Pernikahan Dini adalah Haram

7 November 2008 pukul 08:38 | Ditulis dalam curhat, irodatul khoir lil ghoir, politik | 3 Komentar

Mengikuti perkembangan Syeh Puji dan istri ‘muda’nya.

Aku rasa persoalan sudah bergeser dari asal muasalnya. Tapi aku sendiri tidak tahu persis asal muasalnya bagaimana…(hiks..)


Hari-hari ini secara awam aku melihat, persoalan yang ditimpakan kepada Mas Puji ini, persoalan kejahatan/kekerasan/pemaksaan/pelecehan terhadap perempuan. Tau deh kata mana yang tepat untuk me’rasa’kan kemauan orang-orang seputar fenomena alam nan rumit ini. Rumit? Ya, kalau mau diliat kerumitannya kan jadi rumit, dan itu memang hobinya manusia modern yang serba canggih (rumit) ini. Semua-mua mau dibikin rumit.

Kalau bergeser kepada perkara kejahatan terhadap perempuan? Wah….pengalihan opini sekaligus pengarahan opini yang diujung sana (jauuuhhhhh…) ada persoalan mendasar tentang penentangan terhadap konsep pernikahan yang dijalani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ibu kita ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. PERNIKAHAN DINI adalah haram……begitu kira-kira yang dimaui oleh sebagian kita. Na’udzubillahi min syarri dzalika….

Padahal, kalau mau dibandingin dengan kisah ini,

Suka Sama Penculiknya.

Kisah ini bukan cerita sinetron. Nyata-nyata membawa lari remaja putri di bawah umur tanpa seizin orangtua, eh, ternyata yang dibawa lari malah sama sekali tidak menolak alias rela-rela saja. Pusing enggak si orang tua?

Cerita berawal dari Bayu Aji (17), siswa sebuah sekolah teknik menengah di Kota Semarang, yang sering terlibat chatting di internet dengan Yuni (13), siswi sebuah madrasah sanawiah di Kota Tegal, Jawa Tengah, sekitar bulan Desember. Dalam chatting itu, Bayu mengaku jomblo dan sedang mencari pacar. Yuni lantas memberikan nomor telepon seluler Rizki Amalia (13), teman sekelasnya, kepada Bayu.

Nah, cerita lantas berlanjut antara Bayu dan Rizki. Keduanya kerap berkirim SMS. Bahkan, tak jarang hubungan berlanjut dengan pembicaraan lewat telepon. Lewat hubungan udara itulah, kedua pelajar itu menyatakan saling jatuh cinta.

Tak puas hanya jumpa di udara, Bayu lantas berkunjung ke rumah Rizki, Jumat (11/4). Untuk menutupi niatnya bertemu dengan sang kekasih, ia mengaku sedang kehabisan bekal dan minta izin menginap kepada pemilik rumah. Sukardi (48), ayah Rizki, saat itu tak menolak.

Sukardi tak sadar jika dirinya justru mempersilakan seorang ”penculik” menginap di rumahnya. Pasalnya, keesokan harinya seisi rumah bingung mencari Rizki yang tak kunjung pulang dari sekolah. Kecurigaan bertambah seiring lenyapnya batang hidung Bayu, ”tamu” yang kehabisan bekal itu.

Untung masih ditemukan selembar foto Bayu berukuran 3 x 4 di kamar Rizki. Mencium gelagat tak baik, Sukardi dan anggota keluarga lainnya lantas bertanya ke sana-sini. Dari mulut Yuni-lah diketahui jika pemilik wajah di foto itu beralamat di Kota Semarang.

Tanpa menunggu lama, Sukardi dan istrinya, Buniarsih (41), meluncur ke Kota Semarang. Dengan menumpang di rumah famili, mereka berkeliling mencari keberadaan putri mereka itu.

Mujur, Sukardi berpapasan dengan Bayu di Jalan Jambe, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, pertengahan bulan lalu. Ia lantas menghentikan bekas tamunya itu. Bayu sempat tidak mengaku jika telah membawa Rizki pergi. Namun, setelah Sukardi memanggil polisi dari Kepolisian Sektor Sidodadi, ia akhirnya mengakui perbuatannya.

Rizki, yang selama di Kota Semarang menginap di rumah Bayu, akhirnya digelandang bersama kekasihnya ke Kantor Polsek Sidodadi. Maksudnya, mau diseret untuk kasus penculikan anak di bawah umur. Eh, ternyata selama perjalanan ke kantor polisi, Rizki malah memeluk erat kekasihnya itu sambil berteriak ”Aku cinta dia… aku cinta dia…!” Rizki tak mau dipisahkan dari sang kekasih.

Rupanya, Sukardi sudah kehabisan kesabaran. Ia memberi dua pilihan kepada putri bungsunya itu. ”Pilih ayah atau dia?” ujar Sukardi sambil menunjuk ke arah Bayu yang saat itu diam tak berkutik. ”Dua-duanya,” kata Rizki sambil terisak, dan tetap memeluk sang kekasih.

Astaga! Jawaban putrinya itu membuat Sukardi kaget. Ia bahkan langsung jatuh pingsan mendengar jawaban anak tercintanya.

Setelah sadar, Sukardi memutuskan untuk tidak menuntut Bayu meski nyata-nyata lelaki remaja ini ”melarikan” anak putrinya. ”Yang penting, anak saya sudah kembali,” katanya.

Polisi yang menangani kasus ini pun ternyata juga bingung. ”Kami tidak bisa memproses kasus ini. Selain tidak ada laporan secara resmi dari orangtua Rizki, juga tidak ada unsur paksaan pada kasus ini. Rizki dan Bayu melakukan ini atas dasar suka sama suka,” ujar Ajun Komisaris Eko Hadi Prayitno, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Semarang Timur.

Bingung kan?

Haha…dalam kasus ini cuma jadi KILASAN PERISTIWA pada Minggu, 18 Mei 2008 | 01:08 WIB

Jujur saja aku jadi bingung akan kenekatan orang-orang buat memperkarakan Mas Puji atas si mungil istrinya.

Tapi ya begitu, ada semacam indoktrinasi terhadap fakta sejarah kenabian.

Bicara soal rasa, itu urusan Mas Puji dan sang istri ‘muda’nya itu. Mereka yang paling berhak dengan perasaan masing-masing. Dan itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Yakinku begitu…

Kalau kemudian ada orang yang mempertanyakan komitmen Mas Puji ini, ya mestinya boleh-boleh saja. Dan orang yang ber’tanya’ ini sama haknya dengan orang yang melakukannya sendiri. Mereka juga punya hak mempertahankan komitmennya.

Atau kalau ada orang mau membandingkan kasus ini dengan yang kabarnya terjadi di luar sana, itu juga hak mereka.

Wong sebenarnya aku hanya berharap buat kita semua ini untuk mau mendalami Al Qur’an apa adanya. Jangan Al Qur’an bagaimana menurut kita. Obyektif man……

Ah, ngaco lu, Bib….

Tapi omong-omong, ‘perasaan’ gak masuk variable penentuan undang-undang kan?

Allah saja gak memasukkan unsur ‘rasa’ dalam menentukan syari’atNya kok…. Syari’at itu ‘hanya’ menyentuh perkara dlohir. Perkara ‘batin’nya menjadi urusan pelaku dan Allah kelak di persidangan akbar di hari kiamat.

Begitulah kenapa ada saksi dan bukti, juga sumpah. Semua berdasarkan fakta nyata, bukan sekedar diduga dan dirasa….

Jadi, pernikahan Dini anak perempuan Pak Tedi yang hamil duluan dengan pelaku penghamilan itu haram…(hah…?!?!? apa hubungan dengan tulisan di atas ya….?!?!?!)

(tulisan ini bukan bentuk dukungan buat bang Puji apalagi istrinya, wong mereka gak kenal aku, begitu juga aku gak kenal mereka. Aku cuma berharap orang-orang bisa memisahkan perkara boleh dan terlarang, benar dan salah, tetap dalam kerangka Islam, maunya…….)

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ya Allah
    YAQINKAN q dalam ISLAM
    jadikan Muhamad Sholallahu Alayhi wa sallam sebagai teladan q
    Al Qur’an pedoman q
    Jihad jalan q
    Hidup mulia mati Syahid Tujuan q

  2. Sebenarnya
    nikah mereka (Kang Puji, Bunda Ulfa)
    itu insya’allah syah…
    cuman ya..
    pake tata cara yang hasan…
    sebelum nikah ya urus adminnya dulu…
    makanya biar gak jadi masalah…
    Ma’af loh ya…sodara2
    mau nikah sampe 4 direntengin langsung juga gak apa koq…
    asal niatnya lillahita’ala
    engga di dzolimi
    aniaya
    atau dijadikan budak nafsu belaka
    Astaghfirullah
    Ya gak boleh kalau itu niatannya

    ya itu adminnya..jangan dilupakan
    negara kita negara hukum…
    ada aturan gitu…
    biar dapet perlindungan hukum dari pemerintah baik anak juga ibunya
    ya walau ada sih yang nyeletuk…
    Gak BUTUH dapet perlindungan dari Pemerintah cukup ALLAH saja pelindung q

    ya jangan lupa ayat ini
    “Ati’ulloha wa Ati’urrosul wa ulil amri min kum”


    ini ada saran penyajian yang bisa buat nyaman barangkali….
    silakan yang cocok…
    cuma barngkali yang perlu penjelasan lebih jauh dari Mbak Zahra adalah tentang Ati’ulloha wa Ati’urrosul wa ulil amri min kum. ane tunggu…yor eksplanasionnya….

  3. Uhuhu… Saya bingung sama media dan opini masyarakat sekarang. Dulu ada seorang ustadz kondang yang setiap dia ceramah pasti disesaki banyak orang, namun ketika sang ustadz memutuskan untuk poligami, maka beliau pun dijudge masyarakat sebagai seorang yang “buruk” dan kini ditinggalkan “jamaahnya”. Hmm…

    Ini muncul lagi, secara agama pernikahan syekh puji sah, tapi malah dipermasalahkan dengan dalil dan teori2 barat.

    Yang saya bingung kenapa sih yang diekspos atau yang dipermasalahkan itu sesuatu yang benar menurut Allah dan rasul-Nya? Kenapa yang pernikahan hasil kumpul kebo atau sejenisnya itu malah gak terlalu dipermasalahkan? Apa memang perkembangan zaman menuntut hal yang demikian yah?
    Hmm… Bingung saya dengan pemikiran-pemikiran seperti itu…


    begitulah Mas…..
    kalo yang ngejalanin orang berciri Islam, pasti jadi soal. tapi kalo yang ngejalanin orang jalanan, gak pernah jadi soal. skenario global mematikan Islam ya, Mas….
    malah jadi semangat nih buat ngidupin sunnah ketika banyak orang mematikannya. mulai yang kecil dulu aja, motong kuku, cukur kumis, piara jenggot, biasa baca kalimat thoyyibah, makan pake tangan kanan dan duduk, makan yang halal, minum yang halal, bayar zakat kalo nishab, dan seterusnya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: