Beda Arroyo dan Soria

18 Oktober 2008 pukul 22:28 | Ditulis dalam jalan-jalan, politik | 3 Komentar

Arroyo adalah presiden, sedang Soria adalah (mantan) pendeta.

ANTARA News-Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, Sabtu berikrar tidak akan berhenti melakukan serangan militer terhadap para gerilyawan Muslim yang menduduki desa-desa dan menyerang kota-kota di wilayah Mindanao, selatan negara itu.

Arroyo mengunjungi satu kamp militer dekat Kota Cotabato, Sabtu dan mendesak tentara terus melakukan operasi-operasi terhadap gerilyawan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang melakukan serangan di provinsi-provinsi terdekat Agustus.

“Saya mengharapkan para tentara untuk mengucilkan para gerilyawan Moro,” katanya dalam satu pidato singkat setelah memberikan medali dan tanda penghargaan kepada tentara yang terlibat dalam ofensif itu.

“Pemerintah dan rakyat Filipina menghargai dan mengakui pengorbanan anda dalam menegakkan keadilan untuk para para korban gerilywan MILF,” tambahnya.

Ia mengatakan ia masih berikrar untuk mengusahakan penyelesaian damai aksi perlawanan gerilyawan Muslim di Mindanao walaupun operasi yang sedang berlangsung sekarang terhadap para sejumlah anggota tertentu MILF.

Para gerilyawan Moro melancarkan serangan-serangan Agustus setelah Mahkamah Agung melarang pemerintah Filipina menandatangani satu perjanjian perdamaian dengan MILF yang akan memperluas wilayah otonomi Muslim yang sudah ada di Mindanao.

Awal pekan ini, Mahkamah Agung memutuskan perjanjian wilayah yang dikenal dengan nama Memorandum Kesepakatan mengenai Daerah kekuasaan Leluhur.

Lebih dari 200 orang tewas dan sekitar 500.000 orang terlantar akibat bentrokan-bentrokan senjata antara pasukan pemerintah dan para anggota MILF setelah itu, demikian dpa.

Sementara itu,

Islamonline-Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.

“Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro,” kata Soria yang populer di panggil “Father Stan”. Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.

Sebagai seorang cendekiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.

“Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit,” kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.

Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. “Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik,” ungkap Soria.

Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.

“Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah,” papar Soria.

“Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar,” tambah Soria.

Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya “Father Stan.”

Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.

Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajiban nya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.

“Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita,” tandas Soria.

Menurut Soria, jika ada satu hal yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi. “Dengan memiliki struktur yang kuat seperti yang dimiliki kalangan Kristiani, akan mempermudah penyebaran Islam,” kata Soria.

Salah satu cara untuk memperkuat struktur umat Islam, tambah Soria, Muslim harus membangun universitas- universitas di seluruh dunia seperti yang dilakukan kelompok misionaris Kristen di berbagai belahan dunia.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi.
    — bener nih. kita sebgg orang islam tidk terorganisir rapi tapi terpecah2 menajdi ber-golangan2 yang salang memusuhi… repot….

  2. Islam adalah agama yg ajarannya paling ter-sempurna…. Islam tidak ada kekerasan, itu hanya propaganda dari pihak lain untuk menghancurkan nama Islam..

  3. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://berita-politik-dunia.infogue.com/beda_arroyo_dan_soria


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: