ASI Kok Dijual

15 Oktober 2008 pukul 05:56 | Ditulis dalam kehidupan, serba serbi | 3 Komentar

Surya-Seorang laki-laki di Tiongkok menjual air susu ibu (ASI) istrinya secara online karena dia tak ingin ASI itu terbuang percuma. Hal itu juga ditempuh sekaligus memanfaatkan kekhawatiran masyarakat akan penemuan susu bermelamin yang telah menewaskan empat balita karena kerusakan ginjal.

Li Jun, nama laki-laki dari wilayah Hanyang itu mengatakan bahwa nafsu makan istrinya menggila setelah dia melahirkan. Akibatnya, produksi ASI-nya melimpah. “Setiap jam dia bisa menghasilkan sekitar 200 mili liter (ml) ASI. Ini terlalu banyak bagi bayi perempuan kami,” kata Li pada harian Chutian Golden Daily. “Produksi ASI-nya sangat cukup untuk memberi minum beberapa bayi lainnya,” tambahnya.

Akibat produksi ASI melimpah itu, istri Li yang tak disebutkan namanya ini kadang menggunakannya untuk membasuh muka. Bahkan, kadang-kadang Li juga dipaksa membasuh muka menggunakan ASI istrinya. “Kami lantas berpikir untuk menjualnya. Tapi jika ada keluarga miskin yang membutuhkan, mereka bisa mendapatkannya dengan gratis,” tambahnya.

Langkah serupa sebenarnya telah dilakukan oleh banyak ibu-ibu di Tiongkok. Hanya saja, baru Li yang menjual ASI istrinya secara online. Jimandy Wu, yang tinggal di wilayah Chongqing juga berhasil membujuk istrinya untuk menjadi nai ma atau penjual ASI.

Di rumah sakit Chongqing, petugas medis memang masih memesan ASI untuk anak-anak yang orangtua mereka sedang menunggu perawatan batu ginjal.

“Kenapa tidak,” kata Tina Huang, istri Jimandy. Seperti halnya istri Li Jun, produksi ASI Tina Huang juga melimpah. “Sangat disayangkan saya menyia-nyiakan ASI, sementara televisi-televisi memperlihatkan banyak balita yang tak bisa minum susu karena adanya susu bermelamin,” terangnya.

Pekerjaan lama Tina adalah sekretaris dan dia dibayar 1.000 yuan (Rp 1,4 juta) per bulan. Namun, dia kini bisa mendapatkan 12.000 yuan (Rp 16 juta) per bulan setelah menjadi penjual ASI. “Ini sangat cukup untuk membelikan baju-baju bagus untuk anak kami, dan mengirim dia ke TK yang bagus pula,” kata Jimandy.

Para orangtua di Tiongkok memang sedang panik, menyusul penemuan susu bermelamin yang telah menewaskan empat balita dan lebih dari 100.000 lainnya masih dirawat di rumah sakit karena kerusakan ginjal.

Karena kasus tersebut, permintaan ASI meningkat drastis. Akibatnya, pendapatan penjual ASI di negeri tirai bambu itu naik dua kali lipat. Menurut kantor berita Tiongkok, Xinhua, gaji seorang penjual ASI sekarang adalah 18.000 yuan (Rp 25 juta) per bulan.

“Saya telah bekerja di industri ini selama lebih dari 10 tahun, dan tak pernah melihat kejadian seperti ini,” kata Ai Xiaoxiong, manajer Zhong Jia Family Services, perusahaan yang menjadi broker penjual ASI.

ASI dari perempuan yang sehat memang terbukti membantu bayi tumbuh sehat dan melindunginya dari penyakit. Tiongkok juga punya tradisi panjang soal penjualan ASI ini, meski kemudian Partai Komunis Tiongkok berusaha melarangnya.

Di negara-negara Barat, praktik menjual ASI seperti yang sekarang terjadi di Tiongkok ini sudah ditinggalkan sejak abad 19.

Sebelum muncul kasus susu bermelamin, angka ibu yang memberi ASI pada bayinya di Tiongkok dilaporkan menurun drastis. Penyebab utamanya karena banyak susu formula yang dijual di pasaran.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CCDC), persentase perempuan desa yang memberi ASI ekslusif pada bayinya turun menjadi 38 persen di tahun 2005 dari 62 persen di tahun 2000. Alasannya bervariasi, namun banyak orang yang meyakini kalau susu formula lebih bagus daripada ASI.

Ah…lepas dari mulut macan, masuk ke mulut harimau….

ASI dijual, online lagi. Trus yang beli banyak gitu…artinya air susu seseorang telah diminum oleh banyak anak-anak yang berasal dari orang tua berbeda. Tersebar di seantero dunia (Cina)…artinya bermunculan anak susuan dan bertebaranlah saudara sepersusuan. Apa artinya?

Karena meminum susu yang berasal dari payudara yang sama, maka anak-anak itu menjadi bersaudara (sepersusuan) yang menyebabkan hubungan mereka mirip saudara kandung (dengan beberapa batasan). Padahal saudara kandung dan saudara susuan itu punya sifat sama dalam soal penikahan, yakni terlarang. Mereka dilarang menikahi saudara karena ini termasuk mahram.

Parahnya kalau si anak-anak yang kemudian tumbuh dewasa dan hendak menikah satu dengan yang lain padahal mereka tidak tahu ke-mahram-an mereka, maka terjadi ‘inbreeding’, wah…dunia tambah kacau. Nasabnya mbundhet……kawin dengan saudara dekat. Jadi kalo manggil, ini adalah saudaranya bapaknya pakdhe mas mbah bulik paman….

Oke…aturan mahram karena susuan itu memang adanya dalam Islam. Agama lain mungkin gak ngelarang. Terserah orang mau beragama apa pun tetapi ketentuan Allah pasti akan terjadi. Setiap larangan Allah yang dilanggar pasti akan menimbulkan resiko bagi pelanggarnya apapun agama atau keyakinan dia.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. waduh mas, saya baca ini, terharu, lucu, binggung, udah campur baur waduh waduh…


    aku juga bingung kok Mbak. Kok bisa-bisanya ya…

  2. waduh-wahduh…


    eneng opo Mas…

  3. Produksi ASI istri Li Jun satu liter tiap lima jam, tentu berlebih bila hanya utk anaknya sendiri. Berarti ini tidak me-nyia2kan kebutuhan anak sendiri. Ia hanya memanfaatkan karunia Tuhan yg berlebih utk menolong sesama yg membutuhkan, meski dgn imbalan uang. Kasus susu ber-melamin-lah yg menjadikannya berbuat demikian. Susu2 formula buatan pabrik sedang tidak dipercaya di pasaran. Ada ‘demand’ di pasaran , maka kelebihan ‘supply’ ibu(2) ini disalurkan.
    Dulu di jaman Rasulullah saw, praktek anak dipersusukan ke orang/ibu lain juga biasa. Tampaknya di Cina dulu juga biasa, terbukti dg adanya istilah NAI MA itu. Tentu bukan istilah baru.
    Saya kok merasa aneh kalau kasus ‘bersusu ibu lain’ ini kok langsung dihubungkan ke masalah mahram; nanti bila anak2 itu dewasa nanti berjodoh dan menikah. Terlalu jauh dibawanya ke kerangka pandang Islam. Bukankah para ibu dan orangtua di Cina beserta si anak2 susuan itu pun kemungkinan besar bukan musllim?


    Iya sih Kang. Boleh jadi mereka non muslim. Tapi fenomena menikahi mahram dan dampak buruknya ini kan menyentuh sisi kemanusiaan juga ya. Tak harus orang Islam nampaknya. Coba mampir ke sini deh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: