Wahai Para Penguasa

1 November 2008 pukul 14:13 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, renungan | Tinggalkan komentar

Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin dengan apa saja yang kau banggakan tentang dirimu. Jangan menjadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu menjadi kesempatan bagi syetan untuk menghancurkan hasil kebaikan dari orang-orang yang berbuat baik.

Jangan mengungkit-ungkit kebaikan yang kau lakukan untuk rakyatmu. Atau membesar-besarkan jasa yang pernah kau perbuat. Atau menjanjikan sesuatu kepada rakyat lalu kau tak memenuhinya.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Ingatlah. Mengungkit-ungkit kebaikan akan memusnahkan ganjarannya. Membesar-besarkan kebaikan diri akan menghilangkan sinar kebenarannya. Menyalahi janji akan menghasilkan kebencian di hadapan Allahdan di hadapan manusia.

Jangan tergesa-gesa melakukan sesuatu sebelum waktunya atau melalaikannya di saat kau mampu melakukannya. Jangan pula memaksakan diri ketika diri masih diliputi keraguan atau kehilangan semangat bila telah melihat jelas kebenarannya. Letakkanlah sesuatu pada tempatnya dan kerjakan sesuatu pada waktunya karena itulah adil yang sebenarnya.

Jangan mengkhusukan dirimu pada sesuatu yang menjadi hak orang banyak. Jangan berpura-pura tidak mengetahui sesuatu yang sudah jelas bagi setiap penglihatan. Hal itu pasti akan diambil kembali darimu untuk mereka yang lebih berhak. Dan sebentar lagi akan tersingkap penutup segala yang bersangkutan denganmu. Dan setiap orang yang kau langgar haknya pasti akan direnggutkan kembali haknya itu darimu.

Kendalikan luapan amarahmu, kekerasan tindakanmu, kekejaman tanganmu dan ketajaman lidahmu. Jagalah keselamatan dirimu dengan menahan gejolak emosimu dan menangguhkan hukumanmu sampai saat redanya amarahmu. Sehingga dengan begitu kau akan mampu memilih kebijaksanaan bagimu. Bahkan tidak memutuskan sesuatu kecuali sesudah cukup menyibukkan hatimu dengan mengingat saat kau dikembalikan kepada Rabbmu kelak. Ingat itu…

Adalah kewajibanmu untuk mengingat-ingat kebaikan para pendahulumu. Baik berupa pemerintahan yang adil atau tradisi mulia. Demikian pula berita tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum, atau ketetapan yang telah tertulis di kitab Allah Sang Penguasa. Contohlah itu semua sebagaimana mereka telah melakukannya. Curahkan daya upayamu dalam mengikuti segala yang telah dicontohkan para Nabi dan telah menjadi amanat di pundakmu.

Aku mohon dari Allah dengan rahmatNya yang amat luas dan kuasaNya yang tiada tara yang mampu memenuhi segala permohonan, agar Ia melimpahkan taufikNya kepada diriku dan dirimu agar mampu mencapai keridloanNya dalam bertindak adil untukNya dan seluruh makhlukNya. Juga demi kesejahteraan seluruh rakyat di segenap penjuru negeri, dan demi kesempurnaan ni’mat dan berlipatnya kemuliaan. Dan aku juga memohon kepadaNya agar Ia mengakhiri hidupku dan hidupmu dengan kebahagiaan dan syahid. Sungguh kepadaNya kita akan kembali.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: