar Suprijadi.

Rawan PHK

Selain itu, perselisihan hubungan industrial akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mogok kerja terus terjadi di Jakarta Utara. Bahkan kini ada 93 perusahaan berselisih antara pemodal dan buruh. Dari jumlah itu, sebanyak 89 perusahaan atau 95,7 persen di antaranya karena kasus PHK. ”Urusan perut sangat sensitif. Oleh karena itu, kita perlu mengungkap adanya persoalan tersebut agar dapat disikapi secara bijak,” kata Wali Kota Jakarta Utara Effendi.

Dia mengingatkan, perselisihan antara serikat buruh dan pemodal yang berujung pada PHK dapat mengundang kerawanan sosial dan keamanan yang lebih luas.

Nih kan…. paling juga alasannya urusan perut juga. Kalau aku sih lebih suka masakan negeri sendiri. Ada pembelaan kepada milik sendiri. Telur dadar, sayur lodeh, atau sayur rebung. Atau rendang, pepes ikan, coto makasar, sama yang lainnya. Ah sedappp…. juga sehat.

Bahan bakunya pun tinggal petik di kebun belakang, nyante ajah….masih numbuh kok. Telur juga udah diusahain sama si blorok. Beres dah…. Gak usah impor dari negeri orang. Lagian beda lidah beda selera atuh…

Jadi gak ngaruh buatku sih…..

Halah, itu namanya egois lah. Masa` semua diukur nurut lidah sendiri. Lidah orang mau dikemanakan?

Haiyya….. gini ajah. Kalau orang asing mau tinggal di Indonesia, kenapa mereka menolak makanannya……??? Gak hormat dong sama bangsa dan negara Indonesia.

Anehnya juga sih, seringnya orang Indonesia lebih bangga kalau makan makanan asing gitu. Gengsinya naik katanya. Padahal namanya juga aneh-aneh gitu, di kupingku sih, hihihi…. Belum lagi ancaman kolesterol, ancaman kanker mulai kantong kering sampe tumor, atau penyakit lain yang ikut keimpor lewat gaya makan orang asing itu. Hiiii…ngeri.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bali :
    Saran saya sih supaya nggak sampe kelaparan, dan masih ada pemasukan, bikin aja paket murah buat produk2x pariwisata Bali, terlebih untuk wisatawan lokal, paling tidak wisatawan lokal nggak banyak yang berani telanjang di pantai…kalo dihotel2x.. hmmm tau dah..

    Restoran di Jakarta :
    Kalo yang ngurus negara ini mau kerja keras, produk2x dalam negeri juga bisa bersaing sama produk luar negeri, tinggal dikemas aja, kan sudah banyak ahli-2x marketing kita (apa cuma beken namanya doank?), banyak ahli2x motivator kita (apa jago bersungut2x aja) yang akan memotivasi bapak2x kita diatas supaya bisa kerja keras lagi mengembangkan produk dalam negeri, cuma nggak mau kerja keras, maunya ambil untung secara instant (ngapain capek2x jualan prduk dlm negeri, mendingan ngedatangin dollar dari luar, untungnya gede), nggak salah sih maksud pemerintah seperti itu, cuma lihat aja para petani kita, tetep aja pada miskin…asal tau aja penduduk kita yang banyak ini, dijadiin tempat pemasaran yang empuk buat negera2x asing, makanya jangan heran kalo orang kita tingkat konsumerisme-nya tinggi, nggak kaya atau miskin, yang repot kalo orang miskin, hidup jadi terseret-seret..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: