Aming Mencoba ‘Mengancam’ Tuhan

13 Oktober 2008 pukul 22:26 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, kehidupan | 4 Komentar

…. Hidupnya tak pernah bahagia dan selalu mendapatkan musibah.Dimulai dari kepergian istrinya, Leha (Titi Kamal), sampai musibah ketika ia diusir dari rumah kontrakannya. Hal itu membuat Madrim tak sanggup lagi menahan beban sementara doanya tak pernah terjawab.

Sahabatnya, Kadir (Ramzi), menyarankan agar Madrim lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan terus berdoa pada-Nya. Dalam doanya, Madrim mulai mengancam Tuhan. Dia berjanji akan menyembah setan apabila doanya tidak dikabulkan dalam tiga hari. Tepat pada hari ketiga, Madrim tersambar petir dan jatuh pingsan. Ketika sadar, ia mendapati dirinya memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu serta mengetahui keberadaan seseorang hanya melalui foto….

Begitulah sedikit sinopsis yang aku baca di sini.

Dahulu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ‘mengancam’ Allah dengan do’a beliau.

Saat itu perang Badar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan jumlah pasukan muslimin yang hanya tigaratus lebih sekian orang dan ketika melihat pasukan musyrikin, mereka berjumlah seribu lebih sekian orang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat dan memanjangkan kedua tangan beliau. Maka beliau mendo’a: “Ya Allah. Mana janjiMu padaku. Ya Allah penuhilah janjiMu padaku. Ya Allah, jika Kau binasakan kelompok muslimin ini maka tak ada lagi yang akan menyembahMu di bumi ini selamanya….” dst sampai Allah menurunkan ayat 9 surat Al Anfaal (dan ayat berikutnya).

Kutipan komplit bisa dibaca sendiri:

قال الإمام أحمد: حدثنا أبو نوح قُرَاد، حدثنا عكرمة بن عَمَّار، حدثنا سماك الحَنَفي أبو زُميل، حدثني ابن عباس حدثني عمر بن الخطاب، رضي الله عنه، قال: لما كان يوم بدر نظر النبي صلى الله عليه وسلم إلى أصحابه، وهم ثلاثمائة ونَيّف، ونظر إلى المشركين فإذا هم ألف وزيادة، فاستقبل النبي صلى الله عليه وسلم القبلة، ثم مد يديه، وعليه رداؤه وإزاره، ثم قال: ” اللهم أين ما وعدتني، اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام فلا تعبد في الأرض أبدا”، قال: فما زال يستغيث ربه عز وجل ويدعوه حتى سقط رداؤه، فأتاه أبو بكر فأخذ رداءه فرداه، ثم التزمه من ورائه، ثم قال : يا رسول الله، كفاك مناشدتك ربك، فإنه سينجز لك ما وعدك، فأنزل الله، عز وجل : إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Apa beda ancaman si Madrim dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Begitulah manusia di jaman ini. Banyak dari mereka yang menangis dan putus asa karena kesulitan hidup yang menimpa mereka. Seolah hidup mereka itulah yang paling sengsara. Sampai-sampai berani mengancam Allah Sang Pencipta dan Maha Kuasa. Mengancam akan meninggalkanNya dan mengganti sesembahannya. Jadi musyrik karenanya. Betapa hina manusia yang hanya karena perkara kecil dunia ini mereka rela meninggalkan Rabbnya. Hanya karena miskin lantas murtad. Hanya karena tak kuat menahan diri lantas menjadi kafir kepada Allah. Karena ingin kaya mereka menyembah setan. Karena hasratnya kepada dunia dan isinya sampai melepaskan agamanya dan terjerumus ke neraka. Na’udzubillahi min dzalika.

Sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Beliau lebih mengutamakan hak Allah yang harus disembah, diibadahi. Beliau menangis kalau tak ada lagi yang menyembah Allah. Beliau menangis kala manusia lupa diri. Beliau menangis dan bahkan marah ketika Islam ini dibuat mainan, dilecehkan dan dihinakan. Sebaliknya beliau tak ambil pusing manakala manusia menghina pribadi beliau, merendahkan dan melecehkan pribadi dan keluarga beliau. Beliau tak mengeluh karena kesulitan hidup yang beliau hadapi, apalagi putus asa dan mengancam Allah karenanya.

Demikian hendaklah diri kita yang mengaku muslimin. Tidak layak mengeluh dan menangis HANYA karena sulitnya hidup. Karena susahnya mendapatkan pekerjaan. Karena miskin tak punya uang. Karena lapar dan haus atau kesusahan hidup lainnya lagi.

Tetapi, menangislah ketika tak bisa beribadah dengan tenang. Menangislah ketika hati ini tak lagi tenteram dengan Al Qur’an. Menangislah ketika sholat tak mencegah kita dari kekejian dan kemungkaran. Menangis dan marahlah ketika Islam mulai ditinggalkan orang. Marahlah ketika muslimin dihinakan, hukum Allah disingkirkan, ulama diacuhkan, dan marahlah ketika Allah tak lagi disembah.

Sekali lagi, janganlah kita sampai putus asa dan mengangankan kematian karena kesulitan hidup yang mendera. Tetapi ketika kesulitan itu terasa tak tertahankan, berdoalah sebagaimana hadits ini:

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوتَ لضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فاعلاً ، فَليَقُلْ : اللَّهُمَّ أحْيني مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيراً لِي، وَتَوفّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيراً لي مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

…janganlah sekali-kali kalian mengangankan kematian karena kesulitan hdup yang menderanya. Maka jika tak tertahankan, maka hendaklah dia mendo’a: Ya Allah. Hidupkanlah aku selama hidup itu baik bagiku dan matikanlah aku jika adalah mati itu baik bagiku. (muttafaq ‘alaihi)

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Haduh Pak…. seremmmm banget……


    ah Mbak Isfiya malah bikin aku takut…

  2. Banyak orang menjadi Murtad krn hanya masalah duniawi… hmmmmm…


    sayang ya Mas….

  3. baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussss

    jempol, banget.

    ya gini nie tulisan berat yang kena ama hal yang lagi in ama anak muda, kayak bioskop dan laen laen.

    tak copy mas ya?


    jangan lupa gulanya lho Mas…

  4. singkat,padat,jelas,dalem bgt isinya…
    bisakah aku?


    peringatan buat diri kok Mbak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: