Penghuni Neraka Kebanyakan Perempuan?

19 November 2008 pukul 19:53 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir | 8 Komentar

Di suatu pagi. Hari itu hari raya. Orang-orang ngumpul di tanah lapang buat sholat ‘Ied. Lalu datang idola kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ngimamin sholat.

Sholat usai. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kasih khutbah. Dalam khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyempatin diri buat ndekatin jama’ah wanita di bagian belakang di tanah lapang itu. Beliau lantas kasih sebuah nasihat,

“Wahai para wanita, gemarlah bersodaqoh! Sebab aku telah melihat bahwa kalianlah paling banyaknya penduduk neraka.”

Ngedadak para jama’ah perempuan itu bertanya balik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa bisa begitu wahai Rasulullah?”

Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Karena kalian suka melontarkan kutukan dan mengingkari kebaikan orang”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ngelanjutin,

“Aku tidak menemukan orang seperti kalian, yang meskipun kurang secara akal dan agama tapi bisa mengalahkan keteguhan seorang lelaki yang tegar.”

Para jama’ah kembali nanya balik, “Di mana letak kekurangan akal dan agama kami wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kasih jawab dengan bertanya,

“Bukankah persaksian seorang wanita setara dengan separoh persaksian laki-laki?”

“Betul!” sahut mereka.

“Itulah wujud kurangnya akal.”

Kemudian Rasul nanya lagi,

“Bukankah ketika wanita sedang haidl, ia tidak sholat dan tidak puasa?”

“Betul!” jawab mereka.

“Itulah wujud kurangnya agama.”

Beginilah komplitnya riwayat yang ada di kitab Shohih Bukhari itu,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدٌ هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

Hadits ini shohih dan gak ada yang salah. Dia benar adanya tanpa ada perselisihan di kalangan ulama salaf dan mutaakhriin. Artinya di kalangan para kaum ulama, kaum faqih, kaum yang ikhlash dalam beragama ini gak ada syak wasangka lagi sama hadits ini. Selesai dan tinggal meyakini dan mengambil jalan selamat dari fitnah. Beressss….

Agak serius dikit. Dikit ajah….

Namun, di zaman kontemporer ini, di zaman penuh fitnah ini, di saat banyak bermunculan da’i instan, saat para mubaligh tak ubahnya selebritis, saat para badut jadi penceramah agama, ketika akal menjadi dominan, maka jadilah makna hadits itu sering menjadi poros pertentangan dan debat kusir.

Poin paling utama yang dipertentangkan adalah statemen Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tegas-tegas menyatakan bahwa dibanding laki-laki, perempuan memiliki kekurangan secara akal maupun agama.

Kekurangan secara akal, ditandai oleh kenyataan bahwa ketika menetapkan hukum persaksian, Allah menyetarakan persaksian seorang wanita dengan separoh persaksian laki-laki. Sedangkan kekurangan secara agama, tampak nyata dalam perbandingan kuantitas amalan sholat dan puasa antara laki-laki dan perempuan ketika masa-masa datang bulan, dan ini di’tambal’ dengan antara lain banyak bersodaqoh.

Statemen yang sangat jelas ini sering diingkari dengan dalih (tanpa dalil) bahwa hal itu merupakan penghinaan nyata terhadap harkat dan martabat perempuan. Juga karena hal itu bertentangan dengan semangat `kesetaraan jender’.

Padahal dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kekurangan akal dan agama tersebut adalah kekurangan yang sifatnya alami (karena faktor fisiologi), dan beliau sama sekali tidak mencela para perempuan karena kedua kekurangan ini. Para perempuan yang disebutkan itu masuk neraka juga bukan gara-gara kedua kekurangan tadi, akan tetapi karena kegemaran mereka untuk melontarkan kutukan, gampang mencela, hobi gosip, dan karena mereka suka mengingkari kebaikan orang. Juga karena beberapa hal yang (sorriii) menjadi tabiat sebagian perempuan. Entar deh…

Yang cukup ironis, perdebatan kusir zaman ini mengenai benar-tidaknya statamen argumentatif Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, ternyata cukup membuat kandungan utama hadits itu menjadi terlupakan dan tak lagi mendapat perhatian. Orang lebih kerap berdebat mengenai benar tidaknya kekurangan akal perempuan dibanding laki-laki. Sebagian berusaha membantah statemen Rasulullah di atas dengan mengatakan bahwa secara faktual di sekolah-sekolah dan tempat-tempat kerja, banyak perempuan yang lebih cerdas dari rekan-rekannya yang laki-laki. Sebagian lain, berusaha mentakwil kandungan hadits di atas dengan menyatakan bahwa saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bergurau dan sedang bercanda. Bahkan sebagian yang lain, menolak mentah-mentah hadits tersebut atau mempersempit cakrawalanya dengan mengklaim bahwa statamen itu adalah bias budaya patriarkis yang telah memasung martabat perempuan yang saat itu memang menjadi ciri khas bangsa Arab. (Debat kusir yang makin lama makin melenceng dari pokok pikiran ini sering didapati di milis-milis yang banyak bertebaran di dunia internet, yang siapa saja ‘berhak’ bicara sekehendak hatinya.)

Memang benar adanya bahwa bisa saja ada wanita-wanita tertentu yang lebih unggul akalnya dibanding laki-laki. Tapi tetap saja ada banyak lelaki lain di dunia yang lebih unggul dari wanita itu. Bahwa Maryam binti Imron adalah wanita pilihan di seantero jagad dan kedudukan serta akalnya jauh lebih kuat dibanding banyak laki-laki. Akan tetapi, beliau tidak bisa dibandingkan dengan para nabi dan rasul yang semuanya laki-laki.

Kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki adalah kelebihan natural yang memang dianugerahkan oleh Allah semenjak awal. Begitu juga kelebihan orang dewasa dibanding anak-anak. Semua ini adalah wujud ni’mat yang sama sekali tidak mengurangi nilai keadilan. Apalagi, segala kelebihan ini juga adalah ni’mat yang harus disyukuri dan disalurkan dalam ketaatan, seperti kata Nabi Sulaiman alaihi sallam,

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Di sisi lain, perempuan juga memiliki kelebihan-kelebihan unik yang tidak dipunyai oleh laki-laki. Jadi segala sifat alamiah ciptaan Allah dan segala butir aturan syariat-Nya ini telah tersusun secara proporsional, kompak, penuh hikmah, dan saling melengkapi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhutbah di hari raya tersebut juga tidak sedang bergurau atau bercanda. Sebab konteks hadits tersebut adalah konteks pemberian nasehat dan peringatan akan api neraka. Ini adalah perkara serius dan amat penting sehingga dihindari sikap guyonan dalam penyampaiannnya.

Kalaupun sedang bergurau, tentu juga sudah maklum bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bergurau dengan hal-hal yang mengandung kebohongan.

Cape ah serius mulu…

Gini aja,

Nggosipin tabiat perempuan emang asyik. Gak ada matinya. Coba, ada: suka mencela, mencibir, mencerca, mengutuk, dan melontarkan sumpah serapah. Trus, suka ngingkarin pemberian dan kebaikan yang sudah diberikan oleh orang lain, terutama suaminya. Perhatiin, banyak kasus dari kalangan istri yang suaminya sudah sedemikian rupa berkorban dan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik baginya, namun ia justru menyangkal dengan mengatakan “kamu belum memberiku apa-apa!” Ngaku kagak…???

Lalu dengan segala kekurangannya secara intelektual maupun agama, perempuan punya `daya pikat` dan `kekuatan rayu` yang sangat besar yang mampu ngeruntuhin benteng pertahanan seorang laki-laki, yang tegar sekalipun. Ketika potensi ini digunakan oleh perempuan buat menggelincirkan laki-laki lalu ngelakuin perbuatan tercela atau melalaikan kewajiban utama, maka tentu saja potensi rayu ini akan mantul balik menjadi faktor x (baca: bencana) bagi perempuan itu sendiri dan nganterin dia ke pintu neraka.

Tapi gak usah khawatir wahai kaum istriku…… Islam ini dien yang oke banget. Udah komplit dan tepat guna, dia juga bukan syari’at yang bikin sulit atau aturan yang jadi beban. Siap dulu yang bikin aturan. Allah kok dilawan….

Perempuan emang punya kekurangan, tapi ada penutupnya. Dia ini berupa kesempatan buat ngedapetin pahala yang amat besar dengan hal-hal yang sederhana atau biasa dilakukan, bahkan kadang sepele gitu loh.

Kesabaran perempuan ketika mengandung dan merawat anak, ngebuat dia jadi seorang ibu yang memperoleh hak balas kebaikan tiga kali lipat dibanding seorang bapak. Keta’atan seorang istri sama suaminya, juga jadi ibadah utama. Padahal, ta’at suami dan memelihara anak adalah aktifitas primitif perempuan, dengan maupun tanpa aturan dien.

Selain itu, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kasih resep canggih yang bisa nutupin ketiga potensi negatif itu, yaitu تَصَدَّقْنَ. Sodaqoh…. sepele kelihatannya, tapi hakekatnya punya nilai yang luar biasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنْ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Barangsiapa dari kalian yang mampu berlindung dari neraka meskipun dengan (bersodaqoh) separoh kurma, maka hendaklah dia lakukan.(HR Muslim)

Kan….???

Pake setengah biji kurma pun bisa selamet dari adzab neraka. Apalagi lebih besar dari itu…..tentunya syarat lain mesti terpenuhi juga loh.

Apalagi kalau perempuan itu bersodaqoh pake harta suami tapi gak sampe ngerusak ekonomi rumah tangga, wuih…coba lihat,

إِذَا أَطْعَمَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا وَلَهُ مِثْلُهُ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَهُ بِمَا اكْتَسَبَ وَلَهَا بِمَا أَنْفَقَتْ

…Ketika seorang perempuan memberi makan dari rumah (harta) suaminya tanpa merusakkan, adalah baginya pahalanya dan bagi dia (suami) semisalnya. Dan bagi pengurus harta semisal itu dan bagi dia (suami) apa yang sudah dia usahakan dan bagi dia (perempuan) apa yang sudah dia infaqkan………..(HR Bukhari)

Ganjarannya mengalir membanjir merata tempat. Omong-omong, beruntung juga para suami dapet istri macem begini.

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yang merasa wanita harus berjuang dari siksaan api neraka, yg pria tidak serta merta tenang dg melupakan segala kewajibannya terhadap Allah S.W.T

  2. Haduh Pak… jadi takuttt nihh
    Tak sedekah yang banyak ahhh…..
    Sedekah tiap hari sama tukang ojek, angkot…
    Lah lek niku dos pundi…..

  3. semua orang islam baik laki2 ataupun perempuan termasuk sumber kekafiran yaitu rasulullah semuanya pasti masuk neraka. kalo mau lepas dari neraka caranya cuma satu : MURTAD!

  4. Jadi buat saudara Didien yang sepertinya sangat FANATIK, jika anda tidak MURTAD, api neraka sudah menunggu anda.

  5. Nih orang (si BOY) bukannya berusaha menciptakan kerukunan antar umat beragama,malah membuat API.Jelas sekarang siapa dia (si BOY) sebenarnya.Gue Kagak mao tao agama lo apa n gue juga kagak mao tao lo berasal dari luar negeri ato dalam negeri,yang jelas lo adalah salah satu orang yang tidak suka terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia.Orang semacam ini yang harus diwaspadai kita semua!!!

  6. asik yang laki selamet
    emang enak jadi islam
    bisa kawinin perempuan 4 kali

  7. Buat Boy sama david, tolong yang intelek donk kalo ‘ngenye’, yang agak berbobot gitu.

    Kurang gress nih ngenye’nya, terlalu kelihatan otak udang lo…paling tidak kayak nabi elo tuh. Dr. (Drakula). Ali Sina.

  8. buat bung nama (masa sih ada orang namanya “nama” Dodol banget ngga sih)

    LAH emang enak jadi islam
    kan daripada zinah bisa kawin max 4 kali kan/
    yang penting kan bininya ikhlas
    nah gua tanya komentar gua ngga berbobotnya dimane?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: