Ikhlash dan Rela Apa Beda

21 Oktober 2008 pukul 09:28 | Ditulis dalam curhat, serba serbi | 6 Komentar

Selama ini banyak orang tak bisa membedakan makna ikhash dan rela. Kata kebanyakan dari mereka, ikhlash itu ya rela, rela itu ya ikhlash. Orang rela itu mesti ikhlash dan ikhlash itu mesti rela hatinya. Begitu terus…

Coba ini, aku kutip dari tafsir Ibnu Katsir:

وقوله وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كقوله وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan firmanNya (Al Bayyinah:5), padahal tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan meng-lkhlash-kan dien ini kepadaNya) sebagaimana firmanNya (Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. QS.Al Anbiyaa:25).

Nah, rupanya makna ikhlash adalah memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus. Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. Sedang rela itu adalah ringan hati, senang, tak mengharap imbalan (udang dibalik batu tetep penyet).

Aku coba lihat di KBBI, eh apa orang yang masukin kata rela sama ikhlash gak ngerti bahasa arab ya…? Atau memang mereka sekedar berdasar faktor bahasa thok tanpa memahami makna yang dimaksud? Maksudku, kalau kata ikhlas itu murni bahasa Indonesia yang bukan serapan (dari bahasa Arab) maka sah-sah saja mengartikan dengan begitu (yang tertulis disana, red). Namun kalau termasuk kata serapan, maka ikhlash itu mesti berazas pada makna ‘murni’.

Lah….KBBI ini sudah ada sejak kamu belum lahir , Bib. Kamu anak kemarin sore kok mau ngobarak ngabirik ki kepiye to. Dasar cah wingi sore gak tahu diri…. Bahasamu aja gak tertib, gak nurut kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD gitu kok, mau macem-macem….

Wadhuh, malah mau nyenggol-nyenggol lembaga per-bahasa-an gitu… Diajak jadi anggota tim penyusun KBBI ya aku (gak) mau-mau juga. Hihihi….. pissssss……

Mudah-mudahan ada komentar dalam hal ini dari mereka.

Lalu contoh amalan ikhlash itu antara lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa`:59)

Nah, di ayat ini orang beriman di suruh taat kepada Allah dan Rasul serta Amiril Mukminin (pemimpin muslimin). Taat kepada manusia (Rasul dan ulil amri) dilakukan sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah dan ini bersyarat, yakni kalau terjadi perselisihan mesti kembali kepada Allah saja. Sebagaimana perngertian riwayat berikut:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

…mendengar dan taat itu wajib selama tidak diperintah dengan yang ma’siyat. Maka ketika diperintah dengan yang ma’siyat maka tidak (boleh) mendengar dan tidak (boleh) taat. (HR Bukhari)

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

…mendengar dan taat itu (wajib) atas orang islam pada sesuatu yang dia suka atau dia benci selama tidak diperintah dengan yang ma’siyat. Maka ketika diperintah dengan yang ma’siyat maka tidak (boleh) mendengar dan tidak (boleh) taat. (HR Bukhari)

Nah, nyatalah bahwa ikhlash itu adalah memurnikan amalan hanya kepada Allah saja. Sementara perkara lain tergantung atas ketentuan Allah. Bisa saja kita suka atau tidak suka (benci), namun selama dalam rangka taat kepada Allah dia termasuk ikhlash.

Contoh mudah tentang rela yang tidak ikhlash adalah begini:

Biasa terjadi di kalangan remaja. Suka cari-cari obat kucek mata, buat cuci mata. Saat momen ramadhan ada tarawih massal. Eforia…

Ada seorang atau beberapa yang jadi rajin, bahkan super rajin dan penuh suka cita berangkat ke masjid. Rela. Hatinya sangat rela buat ninggalin acara rutinnya bersama geng prapatannya. Datang ke masjid awal-awal waktu. Berpakaian rapi dan wangi.

Saat sang dara tiba, hatinya berbunga-bunga. Bertambah suka cita. Semakin rela hatinya.

Namun ketika sang dara tak kunjung tiba, hatinya merana.

Beginikah ikhlash itu? Ataukah rela?

Hah…..dia rajin ke masjid bukan untuk Allah. Tapi buat sang dara. Allah hanya dia jadikan milestone saja. Allah hanya buat permainan dan alasan saja, karena alasan utamanya adalah sang dara pujaan hatinya.

Hmmmmm…..

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Alhamdulillah… akhirnya ane tau bedanya rela ama ikhlas…😀

    Salam kenal dari ane, blogger baru, lagi belajar… :mrgreen;


    blogger baru….nduluin ane….(sesudah kunjungan balik taunya)
    salam kenal balik. jangan sungkan balik (lagi)…

  2. Assalamu’alaikum.
    Salam kenal. Artikelnya bagus. Sekedar menambahi, kata “ikhlas” dalam bhs arab akar katanya berasal dr kata “kholis”, yg artinya “murni”. Kata kholis salah satunya bs dilihat di QS An Nahl: 66. Memang masyarakat kita sering menggunakan kata salah kaprah. Mudah2an tidak dijadikan kbiasaan budaya salah kaprah ini. Contoh lain yaitu kata idul fithri, yg disalahartikan sbg kmbali k fitrah, pdhal mestinya berarti kmbali berbuka. Ini hrus terus diinformasikan kpd org2 agar ajaran agama tdk mjadi bias.
    Wassalamu’alaikum.


    wa’alaikumsalam
    alhamdulillah…ada yang berkenan melengkapi. begini yang sering ku harap-harap dari komentar(torrrr)
    kalo pas dapet piwulang shorof dulu begini:
    akhlasho-yukhlishu-ikhlashon (memurnikan)
    nah bener itu kholis adalah murni.
    tingkyu jazakallahu khaira Mas Zuhudhi
    sering mampir dan melengkapi ya…

  3. OOhhhhh gitu nggih Pak….


    lho tak kiro wis podho tau to Mbak….
    tapi ya memang begitulah. he’em Mbak, mesti ati-ati sejak dari pengertian kata demi kata lalu utuh jadi kalimat lalu faham ayat itu dst…

  4. ada ilmu lagi euy… heuheu… Alhamdulillah…

  5. Assalamu’alaikum…

    wah, tadinya masuk situs ini cuma mampir, coz cari2 via google, tau2 diarahin k situs ini, eeee skrg malah ketagihan, coz artikel2nya up2date! Yah, kirim komen lagi saja..

    Soal wazan (timbangan) kata Ikhlas, waktu menulis komen wktu itu saya lupa, maaf.. (dulu ga tau, skrg lupa..). Yah terima kasih sudah diingatkan. Lagipula wktu itu ngetik komennya pake keypad HP jadi penginnya ngetik singkat aja, keburu pegel jarinya! Berarti wazannya: fa’ala – yuf’ilu – if’alan ya mas? (CMIIW). Yaah, sedikit2 pernah belajar kitab Muyyassar.

    Trus yang bikin penasaran tuh, setelah mbaca di bagian portofolio, saya pingin tau tips-triknya kok bisa istiqomah: berkeluarga dg anak banyak pdhal tidak ada pkerjaan tetap! Bagaimana ini? Rahasianya apa? Mbok tolong dibagi2!

    Trus Mas Habib ini aslinya mana to? Kok bhs Jawanya pating plethot amburadul, sama spt klo orang2 di daerah asal saya (Kota Solo) menulis. Jangan-jangan tetanggaan nih!

    Sekian. Mudah2an masih diperkenankan nulis komen…

    Wassallam.


    wa’alaikumsalam…
    kalo cerita soal wajan (sengaja) ya saya cuma pernah beli ke pasar kok Mas Zuhudhi. belum pernah beli wajan ke supermarket, gak cukup modal. jadinya asal bisa buat masak meski seadanya.
    yang aku penasaran itu, kok aku malah dipenasarani lho. wong cuma bonek Mas. aku cuma yakin aja. yakinku begini, kalo aku masih diberi nafas esok hari, akan ada rejeki buatku. kan jatah rejeki ama umur sudah dibikin selaras sama Allah. kalo jatah rejeki (penghidupan)nya sudah abis ya matilah dia. trus juga Allah kan sudah janji (njamin) bahwa Dia lah yang kasih kita rejeki, bahkan orang kafir pun dikasih rejeki. bahkan binatang pun ada jatah rejekinya. jadi ya enjoy aja….
    yakinku lagi, tiap kepala dari anak-anakku pasti ada rejekinya sendiri-sendiri. ngapain khawatir. apalagi takut trus sampe ngebunuhin (calon) anak. hiiii…. na’udzubillahi min syarri dzalika.
    lalu yang soal pekerjaan tetap itu lho. aku kok malah jadi bingung ya. kan malah enak tuh pekerjaannya gak ajeg. kadang kerja, trus banyak liburnya, ya enak lah…. jadi ya dinikmati ajah…
    alhamdulillah dari pagi sampe pagi lagi bisa sering barengan ama istri dan anak di rumah lho Mas. mau?
    jadi kalo mau dibagi ya, begitu saja. YAKIN…..TENAN. Madhep mantep melu Allah, Allah ridlo kita senang. udah…
    sorry Mas, aku ini wong ndeso tulen len, di kawasan lereng Lawu sisih kulon. sering mlaku-mlaku ke Negari. lewat Mangkunegaran atau sok jalan-jalan ke mburi Sriwedari. kadang juga duduk-duduk saja di pinggir Bengawan Solo nunggu Joko Tingkir lewat sekedar minta tanda tangan tapi gak pernah kesampaian.
    hesshh, tangi…tangi….
    malah nglindur…
    ya beginilah Mas, lidah Jowo Solo pating plethot. hehe….
    jazakallahu khaira li hudlurikum walau bi risalah
    ila liqo`
    (giliran Mas Zuhidhi yang aku tunggu ceritanya (portofolio gitu) mirip yang di yakinku)

  6. saya hanya orang yang kebingungan menentukan arah….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: